Cinta dan Benci memang berbeda tipis, keduanya sama sama terikat dalam sebuah rasa. Meskipun rasa yang satu ingin memiliki dan yang satu ingin pergi meninggalkan.
Begitu juga yang dirasakan Key, Key tak pernah membayangkan jika sosok yang selama ini menjadi tempatnya bergantung akan berubah menjadi sosok yang paling di bencinya. Waktu merubah semuanya. Kepercayaan, cinta, kasih sayang, ketulusan dan semua yang Key berikan pada Leo justru akan semakin membuat Key terperosok pada kebencian akan fakta itu.
Lalu, apakah cinta Key pada Leo akan memudarkan kebencian nya?
Atau kebencian Key justru akan mengalahkan rasa cintanya?
Inilah awal dari semuanya, perasaan cinta yang berubah dalam sekejap menjadi kebencian. Sosok yang selalu menjadi tempat sandaran untuk Key justru adalah orang sama yang ikut berperan dalam menghancurkan keluarga Key.
Keyla Andriana dan Leo Arsen Pralingga, salah satu pasangan fenomenal di SMA GARUDA. Hubungan keduanya bukan hanya pacaran, mereka tinggal satu rumah, teman sedari kecil, bisa seperti saudara dan terkadang seperti musuh. Namun, satu hal yang pasti. Key sangat mencintai Leo, meskipun Leo tidak pernah mengungkapkan perasaan nya.
Lalu kenapa mereka bisa berpacaran? Itu juga yang sampai saat ini Key tak tau alasannya. Dulu saat Key masih berada di bangku kelas 7 SMP, Leo memaksanya untuk berpacaran, dan itu harus. Key pun menerimanya dengan senang, karena saat itu Key telah memiliki rasa pada sosok laki laki yang lebih tua satu tahun darinya itu. Tanpa pernah memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.
Key sangat bahagia hari itu, gadis cerewet itu terus saja menempel pada Leo yang baru pulang dari lomba basket nya selama 3 hari di kota lain. Dan laki laki itu pulang dengan membawa piala penghargaan bersama tim nya. Harus Key akui, Leo adalah penyemangat nya. Key bahkan begitu malas melakukan apapun saat Leo tidak ada.
"Leo pulang nya lama banget sih, Key kan kangen sama Leo. Apalagi selama tiga hari ini Leo nggak bisa di hubungi. Kalo nggak ada Leo, Key beneran males ngelakuin apapun" Gadis itu mencebikkan bibirnya sembari tetap memeluk erat lengan Leo.
Leo hanya tersenyum kecil, "Lo jangan terlalu bergantung sama gue, gue nggak bisa selalu ada buat lo" Nasehat Leo pada Key yang hanya acuh.
Gadis itu tidak menduga jika kalimat yang di ucapkan Leo adalah sebuah nasehat untuk nya dalam beberapa waktu ke depan. Dan Leo juga hanya reflek mengatakan nya, laki laki itu juga tidak akan mengira jika kalimatnya akan mengandung arti yang sangat besar bagi Keyla nanti.
"Kenapa? Kalo Leo nggak bisa selalu ada buat Key, Key yang bakalan cari Leo kemanapun. Key nggak akan pergi ninggalin Leo" Key menatap berbinar sosok laki laki tampan yang sekarang langsung memberhentikan langkahnya. Key ikut berhenti, tersenyum lembut pada sosok laki laki bertubuh tinggi itu.
Jantung Leo berdetak cepat, apa setelah mengetahui fakta itu Key benar tidak akan meninggalkan nya?
"Lo yakin nggak akan ninggalin gue?" Laki laki itu menatap gadis di hadapannya dengan serius.
Key mengangguk dengan senyum lebar, "Pasti! Key nggak bakal ninggalin Leo. Key nggak akan bisa hidup kalo nggak ada Leo. Leo pergi tiga hari aja Key udah males ngapa-ngapain" Ungkap gadis itu.
