Teriknya sengatan sinar matahari membuat Winter mempercepat kegiatannya. Tangan indah wanita itu dengan telaten mengambil satu per satu pakaian yang kering.
Penyakitnya wanita—pakaian sudah menumpuk di dalam lemari. Tapi merasa tidak memilik pakaian karena bingung harus memakai yang mana.
Sama seperi Winter. Gadis lima belas tahun itu malah memilih mengambil selembar kaos yang belum sepenuhnya kering dari jemuran. Dari pada memilih salah satu dari puluhan pakaian lain yang siap di pakai di dalam lemari.
Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika segerombolan bujang tengah asyik berbaring di ruang santai—ruang yang menghubungkan rooftop tempat menjemur dengan ruangan lainnya di lantai dua rumahnya.
“Aduh, udah cocok banget nih Neng Winter jadi bini Gue.” Celetuk Jaemin. Salah satu orang dari segerombolan pemuda yang ada.
Dipindai dari tampilan winter saat ini—yang Jaemin katakan tidak sepenuhnya salah.
Sandal jepit lima belas ribuan. Rambut hitam legamnya tersanggul asal oleh sebuah pena hightect hitam. Juga daster selutut yang membungkus tubuh.
Membuat gadis itu terlihat seperti ibu dengan tiga anak dibandingkan remaja SMA.
“Dek, mau dibantu gak?” Tawar Mark yang membuat Winter mengulas senyum termanis yang dimilikinya.
“Enggak usah Bang, gak susah kok.”
“Tumben Lo mau ngangkat jemuran, pasti ada maunya.” Selidik Haechan.
Dia adalah kakak kandung Winter sendiri. Lelaki itu dengan tampang tak berdosanya berbaring melintang. Menutup akses pintu satu-satunya jalan yang di lewati sang adik.
“Bacot minggir Lo.” Sungut Winter pada sang kakak sambil berjalan melewati pemuda-pemuda yang sudah seperti ikan asin di jemur itu.
Tak lupa—Winter melirik presensi Jeno selama beberapa detik. Pemuda yang sedari tadi tidak berkomentar dan hanya diam seribu bahasa.
***
“Udah siap aja.” Komentar Mami Yuri saat melihat anak gadisnya sudah rapi dengan tas selempang merah muda juga tumpukan buku di depan dada.
“Gak konsen belajar di rumah, ribut banget di ruangan sebelah.” Keluh Winter sambil menyomot sepotong kue buatan maminya yang baru selesai dibuat.
Haechan dan teman-temannya jika sudah berkumpul memang kelewat berisik. Sebenarnya tidak seheboh seperti suara tawuran antar sekolah—hanya saja sikap Winter yang sedikit berlebihan.
Wajar—gadis itu pecinta kedamaian. Tipe-tipe wanita yang lebih nyaman menghabiskan seluruh waktu luangnya di dalam kamar.
“Panggil abang kamu, Mami mau ambil duit jajan dulu.” Ucap Yuri sebelum melenggang menuju kamar.
Sedangkan Winter dengan malas kembali menaiki anak tangga. “Bang dipanggil mami disuruh ke bawah.”
“Ngapain?” Balas Hacehan dengan nada tinggi.
Membuat makhluk lainnya yang sedang asyik berbaring otomatis menegakkan tubuh. Memandang bergantian sepasang kakak beradik yang tampilannya sangat jauh berbeda.
Winter saat ini sudah rapi sangat berbeda dengan Winter satu jam yang lalu saat keluar dari rooftop.
“Ngambil kue, mumpung masih anget.”
“Ah ngibul Lo, palingan juga nanti disuruh nganter Lo pergi bimbel.” Celoteh Haechan sambil kembali berbaring.
Mengabaikan presensi adiknya yang sebenarnya sangat menarik perhatian teman-temannya.
“Ck, suudzon Lo.” Winter menghela napas pasrah.
