"Kenapa papa belum jemput juga." ucap Rara mengeluh.
Sudah 5 jam ia menunggu di bandara menunggu jemputan dari papa nya. Menurut bunda sesampainya di bandara ia akan di jemput oleh sang papa tapi ini tidak sama sekali. Rara sudah lelah mencari kesana kemari seperi orang gila.
Jam menunjukan pukul 9 malam. Hari sudah sangat gelap, satu persatu orang mulai pergi meninggalkan bandara. Rara hendak menangis, ia benar-benar takut. Tidak ada yang ia kenal sama sekali. Ponsel mati karna habis batrai, uang masih kesisa lumayan banyak tapi ia tidak tau harus kemana. Rara benar-benar dendam dengan sang papa.
"Permisi mbak." tegus salah satu petugas bandara.
Rara mendongakkan kepalanya.
"Mba kenapa belum pergi dari sini. Maaf bukan maksud untuk mengusir tapi ini sudah malam." ucap petugas nya dengan sopan.
"Ah iya maaf saya pergi dulu." ucap Rara berdiri sambil merangkul tas dipundaknya. Untung tidak banyak barang bawaan yang ia bawa.
"Kaya orang yang ga tau arah tujuan." ucap petugas itu pelan.
"Aku harus kemana." ucap Rara sambil terus berjalan.
Ia baru teringat kenapa tidak meminjam charger petugas tadi agar ponselnya hidup. Rara mulai menggerutuki dirinya sendiri.
"Kenapa oon gini sih." ucap Rara.
Ia berbalik arah menghadap ke si petugas tadi tanpa pikir panjang Rara berlari sekencang-kencangnya mengejar petugas yang mulai menutup pintu kedatangan di bandara itu.
Brakk.
"Aww."
Rara terjatuh, menabrak seseorang yang keluar dari salah satu ruangan yang ada dibandara tersebut.
"Hikss hikss sakitt." ucap Rara sambil mengelus-ngelus kaki nya.
Reza terkejut melihat wanita mungil dengan umur berkisaran 17 tahun yang menabraknya tadi dengan sembrono tengah menangis di bawah.
"Heh kenapa nangis."
Rara mendongakkan kepalanya menghadap orang tersebut. Berseragam rapih layaknya petugas bandara yang posisinya mengecek setiap penumpang atau orang yang hendak masuk ke dalam bandara.
Rara cemberut. "Sakitt."
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memijit pelipisnya yang tak sakit.
"Kamu cewek jam gini kenapa masih ada disini." ucap Reza.
"Papa ga jemput akuu huaaaaa." ucap Rara kemudian menangis lagi.
Reza yang melihat Rara nangis langsung kalang kabut tidak tau harus berbuat apa. Kini hanya ada mereka berdua, Reza tidak mau reputasinya ternodai karna menangisi seorang wanita dimalam hari.
"Aduh udah jangan nangiss."
"Kamu tunggu sini, aku mau ambil barang-barang dulu terus kita obatin luka kamu." ucap Reza.
Rara mengangguk patuh sambil menghapus air matanya.
Setelah mengambil kunci mobil dan jaket Reza bergegas untuk menemui Rara lagi. Ia tersentak kaget saat kembali wanita yang tadi tidak ada. Reza mulai panik, pikirannya kemana-mana.
"Kak."
Reza tergelonjat kaget.
"Kamu." ucap Reza sambil menaham emosinya.
Rara tersenyum cengengesan. Ia sengaja ingin mengerjai Reza dengan mengumpat dan mengagetkannya.
"Bisa-bisanya lagi keadaan kaya gini kamu malah main." ucap Reza.
"Aku sering main kaya gini sama adek aku kak." ucap Rara polos.
"Ayo ikut saya."
Rara mengekori Reza dari belakang. Ia bersyukur bertemu orang baik.
"Kak kita mau kemana." ucap Rara.
Reza diam masih fokus menyetir.
"Kakak mau culik aku ya, katanya kakak mau obatin aku. Aku kira kakak orang baik huaaaaa." ucap Rara kembali menangis.
