Suara ambulan bergema memecah kota Seoul yang temaram. Rintik hujan turun teratur menembus tanah setitik demi setitik. Gadis itu berdiri mematung menatap gerombolan orang perpakaian hitam. Sendu menghiasi wajahnya nan cantik, mata bulatnya memandang nanar tanpa ekspresi. Bibir penuh nan pucat itu ingin meneriakan kata yang hanya tertahan di tenggorokannya. Perlahan semburat cahaya putih terbesit dari langit menembus awan hitam pekat yang bergerombol menerangi gadis bertubuh kurus itu. Kakinya nan panjang melangkah setapak demi setapak mengikuti asal cahaya silau itu.
Air mata mulai bergulir dari mata beningnya, butiran-butiran bulat yang berlalu membasahi pipi tirus gadis itu menggambarkan rasa yang timbul dari cuplikan kehidupan yang berputar di hadapannya.
Lima orang gadis cantik turun dari panggung nan megah diringi sorak sorai penggemar yang menyerukan nama mereka. Di belakang panggung para staf menunggu siap membantu setiap inchi kebutuhan lima orang perempuan yang bergabung dalam girlgroup bernama f(x) jebolan salah satu agensi ternama di korea selatan.
Seorang pria dengan wajah sumringah menyambut mereka sambil bersalaman dan menepuk lembut bahu para gadis itu. Senyum bangga juga tampak di wajah kelimanya. Pujian dari direktur agensi menjadi penghargaan tak tersirat dari latihan keras mereka untuk konser besar yang menarik ribuan penggemar.
“Terima kasih atas kerja kerasnya, konser terakhir album ini sukses dengan sempurna.” Kalimat pujian itu disambut tepuk tangan meriah dari setiap orang yang berkumpul di ruang ganti dibelakang panggung itu. “Mari bekerja lebih keras lagi untuk album selanjutnya.” Semangat itu disampaikan sang direktur menjadi penutup malam bagi lima anggota idol yang tampak lelah.
***
Sulli sudah berada di lokasi photoshoot siang ini. Walau rasa lelah akibat konser semalam belum sepenuhnya hilang tapi gadis itu tetap sumringah menyapa setiap staf yang ada di sana dengan sedikit membungkuk memperlihatkan kesopanannya. Wajahnya tetap bersinar cantik yang membuat iri setiap orang yang melihatnya.
“Anyeong Haseyo” Suara berat nan merdu menyapanya dengan ramah. Sulli yang tengah bersiap untuk riasan wajahnya menoleh dan membalas sapaan itu dengan senyum lembut nan manis. “Ne, Anyeong Haseyo”.
G-dragon laki-laki dengan wajah tegas yang tengah digandrungi seantero korea selatan ini kemudian duduk di kursi yang telah disediakan usai menyapa Sulli. Stylish dengan sigap mulai membentuk wajahnya sesuai dengan konsep photoshoot hari ini.
Sulli dan G-dragon dengan profesional bergaya di depan kamera memamerkan brand fashion yang menjadikan mereka sebagai modelnya. Walau ada sedikit kecanggungan sepasang pria dan wanita itu tetap handal mengikuti arahan demi arahan dari sang fotografer.
Langit sudah tampak menguning saat Sulli keluar dari lokasi photoshoot hari ini. Manajer yang ditugaskan untuk menjemputnya sudah mengabarkan jika dia akan datang terlambat. Sulli berjalan dengan santai keluar gedung, walaupun manajernya telah mewanti untuk menunggu di dalam tapi dia tetap bebal dan memilih menghirup udara sore yang lembab.
Matanya tertuju pada gerombolan orang yang berkumpul di sudut jalan, seperti ada yang menuntun kakinya dengan berani dia melangkah menuju kerumunan itu. Suara merdu nan menenangkan sayup-sayup terdengar diantara tepukan tangan yang mengikuti irama musik sederhana dan menyatu dengan nada yang dimainkan.
