Pertama tama tolong siapkan tisu barang dua tiga lembar untuk menemani permulaan ini. Aku juga akan menyiapkan hal yang sama. Cerita ini adalah duka bagiku. Bagaimana jika kita menyebutnya sebagai pelajaran berharga yang begitu menyakitkan. Dari cerita ini aku terkadang ingin sekali bertanya kepada Tuhan. Kenapa kau ciptakan Lana? Apa kau ciptakan dia hanya untuk mencintaiku kemudian mengambilnya ketika akupun mulai merasa hadirnya begitu berharga.
Namanya Muhammad Maulana. Mantanku yang membuat air mata ini mengalir deras. Membuat hati ini tertutup bertahun tahun lamanya. Kisah ini akan dimulai.
"Cantik." panggil Lana.
Aku menoleh. Menunjukan mata garpu berusaha mengancam.
"Kamu itu cantik, loh." panggilnya sekali lagi.
Aku kembali mengangkat garpuku kini menodongnya semakin dekat.
"Harus berapa kali aku bilang, aku tidak suka dipanggil cantik. Ayolah, Lana."
Makan malam sederhana di indekosku malam itu adalah hari pertama dimana aku merasa diperhatikan, dilindungi dan dipuja.
Umurku 21 satu tahun kala itu. Dan jangan tertawa jika Lana adalah kekasih pertama yang aku punya. Dia cinta pertamaku dan Lana bilang dia justru sudah berganti pacar setiap bulan. Lana 22 tahun.
Percaya atau tidak Lana memang player kelas kakap yang merasa hidupnya janggal jika tidak bermain perempuan. Haha, sepertinya penggambaranku keterlaluan. Lana adalah mahasiswa teknik mesin disalah satu universitas di Bali. Dan dia adalah bagian dari sekelompok anak motor yang juga suka begadang dan keluyuran. Geng motor Lana terbilang tidak memiliki banyak anggota, hanya 10 orang yang bertahan dari jaman mereka SMP hingga jenjang perguruan tinggi. Lima diantara mereka orang Bali asli tiga dari Ambon dan dua dari Jawa termasuk Lana. Geng mereka menurutku tidak terlalu neko neko. Hanya seputar nongkrong hingga larut malam dan menghabiskan waktu itu dengan berbotol botol vodka juga berbungkus bungkus rokok. Lana Islam dan yang aku tau dia tidak pernah memiliki kebiasaan merokok atau minum minuman keras. Namun fakta itu yang justru teramat menyakitkan.
"Kalo kamu mau jadi pacar aku, aku buatin kamu seribu mangkok sambel matah." ucap Lana sekali lagi.
"Kalo aku bisa buat sendiri sambel matah nya? Kamu mau apa?" tanyaku.
"Ayolah, aku suka kamu."
"Kita baru kenal tiga bulan. Mau ditegaskan sekali lagi? TIGA BULAN."
"Dilan gak perlu waktu lama buat jatuh cinta sama Milea. Dan... "
"Dan kamu bukan Dilan aku juga bukan Milea."
Lana tersenyum kecut. Kembali melahap ikan goreng didepannya. Namun seringai kemenangan ada dihatiku. Aku menoleh padanya yang duduk tepat disampingku. Mulut itu masih mengunyah dan mata itu. Sorot indah yang bahkan tidak diberikan untukku sanggup membuat jantung ini berdebar berlipat lipat kali. Aku tersenyum lagi kemudian menangkap pipi Lana dengan kedua tanganku. Memandang sorot mata yang balas memandangku. Aku kecup dia, tidak dibibir. Melenceng sedikit di ujung bibir.
Lana tercengang. Menatapku tidak percaya.
"Kamu..." ucapku, "pacarku."
Lana menahan senyumnya kemudian kembali pada hidangan didepannya.
Hari itulah, aku melingkari angka dikalender duduk ku yang selalu kupandang setiap malam. Kemudian tersenyum ketika tanggal itu terulang di bulan bulan berbeda. Pertemuanku dengan Lana tidak terbilang begitu sering. Aku bekerja di dalah satu hotel bintang lima di daerah elit Bali. Sedangkan dia harus kejar kejaran dengan tugas dan jadwal nongkrong bersama teman temannya. Begitu hingga enam bulan pertama.
"Kayaknya Bunda mau ketemu." ucap Lana.
"Oke. Kapan? Aku bakal ambip libur." jawabku masih fokus dengan laptop didepanku, "apa yang harus aku bawa buat Bunda kamu?"
"Kamu kok biasa aja? Kok gak gugup?"
"Bunda kamu jelmaan nenek sihir?" aku bertanya, sembari tertawa.
"Bukan, sih." Lana menjawab.