Reza langsung menepikan mobilnya disebuah warung yang sudah tutup agar ia tidak kena denda karna memberhentikan mobil sembarangan.
"Kamu hobby banget sih nangis." ucap Reza.
"Ini aku mau bawa kamu ke supermarket beli obat buat obatin luka kamu. Nangis aja tau nya." ucap Reza sambil mencolek hidung Rara.
Rara tersenyum. "Aku kira kakak mau culik aku."
"Kalau kamu nangis lagi aku bakal bener-bener nyulik kamu." ucap Reza kembali menyetir.
Disepanjang jalan Rara hanya diam. Ia takut yang dikatakan Reza tadi benar-benar terjadi. Berbalik dengan Reza, disepanjang jalan ia berusaha untuk menahan senyum nya karna berhasil mengerjai wanita yang baru saja ia kenal.
Benar, baru saja ia kenal kenapa ia sudah bersusah payah mau nolongin wanita ini.
"Kamu tunggu sini." ucap Reza.
"Kak." Rara menahan lengan Reza yang hendak membuka pintu mobil.
Ia mengambil dompet yang ada ditasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Ini buat beli obat aku."
"Em sekalian beliin makanan ya, dari siang aku belum makan." ucap Rara.
Reza diam. Menatap lekat Rara. Mencari kebohongan dimatanya. Tapi nihil, gadis ini benar-benar polos dan apa adanya. Tanpa menghiraukan dan mengambil uang yang Rara sodorkan tadi Reza langsung membuka pintu mobil dan pergi ke dalam supermarket tersebut.
"Ih kok ga diambil kakkk." Teriak Rara dari dalam mobil.
Reza membeli beberapa kapas dan obat luka serta makanan ringan juga roti.
"Nih makan." ucap Reza menyodorkan plastik yang berisi makanan.
"Mana kaki kamu." timpalnya.
"Biar aku aja kak." ucap Rara.
Tanpa ba bi bu Reza mengangkat kaki Rara dan menaruhnya di atas paha nya kemudian mengobati luka Rara dengan telaten.
"Dah selesai. Pelan-pelan turuninnya." ucap Reza sambil membereskan obat-obatan tadi.
Tidak ada respon dari wanita disampingnya dan kaki nya pun masih belum di turunin dari paha Reza. Reza menoleh kesamping melihat Rara yang tengah tertidur pulas dengan selai roti yang masih menempel disudut bibirnya.
Reza terkekeh geli. Baru hening beberapa saat wanita ini sudah tertidur. Sesaat kemudian ia terdiam. Cewek ini bakal ia bawa kemana. Tidak mungkin ke apartemennya apalagi kerumahnya bisa bisa di introgasi oleh sang mama.
Reza mengacak rambutnya dengan frustasi. Tak mungkin ia turunkan wanita ini ditengah jalan atau membangunkannya dan menyuruhnya untuk turun. Eh sebenernya mungkin aja secara Reza ini tipe manusia yang bodoamatan sama orang disekitarnya. Jarang banget senyum, dingin, cuek. Itu udah jadi ciri khas dia sejak kecil jadi jangan pada kaget ya.
Akhirnya dengan terpaksa Reza membawa Rara menuju apartemennya. Dengan hati-hati ia menggendong Rara yang tengah tertidur menuju kamarnya. Untung nya sudah malam jadi tidak banyak orang yang pastinya bakal mengundang banyak pertanyaan.
"Ini pacarnya kenapa."
"Penculik cewe ya kamu."
"Eh anak siapa yang kamu culik."
Biasa tetangga gitu rempongnya ya.
Hari ini sebetulnya adalah hari jam kebrangkatan Reza menuju negara sakura yaitu Korea. Mama Reza benar-benar naik pitam, tiket yang sudah dipesan jauh-jauh hari dan semua persiapan sudah disiapkan tiba pagi anaknya menelfon dan menunda kebrangkatan 1 hari.
"Kamu kenapa gak bilang dari awal aja si hah."
