Saat jam istirahat perpustakaan sekolah adalah tempat pertama yang paling ingin aku lihat. Ada salah satu jendela yang selalu menarik disana. Jendela yang berada di ujung barat adalah satu-satunya jendela yang terbuka saat jam istirahat. Dari jendela yang terbuka aku bisa lihat seorang gadis berkuncir kuda yang tampak serius dengan buku yang dibacanya. Gadis itu selalu duduk disana, duduk dengan anggun dengan wajah serius yang menawan. Wajah yang tak pernah membosankan untuk di pandang. Serta wajah yang mampu membuatku lupa dengan dunia nyata untuk sesaat.
“Ardhi!” aku hampir terjengkang saat Doni, sahabat karibku berteriak di dekat gendang telingaku. Ingin rasanya aku berbalik berteriak padanya karena kesal, namun melihat wajah kusut Doni membuatku mengurungkannya.
“Daripada dilihat dari luar, kenapa nggak langsung masuk dan nyapa dia aja di dalam.” Doni duduk bersila di sampingku. Wajah kusutnya berangsur-angsur lenyap. Mendengar perkataan Doni, aku kembali menatap sosok gadis yang duduk di dekat jendela perpustakaan.
Cantika Maharani, itu adalah nama gadis itu. Teman-temannya memanggilnya Tika, beberapa guru memanggilnya Cantika. Dia adalah gadis di kelasku yang selalu mendapat peringkat pertama dalam ujian. Wajahnya cantik seperti namanya. Dia kutu buku dan gadis paling pendiam di kelas. Aku lupa kapan tepatnya, namun aku sudah naksir padanya sejak tahun pertama. Namun aku tak pernah berani mendekatinya bahkan sampai kami sudah pada tahun ketiga. Tiga tahun lamanya aku terus memperhatikannya dalam diam tanpa memiliki keberanian sedikitpun untuk mengatakan padanya perasaanku yang sesungguhnya.
“Menatapnya dari sini saja sudah membuatku puas.” Aku bergumam pelan, membuka bungkus coklat kacang yang kubeli di kantin tadi pagi dan melahapnya. Rasa coklat yang lumer dalam mulutku mengingatkanku pada hari valentine yang akan segera datang.
“Jika menurutmu begitu, kau sungguh rugi besar.” Doni menepuk sebelah bahuku sebelum berdiri meninggalkanku. Aku menatap punggung bocah itu yang bergerak menjauh. Doni adalah satu-satunya orang yang mengetahui perasaan tersembunyiku ini. Selama ini bocah itulah yang terus-terusan mendukungku, memberikan aku semangat untuk mencoba mendekati Cantika. Namun aku selalu menyerah sebelum mencoba. Duniaku dan Cantika terlalu jauh berbeda. Dimataku Cantika seperti seorang dewi, sedangkan aku hanya upik abu yang pantas tersisih. Kami seperti batu dan permata, ta akan pantas jika disandingkan.
***
Aku duduk dengan gugup di kursiku saat melihat sosok Cantika yang semakin mendekat. Gadis berkuncir kuda itu mulai menarik salah satu kursi, meletakkan buku sejarahnya di mejaku, kemudian duduk tepat di hadapanku. Dua anak lainnya mengikutinya, kami berempat duduk melingkar. Dalam tiga tahun masa SMAku ini pertama kalinya Cantika masuk kelompok yang sama denganku. Jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Rasanya aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaan yang kuhadapi sekarang. Senang, gugup, canggung, gelisah, dan berbunga, berbagai perasaan bercampur aduk membuat perutku terasa diaduk.
“Ini bukanlah tugas yang terlalu berat untuk dikerjakan. Tak masalah jika aku yang mengerjakannya sendirian.” Cantika membuka pembicaraan terlebih dahulu, sekaligus mengakhirinya. Aku tertegun mendengar apa yang dikatakannya. Gadis itu segera membuka buku sejarahnya, membaca satu per satu soal dibuku itu dengan serius. Gery dan Alvin, dua anggota kelompok kami yang lain terlihat setuju dengan usulan Cantika. Wajah mereka berdua terlihat merdeka karena lepas dari tugas. Setelah mendengar pernyataan Cantika, dua orang itu tak segan untuk mengeluarkan kartu remi, permainan yang sedang trending di kelas kami. Bahkan sebelum memulai permainan Gery mengajakku ikut serta bermain. Sebelum aku bisa menjawab ajakan Gery bel pulang sekolah berbunyi. Semua orang yang berkumpul di mejaku segera bubar. Termasuk Cantika yang segera kembali ke bangkunya.