"Yaudah, berarti bakal baik baik aja. Aku belum siap kalo harus dikutuk jadi kodok." aku berdiri. Diikuti Lana yang kini sudah mengambil satu helm dan memakaikannya padaku. Dia juga mengancingkan pengait hingga berbunyi klik seperti standar pemakaian helm yang dikampanyekan kepolisian setempat.
"Tapi jelmaan Macan." Lana tertawa.
Singkat. Aku berkenalan dengan Bunda. Bercakap bak ibu dan anak karena bisa membicarakan hal ngalor ngidul tidak beraturan.
Beberapa bulan berikutnya. Hal aneh mulai terjadi pada Lana. Lana adalah bagian dari geng motor, aku pernah membicarakan ini sebelumnya. Dan geng motor Lana pun tidak lepas dengan alkohol dan rokok. Namun, Lana tidak. Lana tidak merokok karena Ayahnya melarang keras dan dia tidak minum alkohol karena agamanya melarang juga. Lana patuhi itu, namun bukan berarti dia tidak menghirup asap rokok.
Suatu kali ketika perjalanan kami menuju salah satu mall di Denpasar Lana berhenti dipinggir jalan sembari megangi dadanya yang terasa nyeri. Aku tidak tau sesakit apa itu hingga Lana memutuskan untuk berhenti saja dan membelokkan motor ke arah warung pecel lele.
"Kamu sesak napas?" tanyaku ketika pesanan es teh manis kami disuguhkan.
"Iya... " Lana menjawab, "Aku belum pernah cerita, ya?"
Aku menoleh, menatap Lana yang kini menunduk sendu.
"Akhir akhir ini aku sering sesak. Bunda udah tahu, Ayah juga. Mereka bilang, bisa aja ini asma. Soalnya kakakku dan nenekku punya riwayat asma." Lana terhenti sejenak. Dia menatapku yang bermain main dengan sedotan es teh. "Emang asma datengnya pas udah aku gede, ya? Kakakku dulu ketauannya pas masih kecil."
Aku memiringkan kepala. Aku juga tidak tau tentang asma. Yang aku tau hanya penyakit anak indekos yang tidak akan pernah jauh dari asam lambung dan masuk angin.
"Ke dokter aja, ngajak Bunda atau ngajak aku." ucapku sembari meringis.
Setelah hari itu aku hampir tidak bertemu dengan Lana selama dua minggu. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan memang sedang banyak lembur. Akhir tahun memaksa siapa saja karyawan hotel untuk bekerja dua kali lipat lebih banyak karena memang puncak liburan. Sampai suatu ketika Lana mengajakku keluar. Aku rindu dia. Sungguh.
"Kamu tahu?" tanyaku pada Lana ketika motornya melaju pelan di ramainya kota Denpasar. "aku kangen ngalahin apapun."
Lana hanya terdiam kemudian motor bebelok menuju salah satu taman kosong yang menurutku cukup gelap. Hanya bercahaya remang lampu warna kuning dan beberapa kilatan lampu pengendara motor atau mobil yang sesekali melewati taman.
Lana memelukku dari belakang. Mengoperkan hangat yang sejujurkan aku rindu.
"Dua hari yang lalu aku udah ke dokter sama Bunda." ucap Lana masih belum melepas pekukannya.
"Dokter bilang Asma?" tanyaku sembari memaksa pelukan itu terlepas.
"Dokter bikin Bunda nangis. Aku gak suka tapi gak bisa marah." Lana melepas pelukan.
"Kan gak harus marah. Emang dokter bilang apa?"
Lana memelukku lagi. Lebih dalam dan lebih erat. Membuat tubuhku terhimpit badan dan lengan kekarnya. Lana menenggelamkan kepalanya dalam pundakku, menghela nafaspun terasa sangat jelas. Lana terdiam, masih diam sebelum aku meronta minta dilepaskan. Namun pelukan itu semakin erat.
"Muhammad Maulana. 23 tahun. Didiagnosis Kangker paru paru staduim tiga." aku terkejut masih meronta agar pelukan itu terlepas, "Dokter bilang gitu."
Lana merapatkan pelukan. Benar benar enggan terlepas. Aku hampir menangis. Tolong dicatat. Hampir.
Tubuhku melemah namun Lana memopangnya. Dia membuatku terduduk di salah satu kursi yang tebuat dari kayu besar yang disusun kemudian diberi warna. Aku menatap mata Lana yang tidak berani membalas tatapanku.
"Kamu gak mau lihat mataku?"
"Aku gak suka lihat kamu nangis."
"Aku gak nangis. Lihat dulu, makanya."
Aku menyentuh pipi Lana dengan kedua tanganku. Menangkupnya mengingatkanku pada hari diamana kalender dudukku yang kini sudah terganti pernah aku tandai dengan spidol hitam merek snowman. Ditanggal itu aku pernah mengecupnya untuk pertama kali dan mengucapkan hal yang kini aku ucapkan kembali.
