Sebenarnya sih bingung mau nulis apa
Dengan kondisi ruang pikir tak mampu lagi mencerna makna,
tapi pergerakan asa memaksa mencoba menguraikan sebuah rasa yang belum sempat dijelaskan sebelumnya.
Kali ini aku akan sedikit menulis tentang lebih kurang pengalaman ku sendiri.
Sebelumnya dapat dipastikan setiap kita tentunya memiliki seorang sahabat, tak berbeda juga dengan ku. Aku saat kecil berumur 6 tahun dan masih duduk dibangku sekolah Taman Kanak-Kanak sudah memiliki tiga sahabat perempuan.
Dengan aku sendiri laki-laki, kita menjalani kehidupan tak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya, ada waktunya sekolah, bermain dan sebagainya.
Tepatnya seperti itu, tak banyak yang dapat ku ingat tentang masa kecil dan tentang mereka sahabat kecilku, pastinya banyak kisah bersama mereka yang terlewat.
Pada saat itu singkatnya aku dan keluargaku diharuskan pindah dari tempat tinggal sebelumnya pergi ketempat yang baru, tak tau persis apa sebabnya, aku terpaksa tanpa salam perpisahan meninggalkan mereka sahabat kecil ku.
......Belasan tahun kemudian....
...Tokk
...Tokk
Ada mengetok pintu rumah ku,
ibuku lalu pergi membuka kan pintu,
memastikan siapa yang bertamu di malam hari.
Kamar ku yang dekat dengan pintu luar rumah,
aku mendengar suara samar-samar menyebut nama ku, tak berapa lama ibuku memanggil dan menyuruh ku keluar. Aku pun langsung keluar menghampiri ibuku dan orang yang bersama ibuku tersebut.
Dengan terheran sesampainya diluar, aku yang melihat asing orang tersebut, lalu ibuku berkata,
"Kamu masih ingat ga?"
Tanya ibuku kepadaku yang sambil melirik kepada orang itu.
Aku yang kebingungan, masih mencoba mengingat siapa dia, tapi tetap saja aku tak mengenalnya, aku pun menjawabnya,
"Tidak bu, emang siapa?"
"ini dia teman kamu dulu waktu kecil,
masa kamu tidak ingat, padahal kamu itu dulu
dekat denganya"
penjelesan ibu ku kepadaku.
"Aku leny,
Ingat tidak teman kamu dulu waktu TK?"
Tanya dia kepada ku.
Meskipun dia telah menyebutkan namanya, tetap saja aku tak mengenalnya, tapi aku hanya mengingat satu nama,
"Sewaktu aku TK,
aku hanya dapat mengingat orang yang
bernama pia"
Jawab ku kepadanya.
"Iya, dulu itu kita berempat,
Pia juga, ada lagi Yana namanya"
Ucapnya.
Selanjutnya Aku yang benar-benar lupa tentang dirinya, karna sudah cukup lama berpisah, akhirnya dia meminta nomor hp ku, guna mengingatkan ku kembali dan dia pun pulang.
Tak lama kemudian setelah dia datang kerumah ku,
aku dan dia saling berkomunikasi lewat seluller, bahkan juga sering pergi main keluar.
Meskipun ingatan ku yang terbata-bata mengingat tentang dirinya dimasa kecil,
tak menjadi kan alasan bagiku untuk berteman dengannya.
Seiring berjalannya waktu, kita yang baru saja bertemu kembali diumur kita yang sudah memasuki usia remaja dan telah menginjaki bangku SMA,
perlahan ingatan ku tentang dirinya mulai kembali.
Tepatnya saat aku bermain gitar bersamanya dipelataran rumah ku, persis seperti dulu.
Aku yang dulu pernah bermain gitar dihadapannya memakai gitar ala anak-anak.
"Ingat ga kamu??
Dulu kita kecil, jika aku bersedih dimarahin ayah
kamu selalu bermain gitar dan menghibur ku"
Tanya dia kepada ku.