“Harusnya Lo bawa kuenya sekalian ke sini.” Tambah pemuda itu sambil memberi kode kedipan kepan salah satu temannya.
Siapa lagi kalau bukan Jeno.
“Biar Gue aja yang ke bawah.”
***
“Eh, kok malah Nak Jeno yang turun?” Histeris mami Yuri saat tidak melihat si manis Haechan. Malah seorang Jeno— calon menantunya yang datang ke dapur.
Winter hanya memutar bola mata malas melihat bendahara umum keluarga begitu sayang kepada tunangannya. Iya—Winter dan Jeno sudah bertunangan.
Bahkan sedari kecil.
Jeno hanya tersenyum seadanya. “Gak papa Tante, udah lama gak berengan.” Sambil mencuri pandang pada Winter yang saat ini tengah bermimik masam.
“Berarti Kamu yang nganter Winter bimbel?”
“Iya Tan.” Jeno mendudukan bokongnya di salah satu kursi meja makan
“Makan dulu yang ini, takutnya pulang nanti Kamu udah gak kebagian.” Yuri terlihat menyodorkan sebuah piring berukuran kecil berisi beberapa potong kue.
Lalu ibu dua anak itu memandang Winter intens. “Di ajak ngomong Jenonya. Orang calon suami di belai-belai ini malah didiemin.”
“Hm,” Winter bergumam seadanya.
***
“Masih lama masuknya. Kenapa sih pengen cepet-cepet?” Komentar Jeno tepat setelah kuda besi yang mereka kendarai berhenti di area parkir.
“Gak suka di rumah, ribut.” Balas Winter sambil mengaitkan tangan kirinya pada pembuka pintu.
Tapi nihil, Jeno menguncinya. Mungkin pemuda itu belum ingin Winter keluar dari mobil.
“Maaf kalo anak-anak ribut sampe kedenger ke kamar kamu di ruang sebelah.” Sesal Jeno. “Sebenernya tadinya mau ngajak jalan bentar biar Kamu gak terlalu bad mood. Apalagi kata Hacehan Kamu lagi PMS. Ak—.”
Winter terlihat menghembuskan napas kasar. “Gak usah sok perhatian deh.”
“Apa?”
Jeno terlihat terbelak dengan ucapan gadis di sebelahnya. Sudah biasa jika tunangannya ini bersikap cuek.
Tapi sungguh tak menyangka jika kalimat yang seperti itu akan keluar dari birai ranumnya.
“Ga usah sok perhatian nyampe ngurusin urusan pribadi. Lo juga bukan moodbooster yang bisa bikin Gue happy.” Winter berucap dengan nada tinggi.
Jeno yang mendengar itu terlihat memijat pelipis frustasi.
“Saya tunangan Kamu.” Jeno menekankan setiap kata yang dirinya ucapkan.
“Berhenti nyebut tunangan di antara kita. Cuma orang tua yang bakal bahagia denger itu. Bahkan mereka ngambil keputusan sepihak tanpa mau denger pendapat anak-anaknya.” Intonasi bicara Winter masih tinggi.
“Kalo saya bilang—Saya yang ngajuin pertunangan ini gimana?” Gumam Jeno sambil menatap lekat wajah Winter.
Dulu gadisnya ini penurut dan begitu polos saat di dekatnya. Sangat bertolak belakang dengan Winter yang sekarang.
“Hah?”
“Sebenarnya Saya yang mengusulkan pertunangan ini.” Jeno mengucapkan kalimatnya dengan tenang.
Tapi Winter yang mendengarnya sampai memegang dada—saking terkejut.
“Tapi kenapa?”
“Karena Kamu Winter. Kamu yang sudah membuat saya jatuh cinta dan rasanya Saya ingin selalu menjaga Kamu saat kamu bertindak bodoh.” Jeno memilin tali yang menggantung dari celana selututnya.
Pemuda itu bimbang. Haruskah dirinya mengatakan kenyataan sebenarnya pada Winter.
Saat ini—secepatnya?