"Kamu... " ucapku, "pacarku!!"
Namun kali ini tanpa kecupan melenceng ke pipi dan bukan pula kalimat sedikit ragu yang memabukkan. Kalimat itu penuh penegasan dan kepemilikan.
Aku mengecup bibir Lana singkat. Kemudian menatap mata yang berbeda kala pertama aku mengecupnya.
Kabar buruk pertama yang aku dapat dari Lana. Kabar buruk kedua, Lana dirawat disalah satu rumah sakit ternama di Bali yang beruntungnya tidak terlalu jauh dengan tempatku bekerja. Ruang rawat Lana hampir tidak seperti ruang berbau antiseptik dan tanpa kabel ataupun alat alat medis disana. Ada satu ranjang rawat milik Lana. Satu sofa panjang, meja kecil menghadap tv dan satu ranjang lagi yang kuduga untuk keluarga yang berniat mengunjungi. Satu bulan Lana terbaring dan aku belum mendengar kabar baik akan hal itu.
"Tadi aku nonton STRAY KIDS. Mereka ganteng." Lana berucap membuat kerut didahiku tercipta.
"Kamu suka?" tanyaku.
Aku kini duduk disamping tempat tidur Lana. Cowokku ini sama sekali tidak mau diam terbaring dan terus merengek ingin keluar.
"Enggak."
"Terus?"
"Soalnya pacarku suka mereka, makanya aku nonton. Nanti kalo aku udah.... ahh.. gitu... mereka bisa hibur kamu. Jadi kamu bakal baik baik aja." ucap Lana. Lana palingkan wajah kearah yang berlawanan denganku tanpa tau apa maknanya. Setauku, Lana tidak pernah menangis jadi aku akan berkesimpulan dia tidak melakukannya.
Malam itu, kuhabiskan malam bersamanya. Muhammad Maulana tidak mau melepas tangannya dari tanganku. Menggenggamnya dan memohon padaku untuk terbaring dengannya. Katanya, hanya untuk malam itu saja. Bisakah aku percaya padahal aku ingin selamanya bisa terlelap disampingnya? Terlelap dipelukannya tidak pernah terdengar buruk.
"Badan kamu kecil banget. Nyaman."
Lana mendekapku. Erat. Aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Pikiranku pergi dan mataku mati matian menahan agar tangis yang sudah terkupul tidak terbuang malam ini. Aku mencintai Lana. Mencintai Muhammad Maulana. Tanganku terkepal erat memegang bagian belakanh bajunya dan berusana untuk membuat nada bicaraku senormal mungkin. Tidak menahan apapun.
"Aku jadi pengen gendut."
"Oh, boleh. Aku suka. Bakalan empuk mirip bantal." ucap Lana membuatku tersenyum tipis.
Muhammad Maulana. Kenapa nama itu seperti candu yang enggan menghilang dari kepala. Menempel terus diotak dan berharap akan terucap dengan gampangnya. Kenapa kalimat jangan pergi Lana lebih berat dibanding aku rela ketika melihat mata Lana tertutup rapat dan tidak akan pernah lagi bisa terbuka. Aku tidak rela, aku mau Lana, aku ingin dipeluk terus. Sejujurnya jika sekali saja aku diberi kesempatan untuk berlaku egois maka hari itu aku akan bilang Lana adalah milikku, jangan diambil atau aku marah. Namun... Lana pergi dan egoisku tidak pernah terjadi.
Lana? Dimana kamu sekarang? Bisa mendengar bisikku yang berubah pilu setiap malam? Lana? Kau disana? Menangisiku yang tengah memohon pada Tuhan untuk mengembalikanmu?
Tidak. Aku tidak mendengar jawab Lana sedikitpun.
Kematian Lana menyisakan banyak duka bagi keluarga dan teman. Tangis tercipta dimana mana. Dari sudut rumah berjam jam sampai ke pemakaman. Bunda Lana histeris enggan lepas dari peti Lana. Ayah Lana sudah lelah menangis sepertinya. Matanya bengkak memerah dan terlihat sangat menyedihkan. Kakak perempuan Lana sudah bolak balik kekamar dibopong beberapa pemuda karena pingsan didepan pelayat dan sudah hampir menghabiskan satu botol tanggung minyak kayu putih. Mantan pacar Lana? Mereka bersebaran. Bergantian masuk dan memeluk Bunda sembari berucap bela sungkawa tanpa berhenti menangis. Teman satu Geng Lana berada disudut tenda. Beberapa terpejam dengan tangan terkatup dan mengepal didepan dada. Mereka berdoa pada Tuhan mereka masing masing. Aku?