Kalimat yang dikatakan Cantika dan wajah seriusnya yang menawan terus saja menganggu pikiranku. Aku begitu senang saat gadis itu akhirnya bisa satu kelompok denganku. Namun sikap Cantika yang dingin membingungkanku. Aku tak menyangka gadis itu akan memilih mengerjakan tugas itu sendiri dibandingkan bekerja sama dengan anggota kelompok lainnya. Mungkinkah dia merasa kami hanya akan menghambat tugasnya, mengingat Gery, Alfin, dan juga aku hanyalah siswa dengan nilai pas-pasan? Pikiranku mulai jauh berkelana saat sosok gadis berkuncir kuda melintas di depan mata. Aku melihat Cantika berjalan membawa sebuah buku tebal yang kukenali sebagai buku sejarah. Cantika berjalan melewati lorong kelas sebelas. Ekor mataku terus mengikutinya. Entah dorongan dari mana aku memutuskan mengikutinya dari belakang. Langkahku terhenti saat melihat gadis itu ternyata menuju perpustakaan.
Aku menatap pintu perpustakaan yang hanya terbuka separuh dengan ragu. Sudah hampir lima menit berlalu sejak Cantika memasuki ruangan yang dipenuhi buku itu. Namun aku masih berdiri kaku di tempatku, menimbang-nimbang apakah aku harus masuk atau hanya akan menatap gadis itu dari jauh seperti kebiasaanku.
“Kenapa kau tidak masuk dan membantunya? Kau anggota kelompoknya, kan?” Doni yang baru saja keluar dari perpustakaan mengejutkanku. Tangannya terlihat penuh dengan berbagai buku tebal dan sebuah kartu perpustakaan.
“Kesempatan tak akan datang dua kali,” tambah Doni melanjutkan langkahnya pergi.
***
Aku terdiam ketika sudah sampai di meja dimana Cantika berada. Ya, aku memutuskan untuk masuk ke dalam. Buku sejarah yang tebal terbuka lebar, namun dicampakkan oleh pemiliknya. Dengkuran halus samar-samar terdengar dari gadis yang menenggelamkan wajahnya dalam kedua lengannya. Dengan perasaan ragu dan bingung aku memutuskan duduk, memperhatikan gadis yang sedang tertidur itu dalam diam. Ini pertama kalinya aku melihat Cantika tertidur pulas. Pulpen ditangannya mulai jatuh dan berguling di atas meja. Sebuah kertas yang masih diisi oleh beberapa kata terlihat kusut dibawah tangannya.
Kutatap rambut hitam Cantika sejenak sebelum beralih pada buku tebal sejarah yang terbuka lebar. Dengan penuh kehati-hatian kutarik kertas kusut dibawah tangan Cantika dan memungut pulpen hijau miliknya. Tulisan tangan Cantika yang rapi terlihat mulai tak beraturan di kalimat terakhirnya. Kurasa Cantika sudah mengatuk berat saat menulisnya. Tanpa keraguan aku mulai melanjutkan pekerjaan Cantika. Membuka berbagai sumber buku sejarah di perpustakaan untuk mengerjakan tugas sejarah yang merepotkan. Jari-jariku seperti mati rasa setelah menulis sekitar dua halaman. Inilah yang menyebalkan dari pelajaran sejarah, kita hanya diberi satu baris pertanyaan tapi kita harus memberi lima lembar jawaban.
Aku merenggangkan tubuhku sejenak, menggerakkan punggungku yang terasa kaku dan leherku yang tegang. Entah berapa lama aku menulis jawaban, aku merasa jawabannya tidak ada habisnya. Kepala Cantika mulai bergerak dan terangkat. Ekspresinya tampak begitu terkejut saat manik coklatnya menemukanku. Gadis itu terlihat linglung untuk beberapa saat, seperti belum benar-benar terbangun ke dunia nyata. Saat kedua matanya terbuka lebar, Cantika segera menatap jam dinding yang menempel di dinding perpustakaan. Entah itu hanya ilusi atau bukan, pipi gadis itu mulai bersemu merah. Aku merasa jika Cantika menatapku dengan salah tingkah.
“Aku ketiduran. Maaf membuatmu mengerjakannya. Itu sudah cukup. Sisanya biar aku saja yang mengerjakan.” Cantika segera merebut pulpen, buku sejarah tebal miliknya, serta kertas putih yang berisi jawaban dari tanganku. Nada bicaranya yang dingin dan sikap tenang gadis itu membuatku merasa tidak enak. Aku jadi merasa seperti kerikil yang menghambatnya. Seperti yang aku lakukan tidak akan membantunya, sebaliknya aku hanya akan menyulitkannya.
