Aku sudah memulai karir ku saat umur 8 tahun jadi wajar seluruh penduduk di kota mengenal ku, namun karir yang ku bangun dengan kerja kerasa hancur berkeping-keping dalam satu malam…
Nama ku alice, aku larih dan tumbuh di kota yang masih di pimpin oleh kerajaan barat. Kota yang di juluki rumah para siniman , tempat di mana bentuman alat musik selalu di mainkan, lagu-lagu baru bermunculan, terciptanya banyak lukisan indah yang di jual ke penjuru dunia dan rumah bagi ku sang ballerina.
Satu bulang yang lalu aku mengalami kecelakaan, mobil yang ku kendarai mengalami rem blong yang membuat ku menabrak pembatasa jalan dan berakhir di rumah sakit. Saat terbangun hal yang paling ku takuti terjadi. “apa kaki ku baik-baik saja” tanya ku tak yakin, “kata dokter pergelangan kaki mu patah dan tulang betismu retak cukup parah” jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.
“bagai mana dengan pertunjukan ku bulan depan?” “kau tak bisa mlakukanya alice, kau harus istirahat selama satu tahun” ibu menyampaikan dengan suara bergetar menehan tangisannya. “tapi ini perayaan ulang tahun ku yang ke tujuh belas, semua ballerina akan hadir untuk pengukiran nama mereka di pusat kota, aku sudah menunggu pertunjukan ini sejak lama bu” aku mulai menagis dan ibu memeluku erat sambal menahan isak tangisnya.
Sudah menjadi tradisi bagi semua ballerina untuk melakukan TARIAN EMAS saat menginjak umur 17 tahun untuk mengesahkan dan mengukir nama mereka di pusat kota. Semua itu menjadi hal yang di nantikan oleh semua ballerina, karna hanya ballerina yang namanya di ukir di pusat kota lah yang boleh menampilkan tariannya di setiap acara atau perayaan di istana.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan hancur, saat tiba di rumah aku menemukan undangan berwarna pink dan tulisan berwarna emas dengan symbol balet tergeletak di depan pintu, ya itu undangan yang ku tunggu-tunggu sejak lama, undangan untuk penampilan pertama di usia ku yang ke 17.
Ibu mengambil surat itu dan membuangnya ke tong sampah “tak usah di baca kau harus istirahat agar cepat pulih” ibu masuk ke rumah dan meninggalkan ku yang masi terdiam dengan tongkat ku di depan rumah, dengan susah payah aku berusaha mengambilnya dari tong sampah.
Aku memandang undangan itu cukup lama dan membulatkan tekat untuk melakukan tarian itu. Aku memakai sepati ku dan mulai menari, namun sekeras apapun aku berusaha kaki pincang ini tak bisa bergerak dengan baik, aku terduduk di samping Kasur, kaki ku semangkin sakit dan berdenyut-denyut, tubuh ku bergetar cukup kencang keringat ku mengalir di ikuti air mata dan isakan tangis ku, di banding rasa sakit rasa kecewa pada diriku lah yang membuat ku menangis histeris,
Ibu masuk kamar ku dengan wajah kaget “alice apa yang kau lakukan luka mu akan memburuk jika kau menari” “aku harus latihan bu, jika sehari saja seorang ballerina tak berlatih maka tariannya akan terlihat kaku, bagaimana munkin aku tak menari selama setahun, itu akan membunuh ku bu ku mohon”
Ibu tak memberikan izin namun aku selalu berusaha meyakinkan ibu hingga akhirnya dengan terpaksa ibu mengizinkan ku untuk ikut tarian emas, aku terus berlatih dengan kaki ku yang semangkin hari terasa semangkin sakit.
Hari pertunjukan pun di mulai semua baleria berumur 17 tahun mulai berusaha keras menampilkan penampilan terbaik mereka satu persatu agar nama mereka layak di ukir di pusat kota, giliran ku tiba, namun bukan hanya kaku aku bahkan tak bisa melakukan putaran dengan baik, bahkan aku sering terjatuh karna gerakan-kerakan kecil.
Dan itulah awal dari kehancuran karir ku, semua nama telah di ukir di pusat kota kecuali nama ku, kontrak tariku di berbagai panggung telah di batalkan. semua orang menatap kasihan pada ku dan sebagian dari mereka mencibir dengan kata-kata yang dapat ku dengar dengan jelas.
Aku benci tatapan kasihan itu namun aku lebih membenci diri ku, berhari- hari aku hanya mengurung diri di kamar dan menagis, ibu dan ayah setiap hari datang untuk menghibur ku, akhirnya aku menyerah dengan balet dan memutuskan meneruskan usaha keluarga ku sebagai pedagang roti.