Aku pun menjawab, dengan ingatan yang mulai kembali.
"iya, sekarang aku mulai ingat,
aku sering bermain gitar dihadapan mu"
"Tapi kenapa aku menyuruh kamu bermain gitar
dulu, baru bisa kau mengingat ku??
Bahkan kau tak mengenal nama ku.
Tanya yang memasang raut wajah bersedih.
Aku yang kaget mendengar kata-kata itu langsung menjawab.
"Itu kan sudah lama,
wajar saja aku lupa, bukan aku sengaja,
itu lah yang aku rasakan"
"Kenapa nama pia kau ingat?
kalau kau benar lupa, kau pasti juga tak
mengenalnya,
apakah aku tak cukup berarti bagi mu dulu"
Pada saat aku kemarin kerumah mu dan kau
berkata tak mengenal ku, sakit tau rasanya!!
asal kamu tau dulu semenjak kamu pergi,
hari-hari ku, aku sibukkan mencari mu,
tapi malah tak ingat kau bilang terhadap ku"
Ucapnya yang meneteskan air mata.
Aku yang merasa bersalah mendekatinya lalu memegang tangannya.
"Sudah jangan nangis lagi, ntar hidungnya merah tu"
ucap ku kepadanya, sama seperti kata-kata ku dulu
dimasa kecil kalau dia lagi bersedih.
Setelah mendengar kata ku itu, dia kembali tersenyum menghapus air matanya.
....CentenGG!!
Suara notif hp ku berbunyi, aku melihat ternyata Leny sahabatku memasukkan ku ke dalam Group aplikasi,
Didalam Group itu aku melihat kontak dua perempuan yaitu sahabat kecil ku yang lainnya, Pia dan Yana.
Kita pun saling menanyakan kabar di Group,
lama kelamaan aku dan mereka yang sudah merasa Akrab memutuskan mencari waktu dan tempat untuk reunian.
Akhirnya kita semua dapat berkumpul kembali, setelah cukup lama terpisah.
Saat itu dipantai, kita duduk.
Aku bisa dibilang lebih dekat dengan sahabatku yang bernama Yana, kita berdua berbicara seperti udah lama bertemu.
Lalu aku yang melihat Leny tingkahnya aneh ditambah dia juga kadang marah-marah ntah kenapa.
Yana pun bertanya kepadanya,
"Kamu Cemburu ya len, aku dekat dengan zikra"
Namun leny yang tak mengakuinya malah beralasan dan berkata,
"Ga kok, kenapa harus cemburu?"
Pada kenyataannya, dia memang cemburu.
tapi dia malu untuk mengungkapkannya.
Sehabis itu pun kita berempat pun pulang.
Keesokkan harinya aku diajak leny untuk keluar,
aku mengira akan ada Pia dan Yana, ternyata tidak,
hanya aku dan dia saja.
Lalu kita berdua pergi kesuatu tempat wahana malam dan Leny mengajakku memasuki Rumah hantu, sampainya dipintu masuk aku mencoba memegang tangannya, aku bermaksud agar dia tidak terlalu takut melihat apa yang ada didalam sana,
tapi dia malah berkata kepadaku,
"Jangan pegang-pegang ya
Jangan cari kesempatan"
Apa boleh buat aku pun tidak jadi memegang tangannya,
tak lama seketika dia ketakutan melihat sosok hantu candaan dia pun memeluk ku dengan erat, aku pun berkata,
"tapi katanya tidak mau dipegang tangannya
ini malah di meluk"
Dia pun jadi malu,
sesudah dirumah hantu, dia juga mengajak ku menaiki komedi putar, aku pun kembali mengikuti ajakan dia tersebut.
Setelah menaiki komedi putar itu, tiba-tiba listrik padam komedi putar terhenti yang posisi kita berdua diatas paling tinggi.
Aku yang panik, takut terjadi apa-apa.
