Namaku Kim Yoonra, aku berasal dari keluarga yang cukup mampu, tapi kehidupan ku sangat menyakitkan, aku selalu di marahin,di siksa,bahkan nama ku di buat jelek oleh keluarga ku sendiri,Aku tak tau keluarga macam apa itu yang selalu menyiksa anaknya sendiri bahkan tidak mempedulikan anak nya, jika begitu buat apa aku di lahirkan?untuk di siksa? Aku selalu di kurung aku ingin bebas seperti burung yang terbang bebas mengelilingi seluruh dunia,dan bisa melihat pemandangan di luar sana.
Di pagi hari tepat pukul 06.00 aku berusaha kabur dari rumah karna keluarga ku belum bangun jam segitu,dan aku berniat untuk kabur tapi itu gagal total saat Eonnie ku yaitu Kim Yoona melihat aku memanjat jendela lalu melaporkan ke Appa ku serta Eomma ku.
"Appa, Eomma, Yoonra berusaha kabur!!!"ucap eonnie ku sambil berteriak dan berlari ke arah kamar Eomma dan Appa ku.
Appa ku Kim Ahn menghukum ku dengan mengurung ku di gudang tanpa makan dan minum selama seminggu,aku tidak menyesali semua itu karna aku juga ingin bebas dari penjara iblis ini tapi tak bisa.
Aku menatap jendela gudang yang di kunci,aku melihat banyak burung berterbangan dan daun-daun berguguran karna itu adalah musim gugur,sungguh sangat bagus,aku menatap burung-burung itu dengan berbinar dan di dalam benakku aku berbicara.
'Aku ingin seperti burung itu terbang kemana-mana dan tidak di kekang' ucap Yoonra dalam benaknya
Seminggu pun berlalu sekarang aku boleh keluar dengan syarat aku tidak boleh keluar rumah selama 1 bulan, aku memang sudah tidak pernah keluar rumah buat apa di kasih syarat? entahlah aku tak memikirkan itu, yang aku pikirkan adalah tentang bisa kabur dari rumah ini lalu aku bisa bebas.
1 bulan berlalu sekarang adalah musim dingin, keluarga ku keluar dari rumah dan ke taman kota di sana kita memang bisa berseluncur di sana,dan ini adalah waktu yang pas untuk pergi dari rumah.
Benar saja aku berhasil keluar rumah dengan menyamar,aku segera bergegas lari dari kota Seoul menaiki bus ke kota Busan, di sana aku sangat linglung,karna aku tidak memiliki rumah dan sekarang musim dingin, tabungan ku memang banyak tapi ini untuk stok makanan.
Tiba-tiba ada seorang pria paruh baya yang menghampiri ku, ia menanyakan kepada ku, aku berasal dari kota mana karna ia baru melihatku di sini.
Aku memanggil nya dengan sebutan Samchon,lalu aku di ajak ke rumahnya, Ia tinggal bersama cucu nya yang sedang sakit namun tidak tau apa obatnya, aku berpikir sejenak dan aku memeriksa kondisi cucu nya itu lalu aku pernah mempelajari tentang penyakit ini dan menyuruh pria paruh baya itu mengumpulkan obat-obatan herbal yang aku suruh.
aku segera menumbuk obat-obatan itu lalu memasukan teh herbal yang ia seduh tadi lalu tak lama kemudian aku meminumkan obat itu dan aku menyuruh Samchon Chin Hae menunggu hingga esok pagi.
Karna aku sudah lelah aku izin undur diri ke kamar ku lalu Samchon Chin Hae mempersilahkan ku kembali ke kamar, sedangkan Samchon Chin Hae sedang menunggu cucunya sadar, ia menitihkan air matanya sambil menunggui cucunya. Aku yang sedari tadi mengintip merasa sedih dengan Samchon itu.
Aku yang hampir masuk kamar mendengar suara batuk dari kamar cucu Samchon Chin Hae langsung berlari ke sana dan memeriksa keadaan Chin Ho yaitu cucu dari Samchon Chin Hae.
Aku segera meminumkan dengan air putih agar obat tadi tidak begitu nyergak di tenggorokan,Aku melihat Samchon Chin Hae tersadar lalu langsung memeluk cucunya. Aku yang melihat itu bisa di bilang iri kepada Chin Ho yang mendapat kan kasih sayang tidak seperti ku.
'Tik' tiba-tiba air mata ku menetes melewati pipi ku yang putih dan tembam. Samchon Chin Hae dan Chin Ho yang melihat aku menangis penasaran mengapa aku menangis.
"Yeodongsaeng kenapa menangis?"ucap lembut pemuda itu
"ah aku? aku tidak apa-apa"ucap ku sambil mengelap air mata ku
Chin Ho lalu menyamperi ku dan mencubit pipi ku sampai memerah,aku meringis sakit karna pipiku merah tapi Chin Ho tidak melepaskan cubitannya dari pipiku,tanpa sengaja aku memanggilnya dengan sebutan oppa.