Sulli melangkah memecah keramaian berdiri di barisan paling depan terpanah dengan lagu indah yang menyentuh hati. Tanpa sadar dia memberi tepukan sangat meriah ketika lagu itu berakhir. Perempuan itu kemudian berlari kecil menghampiri laki-laki yang menyanyikan lagu tadi disaat penonton satu persatu beranjak meninggalkan tempat mereka.
“Anyeong Haseyo.”
“Ne, Anyeong Haseyo.” Jawab lelaki itu yang tampak bingung dengan sapaan orang asing bermasker di hadapannya.
“neoeui moksoriga neomu joayo.” Puji Sulli tanpa melihat tatapan bingung dari laki-laki itu
“Gomapseumnida”. Ujar laki-laki itu sambil sedikit membukukkan badan dengan kikuk tak tahu harus bereaksi apa dengan pujian seorang gadis asing yang tak dikenalnya.
Sulli dengan ramah terus mengobrol dengan laki-laki berwajah asia tenggara itu. Dia seperti seorang fans yang terus mencecar idolanya dengan berjuta kata. Laki-laki itu tampak sedikit malu dan canggung, karena baru pertama kali ada orang yang memujinya dengan penuh semangat. Apalagi gadis itu terlihat dari kalangan high class jika dilihat dari outfit yang digunakannya.
Suara dering hp mejeda percakapan yang lebih di dominasi oleh Sulli itu, Tampak nama manajernya tertera di layar smartphone. Sulli mendekatkan handphone itu ketelinga setelah sebelumnya memilih tombol aswer, terdengar suara omelan dari ujung sana yang menanyakan keberadaannya. Refleks gadis berbibir penuh nan cantik itu melangkah meninggalkan tempatnya saat ini dengan handphone yang masih ditelinga untuk kembali ke lokasi photoshoot tadi tempat manajernya berada.
Sedangkan orang yang beberapa menit lalu diajaknya mengobrol hanya terpaku terdiam menatap lambaian rambut hitam panjang yang makin jauh. Senyum tersirat dibibir tipisnya melihat gadis misterius itu berlari kecil agar segera sampai ditempat yang ditujunya.
***
Sulli membaca naskah ditemani sang manajer yang terus mengomel menasehatinya untuk tidak pergi keluyuran tanpa ditemani manajer atau staf yang telah dipercayakan agensi. “Arasseumnida, Oppa.” Ujar Sulli berharap manajer diam dan membiarkannya menghafal dialog untuk adegan syuting hari ini. Melihat tatapan mata bening yang menyiratkan mengerti dari sang idol, manajer itu akhirnya memilih diam dan melangkah keluar lokasi agar aktrisnya bisa maksimal mendalami perannya.
“Cut.” Sutradara mengakhiri scene, mengisyaratkan adegan yang diperankan telah sesuai dengan harapannya. Dua staf Sulli segera menghampiri Sulli memberikan kebutuhan sang artis dan stylish yang merapikan riasan untuk scene selanjutnya.
Manajer kembali ke lokasi dengan paper cup holder yang berisi 4 cup kopi di tangannya. Sulli dengan semangat mengambil kopi kesukaannya, ice americano menjadi pilihan yang tepat untuk memulihkan konsentrasinya yang mulai menurun. “Ini dari food truck yang dikirimkan IU untuk staf lokasi atas namamu.” Ujar manajer ketika Sulli tengah menyedot minumannya
“Cheongmalimnikka?” Ucap Sulli sambil melangkah keluar tanpa menunggu jawaban sang manajer. Senyum bahagia tampak dibibir sipemilik kulit pucat itu kala melihat sebuah truck minuman dengan banner bergambarkan foto dirinya. Dengan semangat gadis itu langsung mengambil foto selfie dan mengirimkan pesan terima kasih untuk sahabat baiknya itu.
Matanya perlahan menangkap sosok yang membuatnya kaget. “Oh bukannya kamu yang menyanyi kemaren?” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut mungilnya. Laki-laki yang mendapat pertanyaan itu jelas menunjukan ekspresi bingung tak mengerti.
