Teriknya sinar matahari membakar tubuh nya, hari ini iya kembali terlambat lagi masuk sekolah sudah ke tiga kali nya dalam Minggu ini iya terlambat masuk sekolah membuat sang guru murka hingga menjemur nya di bawah tiang bendera hingga satu mata pelajaran usai.
Qiandra Yona Natasha siswa kelas XI IPS yang terkenal cuek tidak suka bergaul namun nama nya justru begitu terkenal karena kasus nya yang sering telat. Wajah nya sering wara - wiri di bawah langit biru di tempat - tempat Favorit seperti di lapangan basket , di bawah tiang bendera ,dan di WC umum
Qia panggilan sehari - hari nya. Wanita dengan kulit putih dan tinggi 155 cm meter perawakan yang hampir sempurna bertolak belakang dengan perwatakan yang iya punya.
" Rio lihat lah seperti nya wanita itu suka sekali cari perhatian Bu Indri ... " Ucap Evan pada Rio sembari tertawa melihat ke arah Qia yang berdiri di sana.
" Aku tidak peduli .. " Ucap nya berlalu melangkah pergi meninggalkan Evan yang masih tergelak.
" Hey ... tunggu " Evan menyusul langkah Rio pergi ke perpustakaan mengambil buku atas perintah Pak Agung.
Peluh keringat sudah membanjiri tubuh Qia namun wanita itu bahkan hanya diam saja. Masalah keluarga nya tidak sebanding dengan panas nya terik sinar matahari yang membakar kulit nya.
Dulu nya gadis itu begitu penurut dan patuh kehidupan nya bersama ibu dan kakak nya begitu damai meskipun mereka ibu dan kakak nya itu bukan lah kakak kandung nya. Waktu berjalan pelan saat kelas satu SMA hubungan nya yang terjalin begitu baik itu pun kandas.
Doni yang menjadi kekasih nya saat itu ternyata memiliki rasa dengan Kakak tiri nya Indri, Qia mengetahui itu ketika iya berniat menyusul Doni saat latihan Futsal. Terlihat dari kejauhan Indri dan Doni duduk begitu dekat Indri menyapu keringat yang membanjiri wajah Doni dengan lembut dan berhati - hati.
Semakin dekat Qia melangkahkan kaki nya pada mereka gelak tau serta panggilan sayang begitu jelas terdengar oleh telinga nya.
" Sayag ih... apaaan sih " Doni mencium kening Indri. " Sayang udah ahh ..." ucap Indri mereka tidak menyadari keberadaan Qia yang mengumpat di belakang mereka.
" Sayang aku kangen " Ujar Doni begitu manja memeluk Indri dengan begitu hangat.
Air mata Qia menetes iya terisak suara itu sampai di telinga sepasang kekasih itu. Mereka berbalik dan tercengang. Kaget melihat Qia ada di belakang mereka.
" Qia " Ucap Doni bersamaan dengan Indri.
" Kenapa ...??? " Iya menyeka air mata nya, iya tidak perlu lari untuk membuang rasa kecewa nya dan sakit hati nya. Pendosa seperti mereka lah yang harus lari untuk itu iya kuat bertahan meskipun hati nya begitu sakit melihat wajah orang munafik seperti mereka.
" Qia ... " Indri mencoba beranjak namun tangan Doni menahan nya." Don.... " ucap Indri lirih meminta kekasih nya itu untuk melepaskan nya.
" Iya Qia seperti yang kamu liat , aku dan Indri. KAMI " tegas nya pada kalimat Kami seolah mereka berdua bukan Indri saja yang salah tapi juga Doni dan dia mengakui itu " memang menjalin hubungan ini di belakang mu ..?? aku laki - lali dewasa berpacaran dengan mu yang masih terlalu kekanakan membuat ku tidak nyaman aku perlu seseorang untuk mengimbangi ku berpikir masalh hidup ku dan aku dapat itu dari Indri bukan dari kamu "
Kata - kata itu bagai petir yang menyambar uluhatinya , Qia tersenyum selama ini dari kecil hingga besar iya bersama Doni bahkan Doni lah cinta pertama nya dan juga pacar pertama nya. kebersamaan yang sedari kecil terjalin pun tidak serta merta menjadi jamininan pertimbangan seseorang untuk mengakhiri hubungannya atau pun selingkuh dari pasangan nya.
Awan hitam pekat itu tergantikan dengan Langin Biru semenjak kejadian itu Qia menutup diri nya baik pada laki- laki yang mendekati nya hubungan nya dengan Kedua orang tua atau pun kakak nya.
Bahkan sejak hari itu Qia tidak pernah mau di ajak bicara Indri atau pun Doni, sekarang hubungan gelap itu sudah di publish di depan ayah atau ibu nya dan sebentar lagi hubungan itu akan di resmikan baik secara negara dan agama seolah tak tak merasa bersalah sedikitpun.