“Kamu yang dulu begitu polos. Selalu ingin dekat dengan Saya. Bahkan menangis meraung-rang kalau Saya pergi sekolah bareng Haechan” Lanjut Jeno dengan suara yang mulai parau.
Winter sendiri tak berkomentar. Dirinya masih bingung—dan ingin mendengar penjelasan lebih lanjut.
“Tapi itu semua berubah saat Kamu mulai masuk sekolah dan punya banyak teman. Apalagi kamu yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata memilih mengikuti akselerasi agar bisa lompat kelas. Kesibukan membuat kamu perlahan lupa dengan kehadiran Saya kan?”
Winter tetap tak bergeming. Tapi perlahan—sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Otaknya yang selama ini hanya terpikirkan pelajaran—kini mengingat sesuatu yang lain.
Sesuatu yang mungkin dahulu sangat berarti. Tapi perlahan tergantikan oleh waktu ataupun sesuatu lain.
“Apalagi saat Saya pindah rumah ke komplek sebelah. Dan Mark mulai sering main ke rumah Kamu. Mark—lelai itu buat Kamu nyaman dan menggantikan posisi Saya.”
Winter menatap Jeno dengan mata sembabnya.
“Kita sana-sama selamanya.”
“Kita sama-sama selamanya.”
Mereka berucap bersamaan. Membuat derai peluh semakin deras mengucur. Winter tak kuasa untuk tidak memeluk Jeno saat ini.
“Maaf.” Hanya itu yang dapat terucap.
Winter tidak tahu lagi kalimat apa yang harus diucapkan. Otaknya mendadak tak berfungsi. Yang dirinya rasakan dan pikirkan hanya rasa bersalah yang amat besar.
“Harusnya enggak dengan cara seperti ini Kamu inget semuanya.” Komentar Jeno saat menyadari bahunya basah oleh air mata Winter.
“Kalo gak gini enggak bakal inget. Kenapa disembunyiin?” Winter mengelapkan tangan kanannya tanpa perduli jika itu malah membuatnya terlihat semain berantakan.
Jeno hanya gemas melihat tingkah tunangannya. “Takut—Saya takut kalo nanti Kamu malah menjauh.”
“Saat memilih meminta ayah untuk melamar Kamu. Saya pikir semuanya akan membaik. Tapi Kamu malah semain acuh sama kehadiran Saya.” Lanjutnya sambil dengan lihai menghapus air mata Winter oleh tangan kekarnya.
Dengan telaten sampai-sampai bedak Winter luntur semua.
“Maaf.”
“Ini matanya sembab. Udah nangis pasti pusing juga. Yakin masih mau bimbel?”
Winter menggeleng pasrah. “Males belajar jadinya. Ayo ke rumah Kamu, Aku kangen masakan Tante Yoona.”
“Ayo! Pasang lagi seat belt-nya. Biar Saya yang ngasih kabar ke mami Kamu.” Jeno segera mearih plasma pipih.
Dengan lincah mencari kontak Yuri—calon mertuanya. Tapi kegiatannya sontak berhenti ketika tawa Winter pecah membelah keheningan.
“Kok ketawa kenapa?” Wajah polos Jeno semakin membuat Winter terbahak. Sepertinya tubuh L-Man Jeno tidak sesuai dengan wajah bebelac¬-nya.
“Lucu ngomongnya pake Saya.”
Jeno tersenyum tipis mendengarnya. “Biar romantis dan terbiasa. Masa pas udah nikah manggilnya Lo-Gue.”
Ucapan Jeno membuat Winter bersemu merah. “Buruan ah. Gak izin Mami gak papa kalo mainnya sama Kamu.”
Dan mereka memilih memutar arah menuju kediaman Jeno. Winter benar-benar melupakan kegiatan bimbelnya.
Yang ada hanya Winter yang kembali pada Jeno. Dan Jeno yang selalu ada untuk Winter. Mereka akan bersama—walau di watu yang berbeda.
#lombafanfic