Siang itu, Sekolah begitu ramai, tidak seperti biasanya.., karena hari ini di mulainya perlombaan antar kelas, setelah diadakannya test semester.
Tidak seperti biasanya, perpustakaan_pun ramai,..tidak seperti biasanya,. semua tempat duduk di dalam ruangan penuh, tidak ada lagi bangku kosong untuk Dinar duduki.
Dinar menghela nafas, karena sebal,..dia tidak dapat menikmati hari- hari membacanya dengan nyaman.
Dinar keluar dari perpus, dengan wajah mendengus, Dia hanya ingin merampungkan membaca buku novelnya yang tinggal satu bab lagi, tapi nyatanya harapannya tidak terwujud.
Dinar membawa langkah kakinya, mencari tempat yang nyaman. Tibalah dia di bawah pohon di Taman Sekolah .
Baru saja Dinar akan memulai membaca, dari arah depan, nampak dua siswa, tepatnya pasangan, karena terdiri dari satu anak laki - laki dan satu anak perempuan, berjalan ke arahnya.
Pada mulanya Dinar menyangka, mereka hanya akan lewat saja, tapi dugaannya salah, mereka kini malah duduk di sebelah Dinar, walaupun jarak mereka agak jauh. Rupanya dua sejoli itu akan memadu kasih di sekolah.
Kembali Dinar menghela nafas, dan kemudian dengan berat hati dia meninggalkan pohon ternyaman, dan juga pasangan yang percaya diri, karena berani memadu kasih di sekolah. Mungkin wajar bagi mereka, tapi tidak untuk Dinar.
Dinar adalah gadis penyendiri, pendiam, dan juga tertutup. Dinar lebih suka melewati kehidupan sehari - harinya hanya dengan mengurung diri dalam kamar, saat dia di rumah. Atau memisahkan diri dari kerumunan, saat berada di Sekolah.
Dinar masih terus mencari tempat yang sepi, yah...setidaknya walau ada siswa lain, itu hanya sedikit anak anak yang berada di sekitarnya.
Dinar berjalan dengan memperhatikan lingkungan sekitar, hingga tanpa sadar, Dinar sampai di halaman belakang sekolah.
Awalnya Dinar merasa menggigil, melihat keadaan sekitarnya itu., yang sepi dan mencekam. Tapi rasa takutnya hilang, begitu Dinar mengeluarkan buku novel dan mulai membacanya.
Pandangan Dinar hanya terpaku ke halaman bab terakhir novel tersebut , sebentar lagi Dia akan selesai membacanya.
buugh.,buugh..prak...
" Tolong...ampuni gue...ahh..." suara baku hantam terdengar di telinga Dinar.
buugh...praak...buugh...
" Gue ngaku kalah...ampuni gue..lepasin...ahhh...toloongggg". Suara lolongan dari siswa, meminta pertolongan.
"Ampuuunnn...ahhh..." kembali, lolongan itu terdengar jelas oleh Dinar.
Dinar sudah tidak bisa konsentrasi lagi saat membaca, dia mulai panik dan ketakutan, sampai badannya ikut bergetar...
Dinar bangun dan mencari sumber suara itu, dilihatnya segerombolan pelajar sedang berkelahi,..satu anak di keroyok 5 anak.
Dinar menutup mulutnya yang ternganga karena melihat pengeroyokan terhadap seorang anak tersebut.
Dinar segera berlari terbirit, dan meminta tolong pada anak anak yang lain.
" Hhhhh...tolooongg..hhhh...di..sana...disana ada anak yang sedang berkelahi.. satu anak sedang di keroyok...hhhh..." perkataan Dinar kepada anak anak yang dia jumpai.
" Apa....dimana .." Tanya seorang anak laki laki, kemudian mereka saling berbondong mendatangi halaman belakang sekolah.
" Dimana mereka....? tanya hampir semua anak yang ikut datang ingin membantu menghentikan perkelahian itu.
Semua nampak sepi...bahkan jejak darah yang tadi Dinar lihat, sama sekali tidak ada, atau semua jejak mereka hilang. Sontak pandangan mereka kini beralih ke arah Dinar.
" Tadi ada....aku tidak berbohong...tadi aku lihat dengan mata kepala sendiri...sungguh...aku tidak berbohong..." Ucap Dinar, dengan panik , Dinar berusaha menyakinkan mereka atas kejadian yang dia lihat tadi.
Semua mata memandang Dinar dengan dingin.