“Aku gadis yang mengobrol dengan mu kemaren sore.” Jelas Sulli lagi ketika pria itu hanya diam kebingunangan.
“Oh..Ne, anyeong hasimnikka.” Sapa laki-laki itu yang jelas menunjukkan kegugupannya. Dia tak menyangka gadis cerewet yang menyukai lagunya kemaren adalah Idol terkenal korea. “Bangapseumnida, Naneun Sulli imnida.” Sulli mengulurkan tangannya dengan senyum manis nan ramah. “Ireumi mwomnika?” Ujarnya lagi.
“Ne, na naneun Nathan imnida” Laki-laki itu menjawab terbata merasa tak percaya seorang aktris terkenal seperti Sulli berkenalan dengan dirinya. Sulli melafalkan nama Nathan dengan logat yang aneh yang membuat laki-laki itu tertawa kecil melihat ekspresi Sulli yang lucu dan manis. “Na-tha-n.” Nathan membantu melafalkan namanya dengan benar.
“Kamu dari negara mana?” Tanya Sulli karena yakin laki-laki itu bukan warga asli korea selatan melihat dari wajah dan namanya.
“Indonesia.” Jawab Nathan.
“Ah.. indonesia.” Ulang Sulli dengan logat korea yang ketal.
Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, salah satu staf Sulli memanggilnya untuk melajutkan syuting. Sulli pun langsung berlari tanpa mengucapkan sepatah katapun seperti kemarin sore. Nathan kembali tersenyum tipis melihat Gadis itu terburu-buru menuju kedalam gedung.
***
Sulli celingukan mencari Nathan, pria yang baru berkenalan dengannya tadi. Dia hanya melihat rekan kerja laki-laki itu. Dengan sopan Sulli bertanya pada pria yang tengah sibuk berberes di food truck, “Joesong hamnida, apakah Nathan sudah pulang?” Pria itu lantas menunjuk sosok Nathan yang sedang membereskan sampah bekas cup minuman sebagi jawaban pertanyaan Sulli
Sulli langsung menghampiri sosok itu, lagi-lagi dengan senyum yang merekah. Mereka mengobrol beberapa hal hingga Sulli menyodorkan Handphonenya dengan maksud meminta no Nathan. Lelaki kalem itu hanya diam tak percaya dengan apa yang di dengarnya. “Nathan si.” Panggil Sulli melihat lawan bicaranya hanya mematung tak merespon permintaannya.
Nathan mengambil handphone itu dengan hati-hati dan dan mengetik no-nya kemudian segera mengembalikan kepada si pemilik seperti barang mewah takut jika ia merusaknya. Sulli langsung menyimpan no Nathan dengan cekatan. Nathan terpaku melihat hal itu, gadis dihadapannya seolah bukanlah idol ternama korea. Sifat Sulli yang humble menarik minatnya lebih dalam untuk mengenal gadis itu.
Manajer kembali memanggil Sulli, mengisyaratkan jika mereka harus pulang. Sulli mengerti dan melangkah menuju mobil tapi kali ini dia telah mengucapkan salam selamat tinggal pada Nathan tidak seperti sebelumnya.
***
Mereka mulai mejalin keakraban melalui handphone. Pribadi Sulli yang riang semakin menarik perhatian Nathan. Nathan yang kalem dan tenang membuat Sulli penasaran. Hingga kedua insan tersebut semakin akrab tanpa melihat status mereka.
Hari ini Sulli tak ada scedule apapun. Dia berjanji bertemu Nathan di tempat pertama mereka bertemu. Seperti biasa gadis itu menggunakan masker agar tak menarik perhatian orang-orang yang mungkin mengenali wajahnya.
Nathan tampak berberes alat musik bersama dua orang yang waktu itu juga mengiringi pria itu bernyanyi. “Nathan si.” Teriak Sulli, gadis itu berlari kecil penuh semangat kearah orang yang di panggilnya.
