Wait for me to come to you ♡
"Gue nyerah."
Uhuk!
Gadis bersurai blonde itu buru-buru menyambar Oren Jus nya untuk minimalisir rasa terbakar di kerongkongannya akibat tersedak kuah Bakso. Ia menghela nafas lega begitu kerongkongannya sudah menjadi lebih baik, matanya melirik sinis Jessy yang membuatnya tersedak seperti itu.
Sedangkan Jessy hanya diam tidak merespon dengan omelan cerewetnya seperti biasa.
"Lo udah ngerasa capek buat dapetin sepupu Gue?" Tanya Blair hati-hati.
Jessy mengangguk, wajahnya tampak sangat sedih. "Kenapa nyerah? Bukannya Lo optimistis banget buat dapetin Edwin?"
"Iya, tapi itu sebelum Zoey dateng. Lo tau 'kan Edwin cuman liat Zoey."
"Jangan negatif thinking gitu dong, Jes. Gue yakin kok, Edwin juga suka sama Lo."
"Cukup, Blair. Jangan ngomong begitu kalau cuman mau bikin Gue seneng," Jessy merogoh saku tas nya dan membawa surat itu ke hadapan Blair.
Blair mengerutkan keningnya, "Apa ini?"
"Buka aja." Blair membuka amplop yang melindungi surat itu lalu membacanya dengan seksama.
Mata Blair seketika melebar seketika, "L-lo dapet Beasiswa di Aussie?" Jessy mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Kok Lo tega sih!" Blair langsung menyerbu Jessy dengan pelukannya, air mata Gadis itu tak henti-hentinya mengalir membasahi bahu Jessy.
Jessy menepuk-nepuk punggung Blair, menenangkan Blair dari tangis melengking nya. "Makasih ya, selama ini Lo udah jadi sahabat Gue." Lirih Jessy.
"Jangan gitu, Jes. Gue makin sedih.." Jessy terkekeh geli mendengar rengekan Blair bak seorang bayi.
Setelah beberapa saat, akhirnya Blair berhenti menangis meski masih diliputi kesedihan.
"Gue minta tolong, jagain Edwin buat Gue ya? Kabarin Gue kalo Zoey bikin Edwin sedih."
Blair menarik ingusnya, "Lo sayang banget sama sepupu Gue, Jes. Cabe-cabean kaya Zoey ga pantes jadi saingan Lo."
"Nggak sama sepupu Lo doang, Gue juga sayang sama Lo, Blair."
"Aaa! Gue terharu.." Blair kembali memeluk Jessy, kali ini lebih erat hingga Jessy mengeluh sesak.
*******
Bandara Internasional Soekarno-Hatta dipadati orang lalu-lalang, kebanyakan dari mereka membawa koper besar sama sepertinya. Jessy duduk di ruang tunggu ditemani koper Abu-abunya.
Jessy tidak memiliki siapapun kecuali Blair sebagai sahabatnya, orang tuanya sudah memiliki kehidupannya masing-masing dan hanya datang padanya untuk memberi uang agar Ia dapat bertahan hidup.
Jangan anggap Jessy kuat, karena sebenarnya Ia pernah menyerah pada semuanya. Jika tidak karena Edwin, mungkin saja Jessy sudah berada di Neraka.
Semua ini berawal dari Tiga tahun silam..
Flashback on
Angin kencang berhembus membuat surai hitam sebahunya berterbangan tak tentu arah, Jessy sudah tidak sanggup lagi bertahan dalam kesunyian.
Semuanya meninggalkannya, membiarkan Ia tinggal dalam kesendirian yang menakutkan. Jessy tau ini gila, tapi mungkin saja mereka akan menyadari kehadirannya setelah Ia melakukan ini.
Kaki berbalut sepatu putih itu perlahan-lahan maju seakan tidak takut dengan curamnya Gedung berlantai 50 itu.
Ketika kakinya hampir terjun tubuhnya tiba-tiba saja di peluk dari belakang, menarik tubuhnya agar tidak terjerembab ke bawah.