Egois dan sekejam itu hidup , berulang kali Indri atau Doni meminta maaf pada nya namun Qia hanya dia dan berlalu pergi begitu saja. Qia berusaha menghindari setiap berpapasan dengan mereka seperti pagi ini karena menghindari bertemu Indri dan Doni di ruang tamu , Qia mengurungakan niat pergi kesekolah hingga mereka pergi lebih dulu.
" Kau ini seperti nya tidak bosan ya Qia berjemur di di bawah tiang bendera ..?? "
" Maaf Bu , Qia berusaha tidak mengulangi nya lagi "
" Selalu itu yang kamu ucapkan kapan ibu bisa memengang kata - kata kamu Qia. ??? "
Seseorang mengetuk pintu " Masuk ..." Ucap Bu Indri kesal.
" Rio , kau ketua OSIS disini. Lihat lah adik kelas mu ini Ibu sudah lelah menghukum nya. " ucap Bu Indri.
" Kenapa harus mengadu pada ku Bu ?? , aku kesini hanya ingin mengantarkan plasdist saja. lirih nya dalam hati nya.
Qia diam saja , melihat Bu Indri mengelus dada nya. " Qia ... Qia... " desah nya kesal.
" Dimana Rumah kamu Rio ...?? " Tanya Bu Indrii lagi.
" Griya permai Bu , " ucap nya pada bu Indri.
" Kamu Qia ??? "
" Green Rasident Bu "
" Berarti saat kamu berangkat ke sekolah melewati Green Rasident kan Rio "
Rio mengangguk , perasaa! nya sudah tidak enak akan kesimpulan yang di ambil oleh Bu Indri.
" Kalau begitu Jemput Qia setiap hari nya kalau kamu mau berangkat "
" Saya tidak mau Bu , saya janji tidak akan telat lagi "
Rio hanya membeku iya tidak mungkin protes seperti yang Qia lakukan tapi bukan berarti iya juga senag.
" Berapa kali kamu bicara itu sama ibu Qia tapi sebanyak itu pula kau mengulangi nya lagi "
" Saya janji kali ini Bu percayalah Qia mohon .. !!! " ucap nya mengkup kan kedua tangannya.
" Ibu tidak mau mendengar lagi Qia "
" Kalau dalam 1 bulan kamu tidak terlambat maka hukuman antar jemput ini akan ibu akhiri. "
" kalua Qia tetap terlambat ...?? " Ucap nya lolos begitu aja
" Satu kali kamu terlambat satu bulan juga berlaku masa perpanjangan antar jemput , dan ibu yakin Rio tidak akan mencemarkan nama baik nya untuk kedua kalinya sebagai ketua OSIS SMA ini karena kembali di hukum lari lapangan basket lagi , bukan begitu Rio "
" Iya Bu ..." Ucap Rio sementara dara tergulai lemas.
Rio yang masih ada keperluan dengan Ibu Indri masih berada di runagan nya sedangkan Qia sudah kembali ke kelas nya mengikuti jam mata pelajaran selanjut nya , Qia duduk paling pojok dekat dindinng.
" Puisi apa lagi yang bu indri kasih hari ini ??? " Ucap Anton teman duduk di depan meja nya.
" Bukan urusan Lo ...!!! " Tegas Dara.
***
Jam istirahat pertama membuat kantin menajadi penuh Qia yang malas mencari tempat duduk hanya memesan burger dan jus alpukat kemudia berlalu pergi.
Seseorang menarik lengan tangannya ,membawa nya masuk ke dalam ruang kelas yang kosong.
" Lepaskan .... "
" Mana no telpon yang bisa gue hubungi ?? "
" Untuk apa ...?? "
" Ya untuk mempermudah tukang ojek menjemput pelanggan nya ,"
" Hah ,Lo serius ngikutin perintah dari Bu Indri , lo kok jadi ketua OSIS nyogok ya kok bodoh banget " ucap nya ingin berlalu pergi.
Tapi sebelum iya berlalu Ponsel yang di genggam tangan Qia di rampas paksa oleh Rio. Sebutkan Sandi nya atau gue hempaskan kelantai.
Dengan terpaksa iya menyebutkan nya.
" Telpon panggilan gue akan masuk di jam 5 subuh artinya Lo harus siap jam 6 pagi gue jemput lo sudah ada di depan komplek. kalau gue liat loh gak ada sesuai dengan waktu yang gue tetapin. Gue akan jemput di rumah lo "
Rio berlalu keluar dari kelas itu meninggalkan Qia yang masih membeku di tempat.
" Seenak jidad saja dia memerintah Gue seperti itu
***
))) Satu bulan di jemput ketua OSIS (((
Hari pertama sesuai dengan aba - aba yang di berikan Rio sebelumnya pada Qia. Qia berdiir di depan komplek di pagi buta seperti ini. Bahkan iya biasa nya berangkat Di jam 06:30 karena takut jika Rio menjemput nya di Rumah nya iya pun harus rela bangun pagi dan bersiap pergi sekolah.
