Judul: Tersenyumlah Sahabatku
1
2
3
"Sudah belum!" teriak seorang anak laki-laki dengan kedua tangan menutupi matanya.
"Sudah!"
"Haha ... kena kamu, Do."
Semua penampakan yang ada di sana, tak luput dari perhatian seorang gadis kecil berdiri tak jauh dari sana. Senyuman terpatri di bibirnya.
Gadis kecil itu mencoba memberanikan diri mendekat, tepat di mana sekumpulan anak sedang bermain di sana.
"Sepertinya seru. Aku boleh ikut?" tanya gadis itu.
Semua yang ada, menatap ke arahnya dengan wajah jijik.
"Gak boleh! Orang miskin gak boleh main sama orang kaya," ucap salah satu anak di sana.
"Udah, pergi sana! Jangan ganggu kami!" Usir anak laki-laki yang menjadi pemain menutup mata.
Gadis kecil itu menundukkan kepala sedih mendengar perkataan teman-temannya yang tidak mau berteman dengannya.
Gadis kecil itu berbalik kembali untuk pulang. Anita namanya, gadis kecil berusia 6 tahun. Sebenarnya, Anita harusnya sudah berada di bangku taman kanak-kanak. Akan tetap, perekonomian Ibu yang tak mampu, membuat masa sekolahnya pun ditunda. Ayah Anita telah meninggal karna penyakit jantung yang diderita dan saat ini Anita hanya memiliki seorang Ibu.
"Hei, kamu Anita ya?" ucap seorang anak laki-laki berkulit putih tengah berdiri di depannya.
Anak laki-laki itu terlihat imut dengan kaos putih biru di badannya. Anita menatap anak laki-laki itu bingung, sepertinya dia tidak pernah melihatnya.
"Heh, iya. Aku Anita, kamu siapa?" tanya Anita sembari mengerjapkan matanya sebentar.
"Aku Raga, baru pindah ke sini," ucap Raga ramah.
"Ah, i—iya." ucap Anita gugup. Namun, tetap tersenyum ke arah Raga. "Pantas saja aku baru lihat kamu." Entah bagaimana, Anita takut Raga seperti teman-temannya. Senyumannya perlahan berubah menjadi senyuman hambar.
"Kenapa?" tanya Raga menyadari raut wajah Anita yang berbeda dari sebelumnya.
"Kamu gak usah dekat aku, aku miskin," ucap Anita dengan wajah sendu.
"Terus, kalau kamu miskin — aku gak boleh temanan sama kamu, gitu?" balas Raga dengan wajah terheran-heran.
"Eh! Bukan gitu! Nanti Raga ikut di ejek teman-teman, gara-gara Nita."
"Raga gak peduli, sama mereka. Yang penting Raga bisa dekat sama Nita," jawab Raga keras kepala.
"Raga kenapa yakin sekali mau temanan sama Nita?" tanya Nita kembali.
"Nita kayaknya orang baik."
"Terus, mereka gak baik gitu?" tanya Nita heran.
"Enggak."
"Heh?! Kenapa?"
"Kalau mereka baik. Gak mungkin dia milih teman. Raga gak suka itu."
Nita menatap Raga dengan wajah haru. Baru kali ini Nita bertemu teman seperti Raga.
"Raga yakin?" tanya Nita ragu.
"Iya, Raga yakin. Ayo buat perjanjian kalau kita terus jadi teman," Lanjut Raga sembari mengancungkan jari kelingkingnya ke arah Nita.
Nita melihat itu, ikut mengancungkan jari kelingking dengan senyuman lebar.
***
Seminggu berlalu ....
Anita tengah berlari kecil. Hari ini Raga mengajak Nita ke Lapangan bukan ke taman seperti biasanya.
Anita menghentikan langkah kakinya ketika mendengar percakapan di lapangan. Senyum semula yang menghiasi bibirnya kini luntur seketika.
"Raga, kamu ngapain sih temanan sama Nita?"
"Memang kenapa? Nita kan baik orangnya?" Jawab Raga santai dibalik sana.
"Nita itu anak orang Miskin. Nanti kita ikutan kena kumannya."
"Kata siapa? Nita bersih kok, walaupun pakaian nya tidak sama kayak kita," bela Raga.
Nita yang mendengar ucapan teman-temannya menjadi sedih, Nita kembali pulang. Namun, suara Raga menghentikan langkahnya.
"Nita! Ayo kesini!"