“Tidak bisa. Aku akan ikut mengerjakannya. Jangan halangi aku melakukannya.” Entah keberanian dari mana aku mengatakannya. Kurebut kembali pulpen dan kertas yang sudah berisi jawaban dari tangan Cantika. Cantika tampak terkejut saat aku melakukannya. Sebenarnya tak hanya gadis itu, aku sendiripun juga terkejut. Setelah tiga tahun berada di kelas yang sama dengannya, tapi baru kali ini aku benar-benar bicara dengannya.
“Sudah sore, kita lanjutkan ini besok saja.” Cantika berujar sambil menatap keluar jendela. Mendengar jawaban Cantika membuatku tak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Cantika mulai mengemasi alat tulisnya, kemudian segera beranjak dengan tergesa. Melihatnya yang terburu-buru keluar perpustakaan membuatku mengejarnya tanpa sadar.
“Tika, pulang bareng yuk!” Mulutku dengan lancang berteriak, membuat Cantika yang sudah keluar dari perpustakaan segera berhenti dan menoleh dengan wajah kebingungan. Ditatap olehnya membuatku sama kebingungannya. Darimana datangnya ajakan yang sangat lancang itu?! Aku mengutuk kecerobohanku. Aku tahu Cantika bukan gadis yang mudah bergaul dengan sembarang orang. Lalu bagaimana teman sekelasnya yang baru bicara sekali padanya dengan lancang mengajaknya pulang bersama? Dia sudah pasti akan menolaknya!
“Oke.” Aku melongo saat jawaban tak terduga datang dari Cantika. Gadis itu kembali menghampiriku. Jantungku berdebar tak percaya. Aku terdiam seperti orang bodoh saat Cantika kembali terlihat kebingungan.
“Naik apa?” Tanya Cantika menyadarkanku pada realita. Ini nyata! Hatiku berorak kegirangan.
“Sepeda.” Jawabku membayangkan Cantika yang duduk di belakang sepedaku sambil memeluk pinggangku. Kupikir sore itu adalah hari terbahagiaku.
***
Aku berlari menuju perpustakaan setelah membeli beberapa coklat kacang dari kantin. Saat aku datang Cantika terlihat sedang mencari beberapa buku di rak bagian sejarah. Tas dan barang-barang miliknya diletakkan di meja sudut ruangan, di dekat jendela yang telah terbuka setengah. Kusembunyikan coklat kacang di dalam tasku sebelum bergabung bersamanya. Di perpustakaan ada peraturan yang tidak mengijinkan pengunjungnya makan. Selama ini Cantika terkenal sebagai siswa teladan. Kurasa dia akan langsung membenciku jika dia tahu aku membawa makanan dalam perpustakaan.Tentu saja aku tak mau citraku terlihat buruk di depannya.
Cantika tersenyum setelah melihatku sudah siap dengan buku tebal sejarahku. Sikapnya jauh lebih hangat dari yang sebelumnya. Setelah mengantarnya pulang kemarin, aku merasa hubungan kami semakin dekat. Selama lebih dari dua jam kami habiskan untuk mengerjakan tugas kelompok bersama. Beberapa kali aku mengambil kesempatan untuk diam-diam melirik Cantika, memperhatikan wajah seriusnya yang menawan. Rasanya seperti mimpi bisa duduk sedekat ini dengannya, mengingat dulu aku hanya berani melihatnya dari kejauhan. Jendela perpustakaan yang terbuka membuatku bisa melihatnya dari luar. Namun sekarang aku bisa melihatnya dari dekat
“Kita lanjutkan lagi besok.” Cantika membereskan alat tulisnya. Merenggangkan tubuhnya sebelum beranjak dari tempat duduknya. Tanpa berpikir panjang aku segera ikut berdiri dan mendahuluinya berjalan.
“Aku akan mengambil sepeda sebentar, kamu bisa menungguku di gerbang depan.” Aku segera berlari ke parkiran, namun saat aku masih melewati lorong kelas Cantika memanggil namaku dengan keras.
“Ardhi! Aku ... maaf aku tidak bisa pulang bersama.” Aku menoleh, sesaat aku bisa lihat wajah Cantika yang gelisah. “Hari ini aku dijemput seseorang,” tambah Cantika membuatku membeku seketika. Kurasa aku sudah terlalu percaya diri sebelumnya. Hanya karena kemarin Cantika menyetujuinya, aku tak pernah berpikir dia akan menolaknya saat aku kembali mengajaknya.