Motor Ninja Merah series terbaru itu stop di depan dirinya. Jaket kulit hitam dengan helm Senanda membuat laki laki itu begitu keren siapapun tak terkecuali Qia.
" Apa kamu pikir aku menjemput mu dengan mobil pribadi ...?? "
" Kenapa memangnya ...??? "
" Kau baik kelasa hasil nyogok ya kok bodoh sekali ...?? " Ucap Rio membalikkan ucapan Qia yang pernah di peruntukkan untuknya.
" Cih , dasar pendendam " Decak Qia kesal.
" Jaket dan helm Lo mana. ??? "
" Aku tidak punya.... "
" Terus minta beliin gue.... ??? "
" Ya gimana di rumah memang gak ada motor aku gak punya helm aku pikir tadi nya kamu jemput mamang menggunakan mobil , terus gimana sekarang ..?? Apa gak bisa beli dulu pakai uang Gue kok ...!!! "
" Terus kalau ketangkep emang lho pikir polisi menerima alasan kalau lho mau baru mau beli helm ??? "
" Ya sudah sekarang gimana.... ?? "
Rio menepikan motor nya di pos security komplek lalu kemudian mendekati dara kembali.
" Kita naik buss "
" Hah " Ucap Qia ternganga.
" Kenapa gengsi....?? " iya menaikkan alisnya keatas memasang muka penuh tanya.
" Bukan gitu , Gue pakai rok mini kek gini di buss ya gak akan nyaman lah ??? "
Rio melepaskan Jaket kulit nya dan mengikatkan pada pinggul dara. Gadis itu terlonjak kaget " Diam ..." ucap nya sibuk mengikat jaket pada pinggul dara menjadikan jarak kedua nya semakin dekat.
" Selesai .... ada lagi tuan putri ...??? "
Rio melangkah meuju terminal di ikuti dara yang tertinggal beberpa langkah dari nya di belakang.
tak butuh waktu yang lama satu buah bus berhenti di depan mereka , mereka berdua naik seperti biasa buss itu sudah penuh dengan penumpang membuat mereka berdua harus bergelantungan. namun karena tinggi badan nya yang di bawah standar iya kesulitan mencari pegangan hingga iya berpegangan pada kursi penumpang.
Qia berdiri di tengah laki - laki dewasa iya benar - benar ketakutan bahkan iya tidak mampu mengkat wajah nya untuk mencari keberadaan Rio. Melihat wajah masam Qia , Rio sudah menebak Qia tidak pernah naik bus.
Tangan itu kekar yang pernah menarik nya itu kembali menarik iya kembali bedanya sekarang menarik dalam pelukan nya.
" Jangan banyak bicara mau dipeluk oleh ku atau Om - Om biadab seperti mereka ??? "
Qia hanya dia memegang tubuh Rio, satu tangannya bergelantungan di atas satu nya lagi memeluk pinggul Qia.
Detak jantung Qia berdetak lebih kencang , wangi pria mskulin jelas tercium di panca Indra nya tidak ada jarak di antara mereka.
Rio merasakan hal yang berbeda pada gadis yang sekarang berada dalam pelukannya. hati nya menghangat dan dia merasa nyaman.
Bus berhenti di Halte sekolah. kedua nya turun." Gw gak mau pulang nya naik bus lagi ...??? "
" Berharap ya Lo pulang sama gue , Gue cuman di tugaskan Bu Indri untuk memastikan lho tidak telat kan , kalau telat sampai di rumah buka. tanggung jawab gue lagi "
Dara begitu malu mendengar ucapan Rio kenpa tidak terpikir oleh nya.
" Ngarep ya pulang sama gue "
" heh , gue memanjatkan puji syukur sebanyak - banyak nya " Qia berlalu pergi meninggalkan Rio. dan Rio cuman tersenyum sambil berteriak.
" Tuh jaket gak jatuh hak milik kan .. Gue gak pernah bilang ngasih cuman minjamin aja " teriak nya sampai di terlinga Qia
Qia mengutuk kebodohan nya menepuk jidat nya benar - benar memalukan. Iya melepas jaket itu dan kemudiab berbalik mendekati Rio
" Jangan lupa beli jaket sama helm " ucap nya sembari menerima jaket nya kembali. Ucapan itu di abaikan Qia iya kembali berlalu pergi meninggalkan Rio.
Karena tidak terbiasa bangun terlalu pagi pada jam istirahat Qia lebih memilih untuk tidur.
Proses belajar mengajar berjalan seperti biasa nya pada jam 15:00 semua murid berhamburan keluar kelas dengan wajah lelah dan lesu.
Qia bingung menacari keberadaan mobil yang biasa menjemput nya. Hingga seseorang wanita teriak memanggil nama nya.
Mau aku lanjutin cerita nya tapi minta Like nya yang banyak ya. 😂
kalah udah banyak baru aku buka judul baru oke 👍
Happy Reading 👉👈 ✌✌✌