[Seoul, 8 November 2017]
Langit tampak mulai menggelap dengan awan hitam yang menimpali. Terlihat beberapa pejalan kaki yang memacu langkah menjadi lebih cepat. Sesekali terdengar gemuruh yang menyapa rungu hingga membuat beberapa orang tersentak kaget. Perlahan namun pasti, air hujan turun nyaris beriringan. Semakin menbesar hingga menimbulkan suara khas yang semakin besar sesuai derasnya air yang dijatuhkan.
Beberapa orang tampak berlindung di bawah halte dan beberapa yang lainnya tampak berlindung di bawah pohon besar yang entah dapat melindungi orang di bawahnya dengan benar atau tidak. Sedangkan yang lain terlihat berjalan santai denganpelindung agar dirinya tak terkena air deras itu, lalu yang lain berlarian menerobos hujan tanpa pelindung hingga tak mempedulikan pakaiannya yang akan basah dibuatnya.
Sedangkan gadis dengan surai brunette sepunggungnya memilih untuk duduk diam dalam tempatnya seraya menyesap moccachino yang mulai menghilang panasnya. Kepalanya menoleh ke kanan, menatap ke arah luar yang dihalangi oleh kaca besar kedai kopi yang disinggahinya. Air Tuhan turun dengan derasnya hingga membuat dirinya menghembuskan napas sedikit keras. Rautnya tak terlihat berarti apa-apa, tampak datar hingga kehadiran pemuda yang terlihat tergesa-gesa duduk di depannya yang masih menyisakan satu kursi kosong.
"Maaf, Ji. Aku tadi tertidur dan lupa akan janji kita." Suara bariton itu terdengar sebagai pembuka dari pembicaraan keduanya. Tak ada balasan ataupun tanggapan. Gadis di depannya tampak memilih untuk memegang cangkir kopinya dengan netra yang tetap menatap minuman kesukaannya. "Ji, kau mendengarkan ku?"
"Ya," ujar si gadis dengan kepalanya yang terangkat menatap pria di hadapannya jengah. "Dan kau membuatku kehilangan dua puluh menit milikku yang berharga."
Setelahnya pemuda itu menampilkan senyum kotaknya menawannya. Jika biasanya senyuman itu tampak manis bagi gadis itu, kini yang terlihat tak lebih dari senyum menjengkelkan tak berdosa.
"Maaf, Jihye. Malam tadi aku menyelesaikan skripsi yang nyaris setengahnya salah dan mengharuskan ku tidur dini hari."
"Kau yang membuat janji, maka jangan ingkar. Aku tak peduli dengan alasan milikmu itu, ini tetap salahmu." Gadis yang dipanggil Jihye itu tampak menghembuskan napasnya jengah seraya jemarinya yang menyisir rambut depannya yang menutupi sebagian wajahnya. "Sekarang katakan apa yang ingin kau sampaikan, Tae." Jihye menatap tajam pria Kim di depannya yang membuat dirinya kesal.
Detik selanjutnya, tatapan pria bernama lengkap Kim Taehyung itu berubah serius. Tubuh yang semula ia sandarkan berubah menjadi tegak. Bibir bawah bagian dalamnya digigit dengan perasaan berkecamuk. Matanya sesekali mengerjap cepat dengan isi kepala yang berkerja memilih untaian kata yang tepat untuk diutarakan.
Gadis bernama lengkap Park Jihye itu sedikit tak sabar menghadapi sikap lamban pria di depannya yang sampai menit ke tiga tak kunjung menyampaikan maksud dari janji temu ini yang kata Taehyung di dalam telepon adalah hal yang penting.
"Oke, baiklah. Lebih baik aku yang berujar lebih dulu. ada sesuatu yang ingin aku beritahu juga," ujar Jihye yang tanpa sepengetahuannya bahwa dirinya baru saja menghentikan Taehyung yang terlihat membuka mulutnya ingin berujar mengutarakan aksaranya. Taehyung memilih kembali urung untuk mendengar apa yang ingin dikatakan gadis dua puluh satu tahun di depannya ini. "Kau tau Park Jimin mahasiswa jurusan teknik itu?"