***
Aku menuntun sepedaku dengan lesu menuju gerbang depan. Ada peraturan di sekolahku yang tidak memperbolehkan siswa yang membawa sepeda menunggangi sepedanya sebelum sampai di gerbang depan. Di hari biasanya aku akan mengayuhnya dari parkiran, melanggar peraturan dan dimarahi oleh satpam yang berjaga di pos dekat pintu gerbang. Namun hari ini aku terlalu malas untuk menaikinya. Untuk hari ini dan kemarin saja aku mematuhi peraturan. Itu semua karena Cantika, gadis yang diam-diam aku suka.
Suara tawa seorang gadis yang familiar menggelitik telinga. Aku berhenti melangkah saat menemukan Cantika berdiri di dekat pintu gerbang. Disamping gadis itu ada seorang anak laki-laki dengan seragam batik dari sekolah lain, disampingnya lagi ada sebuah motor merah besar yang kusimpulkan milik laki-laki itu. Cantika sepertinya tidak menyadari kehadiranku. Gadis itu masih tertawa, wajahnya terlihat lebih cerah. Cantika terlihat lebih cantik saat tertawa lepas, sayangnya Cantika memang jarang tertawa. Tapi sekali tertawa kenapa harus di depan pria itu? Kenapa bukan aku yang jadi alasannya tertawa? Aku tertawa miris. Bagi Cantika aku bukan siapa-siapa selain teman sekelasnya, jadi tidak seharusnya aku merasa iri. Aku menunduk dan berjalan lesu melewati dua sejoli itu.
“Ardhi!” Suara Cantika membuatku menoleh. Sepasang mata bening itu menatapku lama. Senyuman yang sangat cantik merekah di wajah Cantika. Sesaat aku lupa caranya berkedip dan bernapas.
“Hati-hati dan sampai bertemu besok.” Cantika melambaikan tangannya, menyadarkanku untuk menginjak tanah. Aku mengangguk kaku, melanjutkan langkahku sambil menatap lurus ke depan. Bisa kurasakan wajahku yang memanas. Kekesalanku beberapa saat yang lalu gugur begitu saja. Kini pikiranku hanya dipenuhi wajah tersenyum Cantika.
***
Aku menatap kosong ke arah satu-satunya jendela perpustakaan yang terbuka. Lagi-lagi aku kembali ke rutinitasku, memperhatikan Cantika dari luar jendela perpustakaan. Seperti hari-hari sebelumnya, gadis itu duduk disana dengan wajah serius seakan tenggelam dalam bacaannya. Melihat wajah Cantika yang begitu tenang dan serius membuatku mengingat wajah yang ditunjukkan Cantika sore kemarin. Wajah Cantika yang tertawa begitu lepas, ekspresi wajahnya yang belum sekali pun aku lihat meski sudah tiga tahun memperhatikannya.
“Kapan kau akan mengakui perasaanmu di depannya?” Doni yang tiba-tiba muncul di belakangku membuatku terlonjak kaget. Entah mengapa bocah itu selalu muncul tiba-tiba kemudian dengan sangat mudahnya menghilang. Doni duduk bersila di sampingku, tangannya mengambil satu coklat kacang dari tanganku kemudian memakannya tanpa permisi terlebih dahulu.
“Besok tanggal empat belas. Banyak orang yang menyebut besok adalah hari kasih sayang, meskipun banyak dari mereka yang tidak merayakannya. Ini kesempatan yang bagus, apa kau tidak ingin mencobanya?” Doni kembali mencomot coklat kacang dariku, namun kali ini dia tidak memakannya. Dia mengembalikannya padaku, “ Tak peduli bagaimana hasilnya, kau tidak akan tahu sebelum mencobanya.” Doni menepuk bahuku sebelum menghilang seperti yang sebelum-sebelumnya. Aku masih diam di tempatku, menatap coklat kacang yang tersisa di tanganku sambil memikirkan perkataan Doni.
Tidak akan ada kesempatan bagiku. Itulah yang kupikirkan saat mengingat bagaimana aku melihat Cantika kemarin. Seorang laki-laki yang menjemput Cantika kemarin bukanlah orang yang bisa kukalahkan dengan mudah. Dia dan Cantika terlihat sangat dekat. Laki-laki itu mungkin saja adalah pacar Cantika. Memikirkan kemungkinan buruk itu membuatku kehilangan semangat. Namun wajah tersenyum Cantika membuatku sedikit menyisihkan harapan. Apakah aku bisa memiliki sedikit ruang di hatimu, Cantika?