Leo menarik sudut bibirnya lebar, "Lo harus janji sama gue" tangannya mengelus kepala Key.
"Key---"
Suara bel masuk membuat Key memberhentikan ucapannya, "Key masuk ke kelas dulu, Leo jangan lupa nanti jemput Key!" Pamit gadis itu dan segera berlari menuju kelasnya.
Leo menatap Key dengan perasaan kalut. Laki laki itu sangat takut jika Key meninggalkan nya. Leo akui jika dulu ia terpaksa mengajak Key untuk berpacaran. Tapi setelah 3 hari tidak bertemu Key, Leo menyadari jika laki laki itu sudah mulai terbiasa dengan segala hal yang berkaitan dengan Key. Ada perasaan lain yang tumbuh di hatinya selain bertanggung jawab untuk menebus semuanya.
Gue harap lo beneran nggak akan bisa hidup tanpa gue, gue akui ini egois. Tapi, sekarang gue bener bener nggak bisa jauh dari lo.
***
Besok adalah hari dimana Key akan pergi ke kota lain untuk mewakili SMA nya. Gadis itu akan mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional, karena itu Key terus saja cemas. Bukan karena olimpiade nya, tapi karena Leo.
Mungkin jika Leo yang pergi, Key hanya akan menahan rindu nya pada laki laki itu. Namun jika Key yang pergi itu berbeda.
Bagaimana jika ada gadis lain yang menganggu Leo nya? Bagiamana jika Key tidak bisa fokus karena tak ada Leo? Bagaimana Key bisa menyiapkan semuanya sendiri? Apakah Key bisa tanpa Leo nya?
Banyak hal yang bersemayam di pikiran gadis cerewet itu. Jika biasanya saat Leo akan pergi beberapa hari Key pasti akan selalu menempel pada Leo sebelum mengizinkan laki laki itu pergi.
Kali ini juga berbeda, Key hanya berdiam diri di kamarnya. Gadis itu sama sekali tidak menemui Leo sedari pagi. Di sekolah pun Key seolah menjaga jarak. Key hanya Ingin memantapkan diri jika ia bisa melalui satu minggu itu tanpa Leo. Hanya satu minggu, setelah itu mereka akan kembali bersama. Key akan menjauhkan siapapun yang mendekati Leo nya. Tapi, apa Key bisa?
Namun, Key tak pernah menduga jika setelah satu minggu itu semuanya akan berubah.
Saat Key sedang asik memandangi langit yang bertebaran bintang, Leo ikut berdiri di samping Key. Key bahkan tak menyadari kapan Leo masuk.
"Kenapa nggak nemuin gue?" Key yang terkejut segera menoleh ke samping. Bukan tatapan senang seperti biasanya, tapi tatapan berbeda. "Ngapain Leo ke sini?" Kesal Key.
Leo menatap gadis itu aneh, "Lo nggak seneng gitu? Padahal baru kali ini gue nemuin lo duluan" Leo menatap Key yang memalingkan wajahnya. Gadis itu senang, tapi rasa takut lebih mendominasi dirinya.
"Nggak! Leo pergi aja, Key lagi nggak mau ketemu sama Leo" Gadis itu beranjak menuju sofa yang berada di balkon.
Leo mengikutinya, "Lo kenapa sih Key!" Laki laki itu menatap kesal Key yang semakin memalingkan wajahnya.
"Key nggak mau ngomong sama Leo!" Balas Key tak kalah keras
Leo yang benar benar kesal menarik tangan Key untuk berdiri, "Kenapa? Gue salah apa sama lo!" Bentak Leo. Laki laki itu memegang dagu Key agar menatapnya. Tangannya yang satunya mencengkram tangan Key.