Taehyung mengangguk setelah memikirkan sesaat siapa orang yang dimaksud Jihye. Park Jimin, anak teknik yang banyak digandrungi kaum hawa di universitas SangHyang tempat mereka menimba ilmu. Teman baik Taehyung juga sejak sekolah menengah pertama, namun Jihye tak mengetahui itu.
Jihye menarik napas sebentar. Manik cokelatnya terlihat berbinar, tak seperti sebelumnya yang tampak memancarkan kemurkaan. "Park Jimin, anak jurusan teknik itu..." Jihye menjeda sesaat hingga kembali menjelaskan. "Dia mengatakan cinta padaku kemarin lusa."
Taehyung diam menatap Jihye yang semakin memperlebar senyum manisnya yang sangat jarang ditunjukkan pada orang lain. Sesekali netranya menatap langit-langit kedai kopi ini seperti mengingat-ingat pernyataan cinta yang pemuda bernama Park Jimin itu katakan padanya dengan senyumnya yang kian mengembang.
Taehyung masih diam tak berkutik. Memilih untuk menatap tautan kedua tangannya yang ada di atas meja.
"Taehyung, ada apa?"
Taehyung kembali menegakkan pandangan. Menatap rupa ayu gadis di depannya yang sudah menemani harinya selama nyaris empat tahun ini.
"Kau... tak suka?"
Taehyung mengerjapkan cepat matanya dua kali. Detik selanjutnya menormalkan raut wajahnya menjadi lebih cerah pun senyuman yang kembali hadir mempermanis wajah rupawannya. "Tidak, aku bahagia. Justru sangat bahagia. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga," ujar Taehyung dengan masih mempertahankan senyumannya. "Lalu, kau... menerimanya?" Tanya Taehyung dengan segala perasaan yang bercampur menjadi satu.
"Tentu! Kau tahu sendiri aku mengagumi Jimin dari tahun kedua di universitas. Tak mungkin aku akan menolaknya." Jihye tampak antusias dengan wajah bahagianya. Senyuman Taehyung pun kembali hadir di mana ia sempat menghilang senyumnya ketika bertanya tadi.
"Oh, kau ingin menyampaikan apa padaku tadi, Tae?"
Taehyung melunturkan senyumnya. netranya menyapu seluruh penjuru kedai dengan nuansa klasik ini. Taehyung kembali memusatkan atensinya pada gadis Park di depannya dengan senyum yang kembali terpatri kendati perasaannya tampak kacau di dalam sana. "Tidak, bukan sesuatu yang penting. Aku hanya... ingin mengatakan bahwa..." Taehyung menjeda sesaat tampak memperhatikan raut Jihye yang juga menunggu dirinya menyelesaikan cerita seraya menyesap kopi moccachino miliknya. "Anjingku Yeontan telah menjadi Ayah," ujar Taehyung.
"Wah! Yeontan telah mempunyai anak? Ibunya anjing jenis apa? Mengapa aku tidak mengetahuinya?"
"Baru kemarin lusa juga, Yeontan menjadi Ayah dari dua anaknya."
"Ahhh, pasti kedua anak anjing itu terlihat lucu."
[Seoul, 8 November 2020]
Jihye menyesap minuman yang berbeda kali ini. Bukan kopi moccachino kesukaannya, melainkan cokelat panas yang kali ini menemani petangnya. Dirinya bangkit dari duduknya. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru kedai kopi ini. Masih sama tak ada perubahan, pikirnya dalam diam. Membuka pintu kedai lantas keluar dari tempat hangat dengan wangi khas kedai tersebut. Ketika jenjangnya memijaki jalanan di luar kedai, aroma petrichor menyapa indera penciumannya. menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kencang. menautkan langkah memijaki jalanan basah yang beberapa menit lalu habis di timpa oleh air Tuhan. sesekali kepalanya terteteskan air dari dedaunan yang basah. Terkadang sesekali dirinya terciprat oleh genangan air akibat motor yang melaju kencang di sisinya. Seolah apatis, dirinya justru tak mempermasalahkan itu semua atau memaki seperti dirinya beberapa tahun yang lalu.