"Oppa wepaskanh"ucap ku tidak jelas karna pipiku di unyel-unyel
"Oppa?kau mengganggap ku kakak laki-laki?"ucap Chin Ho dengan tertawa
Aku diam tak berkata, kedua orang itu mentertawakan ku akibat salah bicara tadi, diriku sekarang tau bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang, Tapi kasih sayang ini bukan dari keluarga ku melainkan dari orang yang baru ku kenal.
Beberapa hari kemudian aku pergi menaiki gunung yang ada di hutan,suasananya sangat sejuk dan enak untuk bersantai,aku dan Chin Ho memetik beberapa buah pir liar yang ada di sana,pir itu sangat manis jadi aku membungkus beberapa pir itu untuk di olah di rumah.
"Hemm.... bagaimana rasanya menjadi burung yang bisa keliling dunia?"ucap ku bertanya tapi bukan ke Chin Ho melainkan ke alam
"Biarkan alam yang menjawab mu Ra"ucap Chin Ho
Aku hanya mengangguk pelan dengan jawaban yang Chin Ho katakan, memang benar hanya alam yang bisa menjawab semua pertanyaan ku, Chin Ho sekarang sudah pulang ke rumah dan tinggal aku di sana, lalu aku berteriak sekencang-kencangnya agar beban ku ringan.
"KAPAN AKU LEPAS DARI BEBAN INI TUHAN?!!!.....AKU INGIN BEBAS!!!!AKU INGIN SEPERTI BURUNG-BURUNG ITU......"ucapku tidak mempedulikan keadaan sekitar
Setelah merasa beban ku ringan aku pulang ke rumah Samchon Chin Hae, di sana aku langsung ke dapur dan membuat sebuah kue pisang dan manisan pir, Aku juga membuat lauk pauk Yang ada di sana lalu menyediakan untuk Samchon Chin Hae dan Chin Ho, Aku segera mandi dengan terburu-buru agar mereka tidak menungguku terlalu lama.
Kami pun makan dengan tawa riang serta berbicara banyak hal yang menyenangkan,sungguh rasanya sangat enak dibandingkan dengan keluarga ku sendiri, seperti sekarang aku memang menjadi burung yang bahagia.
Setelah makan malam selesai aku Pergi ke kamar ku lalu membaca buku yang aku bawa,buku itu tentang obat-obatan yang mungkin bisa membantu orang-orang yang sakit dengan obat-obatan herbal.
Setelah aku merasakan kantuk berat aku langsung tertidur, Aku berada di mimpi yang seperti dunia nyata di mana banyak burung-burung yang ku temui dan itu menjawab semua pertanyaan ku. Sungguh menakjubkan.
Tak terasa hari sudah mulai pagi aku bangun sekitar jam 05.30 dan aku segera mandi dan bersiap aku ingin membuat sebuah tempat duduk kecil di halaman agar bisa bersantai menggunakan bambu jadi aku pergi dengan Chin Ho.
Di pikiran ku ayah ku dan keluarga ku sedang cemas akan kepergian ku tapi itu semua tidak benar mereka malah suka ria aku pergi berharap aku di culik dan mati begitu saja.
Setelah aku selesai membuat kursi-kursi santai itu aku pun kembali ke bukit yang di mana aku bersantai dengan Chin Ho,tapi sekarang aku sendirian di sana,tanpa ku sadari banyak burung-burung yang mengelilingi ku dan mereka pun seperti di mimpiku bisa berbicara,jadi aku tanyakan semua yang aku ingin tanyakan.
memang benar kata Chin Ho alam akan menjawabnya dan sekarang memang benar,alam sudah menjawab pertanyaan ku, pertanyaan yang belum orang tau jawabannya dan sekarang di jawab oleh burung-burung kecil yang alam kasih untuk ku.
Aku sungguh seperti menjadi burung kelak sekarang, aku bahagia,aku tidak menderita ,aku bebas, itu semua keinginan ku terkabulkan, Tuhan memang baik padaku, Ia mengabulkan keinginan yang aku punya keinginan yang sangat-sangat sederhana,bukan keinginan barang mewah dan mahal tapi keinginan yang hanya untuk bahagia, Tak terasa air mata langsung membrebes di pipiku, Beberapa kali aku mengelap pipiku tapi air mata ini tetap keluar,hingga aku tau cerita ku ini ada beberapa pesan sederhana yang terkandung di cerita ini, sebenarnya hanya ada dua pesan.
pesan pertama, Jika kau tidak memiliki jawaban yang terdapat di pertanyaan mu biarkan alam atau tuhan yang menjawab itu.
pesan kedua, Jika kau berbuat baik, kebahagiaan lah yang akan lekat bersama mu
Kini kisah ku sudah di dengarkan oleh semua orang, Aku sangat beruntung bisa menemui keluarga sederhana di sini bukan keluarga yang mewah akan harta tapi keluarga yang mewah akan kasih sayang dan ketulusan.
sekarang aku lebih sering melihat burung-burung terbang di sore hari, mungkin jika ada ponsel aku akan memotretnya tapi aku tidak punya ponsel, yang ku punya hanyalah kedua mataku yang merekam kejadian nyata dan indah ini semua
Terimakasih sudah mendengar kan kisah ku, kuharap kalian paham akan pesan dari ceritaku sampai jumpa semua~ [Kim Yoonra]