Tinggi egomu mungkin melebihi Dekkan, hingga sabarku tak bisa sepadan.
Aku ingin melupakan masa lalu dan mungkin membenahi hari ini. Karena hariku masih sama, masih serumit dulu ... takdirku tak henti mengajakku bermain.
Sialan.
Mobil yang Soo ra kemudikan melaju kencang di jalanan sepi tengah malam mengejar satu mobil dengan kecepatan sedang di depannya. Mobil sport hitam keluaran baru yang terbilang mewah. Soo ra menginjak gas tanpa ragu, mencoba menyalip mobil di depannya meski sangat mudah dan segera membanting setirnya ke kiri setelah berhasil menyalipnya.
Brakkkk …
benturan cukup keras tak bisa terelakkan, Sepasang kekasih di dalam mobil yang hancur di bagian depannya itu hanya terkejut mendapati gadis yang meringkuk menenggelamkan wajahnya di setir mobil terengah engah ketakutan. Enggan keluar dari mobil dan berusaha menetralkan deru nafasnya.
“Jung Soo ra,” Jimin berteriak penuh marah melihat pengemudi ugal ugalan yang hampir mencelakainya. tidak terlihat jelas keadaan Soo ra di dalam, Jimin hanya melihat mobil merah yang sangat familiar.
Jimin segera keluar setelah menenangkan kekasihnya yang syok di samping kirinya.
Jimin membuka pintu mobil Soo ra paksa lalu menarik gadis itu keluar. “Kau gila?” tanyanya sedikit membanting lengan Soo ra setelah mencengkeramnya dengan kuat.
Soo ra diam, menunduk menyembunyikan kepanikan yang luar biasa. rambut sebahunya teracak ke depan dan mungkin dahinya lebam terbentur setir.
“Ra, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu begini?”
“Kau sadar tengah mencelakai kita?” Teriak Hae won, kekasih Jimin yang histeris ketakutan. Beruntung dirinya baik baik saja karena memang laju mobil Jimin kebetulan tidak terlalu kencang. "Kau tahu ini percobaan pembunuhan? aku akan menuntutmu."
"Lakukan saja. Jimin akan membebaskanku, bukan begitu Jim? bukankah kau yang selalu peduli padaku, tidak ingin melihatku terluka atau semacamnya."
Mulut Jimin sukses menganga, tersenyum tertahan antara ingin mengumpat atau menertawakan dirinya yang memang seperti itu adanya.
"Sulit di percaya." Hae won menghentikan taxi dan memilih meninggalkan mereka pergi dari pada nantinya ia akan ikut gila.
“Sayang, aku akan menelfonmu nanti.”
“Kita putus," ucap Haewon dengan penekanan.
“Hae won.” Jimin tidak berhasil menghentikan kekasihnya yang sudah melesat dengan taxi biru yang ia naiki. Jimin menyerah.
Jimin berkacak pinggang dan berulang kali mengusap rambut tebalnya geram. "Apa maumu ra?"
"Aku muak denganmu Jim. Kau pergi dan berkencan dengan wanita lain, sekertarismu, mantanmu bahkan orang yang baru saja kau kenal. Kau tidak peduli bagaimana aku menjadi Soo ra yang di pandang bodoh oleh orang orang karena ulahmu."
"Bukankah kita sepakat untuk tidak menyinggung privasi masing masing? Jung Soo ra, apa kau mulai menyukaiku?"
"Apa itu yang kau pikirkan?"
Jimin kembali membisu.
"Bertingkahlah seperti kau telah memiliki istri, jangan bodoh. kau hanya akan dimanfaatkan oleh semua orang dan termasuk media. Mereka akan menjual mahal beritamu jika kamu ketahuan berselingkuh.”
"Bukankah kau juga memanfaatkanku?"
"Apa tampak sekali? sayang sekali, aku tidak pandai berpura pura. Aku hanya mengambil keuntungan dari sahabatku yang malang ini. sahabat yang mulai berubah jadi iblis saat aku mengenalnya lebih jauh."
"Ra, kau menghawatirkanku? Aku selalu memberikan semuanya padamu, kau merasa kurang?"
"Kau curang Jim, kau meminta Taehyung untuk menjauhiku, menghilang dariku dan meninggalkanku begitu saja. Kau curang, kau melanggar peraturan yang kau buat sendiri, kau bilang tidak boleh mencampuri privasi kita, tapi ini apa? Kau terang terangan bahkan mengusir Taehyung dari hidupku."
"Dia sudah bahagia dengan seorang model, kupikir dia tidak keberatan meninggalkanmu. Dia cepat sekali mendapat penggantimu. Kau masih mau bilang dia orang baik dan mempertahankannya?”
“Apa menurutmu Hae won adalah gadis yang paling baik di dunia ini? Terlalu selektif, namun tidak berkaca. Kau tidak perlu mengurusi hubunganku dengan Taehyung, ntah itu dia seperti apa, pada dasarnya aku juga tidak sebaik orang lain.” Mata Soo ra nyalang menatap Jimin.