***
Dengan perasaan gelisah aku masuk ke perpustakaan sepulang sekolah. Cantika sudah menunggu di meja tempat kami mengerjakan tugas bersama, membolak-balik sebuah buku dengan wajah bosan. Gadis itu tersenyum begitu melihatku datang. Senyuman manis yang membuat semangatku kembali bergelora. Cantika segera membuka buku sejarahnya, menunjukkan padaku pertanyaan yang belum kami selesaikan.
Wajah Cantika yang serius membuatku kembali berdebar-debar dengan gelisah. Tenggorokan terasa kering saat jam dinding di perpustakaan hampir menunjukkan pukul empat. Tak lama lagi Cantika pasti akan pulang.
“Selesai. Akhirnya tugasnya selesai juga.” Cantika meletakkan pulpennya di atas meja, kemudian merenggangkan tubuhnya dengan santai.
“Tugasnya jadi cepat selesai karena bantuanmu. Ardhi, terimakasih,” ujar Cantika tulus disertai senyuman. Aku mengangguk kaku. Gadis itu mulai membereskan alat tulisnya ke dalam tas sekolah miliknya. Saat itulah aku merasa begitu panik dan gelisah.
“Tika, ada yang ingin aku katakan padamu.” Ucapku sedikit terburu-buru. Mendengar panggilanku, Cantika menatapku dengan bingung. Sepasang mata beningnya yang menatapku lekat membuatku salah tingkah. Tanganku mendadak menjadi balok es dan perutku serasa di penuhi kupu-kupu terbang. Bibirku terasa kaku dan lidahku terasa kelu.
“Ardhi, wajahmu pucat. Kau berkeringat sangat banyak.” Entah kapan Cantika mengeluarkan sapu tangan, kini tangannya sudah bergerak mengusap keringat di wajahku. Perlakuan Cantika yang seperti ini membuatku serasa ingin pingsan.
“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” tanya Cantika menatap ke arah jam dinding perpustakaan. Ditanya langsung olehnya membuat perutku semakin tidak nyaman. Aku menghembuskan napas perlahan, menenangkan irama jantungku yang sedang berkonser di dalam sana. Wajah Cantika yang dekat membuat ketenangan yang kukumpulkan kembali beruraian. Namun aku tak ingin menyerah.
“Tika ... “ panggilku penuh keraguan. Cantika menatapku lekat, rasa penasaran terpancar dari sorot matanya. Aku menelan ludah berulang-ulang. Tanganku terkepal erat, menguatkan niatku yang sudah kuputuskan setelah berpikir masak-masak. Kali ini apapun jawaban Cantika aku akan menerimanya.
“Tika, sebenarnya aku ... aku ... aku ingin terus belajar bersamamu.” Aku mengutuk diriku karena niatku goyah begitu kata-kata itu berada di ujung lidah. Untuk beberapa saat Cantika tampak kebingungan. Jelas sekali bahwa gadis itu tidak paham.
“Maksudku setelah ini, kuharap kita masih bisa belajar bersama-sama. Kita sudah kelas dua belas, sudah waktunya kita memikirkan ujian.” Bibirku terasa kaku untuk tersenyum. Aku segera membereskan alat tulisku, menatap Cantika sekilas sebelum berbalik pergi meninggalkannya.
“Sampai jumpa besok, Tika!” Cantika mengangguk, ekspresi wajahnya masih terlihat bingung. Gadis itu membalas lambaian tanganku sebelum aku benar-benar pergi meninggalakannya sendirian di dalam perpustakaan.
Dari jendela perpustakaan yang terbuka, aku masih memperhatikan Cantika yang berdiri mematung di dalam sana. Aku tersenyum masam. Kurasa aku memang tidak bisa memilikinya. Tapi setidaknya sekarang aku tidak perlu lagi memperhatikan gadis itu dari luar jendela. Sekarang aku bisa melewati jendela itu dan menyapanya. Jendela perpustakaan bukan lagi pembatas. Dia adalah pintu yang menghubungkan kami berdua. Mungkin hari ini memang bukan hari yang tepat. Kuharap suatu hari aku bisa mengucapkannya dengan benar. Cantika, aku ingin kau tahu berapa banyak aku menyukaimu dan berapa lama aku memperhatikanmu dari balik jendela perpustakaan sekolah. Jika waktunya tiba, apa aku benar-benar bisa mendapatkanmu? Aku tertawa sumbang. Perlahan bibirku tertarik membentuk senyum tulus. Dari awal aku menyukaimu tanpa meminta bayaran apapun. Cintaku tulus tanpa meminta upah ataupun balasan. Berada di dekatmu itu sudah cukup membuatku bahagia.
-Tamat-