"Leo nggak salah" Lirih gadis itu. Menatap lembut Leo yang terpaku, "Key cuma nggak mau bayangin kalo Leo nanti sama cewek lain pas Key nggak ada. Key takut" lanjut gadis itu,
Leo melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Key, "Lo nggak usah mikirin hal aneh aneh. Lagian kita berdua pacaran" Tangannya beralih menghapus air mata Key yang mengalir.
Key menggeleng pelan. Menahan tangan Leo yang hendak menghapus air matanya kembali, "Tapi Leo nggak suka sama Key, Key tau Leo sukanya sama Risa" Air mata gadis itu kembali mengalir deras. Key memang cengeng, tapi tangisan ini benar benar beralasan.
Leo terdiam, Key benar jika ia dulu pernah menyukai salah satu teman sekelas Key. Tapi ntah kapan itu sudah berubah. Sekarang Key adalah gadis yang di cintai nya.
Sudah sedari pagi Key berusaha membohongi diri sendiri jika itu adalah kebohongan. Tapi sekarang, kalimat itu kembali terputar jelas di otaknya. Dimana sebuah rekaman suara Leo yang menyatakan jika ia menyukai teman sekelasnya, bukan dirinya.
Leo langsung memeluk tubuh Key dengan erat, "Gue emang suka sama Risa-- " ucap laki laki itu sembari mengelus kepala Key.
Key memotong ucapan laki laki itu, "Key janji mulai sekarang nggak akan bergantung sama Leo lagi, Key akan berusaha berubah. Key nggak akan egois lagi" Menjauhkan tubuhnya dengan air mata yang semakin mengalir deras.
Jantung Leo semakin berdebar kencang, "Lo nggak boleh ngomong gitu!" Sentak Leo cepat. Laki laki itu menghapus air mata Key, "Gue emang pernah suka sama Risa, tapi itu dulu. Sekarang udah beda. Gue nggak mau denger lo ngomong kayak gitu lagi!" Balas Leo cepat, menatap lekat mata Key yang di genangi air mata.
Key menghapus air matanya, "Kamu nggak bohong?"
Leo mengangguk dengan senyumnya, "Sekarang gue suka sama lo" Ungkap laki laki itu, menatap Key dengan serius.
Jantung Key berdebar kencang, gadis itu tersenyum lebar dan kembali memeluk erat Leo. Kalimat itu yang terus di tunggu tunggu Key, kalimat yang paling ingin di dengarnya selama ini. Kalimat yang berhasil menghilang kan ketakutan Key sejak tadi.
"Key juga cinta sama Leo" Balas Key. Mereka berdua berpelukan sebelum semuanya kembali berbeda.
Berbeda karena hubungan mereka sekarang sama sama menyukai atau untuk hal lainnya lagi.
Leo melepaskan pelukan mereka, laki laki tampan itu menggiring Key menuju tempat tidur.
"Key harus tidur, besok kan mau olimpiade" Ucap laki laki itu dan memasangkan selimut Key.
"Tapi Leo harus janji nggak boleh deket sama cewek lain, setelah satu minggu kita bakalan terus sama sama"
Leo tersenyum, "Gue janji!"
Untuk pertama kalinya Key mencium pipi Leo, "Selamat malam" Gadis itu segera menghadap ke belakang.
Leo tersentak, laki laki tersenyum dan dengan cepat menarik Key untuk menatap ke arahnya dan balas mencium bibir gadis itu. Meskipun berpacaran dan tinggal satu rumah, Leo tak pernah melewati batas. Laki laki itu paling hanya memeluk Key dan mencium keningnya. Baru kali ini Leo mencium bibir Key.
Mereka tidak tau jika hubungan yang mulai sedikit berubah itu akan kembali berbeda. Benar benar berbeda dari sebelumnya. Perasaan Leo yang berubah, juga akan merubah perasaan Key.
***
Hampir 6 hari Leo merasa kesepian, tidak ada lagi sosok gadis cerewet yang selalu menganggu nya. Leo benar benar tak mengira jika keberadaan gadis yang sering membuat nya kesal itu sangat berpengaruh pada hidupnya.