"Teman-teman gak suka Nita, Raga," ucap Nita dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu gak usah sedih, ada aku kok," ucap Raga menenangkan Nita.
Nita mengangguk kecil.
"Senyum dong Nita," pinta Raga langsung dihadiahi oleh pukulan kecil oleh Nita.
"Raga, banyak maunya!"
***
"Raga pulang!" teriak Raga saat memasuki rumah.
"Wah! Anak ganteng mama udah pulang?" Seorang perempuan dengan wajah masih muda mendekati Raga.
"Iya Ma," balas Raga mendudukkan diri di salah satu kursi meja makan.
"Raga, mama punya berita," ucap perempuan itu, tak lain adalah Alwa, Mama Raga.
"Ada apa, Ma?" tanya Raga dengan pandangan tak lepas dari Mama.
"Kata Papa, besok sore kita bakal pindah Singapura."
"Ah, kenapa Ma? Kenapa harus pindah?" Raga kaget mendengar kenyataan bahwa besok dia akan pindah lagi.
Raga teringat lagi tentang Anita. Pasti dia akan sedih mengetahui itu.
"Kamu sekolah di Singapura aja ya, ada Nenek juga sana." Bujuk Alwa.
"Tapi Ma — Raga sudah punya banyak teman di sini." Raga berusaha menolak ucapan Mamanya.
"Raga, kita harus pindah. Mengertilah sayang," ucap Alwa.
"Raga mau di sini, Raga mau jagain Nita," ucap Raga keras kepala, lalu berlari ke kamar.
***
Hari berlalu cepat, tidak terasa hari ini adalah perpisahan antara Raga dan Anita. Rasanya Raga sulit meninggalkan Anita sendirian di sini. Raga sedih, karena tidak bisa menepati janjinya untuk menjaga Anita.
"Raga! Sekarang kita mau main apa?" ucap Anita yang baru saja sampai di taman biasa mereka gunakan untuk bermain.
Raga menoleh menatap ke arah Anita yang masih menyunggingkan senyum, rasanya Raga tidak berani mengucapkan selamat tinggal untuk Anita.
"Raga, kenapa?" Raut wajah ceria Anita memudar, melihat ekspresi murung Raga.
"Raga akan pindah." Satu kalimat berhasil lolos di bibir Raga.
Anita mendengar itu jelas kaget. Hatinya terasa sedih, tapi harus di tahan, karena Anita tak ingin membuat Raga sedih. Detik kemudian dia tersenyum, bukan senyum bahagia tapi senyum paksaan.
"Yaudah, ayo buat tanda perpisahan. Nanti, jam 2 kumpul lagi di sini," ucap Anita lalu berlari menjauh dari Raga.
1 jam kemudian ....
"Raga!!"
Raga menoleh menatap gadis kecil lusuh di depannya.
"Ini." 2 buah gelang karet tersodor dari telapak tangan mungil Anita.
"Hah?" Raga melongo melihat gelang karet itu.
"Ini untuk Raga, mulai sekarang gelang ini sebagai pertanda pertemanan kita. Walaupun Raga jauh, tapi pertemanan kita tetap ada," ucap Anita dengan senyuman. "Raga jangan lupain Nita, ya!"
Raga mengulas senyum sedih, sembari memperhatikan gelang karet yang sudah di telapak tangannya.
"Nita juga. Nita harus janji sama Raga, kalau Nita akan selalu tersenyum apapun itu masalahnya," ucap Raga dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Nita janji," ucap Anita sembari mengangguk pelan. Sudut matanya sudah terdapat bulir bening tertahan.
"Raga!" teriak seorang wanita paruh baya dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Mama Raga.
"Iya, Ma!" Balas Raga ikut berteriak. "Raga pergi ya, selamat tinggal, Nita."
Sebelum Raga menghilang dari hadapan Anita, sebuah kata terakhir kali Raga ucapkan membuat Anita mematung di tempat.
'Kalau Raga sudah besar, Raga akan cari Nita. Nita juga ya, harus ingat Raga. Selamat tinggal, Nita.'
Air bening yang sedari tadi Anita tahan, akhirnya meluncur deras di pipinya. "Huwaa!! Raga!"
Raga telah pergi dari hadapannya, Raga tidak ada lagi disisinya. Meskipun terasa berat, Anita harus berusaha tersenyum. Seperti yang di katakan Raga.
"Raga! Anita tunggu Raga!"
- The End -