Nathan tampak resah dengan tatapan dua orang temannya yang menyelidik. Entahlah dia merasa dag dig dug jika dua sahabatnya itu tahu jika dia berteman dengan Sulli. “Kamu sudah selesai?” tanya Sulli saat sampai di depan Nathan. Nathan hanya menjawabnya dengan gumaman gugup.
Namun apa yang dicemaskannya tak terjadi, dua orang itu tak mengenali Sulli dan menganggap gadis itu hanya perempuan biasa yang sedang ditaksir Nathan. Setelah mengejek sahabatnya kedua sahabat Nathan berlalu meninggalkan dua orang yang terlihat kikuk itu.
“Jadi, kita mau kemana?” tanya Sulli memecah keheningan
Nathan tampak bingung menjawab pertanyaan Sulli, dia tak tau harus mengajak gadis itu mengobrol dimana. Dia ragu apakah Sulli bersedia jika dia membawanya ke tempat biasa dia hang out bersama temannya. “Kamu inginnya kita ngobrol dimana?” tanya Nathan dengan perlahan karena tak bisa memutuskan.
Sulli dengan lahap memasukkan sepotong tteokbokki kedalam mulutnya. Ekspresinya tampat begitu senang seperti baru kali ini menemukan makanan itu. Mereka duduk di pinggir taman yang tak terlalu ramai, mereka duduk di kursi yang disediakan pemilik kedai tteokbokki. Nathan sekali lagi tersenyum melihat bagaimana Sulli makan Gimbap dengan bahagia. Dia tak mengira jika Sulli beberapa menit yang lalu dengan entengnya memilih tempat ini.
“Makan pelan-pelan, kamu seperti hantu yang kelaparan.” Canda Nathan
“Manajerku bisa mengomel seminggu jika tau aku makan makanan seperti ini.” Terang Sulli yang membuat Nathan terdiam
“Waeyeo?” tanya Nathan tak mengerti
“Karena katanya aku akan menjadi babi gemuk.” Jawab Sulli sambil terus mengisi mulutnya dengan potongan kue beras pedas khas korea itu.
Nathan terpaku mendengar itu, untuk apa lagi gadis didepannya harus menjaga bentuk tubuh. Tubuhnya menurut Nathan tergolong sangat kurus jika dia makan semangkuk tteokbokki tidak akan berpengaruh pada lemak dalam tubuhnya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Nathan setelah menyapu pikirannya
“Ahh chan..chan.” Gadis itu mengeluarkan dua tiket yang berlogokan VIP dengan semangat.
Nathan tampak tak mengerti maksud Sulli, “Ini” Ucap Sulli menyerahkan satu tiket pada Nathan. “Katanya kamu penggemar GD oppa, aku bersusah payah untuk dapat tiket ini.” Jelas Sulli dengan wajah cemberut melihat Nathan tak mengeluarkan ekspresi.
“Ini untuk ku?” Tanya Nathan tak percaya, Sulli mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Nathan. Nathan yang bahagia memperoleh tiket konser VIP dari idolanya refleks memeluk Sulli sebagai bentuk ekspresi bahagiannya.
Sulli yang dipeluk tiba-tiba merasa kikuk dan hanya mampu membeku tak bereaksi. Dia merasakan seperti ada yang menabuh drum di jantungnya. Nathan yang menyadari kelancangannya sigap menarik pelukannya dari Sulli. “Mianhamnida” Ucap Nathan merasa bersalah. “Kwaenchanayeo.” Jawab Sulli berusaha terlihat santai sehingga suasana akward ini cepat berlalu.
***
Tanggal yang tertera di konser itu datang, Sulli sudah berada di lokasi konser berusaha tak menarik perhatian. Dia menuju no kursi yang tertera di tiket. Nathan belum tampak diruangan yang sudah mulai sesak itu. Sulli mengambil handphonenya, ketika mencari nama Nathan di kontaknya
“Joesong hamnida.” Terdengar suara yang dikenalnya menyiratkan rasa bersalah karena terlambat
“Kwaenchanayeo, aku juga baru datang.” Ujar Sulli hangat menunjukan jika keterlambatan pria itu bukanlah masalah untuknya.