"Jangan marah, mungkin mereka tak sengaja. Lagi pula, untuk apa kau membuang tenaga percuma jika orang yang kau teriaki sudah jauh di depan sana?" Ujar Taehyung kala itu ketika bersama dirinya.
Jihye selalu mengingat kata-kata itu. Mengingat senyum kotak pria itu. Mengingat tawa pria itu. Mengingat pemuda itu yang tak menyukai kopi ketika dirinya menawarkan dan lebih memilih cokelat panas. Mengingat bagaimana sikap anehnya hingga terkadang Jihye menganggap pria itu satu jenis dengan alien. Mengingat tatapan matanya yang terkadang tampak tajam ketika serius.
Jihye kembali menundukkan kepalanya menatap tungkainya yang menapaki jalanan basah. Hingga dirinya berhenti di dekat kubangan air sisa hujan yang menampakkan dirinya saat ini. Ingatannya kembali pada masa di mana dirinya bersama pria yang kerap kali ia katai aneh, yang kerap kali ia lontarkan kalimat ketus pun dirinya kembali mengingat di mana ia tak menemukan kembali pria itu setelah skripsi yang menjadi alasan pria Kim telat menemuinya di kedai kopi tadi menghilang seakan tak pernah menampakkan wujudnya di dunia ini. Yang Jihye ingat adalah, secarik kertas di dalam buku catatan astronominya yang ternoda oleh tinta hitam khas tulisan tangan pria Kim itu.
'Aku akan kembali. Tak perlu khawatirkan aku ataupun memikirkan aku. Berharap saja aku tak akan lama. Maaf meninggalkanmu sendiri. Tidak, aku tidak meninggalkan dirimu sendiri. Masih ada Jimin di sisimu. Jangan mencariku dan jangan menangis diam-diam. Bahagia selalu!' – Kim Taehyung.
Seandainya dirinya sekuat itu untuk tidak menangis secara diam-diam, maka kini tak ada air mata yang mengalir hingga membasahi pipinya. Kata-kata itu selalu teringat oleh Jihye seolah tatto yang tak akan pernah hilang. Pria Kim itu berkata bahwa Jihye masih mempunyai Jimin? Padahal semenjak kepergian pria Kim Taehyung itu, hubungan dirinya dengan Jimin berakhir yang di akhiri oleh Jihye sendiri. Semenjak kepergian Taehyung, Jihye kerap kali berlaku kasar sekalipun pada Jimin kendati dirinya pun tak tahu mengapa bisa demikian. Ingin memaki karena kesal, namun kembali urung ketika terlintas perkataan pemuda senyum kotak itu yang mengingatkan dirinya untuk berhenti memaki.
Pertahanannya melemah. Isakan tertahannya kini terdengar jelas. Ia masih menangis dengan kepalanya yang bertumpu pada lipatan tangannya di atas lututnya dengan posisi berjongkok.
Setiap langkahnya ia selalu berharap. Setiap napasnya ia selalu berharap dan setiap doanya ia selalu berharap dengan harapan yang serupa.
"Kuharap kau tak jauh dan kembali, Tae."
Jika Jihye bisa memutar waktu, ia ingin memutar di kejadian saat keduanya bertemu janji di kedai kopi tiga tahun lalu. Ia terlampau bodoh dengan tidak mengetahui bahwa Taehyung ingin menyatakan perasaannya pada dirinya yang justru harus Taehyung telan mentah-mentah ketika mengetahui bahwa dirinya menjalin hubungan dengan Park Jimin. Jika Taehyung mengatakan itu semua dari awal dan jika saja Jimin memberitahu dirinya sebelum Taehyung pergi secara tiba-tiba, maka ia tidak akan kehilangan Taehyung dalam hidupnya seperti ini.
Namun Jihye tak seharusnya seperti ini. Kembali berdiri tegak dengan isakan yang masih terdengar sesekali, Jihye berujar dalam benaknya.
"Aku percaya kau tak akan pergi jauh. Aku percaya kau akan kembali. Tapi aku harap kau tak mematahkan kepercayaanku hingga membuatku lelah menunggu meskipun kau meminta untuk tidak di tunggu.'
–END–