" Mata kamu kali yang tidak bisa melihat..."
" Mata kamu perlu vitamin kali,.. kebanyakan baca..jadi rusak gak bisa lihat dengan jelas..."
Tidak banyak anak yang diam dan sebaliknya banyak anak yang memaki Dinar.
***
Keesokan harinya perlombaan masih belum selesai, dan Dinar jadi malas keluar kelas, Dinar sudah bosan hanya duduk di dalam kelas. Kali ini dia akan berjalan jalan saja, membuang rasa bosan yang singgah di pikirannya.
Awalnya Dinar hanya berada di lingkungan taman sekolah, tapi setelah di amati lagi, rupanya dia sudah sampai dimana kemarin dia berada di tempat ini.
Dinar sadar dan seketika terkejut...
" Kenapa aku sampai ke tempat ini lagi..?" tanya Dinar dalam hatinya.
Dinar melangkah cepat ingin segera meninggalkan halaman belakang sekolah, dengan tanpa di duga, seorang anak berlari di hadapannya dengan cepat dan menabraknya...
Dinar ingin marah, karena anak itu sudah membuat jantungnya akan copot, akibat rasa takut dan tergesa gesa.
" Kamu...ma...." Dinar terhenti mengucapkan suatu kata yanh belum selesai. karena anak yang menabraknya memandang dia tanpa ekspresi..dan wajah anak itu pucat.
Dinar akan melupakan wajah dan ekpresi anak laki laki itu, dan dia juga harus keluar dari tempat ini.
Karena Dinar mulai merasa takut.
Suara perkelahian itu terdengar lagi olehnya, Dinar jadi ingat akan anak laki - laki tadi, ..
" Jangan..jangan..." gumannya ,khawatir jika ternyata anak tadi adalah anak yang jadi korban pengeroyokan.
Dinar berlari mencari sumber suara dari perkelahian, ..Dengan susah payah, Dinar berhasil menemukannya, tapi semakin dekat Dinar dengan sumber suara, suara itu tidak terdengar lagi.
Dinar hanya melihat anak laki laki itu terbaring di atas tanah gundukan dengan kepalanya bersimbah darah.
" Kamu ..kamu tidak apa apa?" tanyanya dengan perasaan takut dan kasihan.
Dinar sebetulnya bingung jika harus menolong anak itu, karena dia juga takut akan darah yang begitu banyak, dengan tergagap dia berjanji pada anak itu ,ingin mencari bantuan untuknya..
" Sebentar....aku...aaa...kkuuuu...akan minta pertolongan."
kemudian gadis itu berlari dengan berusaha secepat mungkin untuk meminta bantuan untuk menolong anak laki laki itu.
" Toloonggg...hhhh...." Dinar sampai di sekolahnya, rupanya sekolah sudah sepi,...Nina panik...dan menoleh ke seluruh sekolahannya, untuk menemukan seseorang yang bisa membantu menolong anak tersebut.
" Pak...pak..." akhirnya Dinar melihat penjaga sekolah yang baru mengunci pintu gerbang.
" Hhhhhh....pak...hhh...pak...tolong...tolong...ada anak yang terluka...." teriak Dinar. karena penjaga itu dari jauh, berjalan kearah yang berlawanan dengan Dinar.
penjaga itu berlari ke arah, dan mereka segera menuju tempat di mana anak yang terluka tadi berada.
Saat Tiba di tempat itu, kembali Dinar di kecewakan, anak itu sudah tidak ada.
Dinar bingung..kemana anak itu, bukankah tempat ini sepi...lalu dia juga terluka parah,. ..siapa yang menolongnya?" bathinnya.
" Pak...tadi ada anak yang terluka di sini, kepalanya penuh dengan darah, dan keadaannya tidak sadarkan diri...tapi...kenapa sekarang tidak ada?" Dinar menjelaskan pada penjaga sekolah.
***
Keesokan harinya, berita itu ramai diperbincangkan, hingga terdengar oleh penjaga sekolah yang lama, namanya pak Wahid.
Siang itu setelah pulang sekolah, Dinar pergi ke rumah pak Wahid, dan menyanyakan perihal tersebut.
" Itu memang dulu pernah ada kejadian di sekolah, dulu seorang siswa jadi korban pengeroyokan dan siswa itu akhirnya meninggal akibat luka yang parah di bagian kepalanya karena dihantam pukul oleh siswa siswa yang mengeroyoknya."
***