Masih berdiri tegak diujung ruang. Menatap wajah pucat Lana yang teduh tanpa rasa sakit. Mata itu menutup dengan kelopak menghitam. Alis tebalnya masih saja menawan dan bulu mata itu pula yang pernah membuatku iri. Bibirnya tidak melengkungkan senyum atau melengkungkan kesedihan. Terdiam dan itu membuatku takut. Apa aku menangis? Tidak. Kecewa? Tidak. Marah? Aku juga akan menjawab tidak. Aku hanya diam dan memandang kaku Lana. Lama hingga Lana masuk dalam rumah terakhirnya di dalam tanah. Apa aku menangis sampai sini? Tidak.
Bunda masih histeris. Ayah Lana tidak kuat menenangkan, Lemah terduduk didepan rumah. Kakak perempuan Lana lagi lagi pingsan dan diurus sanak saudara. Aku masih terdiam.
"Silvi?" suara itu. Lia, mantan Lana yang aku tau masih menyukai Lana, "aku boleh peluk kamu?"
Anggukan kecil. Lia memelukku. Dingin. Tubuhku kedinginan.
Satu minggu pertama. Dua minggu. Tiga minggu. Aku belum menangis.
"Silvi, kami minta maaf."
"Bukan sama aku, sama Lana."
Aku memberanikan diri berhadapan dengan geng Lana. Menurut kalian, apa penyebab utama kanker yang membunuh Lana selain faktor keturunan, mungkin. Lana tidak merokok menyentuh alkohol juga tidak. Namun, lingkukangannya dan kepulan asap rokok kawan kawannya itu yang melukai Lana. Kalian para perempuan atau siapapun itu, aku yakin banyak diantara kalian yang membenci asap rokok, bukan? Atau setidaknya tidak suka. Aku juga.
"Aku belum lihat kamu nangis sejak hari itu." salah satu teman Lana berucap. Aku menunduk.
"Lana gak suka aku nangis."
"Tapi Lana juga gak suka kamu sakit, kan? Lia bilang kamu banyak ambil lembur. Kadang lupa makan cuma buat cari cara biar kamu sibuk dan gak nangis karena Lana. Kita semua sayang Lana, jangan sakit. Lana gak suka itu."
Aku menunduk. Dalam. Jemariku lemah namun semenit kemudian aku mengepal. Air mata yang tertahan kini meluap. Yang mati matian aku tahan agar menghilang justru terkumpul.
"Iya... Lana gak suka aku sakit." jawabku parau. Air mata sialan itu masih memaksa keluar.
"Aku gak bisa nangis. KAMU BENER!!! LANA BENCI AKU SAKIT. LANA BENCI AKU NANGIS." teriakan itu membuat kawan kawan Lana tertunduk enggan menatapku.
"Sekarang? Ketika aku udah bisa nangis? Ketika aku sudah mulai egois dengan tangis? Apa yang bakal kalian lakuin? Haaaa!!!! Lana gak akan pernah bangun. Lana gak akan pernah hadir buat peluk aku!!!"
Mereka semua terdiam. Beberapa mengusap air matanya, aku melihat itu dari remah mataku yang penuh dengan gumpalan sialan ini.
"Silvi?"
"Aku gak bisa salahin kalian!! Lana pergi karena kalian tapi orang orang gak akan pernah sadar!! KALIAN YANG BUNUH LANA. KALIAN!!"
"Maaf, Silvi."
Ah, siapa lagi yang mengucap itu. Telingaku mendadak tuli karena denging karena tangis dan teriakku. Aku lelah. Aku lemah dan aku mulai jatuh terduduk.
Hujan turun. Menemani tangis pertamaku untuk kematian Lana. Beberapa orang melepas jaket mereka dan menggunakannya untuk melindungiku dari tetes hujan. Satu orang mendekatiku. Mencoba menarik lenganku untuk menepi, berteduh. Tidak. Aku mau disini.
"Maaf, seharusnya aku gak salahin kalian. Ini takdir Lana, kan? Dia bahahia bersama Tuhan." suaraku lemah. Tangisku masih terus terusan berlanjut.
Malam itu, aku menangis untuk pertama kali setelah tiga minggu kematian Lana. Hujan semakin deras, dingin. Aku rindu Lana.
Untuk kali ini saja, ijinkan aku menangis, Lana. Ijinkan aku sakit karenamu. Ijinkan aku berteriak dan memaki kawan kawanmu yang terus meminta maaf ini. Lana tidurlah dengan lelap. Tidur hingga aku terbiasa dan lupa bahwa kau adalah yang pertama yang berani mencintaiku. Kau yang pertama yang pernah mengecupku lembut. Merangkulku seperti aku adalah milimu dan hak paten itu sudah jatuh tanganmu.
Dan terimakasih telah menjadi orang pertama yang menyakitiku. Terima Kasih untuk luka pertama ini.
Muhammad Maulana, kita.... putus. Kau mantanku sekarang, jadi jangan ganggu aku lagi.