Nestapa
(Bestfriend: Until The End Of Time)
Cuaca panas tidak menyurutkan langkah tertatih seorang gadis cantik berkulit putih bersih untuk bergegas menuju halte bus supaya tidak ketinggalan jadwal tiba Surabaya Bus.
Rambut hitam sebahu menari indah diterpa angin sepoi-sepoi untuk mengurangi hawa panas siang itu.
Bagi orang normal jalan menuju halte akan dilewati dengan mudah, akan tetapi untuk gadis cantik tersebut butuh perjuangan keras karena kaki kanannya menggunakan kaki palsu.
Ya, fisik gadis tersebut tidak secantik wajahnya. Banyak orang yang melihatnya dengan perasaan iba, ada juga yang berpandangan sinis saat Denara lewat. Itu merupakan hal biasa baginya, di sekolah, di rumah, dia mendapatkan perlakuan yang lebih dari pandangan orang-orang tersebut.
“Akhirnya sampai juga.” Monolognya.
Menyeka peluh dengan punggung tangannya, kemudian merogoh saku untuk meraih benda pipih yang ada di saku rok sekolah. Sebuah ponsel dengan merek lama tergenggam di tangan.
Menekan tombol yang ada di tengah, lalu memilih gambar amplop. Menunggu beberapa saat lalu terbuka, menampilkan sederet pesan dengan notifikasi [pesan tidak terkirim].
Mengembuskan napas lalu tersenyum simpul, “Masih sama ternyata, pesanku tidak pernah sampai. Kapan kita akan bertemu lagi, Ren. Ini sudah 12 tahun berlalu. Cuma kamu dan papa yang mau menerima kekuranganku.”
Lagi-lagi Denara berbicara sendiri, meskipun lirih dapat didengar oleh orang yang berada di sebelahnya. Banyak yang melirik Denara, akan tetapi dia abai akan itu semua.
Tidak lama kemudian bus berhenti tepat di depannya. Denara menunggu giliran supaya tidak berdesakan saat naik.
Setelah berada di atas bus, dia memilih tempat duduk dekat jendela. Melihat lalu lalang kendaraan merupakan hiburan tersendiri bagi Denara.
Raut wajah Denara kembali sendu, tatkala mengingat kejadian yang menyebabkan dia terlambat untuk pulang.
Dia mendapatkan hukuman dari guru karena perbuatan yang tidak dia perbuat. Sherin dan teman-temannya seperti biasa melimpahkan kesalahan padanya dan Denara hanya bisa diam dan pasrah atas perlakuan mereka.
‘Astaga Reno, kenapa akhir-akhir ini bau parfummu sangat terasa’
Batin Denara, karena indra penciumannya sering kali mencium aroma manis parfum yang biasa dipakai Reno.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Denara sampai di halte bus dekat dengan rumahnya.
Turun dari bus, kemudian berjalan ke arah utara menuju gapura perumahan. Terlihat jelas wajah khawatir Denara, dia menggigit bibirnya sambil memikirkan alasan apa yang akan di ucapkan nanti.
Setelah sampai di gang yang menuju rumahnya, perasaannya menjadi tidak menentu. Takut, cemas menjadi satu.
Denara berhenti di rumah berpagar coklat yang terletak di deret tengah. Mengembuskan napas, lalu mulai membuka gembok yang tidak terkunci.
Membuka pagar rumah, lalu menutupnya kembali, tidak lupa gembok yang sudah terpasang manis di tempatnya. Melangkah menuju pintu rumah, dan mulai mengetuknya.
Dirasa tidak mendengar jawaban dari dalam, dia meraih gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Membukanya lalu menutupnya kembali.
“Dari mana saja kamu jam segini baru pulang!”
Sebuah teguran mengandung amarah menyambut kedatangan Denara. Dia tahu siapa yang berbicara, dan memang seperti ini setiap hari.
Denara memejamkan mata mengembuskan napas untuk mengontrol emosinya. Kemudian membuka mata lalu melepaskan tangan dari pegangan pintu, membalikkan badan terus melangkah dengan langkah timpang, dia menghampiri sosok yang sudah berdiri sambil bersedekap dan memasang wajah masam.
“Maaf Ma, Dena terlambat, tadi ada tambahan pelajaran karena sebentar lagi akan ujian, kemudian lanjut belajar kelompok di sekolah,” jawab Dena sambil mengangkat tangan untuk salim.
Sosok yang ternyata mama dari Denara hanya melihat tangan putrinya dan membiarkan menggantung di udara tanpa berniat menyambut uluran tangan tersebut.
Merasa tidak disambut, Denara menurunkan tangan seiring kepala juga menunduk untuk menyembunyikan gurat kecewa untuk yang sekian kalinya, kemudian beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat.
“Halah alasan, paling juga pacaran. Kalau ada tambahan pelajaran, seharusnya nilai ulangan, ujian, itu bagus semua, tapi apa buktinya? Gak ada, ‘kan?”
Seketika Denara berhenti di tengah jalan menuju kamar, telinga kembali panas mendengar kata yang terlontar.