Brugh!
Jessy jatuh menghantam lantai rooftop yang hanya di lapisi semen.
"Lo udah gila! Hah!?" Jessy memejamkan matanya karena kerasnya suara Laki-laki yang barusan menariknya itu.
Tangis yang sempat tertahan kini sudah tidak dapat terbendung lagi, Jessy menangis dengan sesegukan membuat Laki-laki itu gelagapan.
"Hei. Udah, Gue minta maaf.." Laki-laki itu merangkum wajah Jessy yang basah karena air mata.
Jessy terdiam, manik hazel nya bertatapan langsung dengan pemilik mata tajam itu. Degup yang Ia rasakan di jantungnya menghantarkan sensasi geli di perutnya.
Jessy yang pada saat itu tak mengerti apapun bertanya pada temannya.
"Blair, kalo jantung Lo mau meledak itu tandanya kenapa ya?"
"Cuman ada dua kemungkinan, Lo sakit jantung atau.."
"Atau apa?"
"Jatuh cinta."
Flashback of.
"Selamat siang, tuan dan nyonya. Ini adalah pengumuman boarding untuk penumpang XYZ Airlines dengan nomor penerbangan 789A tujuan Sydney. Kami sekarang mengundang semua penumpang untuk mulai naik pesawat saat ini. Harap siapkan boarding pass dan identifikasi Anda dan lanjutkan ke gerbang B5. Terima kasih telah memilih XYZ Airlines dan semoga penerbangan Anda menyenangkan."
Pengumuman itu menariknya dari lamunannya. Jessy beranjak, Ia menarik koper Abu-abunya untuk mengikuti langkahnya. Manik hazel nya sempat berpaling ke belakang untuk mencari seseorang yang ditunggu nya.
Namun harapannya harus pupus karena Orang itu tidak datang sama sekali, Jessy mengambil nafas sebelum kembali menyeret kopernya.
Beberapa saat setelah kepergian Jessy, Laki-laki dengan kemeja putih lusuh datang dengan nafas terengah-engah.
Ia memberhentikan salah seorang yang lalu lalang di hadapannya. "Pesawat, tujuan Sidney apa sudah take off?"
Orang itu mengangguk, "Sudah take off dari tadi, Mas."
"Ah, baiklah Terima kasih." Orang itu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, meninggalkan Laki-laki yang barusan menanyainya yang kini sudah terduduk lemas.
"Lo bodoh, brengsek, tolol." Bibirnya tak henti mengumpat dan tangannya yang tak berhenti memukuli dadanya.
Sesak di dadanya sangat menyiksa, air mata mengalir dengan derasnya membasahi kemeja putihnya.
Ia sudah terlambat. Jessy pergi dan membawa serta separuh nafasnya. Edwin terlalu bodoh untuk menyadari cintanya.
Edwin kira, cintanya masih dimiliki Zoey--Mantan kekasihnya tapi nyatanya Jessy lah yang si pemilik itu.
Padahal hari ini, Edwin berniat menyatakan cintanya pada Jessy. Namun Ia harus menelan pil pahit ketika Blair mengatakan kalau Jessy pergi ke Aussie dan hanya menitipkan salam padanya.
Edwin benci kenyataan itu, hatinya berat mengetahui Gadis itu sudah meninggalkannya.
*****
Empat tahun berlalu..
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi, Mr. Lawrence."
"Selamat pagi, Pak Edwin."
Laki-laki dengan setelan Jas mahal itu hanya mengangguk untuk merespon sapaan ramah para karyawannya. Karyawan yang bekerja di JE Company pun sudah tak heran lagi dengan CEO mereka yang memiliki sikap dingin tak tersentuh itu.
Edwin Ryan Lawrence, Pria berusia 24 tahun yang memiliki sikap sedingin es kutub. Bukan hanya sekedar rumor saja kalau Edwin bersikap seperti itu semenjak ditinggal Cintanya.
Edwin tak kunjung dapat melupakan masa lalunya itu, meski banyak Gadis-gadis cantik di luar sana yang berusaha menggodanya.