Keduanya menikmati alunan lagu demi lagu yang dibawakan G-Dragon. Suara khas GD mampu membuat gemuruh teriakan fansnya yang terbawa suasana. Tak terkecuali dengan Nathan dan Sulli keduanya tampak tenggelam bersama lautan orang di konser itu.
Nathan dan Sulli berjalan keluar ruangan dengan tenggorokan yang sedikit kering akibat ikut bersorak sorai di konser tadi.
“Mhmhm.. apa kamu mau makan ice cream?” Tanya Nathan sedikit ragu
“Ice cream?” Ulangnya dengan mata berbinar, Nathan menangguk merespon pertanyaan Sulli. Sulli diam sesaat lalu dengan senyum penuh semangat dia menarik tangan Nathan mengisyaratkan ayo.
Langit Seoul tampak terang, bintang-bintang kecil berserakan di langit gelap nan jernih. Mereka bercahaya dengan sinar uniknya masing masing. Nathan dan Sulli duduk di kursi dengan hamparan sungai Han nan luas sebagai pemandangan. Mulut mungilnya penuh dengan ice cream stawberry.
“Aku yakin kamu adalah salah satu orang yang tak akan di sukai manajerku.” Sulli membuka pembicaraan disela menginggit ice creamnya
“Waeyeo?” Tanya Nathan polos karena merasa belum pernah bertemu manajer Sulli dan bagaimana bisa dia tidak menyukai dirinya.
“Karena kamu selalu memberikan makanan yang akan membuatku menggemuk.” Canda Sulli dengan tawa kecil nan manis. Nathan hanya tersenyum menanggapi gurauan gadis cantik itu.
Jarum jam terus bergulir menuju malam yang makin larut, kota Seoul mulai terlihat sepi walaupun belum menunjukan akan istirahat. Dua orang itu masih berdiam di tempatnya semula, Sulli menatap bintang-bintang kecil yang berebutan untuk bersinar. “Jemi issoyo.” Gumamnya sambil tersenyum dengan makna dalam.
“Menikmati bintang malam memang menyenangkan.” Respon Nathan mendengar gumaman Sulli.
“Kamu suka bintang? Tanya Sulli sambil menoleh pada laki-laki disampingnya.
“Mhmm, areumdawoyo.” Jawabnya pendek sambil menatap mata Sulli nan bening. Sulli tersenyum hambar mendengar itu dan menyatakan kalau dia sedih melihat bintang-bintang yang terlihat mungil itu.
***
Nathan menunggu di taman tempatnya melihat bintang dengan Sulli malam itu, Sebuket tulip merah berada digenggamannya. Senyum malu merekah diwajah kecoklatan namun bersinar itu, tempat ini seolah memutar memorinya kembali. Dimana dia tergagap menyatakan perasaan sukanya pada gadis yang sepenuhnya telah mengisi relung hatinya.
Sulli datang mengaget Nathana hingga lamunan itu pudar, “Beol sseo wa sseo yo!” Ujar Nathan melihat gadis yang ditunggunya. Gadis itu tampak benar-benar bersinar membuat Nathan enggan untuk berpaling dari senyum manisnya. Namun tiba-tiba dia merasa kikuk kala bibir penuh Sulli mengingatkannya akan ciuman pertama mereka. Pipi Nathan semerbak memerah, membuat laki-laki itu salah tingkah.
Melihat hal itu Sulli pun tak meninggalkan kesempatan untuk menggoda Nathan yang membuat laki-laki itu semakin malu. Nathan menyodorkan buket bunga yang dibawahnya tadi berharap rasa malu cepat menguap dari dirinya.
“Selamat hari jadi yang ke-100.” Ucap Nathan manis yang membuat Sulli tersenyum penuh kebahagiaan. Hari ini adalah 100 hari mereka berkencan, selama lebih tiga bulan ini Sulli dan Nathan menjalani hubungan mereka secara diam-diam. Hari-hari yang berlalu itu terasa menyenangkan, mereka ke taman hiburan, makan makanan pinggir jalan, atau menghabiskan waktu yang terbatas dengan hal-hal yang akan diubah menjadi kenangan dalam memori mereka.