Gue kangen sama lo Key, nggak sabar lagi buat nunggu besok.
Laki laki itu menatap foto gadis di ponselnya dengan senyum. Bukan hanya Leo yang kesepian, tapi di tempat lain Key juga sama kesepiannya.
Key pengen banget cepet ganti hari, Key kangen sama Leo
Mereka berdua menutup mata sembari membayangkan sosok yang di cintainya masing masing. Sembari menunggu hari esok yang sangat mereka tunggu tunggu, yang tanpa mereka sadari adalah hari yang akan membuat semuanya berubah.
Jam baru saja menunjukkan pukul 5 pagi saat Key tiba di dalam kamar nya dengan mengendap-endap. Key pulang lebih cepat untuk memberikan kejutan pada 3 orang yang di sayangi dan dicintainya itu.
Dengan tangan yang memegang sebuah trophy juga medali, Key tersenyum lebar sembari berdiri di depan pintu kamarnya.
"Leo! Papa sama Mama mau ngomong sama kamu!" Tangan Key yang hendak memegang knop pintu langsung gadis itu urungkan.
"Apaan sih Ma, Pa" Balas Leo malas
"Papa sama Mama udah sepakat bakal ceritain semuanya ke Key nanti" Key semakin mengerutkan dahi bingung, dengan berhati-hati Key mengintip dari lubang kunci kamarnya.
Terlihat wajah Leo mengeras menahan emosi, "Leo nggak setuju!"
Dimas menggeleng kan kepalanya, "Terserah apa kata kamu! Papa bakal ceritain semuanya sama Key, dia berhak tau semuanya!" Tegas pria itu.
"Pa!" Geram Leo
Nia hanya menatap suami dan anaknya dengan sendu.
"Pokoknya pas Key pulang nanti Papa bakal ceritain semua tentang keluarganya!",
Jantung Key berdebar, sedari dulu ia memang penasaran sekali dengan keluarganya. Tapi, saat pertama kali Key bertanya keluarga Leo malah berdebat. Karena itu Key tak pernah bertanya lagi.
"Apa yang mau Papa omongin!" Leo menatap Papanya sengit. Laki laki itu tidak terima jika Key sampai menjauhi nya.
"Semua tentang Key dan keluarganya juga keluarga kita"
"Pa! Leo nggak setuju!" Laki laki itu segera berjalan menuruni tangga, baru beberapa anak tangga. Suara Papa nya kembali membuat Leo emosi.
"Papa nggak butuh persetujuan kamu!" Dimas dan Nia ikut menuruni tangga. Tanpa mengetahui jika gadis yang sedang di perbincangkan tengah mendengar semuanya dengan kalut.
"Apa? Apa yang mau Papa jelasin ke Key! Papa mau bilang kalo kita nabrak mobil keluarga Key hingga mereka semua tewas! Papa mau jelasin kalo kita ngerawat Key karena rasa bersalah dan takut di penjara! Atau kalian mau bilang kalo kita sama keluarga Key nggak ada hubungan apapun!" Teriak Leo kesal, menatap tajam Papanya yang kini ikut emosi.
"Leo!"
"Apa! Ini kenyataan nya, Pa. Kita yang udah ngancurin hidup Key 15 tahun lalu. Kita yang selalu bohongin Key tentang kisah nya sendiri. Bahkan dengan teganya, kalian permainin perasaan Leo sama Key! Leo akui dulu Leo terpaksa pacaran sama Key karena paksaan kalian, tapi semuanya udah beda Pa. Leo mulai cinta sama Key, Leo nggak bisa pisah dari Key" Laki laki itu menatap papanya dalam sembari mengecilkan suara nya di akhir kalimat yang masih terdengar jelas di telinga Key.