Hidupnya hanya untuk setumpuk dokumen yang tercecer di meja kerjanya dan alkohol yang selalu di konsumsinya tiap malam.
Drett..
Getaran ponsel di saku celananya membuat Edwin dengan malas mengeluarkan benda mahal itu dari sana.
Begitu jemarinya menarik icon hijau ke atas, suara melengkung sepupunya langsung menyapa telinganya.
"Lo lupa ya Win?!"
"Apa?"
Terdengar decakan malas dari sebrang sana, "Hari ini, Gue nikah woy. Kalo sampe Lo ga dateng, Gue obrak-abrik Perusahaan Lo."
Ancaman itu langsung dapat menggetarkan sedikit nyalinya, Edwin mau tak mau melangkah keluar dari ruangannya setelah sebelumnya memutus sambungan telfon mereka.
"Siapkan Mobil." Titahnya tanpa menghentikan langkahnya.
Sekertaris Jim langsung bergerak cepat melakukan apa yang Tuannya itu titah kan.
*****
Mobil seharga puluhan juta dolar itu langsung mendapat perhatian dari tamu-tamu undangan lain. Apalagi ketika pintunya terbuka, menampilkan figur seorang Pengusaha sukses. Edwin Ryan Lawrence.
Kaki jenjangnya melangkah masuk ke Hotel Saint Avery, tempat yang digunakan untuk acara sakral Blair dan Oliver.
Suasana ramai dalam ballroom Hotel langsung menyambutnya. Jika bukan karena ancaman Blair, Edwin tentunya malas menginjakkan kaki di tengah keramaian seperti ini.
Tak ingin berlama-lama di sini, Edwin melangkah naik ke panggung untuk menemui Tuan Rumah dari acara ini.
Dari jauh, Edwin dapat melihat Blair tengah asik berbincang dengan Gadis bersurai kecoklatan.
Namun Edwin tak menghiraukan itu, Ia sama sekali tidak berniat menunggu gilirannya.
"Blair."
Panggilan itu tidak hanya membuat si pemilik nama menoleh, Gadis bersurai kecoklatan juga ikut menoleh karena nya.
Deg!
Kakinya mendadak lemas, melihat bagaimana manik hazel yang selama ini dirindukannya kembali menatapnya.
"Jessy?" Lirih nya, mata tajam itu terlihat sayu ketika menatap Gadis itu.
Jessy melangkah terburu-buru menuruni panggung, Edwin yang tersadar pun juga berlari berusaha menggapainya.
Mereka menjadi pusat perhatian karena aksi kejar-kejarannya, Jessy yang frustasi karena Edwin terus mengikutinya pun berbelok arah ke toilet Wanita.
Namun, Edwin tidak menyerah. Pria itu tetap mengejar Gadisnya meski mendapat tatapan sinis dari Wanita yang berpapasan dengannya.
Jessy masuk ke salah satu bilik lalu menutupnya, tapi pintu itu ditahan oleh sesuatu hingga membuatnya tak dapat tertutup.
Jessy mulai pasrah saat pintu terbuka dengan lebarnya menampilkan Pria yang selama ini di hindarinya dengan penampilan kacau.
"Pergi!" Edwin tidak mengindahkan penolakan terang-terangan yang diberikan padanya itu, Ia semakin mendekatkan diri ke Gadisnya itu.
Jessy termenung beberapa saat sebelum suara pintu yang ditutup menariknya dari lamunan.
"L-lo mau apa?" Gugup Jessy ketika Edwin semakin menghimpit nya ke dinding.
"Lo?" Edwin mendengus tak senang, "Kenapa panggilannya berubah? Kemana aku-kamu nya?"
Nyali Jessy menciut, Ia seperti seekor tikus yang berada di kungkungan Raja Hutan. Jari telunjuknya mendorong kecil dada bidang Edwin, mencoba menjauhkan Pria itu darinya.
"Tolong jaga sikap, Win. Gue udah punya pacar dan Lo juga udah punya Zoey."