“Selamat hari jadi yang ke-100 juga.” Ulang Sulli dengan sebuah kotak di tangannya. Nathan menerima kotak itu dan tersenyum bahagia melihat isinya, sebuah album terbaru G-Dragon lengkap dengan tanda tangannya.
Raut kebahagiaan yang tersirat di wajah keduanya perlahan berganti khawatir ketika Sulli mendapat telepon dari manajer yang memintanya segera ke kantor SM Entertaiment.
***
Rekan-rekan groupnya telah lebih dulu di ruangan itu dengan ekspresi hening yang menunjukkan ada yang tidak beres. Direktur memulai percapakapannya sesaat setelah Sulli duduk. Sulli kaget dengan pengumuman itu, matanya melihat sedih pada sosok yang terpaku penuh rasa bersalah.
Hari ini keluarnya Krystal dari f(x) diumumkan kepublik, salah satu anggota group itu memilih meninggalkan group yang telah membesarkan namanya dan melanjutkan karirnya di Amerika bersama kedua orang tuannya.
Semua anggota group tampak terpukul dengan kepergian Krystal, terutama Sulli. Hatinya merasa terluka namun tak ada yang bisa dilakukannya dengan keputusan temannya ini. Sekejap berita keluarnya Krystal bergema di kota Seoul dan berlanjut keseluruh korea selatan bahkan telah sampai keseluruh sudut dunia.
Berbagai komentar beragam ditinggalkan netizen di setiap sosial media yang meraka miliki. Mulai dari komentar prihatin, sedih, kecewa, mengiklaskan hingga marah. Dari berbagai ragam komentar yang ada, beberapa komentar menarik perhatian Sulli.
“Wajar dia keluar, agensi pilih kasih hanya mendukung Sulli.”
“Sulli telah berhasil menyingkirkan temannya.”
“Aku benci Sulli, harusnya dia saja yang pergi.”
Kalimat-kalimat seperti itu membajiri forum-forum internet dalam sekejap nama Sulli langsung menjadi topik utama penyebab keluarnya Krystal dari f(x). Sulli menggigit bibirnya menahan rasa yang bergejolak dalam dirinya tak mengerti apa yang terjadi.
Agensi dengan sigap langsung membendung isu-isu tersebut, Namun menghadapi ribuan bahkan jutaan tangan nakal tak berperasaan itu bukanlah hal yang mudah. Sulli mulai merasakan beban yang lebih berat menghimpit dirinya. Gadis itu sungguh tak paham apa kesalahannya, dia mungkin menjadi orang yang paling terluka atas mudurnya rekan yang telah berjuang bersamanya.
Kini senyum yang selalu menghiasi bibir merahnya perlahan pudar seiring komentar-komentar kejam yang terus berdatangan seperti anak panah yang dihunuskan kesudut jantungnya. Dalam tingkat yang lebih parah banyak hadiah-hadiah yang mengerikan dikirim ke apartemennya hingga mendatangkan trauma dalam diri Sulli
Sulli mulai depresi dengan kondisi yang mulai tak terkendali, walau masih berusaha terlihat tegar dia tetaplah manusia biasa yang bisa terluka. Nathan hanya mampu menghiburnya dari balik telepon genggam karena proteksi ketat yang dilakukan agensi untuk Sulli menyulitkan mereka untuk bertemu.
***
Sulli sudah bersiap untuk keluar dari apartemennya, hari ini ada jadwal rekaman album solonya. Tiba-tiba manajer menelpon dan menyuruh Sulli untuk tidak kemana-mana dan tidak membukan pintu untuk siapapun kecuali staf mereka. Sulli terpaku mendengar hal itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak menyaksikan sebuah berita yang dikeluarkan oleh sebuah media.