Key merasa dunianya hancur, dadanya bergemuruh dengan perasaan sesak yang menghantam dadanya. Semuanya terasa berhenti. Air mata mulai mengalir deras di pipi Key dengan kepala yang menggeleng. Berharap jika semua itu hanya kebohongan. Tapi suara itu kembali menghantam dada Key jika semuanya adalah nyata.
"Ya! Itu yang bakal Papa jelasin sama Key! Dia berhak tau apapun resikonya!"
Trophy yang di pegang Key langsung terjatuh menimbulkan suara gaduh. Tubuh gadis itu ikut luruh ke lantai dengan perasaan sesak. Memori tentang semua yang dialami Key selama 15 tahun berputar jelas di otaknya. Matanya tak berhenti mengalirkan air mata sampai pintu terbuka yang menampakkan tiga orang tadi.
Leo terpaku, "K-key kapan pulang" Laki laki itu berjalan mendekati Key dengan cepat. Di ikuti Nia dan Dimas yang menghampiri Key.
"K-kenapa?" Key menatap ketiganya dengan mata yang terus mengalirkan air mata.
"Semua---"
"Cukup! Key tau semuanya!" Potong Key, gadis itu berdiri. Tersenyum miris dengan air mata yang terus mengalir.
Key menatap bergantian tiga orang itu, Tatapan pertama jatuh pada sosok wanita yang telah merawatnya sejak kecil, Key memegang bahu wanita itu dengan lembut, "Selama ini Key selalu anggep Mama sebagai Mama Key sendiri, Key cerita apapun sama Mama. Key berbagi banyak hal sama Mama. Tapi, kenapa Ma? Apa semua yang Mama kasih sama Key itu cuma rasa bersalah? Selama ini Key selalu tulus sama kalian--" Lirih gadis itu sembari memaksakan senyum dan menghapus air matanya yang terus berjatuhan. Bahkan disaat perasaan nya benar benar sesak Key masih tak tega untuk marah. Perasaan gadis itu sangat lembut.
Nia tercekat, wanita itu hanya diam dengan air mata yang ikut berjatuhan, "K-key" Lirih nya
Key menghapus air mata Nia dengan cepat, memeluk wanita itu singkat sebelum memundurkan sedikit langkahnya, "Mama nggak usah nangis, Key jadi merasa bersalah sama Mama" Nia ikut merasakan sesak mendengar ucapan gadis yang telah di anggapnya seperti Putri itu, Bahkan disaat Keyla tau semuanya, gadis itu bahkan masih mencoba tersenyum. "Mama tau dada Key rasanya sesak Ma, tapi nggak papa. Itu nggak masalah asalkan kalian nggak ikutan sedih. Key selama ini selalu berusaha nahan diri untuk nggak nanya tentang keluarga Key. Tapi, makasih kalian udah ngasih hadiah terbaik untuk ulang tahun Key ke 17 tahun ini" Gadis itu tersenyum, senyuman yang berhasil menyayat hati ke tiga orang yang menatapnya. Dengan tangan yang mulai memegang dadanya yang semakin terasa sesak.
Key beralih menatap Dimas, "Key seneng bisa ngerasain punya Papa, Papa selalu manjain Key, ngasih apapun bahkan sebelum Key minta, selalu perhatian sama Key. Tapi, apa semua itu palsu Pa?" Gadis itu menatap Dimas yang hanya terdiam dengan perasaan bersalahnya, "Key mau peluk Papa" Dimas hanya mampu menarik Key ke pelukannya. Perasaan pria itu ikut teriris, Key sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Semuanya emang berawal dari paksaan, tapi lama kelamaan semua perhatian yang Dimas berikan adalah tulus. Ia menyayangi Key seperti putrinya sendiri.
Key melepaskan pelukan Dimas dan dirinya dengan senyum tipis, "Makasih udah jadi Papa Key" Ucap gadis itu. Membuat Dimas semakin terperosok pada rasa bersalahnya.