"Pacar?" Mata Edwin menggelap seketika.
Dengan kaku, Jessy mengangguk. "L-lo mending pergi dari sini."
Cup!
Tanpa aba-aba Edwin mengecup bibir Jessy sekilas membuat si empu melebarkan matanya, shock hebat.
"Mau membuat Little Edwin di sini atau putuskan pacarmu segera?"
Plak!
Wajah Edwin terlempar ke samping saking kencangnya tamparan yang diberikan Jessy padanya. Baru ingin membuka mulut, tangan kecil Jessy yang mengelus lembut pipinya membuat ucapannya kembali tertelan.
"Maaf, maaf. Pasti sakit ya?" Jessy meringis ngilu, melihat cap merah yang berada di sekitaran pipi dan rahang Pria itu.
"Hm.." Edwin memejamkan matanya menikmati kelembutan Jessy, hanya sejenak karena Ia membimbing tangan itu ke tempat jantungnya berdetak. "Di sini, lebih sakit. Baby.."
Jessy langsung melepasnya, "Aku tidak memiliki waktu untuk ini. Aku harus pergi."
"Aku cinta kamu, Jeslyn Nicola."
Jessy menghentikan langkahnya mendengar ucapan sungguh-sungguh yang keluar dari bibir Edwin.
Namun kegigihannya tidak membuat Jessy goyah. "Ingat, Zoey. Ini efek karena Lo baru ketemu Gue lagi, bukan cinta." Katanya tanpa berbalik.
"Aku cinta kamu, Jessy. Bukan Zoey. Selama ini aku keliru dan ketika aku menyadarinya, kamu sudah pergi. Aku sudah mencari kamu di setiap tempat, aku juga mengerahkan banyak orang untuk membantuku mencari kamu di Aussie. Tapi itu tidak berhasil, kamu seperti menghilang di telan bumi." Pertahanan Edwin runtuh, Laki-laki itu jatuh berlutut. "Aku benar-benar mencintai kamu. Tolong.. Tetaplah disini, jangan tinggalkan aku lagi."
Mendengar nada frustasi itu membuat Jessy berbalik, Ia lekas menghampiri Edwin. "Jangan seperti ini.."
Edwin menggenggam erat tangan mungil Jessy, mengecupnya berkali-kali. Manik pekatnya memandang Jessy sayu. "Jangan pergi ya, sayang.."
Jessy mendekap erat tubuh kekar Edwin, membiarkan Pria itu menumpahkan kerinduannya.
Merasa tidak ada suara lagi dari Edwin, Jessy pun mengintip dari balik bahunya. "Tidur?" Gumam Jessy kebingungan.
Edwin terlelap dengan pulas di pelukannya seolah Pria itu tidak pernah tidur, lebih tepatnya jarang tidur karena Dia takut pada mimpinya sendiri. Edwin tiap malam selalu memimpikan bagaimana sikap tidak perduli nya pada Jessy di masa lalu.
Jessy berusaha melepaskan diri dari dekapan erat Edwin berniat mencari bantuan untuk memindahkan Pria itu, namun usahanya gagal karena lengan kekar itu justru semakin erat membelit pinggangnya.
"Jangan pergi.. Jangan pergi.. Jangan.." Racauan itu membuat Jessy sedih.
Ia tidak percaya kalau Pria itu sampai seperti ini karena kehilangannya. Jika saja Pria ini tau kalau sebenarnya Jessy tidak pergi ke Aussie melainkan ke London untuk menemui keluarga Ayahnya.
Saat itu, Ia dengan bodohnya kembali ke tempat semula setelah sebelumnya hampir menaiki pesawat. Jessy tidak sadar kalau Pria yang ditunggu nya baru saja pergi dan Edwin tidak sadar kalau Gadis itu kembali lagi ke ruang tunggu.
"Aku nggak kemana-mana. Aku juga mencintaimu, sekarang dan selamanya." Jessy menepuk-nepuk punggung berbalut Jas hitam itu, satu tangan lainnya digunakan untuk menghubungi petugas Hotel.
Finish♡