Ini adalah fanfic dari Boku No Hero Academia (BNHA) tapi khusus karakter Todoroki Shoto, yahh!;)
☆☆☆
Pagi hari yang cerah membangunkan semua orang untuk beraktifitas. Udara begitu dingin dan segar, membawa ketenangan bagi siapa saja yang membutuhkan. Ia melangkah keluar dari pintu rumah sambil melambaikan tangan ke ibu dan saudara-saudaranya. Remaja itu menarik napas dalam-dalam, mengisi tubuhnya dengan energi positif sebanyak mungkin agar bisa menjadi tameng dalam menjalani keseharian.
Terutama untuk melaksanakan rutinitasnya, yaitu menjauh dari manusia paling menyebalkan yang pernah dia kenal di bumi.
Beberapa saat kemudian, banyak orang mulai keluar dari kediaman masing-masing. Tangannya masuk ke dalam saku, siap berjalan menuju sekolahnya. Sama seperti orang Jepang kebanyakan, dia juga selalu berjalan kaki. Walaupun itu sama saja dengan memberikan kesempatan bagi seseorang, untuk mengganggu paginya.
"Selamat pagi, Shoto! Mari berangkat bersama!" Teriakan cempreng itu dia abaikan seperti biasa. Seorang gadis berlari cepat menuju si tetangga rumah—sekaligus tetangga kelasnya—yang dingin.
Gadis itu berjalan di sebelahnya, tapi remaja yang bernama Shoto memasang sikap tak acuh. Sepanjang perjalanan, dia mengoceh tanpa henti layaknya sedang berpidato. Jika saja ada podium yang bisa dibawa kemana-mana, dia pasti sangat membutuhkannya.
"Kenapa kau tidak menjawab sapaanku tadi, Shoto?" Mau tak mau akhirnya dia menoleh malas. "Menjauhlah dariku, Michiru!" ketusnya. Gadis yang bernama Michiru itu malah tertawa.
"Kau sudah mengerjakan tugas matematika? Ah iya, kau kan lebih pintar dariku? Harusnya kau sudah selesai. Tapi, apakah kau kesulitan saat mengerjakannya? Maksudku, aku sangat kesulitan kemarin. Ah, pasti kau bisa mengatasinya, kau itu kan pintar!" ocehnya lagi. Shoto enggan membuang-buang tenaga untuk menanggapi Michiru. Toh dia sendiri sudah tahu jawabannya.
Sebenarnya, Michiru itu jauh lebih menyebalkan dari yang kalian kira. Di sekolah, dia selalu mengikuti Shoto selagi ada kesempatan. Masalah ocehan itu masih bisa diatasi, karena Shoto memang irit dalam hal kosa kata. Namun, ada beberapa hal yang membuat Shoto benar-benar ingin menendangnya dari dunia ini.
Pertama, tingkahnya membuat orang lain salah paham. Ada yang mengira mereka memiliki hubungan lebih, cuma karena Michiru selalu mengekori Shoto. Seperti induk dan anak ayam, atau bahkan berpacaran. Jika mereka teliti, dari ekspresinya saja mereka tahu Shoto tidak menganggap kehadiran Michiru. Mana mungkin mereka punya hubungan lebih, apalagi ikatan.
Kedua, dia seperti magnet bagi permasalahan di dunia. Dan yang paling tidak adil, Shotolah yang harus menyelesaikan semua masalahnya! Beberapa orang mengira Shoto sedang menolong Michiru dan juga menjaganya. Padahal, salah 100%!
Dia hanya berusaha melindungi diri sendiri. Namun secara tidak langsung, melindungi gadis aneh yang selalu berhadapan dengan punggungnya.
Contohnya, saat itu mereka sedang berkeliling di kantin. Seseorang berjalan dan tak sengaja tergelincir hingga jatuh ke lantai. Mangkuk bakso yang tadi berada di tangannya, seketika terbang menghiasi langit kantin. Bakso yang seharusnya mengisi perut orang itu, malah berakhir di tubuh Shoto.
Coba tebak? Ya, waktu itu Michiru bahkan tidak kotor sedikit pun. Sungguh kebetulan yang hebat.
Tidak hanya itu, ada banyak sekali kejadian sial yang Shoto terima setiap kali Michiru berjalan di balik punggungnya. Menjadikan Shoto sebagai tameng dari semua kesialan di hidupnya.
Jika kalian penasaran dengan apa yang Shoto rasakan, inilah jawabannya.
DIA BENAR-BENAR MEMBENCI MICHIRU!
Padahal sudah diusir berulang kali, tapi dia selalu keras kepala dan tetap saja mengikuti Shoto. Hal itu sukses memupuk kebencian yang ada di hatinya.
Hari itu berlalu begitu cepat. Saat bel pulang berbunyi, Shoto segera pulang menggunakan jaket yang selalu dia bawa. Saat mereka melewati koridor utama tadi pagi, seorang guru sedang berjalan sambil memandangi ponselnya. Kemudian menabrak Shoto secara 'tidak sengaja', sehingga teh manis hangat yang dia bawa otomatis melukis di bajunya.
Dua orang preman berdiri di persimpangan jalan yang akan mereka lewati. Awalnya Shoto cuek saja dan memilih untuk lanjut berjalan. Namun saat mereka hendak melewati dua preman itu, Michiru tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Para preman mendekat, memperhatikan Michiru dengan senyuman miring.
