Aku mengenalnya saat kami duduk di bangku kelas 1 SMA . Laki-laki itu namanya Riki . Dia sosok laki-laki pertama yang berhasil mencuri perhatianku . Dia baik, friendly dan murah senyum . Dia itu laksana mentari di dunia ku yang gelap . Dia menerangi setiap langkahku . Tawaku kini bukan hanya tentang film kartun yang sering ku tonton tapi di sana juga ada dia . Aku dan dia , kami berdua akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan saat kami berada di kelas 2 SMA . Pendekatan kami memang cukup lama mungkin karena aku yang memang orangnya susah di dekati makanya itu butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mencuri hatiku . Sejak menjalin hubungan dia sering main ke rumah . Dia juga laki-laki pertama yang ku kenalkan sebagai pacar kepada ayahku . Ayah itu bukan tipe orang tua yang posesif tapi ayah selalu bilang ' ayah percaya sama kakak jadi kakak harus jaga kepercayaan yang sudah ayah berikan ' Dan Kata-kata itu selalu jadi pegangan ku . Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. ibuku sudah pergi meninggalkan dunia ini sejak aku masih kecil dan sejak saat itu ayah berperan menjadi dua sosok yaitu ayah sekaligus ibu bagi kami berdua .
Kini sudah tahun ke enam aku menjalin hubungan dengannya . Dan entah kenapa beberapa hari terakhir ini perasaan lain selain cinta selalu menggangguku . Aku merasa Riki berubah dan ayah pun tau itu . Aku dan ayah sempat ngobrol tentang hubunganku dan Riki tapi rasa kecurigaanku itu terpatahkan saat Riki membawa beserta keluarga besarnya datang ke rumah untuk bertunangan denganku dan saat itu pula aku menyadari bahwa ternyata diam-diam Riki punya niat untuk serius denganku . Dan hari itu untuk pertama kalinya aku melihat wajah ayah yang sangat bahagia, sangking bahagianya butiran bening di kedua matanya pun tak kuasa ia tahan . Ia menangis tapi ini adalah tangis bahagianya . Melihat wajah ayah saat itu membuatku bersyukur mempunyai sosok laki-laki seperti Riki .
Seminggu berlalu , kebahagiaan itu hancur seiring datangnya pesan singkat dari Riki .
" Aku ingin putus " .
Bagiku laki-laki yang memutuskan suatu hubungan lewat pesan singkat itu adalah tipe laki-laki pengecut .
Aku menatap pesan singkat itu dengan seksama .
' apakah ini jawaban dari Allah ? ' batinku.
Dua hari yang lalu aku berdoa kepada Allah . Meminta petunjuk atas perasaan aneh yang masih menyelimuti relung hatiku padahal aku tau Riki sudah menjadi tunangan ku dan sebentar lagi akan menjadi suamiku , tapi entah kenapa perasaan aneh ini masih saja mengusikku dan malam itu akhirnya aku memberanikan diri berdoa kepada Allah meminta jalan sebaik-baiknya jalan yang terbaik menurutnya dan hari ini seperti doa yang terkabul . Allah pun menjawab doa itu walaupun sesungguhnya ini bukanlah jawaban yang aku inginkan .
Aku menatap pesan singkat itu . Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini , kaki ku terasa sakit dan seperti sulit untuk menopang tubuh mungilku ini .
Aku mengunci pintu kamarku dan ku menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suaraku . Kamarku kini menjadi saksi bisu kesedihanku malam ini . Hari itu aku menangis sampai membuatku tertidur . Aku membuka mataku yang terasa berat lalu kulihat pesan yang kemarin belum sempat ku balas itu .
" Jika kamu seorang laki-laki , kamu datang ke rumah ku dan mengatakan sendiri kepada ayahku tentang keputusanmu ini "
Aku mengirim pesan singkat itu padanya tanpa bertanya alasan ia memutuskan hubungan ini .
Saat itu yang ada di pikiran ku hanya wajah ayah . Aku tau yang paling terluka dari perpisahan ini adalah ayah .
" Ya Allah...., Apakah aku sanggup melewati garis ketentuanmu ini..... ? Ini sakit banget ya Allah ? "
Pagi itu aku kembali menangis .