Kali ini tatapan Key beralih pada sosok yang di cintainya, Key mencoba tersenyum meskipun dadanya semakin bergemuruh hebat. Sesak itu begitu menghantam dada Key. Bukankah baru satu minggu yang lalu Leo mengatakan jika ia mencintai Key? Lalu kenapa akhirnya seperti ini?
Leo memajukan langkahnya mendekati Key, "Nggak usah di paksa buat senyum, gue tau lo kecewa sama gue" Lirih laki laki itu.
Apa yang harus di lakukan Key sekarang? Leo bahkan mengerti perasaan Key dengan baik.
"Leo emang selalu bisa ngertiin Key, Leo bisa jadi apapun buat Key. Tapi, kenapa harus buat Key merasakan sesak ini Leo" Leo menatap nanar gadis yang di cintainya itu, Key segera menahan tangan Leo yang akan menghapus air matanya. Gadis itu sedikit memundurkan langkahnya untuk menjaga jarak dari Leo.
"Kenapa Leo nggak belajar buat ceritain semuanya pelan pelan sama Key? Kenapa terlalu tiba tiba gini Leo! Leo kenal sama Key, Leo tau semuanya tentang Key" Lirih gadis itu, menggeleng kan kepala sembari menatap kecewa sosok laki laki di hadapannya. Ini yang paling Leo takuti, saat biasanya gadis itu selalu ingin menempel padanya. Sekarang bahkan menatap Leo dengan sorot kebencian juga kecewa.
Leo, Dimas dan Nia tercekat, baru sadar jika semuanya memang terlalu tergesa-gesa. Seharusnya mereka lebih memikirkan semuanya. Terutama Leo yang semakin kecewa pada dirinya sendiri.
"Maafin gue Key" Leo memegang tangan Key, Key hanya diam.
"Leo, Papa sama Mama nggak salah. Disini cuma Key yang salah, Key yang terlalu bodoh buat pahami semua kejadian ini" Ungkap gadis itu. Kembali menghapus air matanya dengan cepat. Mencoba tersenyum lebar untuk terakhir kalinya dengan perasaan sesak yang begitu menghantam. Nia semakin tak bisa menahan tubuhnya untuk berdiri lagi, Dimas segera menahan tubuh istrinya. Leo hanya diam, menyadari kebodohannya selama ini. Jika saja ia mencoba mengatakan nya dengan perlahan mungkin kekecewaan Key tidak akan separah itu.
Kekecewaan Key memang benar, mereka lah yang membuat Key seperti ini.
"K-key mau kemana?" Teriak Nia saat melihat Key memundurkan langkahnya.
Key hanya menggeleng, kembali menatap mereka satu per satu dengan senyum lebar, "Makasih buat semuanya, kalian buat Key belajar memahami dunia luar sesungguhnya di usia ini"
"Leo tau, Key benci hidup Key! Key benci semuanya, Key benci kalian semua!" Gadis itu segera berlari meninggalkan rumah besar itu. Nia dan Leo terduduk lemas dengan Dimas yang hanya menatap nanar semuanya.
Dimas dan Nia kehilangan sosok ceria yang selalu membuat suasana ramai dengan celotehannya di rumah mereka.
Leo kehilangan sosok yang sangat mencintainya sejak kecil. Leo benar benar bodoh, disaat Leo baru mengungkapkan perasaannya semuanya tiba tiba berakhir. Perasaan Key telah berubah padanya.
"Gue cinta sama lo Key!" Teriak Leo. Dimas dan Nia semakin ikut teriris melihat keadaan putra mereka.
"Maafin Papa, Papa yang buat semuanya jadi gini" lirih pria itu. Ikut terduduk di lantai dengan perasaan sesal. Nia hanya mampu menatap Key yang telah hilang dari balik pintu rumah keluarga mereka.
"Maafin Mama, Key"
Mereka menyesal telah menghancurkan hidup seorang gadis yang besok baru akan merayakan ulang tahun ke 17 tahun nya.