Leny yang hanya diam duduk, lalu berbicara padaku,
kata-kata hingga saat ini masih ku ingat,
"Zik, kalau dengan pacaran, aku takkan kehilangan mu lagi dan bisa lebih dekat dengan mu, apakah kamu mau?"
Aku yang tak menyangka dia akan berkata seperti itu dan menjawab.
"apakah kamu yakin, dengan pacaran kedapannya kita akan lebih baik-baik saja?
Aku takut jika pacaran akan mengubah semuanya"
"Aku yakin, karna saat aku kecil hingga sekarang, aku menyukai mu,
aku tak peduli apa yang akan terjadi kedepannya, aku tak kuat lagi menahan rasaku ini"
Jawab dia kepada ku.
Setelah aku melihat keseriusan dia, dan aku juga sudah mulai menyayangi dia, aku berucap,
"oke aku akan jadi pacar mu"
"tapi kamu dulu yang nembak aku, masa cewe sih yang nembak" ucap nya
Aku pun menembaknya, kita pun menjalin hubungan tak lagi seperti seorang sahabat, melainkan dua orang yang saling melengkapi.
Cukup lama kita menjalani hubungan spesial,
itu sebelum ibuku tau, pada akhirnya sampailah kabar kepada ibu ku bahwa kita berdua pacaran.
Ibu ku marah dan meminta ku agar menyudahi hubungan dengan leny, dan berkata.
"Kamu harus putus dengannya,
kalau tidak, jangan anggap aku sebagai ibu mu"
Aku yang sudah mulai sayang kepada leny, menghantarkan ku kepada pilihan yang sangat berat.
Aku pun bingung lalu tidak hanya tinggal diam, aku mencari tau kenapa ibu sangat membenci leny dan tak menyetujui hubungan kita berdua.
Ternyata setelah ku cari tau,
alasannya karena dendam masa lalu orang tua ku terhadap orang tua leny, yang membuat aku dan keluarga harus pindah tempat tinggal saat aku kecil.
Karena desakan ibu ku dan juga tak berfikir terlebih dahulu. Aku tak punya pilihan, aku pun memutuskan Leny dan mengatakan sejujurnya kepadanya tentang alasan ku mengakhiri hubungan itu.
Dan dia pun berkata,
"Kenapa karna alasan orang tua kamu memutuskan aku, kan kita yang jalani, kita berhak atas semua pilihan kita"
Aku yang tetap bersikeras meminta mengakhiri hubungan dan dia juga tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan, lalu kita pun putus, tapi demikian sesudah putus, dia juga sempat memberikan kata-kata terakhir kepada ku, yang pesan masih kusimpan di gallery hp ku yaitu.
"Walaupun kita tidak ada hubungan lagi,
setidaknya tetap lah kasih kabar tentang dirimu kepadaku"
Tapi dengan kebodohan ku, aku terus menerus mengabaikannya, saking tololnya aku, aku ngeblock dia di sosial media.
Tiap dia mencari ku, setiap itu juga aku lari darinya.
Setelah cukup lama, tak lagi mendengar kabar dari dirinya,
Akhirnya aku dihantarkan kesebuah titik, yaitu penyesalan.
Semenjak dia tak lagi bersama ku, banyak yang kutemui pelajaran hidup.
menyimpulkan, bahwa dia lah sosok yang benar-benar tulus kepada ku.
Saat ini rasanya itu percuma menyesalinya,
Suara yang dulu terus bergema dihatiku telah hilang, perhatian yang dulu aku dapatkan dari dirinya pun tidak lah ada.
Aku mencari tau tentangnya,
dia sekarang telah menjadi perempuan yang sangat luar biasa,
berubah jadi sosok perempuan Muslimah yang sangat baik.
Kini aku hanya bisa menemukannya dalam melodi gitar ku.
Hanya itu yang bisa mengurangi rasa penyesalan bagi ku.
Aku berharap dan sangat berharga, jika suatu saat aku akan bertemu dengan dirinya kembali.
Meskipun dia tak bisa lagi aku miliki.
To : Sarleny :)