Artikel itu berjudul “Hubungan rahasia Sulli f(x) dan G-dragon” lengkap dengan foto kebersamaan mereka yang didapat entah dari mana. Sulli semakin frustasi dan ketakutan, komentar-komentar lebih sadis dan menakutkan terus tumbuh di internet seperti jamur yang disiram pupuk. Mereka tumbuh bagai racun yang membunuh Sulli secara perlahan-lahan.
Sulli meringkuk disudut kamarnya yang redup menagis semampu yang dia bisa, hari Ini dia tak keluar sedikitpun. Sudah empat hari berita tentang dirinya menggema di berbagai media, jutaan komentar tak berperikemanusian terus dilontarkan untuknya. Wartawan-wartawan yang haus berita masih bergerombol dilantai dasar dengan penjagaan yang ketat. Kadang ada beberapa wartawan nakal yang nekat menyelinap masuk dan meneror di pintu apartemennya.
Sulli bahkan tak berani lagi melihat internet, kalimat-kalimat yang ditinggalkan entah oleh siapa itu sangat mengerikan. No Nathan lagi tak bisa di hubungi, entahlah Sulli tak tau apa yang terjadi dengannya. Kini dia benar-benar sendiri berdiri kaku menatap gemerlap kota Seoul dari balik apartemennya yang tak bercahaya.
***
Sulli berhasil keluar dari apartemennya dan menuju kantor agensi karena ada berita penting dari direktur. Dia berharap ini adalah berita baik dan penyeleseian dari skandal yang menimpanya. Namun harapan tinggalah harapan karena kenyataan tak lagi berpihak kepadanya. Sang direktur mengumumkan akan membubarkan f(x).
Sulli hanya terdiam mendengar jawaban direktur dengan debatannya, rekannya yang lain juga hanya mampu diam. Kata-kata direktur menari-nari di kepalanya sebagian besar kata-kata itu hanyalah menyalahkan dirinya. Sulli keluar kantor yang telah menaunginya selama 10 tahun tahun ini. Dia sempat berhenti menatap ruang latihan besar yang mencatat perjuangannya untuk mencapai titik ini.
Disana tampak direktur tersenyum menyemangati beberapa orang juniornya yang akan segera debut. Dadanya terasa sesak, menyaksikan senyuman itu dia ingat itu adalah senyuman hangat yang dulu diberikan sang direktur untuknya dan rekan-rekannya sebelum debut.
Malam menjelang Sulli di apartemennya seorang diri, ruang itu gelap. Gadis itu memilih tak menghidupkan penerangan. Sulli menatap langit dengan sendu bintang-bintang kecil seolah menari menarik perhatiannya di atas sana.
Ketika malam semakin larut, gadis yang tampak seperti mayat hidup itu melangkah dengan gaun putih nan indah. Sebongkah tali berada di genggamannya, kaki pasi itu perlahan naik kesebuah kursi membuat simpulan kuat hingga terdengar bunyi kursi yang terjatuh.
Dalam keremangan tampak kaki jenjang gadis itu terjuntai lemas tak menyentuh lantai, matanya menatap hampa kelangit malam yang gemerlap. Bintang-bintang kecil berhenti menari seolah ikut merasakan pedih. Kini satu bintang telah redup dan menghilang ditelan kejamnya garis kehidupan
***
“aku selalu sedih ketika melihat bintang, mereka berlomba-lomba bersinar dilangit gelap agar orang-orang menatap dan menyukainya. Namun saat siang datang mereka hilang tak berjejak tanpa ada yang mengingatnya. Walau malam juga pasti akan kembali, tapi belum tentu bintang yang sama yang akan bersinar lagi.”
Nathan mengingat kembali jawaban Sulli malam itu yang selalu sedih melihat bintang. Kalimat Sulli telah membuat luka besar dihatinya hingga dia tak atau kapan akan sembuh. Tangannya perlahan meletakkan sebuket bunga tulip merah disebuah batu petak yang bertuliskan nama gadis yang selalu tersenyum merekah
Kini senyum yang merekah itu sudah hilang, wajah yang selau ceria itu telah pergi yang tersisa hanyalah kenangan yang seiring waktu akan terus memudar.
-end-
Terima kasih