15 tahun mereka tinggal bersama, membuat hari hari mereka di penuhi sebuah momen yang menyenangkan. Tapi, apa semua itu hanya kebohongan?
Key terus berlari menelusuri jalanan kompleks rumah keluarga Leo, kepala nya menggeleng seolah olah masih belum percaya dengan semuanya. Baru beberapa menit yang lalu Key masih tersenyum sembari memegang trophy juga medali yang di bawanya, kini Key harus berlari meninggalkan semua kenyataan yang begitu menyesakkan itu.
"Key benci hidup Key! Harusnya Key nggak pernah terlahir di dunia!" Key terduduk di tengah jalanan yang cukup sepi itu, bibirnya bergetar dengan air mata yang terus mengalir. Suasana ini masih cukup pagi untuk semuanya.
Alam pun seakan mengerti bagaimana keadaan Key, hingga menurunkan hujan yang sangat lebat. Di jalanan itu Key menangis, tidak ada lagi yang bisa ia percayai di dunia ini. Bahkan orang yang paling di cintai nya sekalipun. Semua cinta berubah haluan menjadi benci yang tak tertahan.
Leo yang mengajari Key mengerti cinta, dan Leo juga yang mengajari Key membenci seseorang.
Sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang tiba tiba berhenti di samping Key. Seorang laki laki yang seumuran dengan Key langsung mengangkat tubuh Key dan di masukkan ke mobilnya.
Key hanya diam, apalagi yang bisa dia lakukan disaat penyemangat nya bahkan baru saja menciptakan kebencian pada diri Key. Tempat Key bergantung bahkan adalah orang yang sama yang menghancurkan Key. Key tidak mengerti lagi arti kehidupan, cinta ataupun keluarga.
"Lo jangan jadi gini Key" Lirih laki laki itu. Menatap Key sendu dengan perasaan yang kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa membantu gadis itu selama ini.
"Apa? Apa yang begini! Key emang bodoh, Key terlalu bodoh mengartikan semua kasih sayang, perhatian yang Papa, Mama dan Leo itu berikan itu tulus. Nggak ada yang sayang sama Key! Key nggak punya siapapun sekarang!" Teriak gadis itu histeris. Menatap sendu sosok yang sejak kelas X terus berusaha mendekati nya. Bahkan sosok yang tak di harapkan Key adalah orang yang membantu nya saat ini.
Keano semakin sakit mendengar pernyataan itu, apakah gadis itu begitu kecewa?
Keano Prawira adalah kembaran Key. Keluarga Leo tidak menemukannya karena Keano yang saat itu duduk di kursi kemudi bersama Papa mereka. Dan Keano kecil saat itu langsung di dorong Papa nya keluar saat insiden tabrakan baru saja terjadi, hingga Keano di temukan keluarga lain sebelum mobil mereka hampir terbakar dan keluarga Leo menyelamatkan Key.
Tabrakan itu menyebabkan Mama, Papa dan Kakak mereka ikut terbakar. Dan saat usia Keano menginjak 12 tahun laki laki itu baru tau semuanya. Ia terus berusaha mencari info tentang keluarganya karena keluarga yang merawatnya terbilang cukup terkenal. Hingga saat memasuki SMA, Keano baru menemukan fakta jika ia memiliki saudara kembar yang bersekolah sama dengannya.
Keano terus gencar mendekati Key, namun Leo selalu menjadi penghalang. Karena itulah beberapa hari yang lalu Keano pindah di dekat rumah keluarga Leo. Dan tadi laki laki itu langsung melajukan mobilnya saat melihat Key yang berlari sembari menangis.
"Gue Keano! Kembaran lo!" Sentak Keano, "Gue yang bakal selalu ada buat lo Key" lanjut laki laki sembari menarik dagu Key untuk menatapnya.
"K-keano? kembaran Key?" Ujar gadis itu tak percaya.