“Lalu apa maumu?” Sumpah demi apapun ini adalah pertanyaan terbodoh yang Jimin lontarkan pada si keras kepala Soo ra.
“Aku ingin mengakhirinya.”
"Ra, kau mau mengakhiri pernikahan kita?"
"Pernikahan? bukan jim ... terlalu manis untuk menyebutnya, kurang lengkap ... pernikahan palsu, begitu tepatnya. kau tahu istilah friend with benefit? Mungkin itu lebih cocok."
"Aku akan menuntutmu jika kau bersikeras untuk bercerai!"
"Lakukan! aku hanya perlu membayar denda yang tertera di dalam kontrak dan pergi dari hadapanmu."
"Ra, jangan keras kepala."
"Jim, aku juga ingin bebas sepertimu. aku ingin ada orang yang mencintaiku seperti hae won mencintaimu. kau terlalu protectif Jim ... dan egois, kau bisa mendapatkan apapun termasuk cinta tapi aku tidak mendapatkannya. Memang, Kau selalu peduli padaku, memelukku saat aku benar benar butuh, menenangkanku, menghiburku Dan kau lari begitu saja saat Hae won memintanya. Kau bahkan meninggalkanku tanpa berdosa ketika Hae won memintamu menemuinya. Keterlaluan. Kau anggap aku ini apa Jim?”
Jimin mengakui semua tuduhan Soo ra dan tidak membalas ataupun beralasan.
“Kau tidak bisa menjawab. Mungkin sangat sulit untuk memutuskan, atau sangat sulit untuk menyakitiku. Ya, kamu akan memilih Hae won namun takut membuat hatiku hancur. Jangan sungkan Jim, aku sudah muak dengan sikap protektifmu. Lepaskan aku agar aku bisa menikmati hidup sepertimu.”
"Ra bukan akhir seperti ini yang kita inginkan. sepertinya kau berekspektasi terlalu jauh dengan hubungan ini, kau tau apa yang kau lakukan ilegal? Kau tidak boleh jatuh cinta padaku ra.”
"Nyatanya aku hanya gadis biasa yang bisa jatuh kapan saja Jim, dan aku tidak ingin terlalu dalam menjatuhkan diriku padamu. Biarkan aku pergi."
•
Dan benar …. Sejak saat itu, Soo ra benar benar menghilang.
Pernikahannya yang sudah berjalan hampir satu tahun ini di dasarkan atas kepentingan mereka masing masing. Jimin yang hanya ingin bebas tanpa desakan dari keluarganya untuk menikah dan Soo ra yang memerlukan uang untuk hidup setelah orang tuanya meninggal dua tahun lalu dan menyisakan banyak hutang untuknya. Soo ra terbiasa hidup serba kecukupan maka tawaran jimin untuk tinggal bersama dan menikah adalah takdir terbaik untuknya saat itu.
Mereka menikah hanya sebatas ikatan tanpa menjalani kehidupan pernikahan pada mestinya. Mereka tidur terpisah dan bertemu mungkin di saat pagi atau saat acara kumpul keluarga bersama keluarga park.
Awalnya Soo ra menyukainya, namun lama kelamaan hidupnya tak jauh berbeda dengan seekor kucing di dalam rumah rumahan besi dan tidak bisa bergerak kecuali sang majikan melepaskannya.
Memuakkan.
Jimin memang tipe orang yang persis seperti Soo ra, pemarah dan tidak suka kekalahan, namun ia tidak pintar menyembunyikan kegelisahannya karena Soo ra tidak juga kembali ke rumah.
Sudah berjalan tiga hari. Soo ra benar benar tidak membawa apapun. Hanya pakaian secukupnya dan mungkin uang tunai. Dia meninggalkan semua pakaian dan tas mahal yang ia punya, termasuk perhiasan dan mobilnya, Soo ra sungguh memegang kata kata yang ia ucapkan.
Di hari ke empat Jimin mulai kebingungan. Selain keluarganya yang menanyainya, Jimin juga khawatir terjadi sesuatu pada Soo ra. Jimin tahu berul siapa Soo ra. Ia tidak punya siapapun selain dirinya. Soo ra bukan tipe gadis yang bisa tinggal di tempat asing sendiri dan ia juga sukar bersosialisasi. Jimin sangat khawatir.
“Kau menyesal?” Taehyung merebut rokok yang akan Jimin nyalakan dan membuangnya. “Kau tidak biasa merokok.”
Jimin tidak melawan, melempar pandngannya kosong ke lampu lampu kota yang ia lihat dari balkon apartemen mewah tempat tinggalnya bersama Soo ra seraya meneguk segelas minuman bercampur es batu dengan cepat mengalihkan rokoknya yang gagal ia hisap.
“Sudah hampir sebulan, dan dia belum juga kembali. Kurasa Soo ra benar benar nekat.”
