➖ NETTIE IS HERO GHOST SONG ➖
Desa Panca, merupakan desa yang cukup jauh dari kota, namun desa tersebut cukup banyak terdapat gadis-gadis cantiknya, salah satunya adalah Nettie. Dia gadis yang cukup populer karena kecantikannya, sebut saja kembang desa, bahkan ia mendapatkan julukan istimewa, yaitu kembang Raflesia Arnoldi. Cukup keren bukan?
Meskipun cantik, Nettie tetap saja seorang jomblo abadi, bukan karena tak ada yang mau, hanya saja dia tak laku-laku, bukan karena tak ada yang naksir, hanya saja selalu tertikung sebelum jadian.
Suasana desa Panca sangat sepi ketika malam hari setelah maghrib, karena beberapa kali ditemukan mayat yang mati mengenaskan. Rata-rata wajah korban hancur, seperti dicakar hingga tak bercelah, serta kondisi badan yang dipenuhi luka lebam, hitam membiru.
Kebanyakan mayat korban adalah wanita. Namun Nettie, si gadis cantik satu ini tidak takut sama sekali. Ia bisa dengan santuy pergi malam hari, entah ke warung atau hanya untuk sekedar jalan-jalan menghilangkan kebosanan, meski ia sering mendengar suara wanita bernyanyi, yang menurutnya setiap mendengar suara itu, akan ada mayat yang ditemukan ke esokan harinya.
"Waaaaa, Din. Cepet, Din. Ayo pergi dari sini," jerit Dhit setelah menoleh ke arah semak-semak yang sedari tadi seperti ada yang bergerak-gerak.
"Kamu kenapa sih, Mas Dhit? Tunggu bentar aku pakai bajunya dulu." Dinda menjawab dan kemudian memakai baju terburu-buru.
Brumm bruuuuum
Suara motor melaju dengan kencang. Ternyata Dhit meninggalkan kekasihnya yang sedang menggunakan baju. "Ah sialan kamu, Mas Dhit. Lihat aja nanti kalau ketemu, aku mau minta putus!" gumam Dinda.
"La la la la la jenuh aku mendengar manisnya kata cinta, lebih baik sendiri..." suara wanita menyanyi membuat Dinda terkejut.
Karena sumber suara dari arah belakang, maka Dinda membalikan badannya, dan "Waaaa, anjir ha-ha-hantu. Kampret tuh hantu, bikin kaget joged klogat-kloget kayak uler keket"
Dinda berlari terpontang panting dengan arah lari yang entah kemana, sehingga membuat bajunya sobek. Sambil berlari, dinda tak lupa melantunkan do'a-do'a, "Allahumma barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaa bannar.” Suara hantu itupun lama-lama mengecil, hingga terasa sudah jauh jaraknya.
Bruk kedebuk, meong.
Ternyata Dinda menabrak Nettie yang tengah berjalan-jalan dengan membawa iphint, kucing kesayangannya. Nettie terkejut melihat Dinda dengan keadaanya yang berantakan, baju terkancing tak beraturan, dengan roknya yang sobek-sobek hampir selutut.
"Loh Mba Dinda, kenapa, Mbak? Kok lari-lari dan berantakan gini wujudmu?" Nettie bertanya karena rasa ingin tahunya.
"Aku dikejar hantu nyanyi, Mbak Nettie" jawab Dinda.
Dinda kemudian diantarkan pulang oleh Nettie. Di perjalanan, Dinda menceritakan kejadian yang telah ia alami dengan rasa emosi karena kekasihnya, Mas Dhit, yang begitu tega meninggalkan ia sendiri saat masih mandi. Karena kemarau, dia harus mandi ke sungai, namun mengingat suasana kampung yang cukup horor, Dinda ingin ditemani kekasih barunya.