“Dena enggak bohong, Ma. Coba mama telepon wali kelas Dena.” Jawab Dena sambil memejamkan mata.
“Buang-buang waktu, seharusnya kamu itu seperti Dika. Lihat itu, lemari penuh dengan piala, piagam dan medali yang didapat kakakmu juga banyak. Jadi anak itu yang bisa dibanggakan, tidak seperti kamu, apa yang bisa mama banggakan. Mama malu sama teman mama, Dena.”
Denara membalikkan badan menghadap mamanya. Sambil tersenyum tipis Denara berkata, “Mama malu karena aku tidak berprestasi atau karena kondisi Dena, Ma?”
“Dua-duanya. Terlebih kondisi kamu yang paling membuat Mama malu.”
“Sudah Dena duga.” Denara membuang pandangan untuk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Setelah beberapa saat, Dena mulai berkata dengan suara yang gemetar, “Kalau tahu Dena cacat dari lahir, kenapa mama tidak bunuh saja Dena atau kalau enggak tega ngebunuh, buang saja Dena, Ma. Daripada Mama malu punya anak cacat sepertiku.”
“Niat itu sudah ada di pikiran mama sejak tahu kamu lahir cacat Dena!”
Mama Dena menjawab tidak kalah sengit dengan nada yang naik satu oktaf.
“Kalau bukan karena papamu yang memohon kepada mama agar kamu diberikan kesempatan hidup!”
“Kalau mama memang malu, kenapa mama setuju akan permintaan papa, Ma?” sahut Dena tidak kalah sengit, “kalau tidak tega ngebunuh Dena, Mama bisa buat rencana untuk membuang aku 'kan, Ma. Kenapa Ma, kenapa?"
Biarkan di cap sebagai anak durhaka karena membantah dan menjawab orang tua dengan nada tinggi, pikir Dena saat itu.
Emosi mama Dena memuncak mendengar jawaban Dena, terlihat jelas di wajahnya.
“Asal kamu tahu Dena, seharusnya kamu bersyukur karena mama masih sudi merawat dan membesarkan kamu.”
Air mata yang ditahan supaya tidak jatuh akhirnya luruh sudah. Mengalir deras membasahi pipinya.
Terlihat Dena menggigit bawah bibirnya untuk menyembuhkan suara tangis supaya tidak keluar. Sakit dan sesak, Dena rasakan memenuhi hatinya.
“Dena bersyukur, Ma, sangat bersyukur. Akan tetapi dengan membedakan antara aku sama Mas Dika itu yang membuat aku sakit Ma. Apa mama juga terpaksa menyetujui keinginan papa untuk beli kaki palsu ini?” Dena bertanya dengan menebak.
“Iya.” jawab mama Dena sambil mengangguk, “semua itu mama lakukan dengan terpaksa.”
Hancur sudah hati Denara mendengar jawaban mamanya.
“Seharusnya mama sudah bunuh aku dari dulu, supaya aku tidak menderita batin seperti ini, Ma. Memang benar apa kata mereka, kalau anak cacat sepertiku tidak pantas hadir di dunia ini.”
“Memang seharusnya kamu sudah tidak ada di dunia ini daripada mama malu punya anak seperti kamu!”
Setelah berkata demikian mama Denara beranjak pergi dari tempatnya berdiri, membuka pintu lalu menutupnya dengan keras dan pergi entah ke mana, meninggalkan Denara sendiri di rumah.
Melihat mamanya menghilang di balik pintu, pecah sudah tangis Denara, dia menangis dengan suara yang keras mengeluarkan semua sakit yang sadari tadi dia tahan.
Denara membalikkan badan, masih dengan isak tangis dia melangkah dengan langkah timpang melewati ruang tengah, meja makan lalu membuka pintu pembatas antara dapur bersih dan kotor untuk menuju kamarnya yang berada di posisi paling belakang dekat dengan gudang.
Setelah sampai di depan kamar, dia meraih gagang pintu lalu membukanya, menutupnya kembali, kemudian berjalan menuju meja belajar yang terletak di sebelah tempat tidur.
Meletakkan tas sekolah di tempatnya, lalu mendudukkan diri di kursi putar setelah dia tarik ke belakang.
Kedua siku Dena menumpu di meja untuk menutup muka. Air mata masih terus tumpah, entah sampai kapan Denara berhenti menangis. Yang dia inginkan hanya menangis dan terus menangis.
Setelah satu jam berlalu, Denara mengusap wajahnya, dengan tersedu diraihnya dua benda dari tempat asalnya.
“Reno, kamu dengar ‘kan apa yang Mama ucapkan? Kamu sih enggak percaya apa yang aku bilang.”
Masih dengan tersedu menahan tangis Denara berbicara sendiri sambil melihat foto di pigura kecil yang di ambilnya tadi, sedangkan tangannya asyik bermain dengan benda satunya.
Denara masih terus berbicara, menceritakan apa yang dialaminya seharian ini, hingga dia merasakan kantuk.