“Dia keras kepala.”
“Sama sepertimu.” Taehyung melirik Jimin tajam. Jimin sangat keras kepala, membiarkan hatinya hancur merindu tanpa mau mencari tahu keberadaan Soo ra.
Mereka sesaat sama sama terdiam. Taehyung tahu betul Jimin perlu ketenangan, Jimin tidak pergi ke tempat kerja dan hanya mengurung diri di aprtemen. Mempersilahkan Taehyung masuk di hari ke lima setelah Beribu alasan untuknya meyakinkan tidak akan mengganggu Jimin.
“Kurasa kamu memang tidak bisa hidup tanpanya. Kau memang sangat sayang pada kekasihmu, namun sepertinya sayang itu tidak lebih besar untuk Soo ra. Kau hampir gila karenanya.”
“Aku akan lupa segera, aku ingin melupakannya. Tapi tidak bisa. Dia terlalu dalam memasuki kehidupanku, tanpa sadar Soo ra telah mewarnai hidupku. Dia sangat tahu siapa diriku. Malam itu aku memang sangat kelewatan, harusnya aku tidak berbicara sekasar itu. Aku hanya takut kehilangan Hae won, namun nyatanya nama Soo ra lebih mendominasi isi otakku dari pada Hae won. Orang yang menempati urutan pertama yang ingin aku temui, aku merindukannya sampai hampir gila.” Jimin mengulas smirk. “Aku tidak berpikir Soo ra akan melakukan hal bodoh dan senekat ini. Aku merindukannya, aku menyukainya ... emmm tidak, aku mencintainya. Bagaimana aku bisa membawanya kembali?”
2 bulan
Jimin tidak bisa bertanya pada orang terdekat Soo ra karena satu satunya orang yang ia kenal dan dekat dengannya adalah Jimin sendiri.
3 bulan
Taehyung dan yang lain ikut mencari tahu dimana keberadaan Soo ra. Tidak hanya Jimin, Taehyung juga sangat menghawatirkan Soo ra termasuk keluarga Park yang sangat menyayangi Soo ra.
6 bulan
Persis seperti yang Jimin kenal. selain cantik, Soo ra juga sangat pintar bersembunyi. Mungkin dia punya jurus berkamuflase seperti bunglon atau ular gurun.
8 bulan
Asisten Taehyunh melihat Soo ra di daerah pinggiran kota di dekat pesisir.
Mendapat informasi darinya, Jimin tidak peduli sedang melangsungkan meeting penting, ia secepat kilat menancap mobilnya meninggalkan baseman dan menyetir brutal untuk cepat menemui Soo ra.
Mendatangi lokasi yang dikirimkan Taehyung untuknya, di sebuah tempat yang cukup jauh. Hingga dilihat dari map yang ia baca, lokasinya sudah tepat di titik tujuan Jimin. Jimin keluar dari mobil dan memutar pandangannya mencari sosok yang ia ingin temui.
“Jung Soo ra ...” mata Jimin memanas saat di lihatnya gadis yang biasanya tampak arogan dan manis secara bersamaan itu menyiram bunga di sebuah toko bunga kecil di pinggiran pantai. Selalu ceria dan ramah seperti biasa.
Langkah Jimin memberat, Hati Jimin terasa sangat nyeri, rasanya ingin mengubur dirinya hidup hidup di hamparan pasir panas yang membentang memisahkan daratan dan lautan. Jimin merasa sangat tidak berguna saat Soo ra dengan senyum merekah terlihat baik baik saja tanpa kehadirannya.
Jimin memundurkan langkahnya, memutuskan kegelisahan didirinya antara menemui Soo ra atau membiarkannya dengan semua bahagia yang ia dapat sekarang. Jimin tidak ingin egois, ia tidak ingin menyakiti Soo ra lagi. kurasa Soo ra sudah sangat bahagia.
Park Jimin memilih pergi, park Jimin tidak ingin merusak bahagia yang Soo ra temukan. Bahagia yang mungkin sangat sederhana. Bahagia tanpa materi yang berlebih, bahagia hanya dengan kesederhanaan dan cinta. Itu yang Soo ra inginkan. Bahagia namun tanpa dirinya.
Jimin sangat menyesal.
Jimin menyusuri pinggirn pantai dan berakhir menidurkan lelahnya di papan kayu yang tertata apik menjorok ke laut.
Pilihan Soo ra sangat tepat, berada di tempat lepas seperti ini sangat melegakan.
Jimin berbaring dan berbantal salah satu lengannya. Nyaman, aku akan sering kesini dan mengunjungi Soo ra meski tidak harus menemuinya. Aku akan mengalah, aku ingin Soo ra kembali padaku. Tapi aku tidak bisa memaksanya. Aku tidak ingin egois dan kehilangannya lagi.
“Aku merindukanmu ra, aku sangat merindukanmu. Aku akan menunggumu sampai kau mau kembali padaku.”
End