Keano menghapus air mata Key, "Iya, saat tabrakan itu Papa langsung dorong gue keluar, gue liat semuanya dari cctv di tempat kejadian" Keano menatap Key penuh penyesalan, "Maafin gue karena nggak jelasin semuanya dari dulu dan buat lo salah paham" Laki laki menundukkan kepala saat melihat Key kembali menangis.
"Jangan buat gue terus merasa bersalah Key" lirih Keano
Key menggeleng, memegang pipi Keano dengan lembut, "Ano nggak salah, Key cuma nggak nyangka kalo Key masih ada keluarga" Ujar Key dengan air mata yang kembali menetes, "Key juga minta maaf sama Ano kalo Key nggak pernah peduliin Ano"
"Ano?"
Key mengangguk antusias, "Key dan Ano. Key pernah baca itu di baju baju Key waktu kita berdua terpisah"
Keano meluruskan tatapan pada Key yang tersenyum, laki laki itu ikut tersenyum dan menarik Key ke dalam pelukannya. Mereka menangis haru untuk kisah mereka, Keano pun seolah menghilangkan beban Key yang baru di terimanya beberapa menit lalu.
Tinn
Klakson dari mobil di belakang mereka membuat mereka melepaskan pelukan, tertawa lepas sebelum klakson kembali berbunyi dan Keano mulai menyalakan mobil dan mengemudikannya.
"Ucapin selamat tinggal buat semuanya Key, kita bakal tinggalin semua kenangan kita disini" Ajak Keano.
Key mengangguk pasti dengan senyum lebar, "Selamat tinggal semuanya, Key bakal bahagia sekali lagi bersama kembaran Key yang jelek!" Teriak gadis itu.
Keano hanya menggeleng kan kepala pelan, baginya tak masalah Key mengatakan apapun tentangnya yang penting gadis itu bahagia.
Key menatap Keano sebelum kembali berteriak, "Makasih karena disini Key mengenal apa itu cinta dan benci dengan orang yang bersamaan!"
"Bahagia dan Benci Key juga berada di tempat ini, sekali lagi Key ucapin selamat tinggal. Key bakal bahagia di tempat lain kali ini tanpa ada kebencian"
Disaat Key tengah merasakan bagaimana sakitnya menemukan sebuah fakta dari orang yang di cintainya, seseorang yang tak Key harapkan justru datang dan menjadi penenangnya. Bahkan orang itu adalah orang yang akan selalu menemani nya.
Tuhan telah merancang Skenario terbaik untuk hambanya, saat orang yang datang bisa pergi kapan saja. Orang yang tidak di harapkan juga bisa menjadi pendukung terbaik.
Skenario Tuhan bukanlah sebuah hal yang bisa kita bayangkan seperti membuat karya. Inilah kehidupan nyata, terjadi begitu mendadak dan tanpa pernah terpikirkan oleh akal manusia.
Key baru menyadari kenyataan bukanlah suatu hal yang harus di sesalkan. Tapi, dengan kenyataan kita bisa belajar untuk menerima sesuatu yang bahkan terjadi begitu cepat.
Meskipun cintanya sejak masih kecil telah berubah menjadi kebencian, Key juga bahagia. Karena masih ada keluarga nya yang akan membantunya bangkit dan menemani di setiap masa sulitnya. Key percaya, dibalik sebuah kejadian terdapat sebuah hikmah yang dapat di petik.
Jalani hidup dengan menerima semuanya, maka Skenario Tuhan akan menjadi cerita paling menarik dalam mengisi hidup manusia. Kedatangan, kepergian, kenangan bukanlah sebuah hal yang harus terus di ratapi. Bangkit dan mencari kebahagiaan adalah hal yang jauh lebih bermanfaat daripada itu.
Hidup itu penuh kisah menariknya sendiri sendiri, jadi jangan pernah menyamakan kisah mu dengan yang lain. Yang kelihatan jelas, belum tentu nyata. Begitupun yang tidak masuk akal bisa jadi merupakan fakta.