“Ngantuk, apa kebanyakan nangis ya, sehingga rasa kantuk tidak bisa ditunda,” Monolog Denara.
Denara meraih buku mencoba mengusir kantuk yang semakin terasa memberatkan mata. Mengambil bolpoin dan mulai menulis.
Karena tidak bisa menahan rasa kantuk, rangkaian kata tidak dia selesaikan, akhirnya Denara menutup mata tepat azan magrib berkumandang.
“Ara, Ar, Ara. Hei gadis bodoh, bangun.”
Terdengar suara yang memanggilnya, suara yang samar, menyerupai gaung, akan tetapi Denara masih terlelap dalam tidurnya, tidak terusik sama sekali.
“Denara Savina, seorang gadis bodoh, cengeng dan ceroboh yang pernah aku kenal, ayo bangun, dan ikutlah bersamaku.”
Suara itu memanggilnya lagi. Kali ini berhasil, Denara perlahan membuka matanya, mengerjap untuk mengumpulkan nyawa. Perlahan kepala Denara terangkat dari sandaran kursi. Menoleh untuk mencari sumber suara yang memanggilnya, dia tertegun dengan apa yang dilihat matanya.
Denara melihat Reno Rahadian bersandar di pintu sambil bersedekap dan tersenyum memperlihatkan dua lesung pipi.
Air mata kembali menetes, keluar dari kedua sudut mata mengalir ke bawah melewati pipi yang mulus dan sedikit tirus.
“Ck, dasar cengeng.”
suara itu kembali terdengar di indra pendengaran Denara.
“Reno.”
Denara tidak mampu bersuara, hanya gerakan bibir seolah-olah memanggil nama pemuda tersebut.
“Iya, ini aku, Reno Rahadian. Orang yang selalu engkau curhatin. Yang ini lah, yang itu lah, anu, anu dan anu.”
Denara terkekeh mendengar kata-kata Reno. Memang benar apa yang Reno katakan, Denara selalu menceritakan semua apa yang dirasa, baik cerita sedih ataupun senang. Bagi Denara, Reno adalah segalanya melebihi kedua orang tuanya.
“Ayo, kita pergi, waktumu sudah tiba.”
Denara mengangguk, lalu berdiri dari kursi kemudian berjalan mendekati sahabatnya. Namun, setelah beberapa langkah, Denara berhenti, kemudian membalikkan badan menatap sendu tubuhnya, masih dengan posisi duduk dengan tangan kiri menjuntai dan tangan kanan mendekap pigura kecil berisi sebuah foto anak laki-laki dengan gaya khasnya dan tulisan ‘kita sahabat selamanya’ terletak di atas kepala.
Sementara telapak kaki tergenang cairan merah kental, cairan itu berasal dari pembuluh darah tangan kiri yang dia sayat menggunakan pisau lipat.
Pandangan Denara beralih ke meja belajar di mana dia meninggalkan goresan di secarik kertas dengan bercak merah di beberapa tempat bertuliskan,
‘Ma, Pa, maaf, kalau selama ini Dena mengecewakan Mama dan Papa. Maaf tidak bisa seperti Mas Dika yang menjadi kebanggaan kalian. Maaf sudah membuat malu Mama dengan kehadiran Dena ke dunia ini. Akhir kata, selamat tinggal Ma, Pa, Mas Dika, Dena sudah lelah'
“Aku datang untuk menjemputmu dan seperti janjiku dulu, kita akan menjadi sahabat selamanya. Ke mana pun kita akan selalu bersama.”
Denara kembali menoleh ke arah Reno— sahabat masa kecilnya, mengangguk, lalu tersenyum kemudian menyambut uluran tangan kecil sahabatnya. Denara melihat genggaman tangan Reno dan dapat dia rasakan, genggam tangan Reno masih sama meskipun sudah 12 tahun berlalu.
Mengalihkan pandangan mata untuk melihat ke arah wajah sahabatnya, Denara berkata, “Sekarang aku lebih tinggi darimu, Ren.”
“Ya, ya, ya, aku akui itu Ara. Meskipun pucat, aku tetap tampan.”
“Mulai deh narsisnya."
“Yang jelas, kita sahabat selamanya.”
“Itu pasti Reno. Engkau tidak pernah tergantikan”
Setelah berkata demikian, mereka berjalan beriringan dengan senyum bahagia terlihat jelas di wajah Denara. Mereka berjalan menembus tembok kamar lalu menghilang.
Sementara itu di pemakaman umum kota sebelah, terlihat seekor kucing berbulu hitam menggeliat pelan lalu berdiri kemudian berjalan, baru beberapa langkah kucing itu berhenti, menoleh ke arah batu nisan yang masih terawat dengan baik bertuliskan, ‘Reno Rahadian, lahir 23 April 2005, wafat 30 September 2011’ setelah puas memandangi batu nisan, kucing hitam tersebut kembali melangkah meninggalkan pusara yang selama ini menjadi tempatnya pulang untuk beristirahat.
Beliqa_B20