Setelah selesai mandi aku memutuskan untuk menemui adikku lalu ku ceritakan semua apa yang terjadi padaku . Dan saat itu kami berdua menangis sambil berpelukkan dan saling menguatkan .
Dengan perasaan yang berat dan ragu . Aku pergi menemui ayah di ruang keluarga . Saat itu ia sedang duduk santai di depan tv sambil menonton siaran favoritnya .
Aku berjalan mendekatinya lalu dengan menunduk dan tanpa menatap wajah ayahku . aku berkata . " ayah nanti malam Riki mau datang ke rumah , ayah.... maafin Dewi yah.... " Ucapku terbata-bata dan seperti mengerti ayah lalu mengelus pelan rambutku dan langsung memelukku erat .
" enggak pa-pa nak " Bisiknya yang makin membuat butiran bening di kedua bola mataku itu jatuh tak terbendung .
malamnya saat adik perempuan ku membcuka pintu untuk mempersilahkan tamu yang sedari tadi di tunggu oleh kami , dari sekian banyak orang yang datang aku sama sekali tidak melihat wajah laki-laki yang sudah menghancurkan kebahagiaanku ini .
Saat mereka memberi tau maksud dari kedatangannya mereka saat itu pula wajah ayahku langsung berubah . ada raut kemarahan dan kesedihan di sana tapi ia tahan segala emosinya saat itu . sebagai seorang ayah yang anaknya batal nikah aku tau saat ini dia pasti sangat kecewa sekaligus marah apalagi saat ia lihat bahwa Riki tidak ada di antara tamu itu . malam itu aku tak dapat berkata apa-apa , aku hanya diam dengan sisa-sisa air mata yang sudah ku habiskan sesaat sebelum rombongan ini datang . Ayah dan adikku , kedua orang yang sangat ku sayang inilah yang berbicara mewakiliku . adikku bahkan sampai mengatakan kata-kata yang tidak pernah terpikirkan oleh ku . Di sela-sela tangisnya ia berkata ' satu hal yang harus kalian tau , saat ini tuhan benar-benar menunjukkan bahwa ternyata Riki bukanlah pilihan Tuhan untuk kakakku ini jadi saat ini aku bersyukur Tuhan menunjukkan semuanya sebelum keduanya menikah '.
Sejak hari itu aku langsung menghapus dan memblokir apa-apa yang bisa menghubungkan ku dengannya . aku bukannya memutuskan tali silaturahmi tapi saat ini aku hanya ingin menjaga hatiku agar tidak di patahkan lagi dengan orang yang sama .
Seminggu kemudian Riki mencoba menghubungiku dengan men-DM ku di Instagram namun tak ku hiraukan . lalu beberapa hari kemudian aku mendapat pesan masuk dari beberapa teman-teman SMA ku yang mengatakan kalau mereka mendapat sebuah undangan pernikahan Yang di dalamnya tertulis nama Riki dan Nama salah satu sahabatku/ teman sebangku ku waktu SMA dulu .
Saat menerima pesan singkat itu aku hanya tersenyum sebab saat ku terima pesan itu saat itu pula aku sudah perlahan berhasil mengikhlaskan semuanya walaupun belum sepenuhnya tapi setidaknya aku jadi tau kalau apa yang selama ini di katakan oleh teman-teman ku itu ada benarnya .
sebenarnya dulu saat jaman SMA , teman-teman ku pernah memperingatkan ku tentang kedekatan Lia dan Riki namun aku selalu mengelak apapun perkataan mereka itu , dan hari ini perkataan dari teman-teman ku itu kini menjadi kenyataan , entahlah aku juga tidak tau sejak kapan keduanya memiliki hubungan tapi yang jelas bagiku sekarang , aku sudah tau bahwa sebagai seorang manusia aku tidak boleh terlalu banyak menaruh harapan kepada manusia lainnya melainkan kepada Allah semata .
Aku tau ini mungkin terjadi pada beberapa orang di belahan dunia ini , tapi aku hanya enggak menyangka aja kalau aku bakal menjadi salah satu orang yang di pilih tuhan untuk merasakan sakit ini juga .
Setiap orang menyembuhkan luka dengan kecepatan yang berbeda-beda . aku berharap bisa menjadi salah satu orang yang cepat sembuh dari luka ini .