Namun tak seperti yang terlihat, semua senyuman dan tawa yang ku perlihatkan pada pelanggan bukanlah tanda kebahagiaan, setiap aku mendengar alat musik yang di mainkan, lagu yang di nyanikan, bahkan melihat anak-anak yang melukis pun membuat hati ku hancur, setiap harinya teman-teman balet ku datang untuk membeli roti dan menghibur, namun setiap kali aku melihat mereka aku semangkin menyalahkan diriku dan takdir yang di berikan tuhan, di antara ribuan manusia kenapa harus aku yang mengalami kecelakaan itu.
Di antara semua orang ibu adalah satu-satunya orang yang tau apa yang ku rasakan. “apa kau belum bisa melupakan balet, kau harus bangkit alice, kau tak boleh terus berlarut dalam masa lalumu”
“apa ibu tau, seorang ballerina memiliki dua kematian, kematian pertamanya di saat ia tak lagi bisa menari, musik tak lagi terdengar dan tepuk tangan dan indahnya lampu yang selalu menyototinya tak lagi di nyalakan, kematian itu jauh lebih sakit dari kematiannya sebagai manusia bu” aku menangis tak tahan menahan sakit di hati ku, ibu ikut menangis dan memeluk ku.
Hari terus berlalu kaki ku kembali pulih dan aku masi menjual roti seperti biasa, hingga akhirnya malam itu ibu membawa seorang guru balet ke rumah.
“tapi aku sudah berhenti cukup lama, aku tak akan bisa kembali seperti dulu” aku mengeluh “tak perlu jadi diri mu yang dulu alice kau bisa mulai dari nol dan menjadi ballerina yang jauh lebih baik dari yang dulu” “tapi semua kontrak telah di batalkan dan penonton sudah kecewa pada ku bu”
“tak perlu menari untuk dunia, menarilah untuk dirimu sendiri alice ceritakan semua isihatimu, semua suka dan duka mu, menarilah untuk dirimu sendiri, ibu akan menjadi penonton detia mu di sini” kata-kata ibu sontak menghilangkan semua kekhawatiran ku dan mengembalikan semangata ku sebagai seorang ballerina.
Perlahan gerakan ku terus membaik, semua usaha ku membuahkan hasil, setiap minggunya aku memperlihatkan hasil latihan ku pada ibu. “wah luar biasa sekali alice, itu adalah tarian terbaik yang pernah ibu lihat” ibu mengusap air matanya “ibu akan mengirimnya ke media social agar tak ada lagi yang meremehkan alice ku yang cantik”
“tak apa bu, aku sekarang aku tak perduli lagi tanggapan orang terhadap ku, karna aku memiliki penonton paling sepesial ku di sini, ibu ku”
Tak lama sejak hari itu video yang di unggah ibuku di media social menarik perhatian seluruh penduduk kota, toko roti menjadi ramai setiap harinya di datangi oleh orang-orang yang ingin bertemu dengan ku dan memberikan pujian.
Hari mulai larut, dua orang pengawal istana mendatangi rumah ku untuk mengirimkan undangan resmi dari raja. Ya aku di undang untuk tampil di perayaan ulang tahun sang putra mahkota.
Satu minggu kemudian aku tiba di istana untuk menyesuaikan gerakan ku dengan musik yang di mainkan oleh putra mahkota sendiri.
“aku sangat takjub melihat tarian mu, semua emosi dan kau ceritakan dalam tarian mu bahkan membuatku menangis, itu sangat luar biasa” “terima kasih pangerang, saya bersukur anda menyukai tarian saya” jawab ku sanbil menunduk.
“di ulang tahun ku kali ini aku ingin menunjukan musik ku pada seluruh penjuru negri, dan tarian mu adalah fokus utama kali ini, kita hatus menampilkan seni yang akan di kenang sebagai sejarah, apa kau siap untuk berlatih?” ia tersenyum hangat.
Hari perayaan tiba, seperti yang di katakana putra mahkota kali ini bukan hanya raja dan para petinggi kerajaan yang datang namun seluruh rakyat dari penjuru negri datang untuk melihat tarian ku yang di iringi alunan musik dari sang putra mahkota.
Sejak saat itu nama ku di ukir di pusat kota dengan tinta emas, foto-foto, music dan tarian ku dengan putra mahkota tersebar ke penjuru negri dan menjadi pembicaraan semua orang, begitu banyak artikel yang menulis tentang ku, tawaran dan kontrak pun mulai bardatangan tampa henti.
Aku menghirup undara segar di pagi hari dengan damai. Selamat pagi dunia, aku telah kembali…
-TAMAT-