"Hey ... gadis cantik. Mau ikut om sebentar, tidak?" goda preman yang berambut gondrong. Bukannya menjawab, Michiru malah melompat ke punggung Shoto. Preman yang botak tertawa, baru sadar ada orang lain di antara mereka. "Ini siapamu, gadis cantik? Apa kami harus membunuhnya untuk mendapatkanmu?" sinis preman berkepala botak.
Amarah Shoto terpancing. Secepat kilat dia mengeluarkan teknik bela diri yang pernah dia pelajari dari kakeknya dulu. Pertarungan mereka begitu sengit, apalagi Shoto hanya sendirian. Beberapa kali pukulannya berhasil menghantam preman-preman itu, tapi tampaknya belum cukup untuk membuat mereka tumbang. Justru, Shotolah yang babak belur pada akhirnya.
Pertarungan mereka dihentikan oleh beberapa warga dewasa yang keluar dari rumah, karena penasaran dengan suara berisik. Shoto dipenuhi luka, dan segera dilarikan ke rumah sakit. Untuk sesaat dia sempat tidak sadarkan diri, karena efek bius yang diberikan dokter. Luka-lukanya sudah dibersihkan dan diobati, tidak ada luka dalam yang serius.
Ketika dia membuka mata, Michirulah yang menyambutnya dengan senyuman hangat. "Hai, Shoto! Kau sudah merasa baikan?" tanya Michiru sambil menyodorkan segelas air. "Hidupku akan lebih baik jika kau tidak berjalan di belakangku lagi!" maki Shoto dengan suara serak.
Michiru tersentak, bingung karena temannya itu mendadak marah. "Ada apa? Kenapa kau—"
"Bodoh! Sudah kubilang berhenti mengikutiku! Kenapa kau keras kepala sekali? Aku ini bukan tameng pribadimu!" hardik Shoto lagi. Kesabarannya sudah habis. Dia lelah menerima semua masalah yang tidak berhubungan dengannya.
Michiru mengerutkan dahi, heran dengan sikap Shoto yang mendadak berubah. "Kalau kau tidak mau diikuti, kenapa kau melindungiku? Sebenarnya ... aku mengikutimu karena aku merasa aman dan nyaman ...."
Ruangan hening sejenak. Shoto membelalakkan mata, benar-benar geli saat mendengar kejujuran Michiru. Ternyata selama ini dia terlalu berlebihan menanggapi kebaikannya.
"Justru selama ini, aku sedang melindungi diriku dari masalah dan kesialan yang kau bawa!" bela Shoto, sedikit berteriak hingga tenggorokannya terasa sakit. Michiru terkesiap dengan mulut terbuka lebar.
"Maaf." Setelah mengatakan itu, dia bangkit berdiri. Dengan kepala tertunduk lesu, Michiru meninggalkan Shoto yang masih berapi-api.
Keesokan harinya, Shoto kembali bersekolah seperti biasa. Walaupun dia terpaksa menjadi pusat perhatian, karena dipenuhi perban dan luka-luka. Namun, ada satu hal yang aneh.
Michiru sama sekali tidak mengikutinya. Mereka juga tidak berangkat bersama ke sekolah. Bahkan, Shoto belum ada melihatnya sepanjang hari.
Ketika dia berjalan pulang sendirian, suara gadis yang ketakutan menarik atensinya. Di persimpangan jalan yang sama, ada seorang preman mabuk yang menggoda gadis imut tidak bersalah. Refleks Shoto berlari menghampiri, lalu mendaratkan tinjunya ke pipi preman itu.
Sekejap kemudian, mereka sudah terlibat dalam baku hantam. Meskipun masih dipenuhi luka, tubuhnya refleks bertahan sekuat mungkin. Namun ternyata, preman itu lebih kuat dari dugaannya. Dia terjatuh ke jalan, dan dipukuli tanpa ampun. Gadis tadi segera berteriak meminta pertolongan.
Berhasil, beberapa saat kemudian warga mengejar si preman yang lari menyelamatkan diri. Meninggalkan Shoto yang hampir sekarat di permukaan aspal. Darahnya mengalir cukup deras dari sudut bibir dan juga bekas luka yang belum mengering. Gadis itu berlutut, panik melihat Shoto yang kesulitan membuka mata.
"Kenapa kau melakukan ini? Kau kan masih terluka! Kenapa mengorbankan diri sendiri?! Padahal aku sudah tidak mengikutimu lagi ...." lirih Michiru. Benar-benar tidak sanggup melihat keadaan lelaki itu saat ini.
Shoto tersenyum kecil, sekuat tenaga berusaha membuka matanya. Dia memandang langit sejuk yang begitu indah, kemudian menatap Michiru dari ekor matanya. Ntah kenapa, Shoto merasa luka-luka di tubuhnya semakin perih ketika melihat Michiru bercucuran air mata. Namun, ada sedikit kepuasan saat kekhawatiran tersirat di wajahnya.
"Jika kau merasa aman dan nyaman saat bersamaku, maka aku merasa harus melindungimu bahkan saat kau tidak berjalan di atas bayanganku."
☆☆☆
Terima kasih sudah membaca!^_^