Siapa sangka? Bukan kejadian romantis yang didapati melainkan kejadian tragis menyakitkan hati, jiwa, pikiran dan fisiknya, sebab bertemu hantu nyanyi, hantu wanita yang membuat warga resah dan ketakutan. Beberapa lagu yang sering dinyanyikannya seperti, belah duren di malam hari ... atau lagu dasar kau buaya buntung-tung pacaran kok itung-itung, dasar kau buaya buntung anumu tak pentung ....
Hari sudah gelap menjelang maghrib. Nettie pun segera pulang setelah mengantarkan Dinda. Siapa sangka? Nettie ditemui sosok yang mengerikan. Wanita dengan pakaian sexy, dengan bentuk tubuh seperti gitar spanyol, membuat Nettie iri dan kesal, karena dia cukup cungkring dengan body yang kurang tonjolan.
Ia memandangi sosok wanita itu, tubuhnya seolah berjoget dengan posisi kepala menunduk dan bernyanyi lagu dangdut yang cukup hitz, "Ayo goyang dumang, biar hati senang, semua manusia jadi hilang ..."
"Mba, mba, mau maghrib. Pulang, Mba. Jangan joget-joget gak jelas," ujar Nettie. "Waaaaaa anjerrr. Gho gho ghost song, it's crazy! Body aduhay maknyus, suara mantap, lah muka kayak sawah bekas bajakan, mblenyek ajur." Nettie berteriak terkejut, ternyata wanita itu bukan manusia, melainkan hantu.
Ya, hantu yang bernyanyi terus-menerus itu, kini ada di hadapan Nettie. Melihat wajahnya yang dipenuhi darah dan nanah, begitu hancur mengerikan, matanya melotot besar, membuat Nettie bergidik.
Nettie tak takut dengan makhluk yang biasa disebut hantu, bukan karena dia juga hantu, melainkan ia sudah terbiasa melihat hantu sedari kecil atau biasa disebut anak indihome. Dia berjalan pergi tak menghiraukan hantu itu karena harus bergegas sholat.
Selesai sholat, tanpa disangka, hantu nyanyi tadi sedang duduk santai kayak di pantai, di kursi rumahnya. Nettie berdiri di depan hantu nyanyi, hantu itu pun bernyanyi.
Selang beberapa detik ia mengatakan "Nettie, Nettie, bantu aku. Kumohon bantu aku," perkataan hantu itu membuat Nettie melongo, mangap, sampai biawak pun mungkin bisa masuk mulutnya karena terlalu lebarnya.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Nettie.
"Ambilkan timun di tenggorokanku, Nettie. Kumohon." Hantu itu pun menceritakan kejadian penyebab ia meninggal, ternyata ia seorang wanita yang gemar menyanyi, karena profesinya adalah pengangguran.
Penyebab dia meninggal adalah keselek/tersedat saat makan mentimun. Saat itu dia asyik menyanyi sambil memakan mentimun yang membuatnya tersedat kemudian sulit bernafas lalu mati dengan mulut menganga dan mata melotot, sungguh kematian tragis yang memalukan. Karena sedih dengan kematiannya, hantu itu menyanyi dan terus meneror warga.
Dengan kebaikan hati Nettie yang tak seberapa, ia pun menyetujui untuk membantunya, agar warga tak gelisah dan tak ketakutan lagi. Tangan Nettie masuk ke mulut hantu itu.
Krak .... Timunnya pun berhasil dicabut dari tenggorokannya. Mata Nettie terbelalak ketika melihat ukuran timun itu. Bagaimana bisa, timun tanpa dipotong kecil-kecil, dimakan sebagai cemilan? Akhirnya setengah utuh masuk tenggorokan. 'Gila nih hantu,' batin Nettie.
Setelah mencabut mentimun itu hantu nyanyi pun bernyanyi dengan riang, "Sik asik, sik asik sik asik asik ..." lalu berkata "Terima kasih atas kebaikanmu Nettie, kembang Raflesia Arnoldi," kemudian dia pun menghilang.
END