"Mama udah pesenin kamu tiket, barang-barang juga udah dikemas."
"Emang ya ni anak bener-bener."
"Awas kamu kalau kesini mama jewer kupingnya sampe lepas."
Reza merinding mendengar perkataan dari sang mama.
"Aduh iya mah iya ampun Reza. Kerjaan yang disini masih ada ternyata Reza lupa selesaiin. Kasih waktu Reza sehari lagi ya mama cantik." ucap Reza berbohong dari sambungan telefon. Tidak mungkin ia jujur menemui wanita yang tak ia kenal dan mengajaknya menginap di apartnya.
"Yaudah lusa tidak ada lagi namanya tunda-tunda."
"Siap mamaa."
Tutt...tutt..tutt...
"Untung aja." ucap Reza sambil melempar ponselnya ke sofa.
"Untung kenapa kak." ucap Rara yang tiba-tiba ada dibelakangnya.
Lagi-lagi Reza dibuat senam jantung karna ulah Rara.
"Kamu kenapa hobby nya ngagetin orang sih." ucap Reza.
"Maaf." ucap Rara menundukan kepalanya.
Reza yang melihat Rara seperti kucing yang sedang dimarahi tuannya itu pun tidak bisa menahan gemas nya kepada wanita yang ada dihadapannya ini.
"Kak kenapa kakak bawa aku kesini."
"Ya terus aku harus bawa kamu kemana, ke panti asuhan." ucap Reza sembarang.
"Iya aku tau papa sama mama aku udah cerai tapi kan mereka berdua belum meninggal." ucap Rara sendu.
Reza tersentak kaget. Ia tidak mengira sampai sejauh itu.
"Ma maaf." ucap Reza.
Rara menghapus air matanya. "Gapapa kali ini aku maafin. Minjem charger dong kak batrai aku abis belum di isi dari semalem." ucapnya kembali ceria.
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perubahan sifat Rara yang cukup cepat. Labil. Kata itu yang ia ucap di dalam hati.
"Akhirnya idup juga kamu sayang." ucap Rara sambil mengelus ponsel apple kesayangannya itu.
Reza melihat dari atas sampai bawah keadaan Rara dan juga ponsel yang ia pakai. Tidak seperti orang yang kesusahan. Barang yang dipakai dengan merek terkenal semua. Apa itu KW. Pikir Reza dalam hati.
"Kakak kenapa liatin aku sampe kaya gitu." ucap Rara.
Reza mengerjap. Kemudian menggelengkan kepalanya.
"Abis ini kamu mau kemana." tanya Reza.
Rara menggeleng. "Ga tau, tapi ini aku lagi hubungin mana aku kok jadi aku ga lama-lama ngerepotin kakak."
"Bagus lah." ucap Reza.
"Halo mah."
"Papa ga jemput aku hikss hikss."
"Aku akuu di tempat orang yang ga kenal." ucap Rara dengan suara bergetar.
Reza melihat Rara dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa papa lebih mentingin anak tirinya daripada aku anak kandungnya." ucap Rara kepada mamanya.
"Yaudah aku tunggu di apartemen kakak ini ya."
Reza melirik Rara sinis saat ia menyebut dirinya dengan kakak ini. Kakak ini apaan kakak ini.
"Kak."
"Alamat ini dimana." tanya Rara.
Reza menjawab kemudian Rara memberi tahu mama nya kemudian mama nya memberi tahu papa nya. Ribet emang kenaoa gak Rara minta langsung nomor papa nya. Kocak.
"Nanti aku dijemputnya sore kalau ga siang kak." ucap Rara.
Reza mengangguk paham.
"Ohiya sampe lupa kenalan."
"Nama ku Rara kak." ucap nya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Reza." jawab Reza tanpa membalas salaman tangan dari Rara.
Rara melihat tangannya. Gak kotor kenapa Reza gamau salaman sama dia. Reza bangkit dari sofa menuju dapur untuk membuat sarapan.
"Kamu mandi terus sarapan." ucap Reza.
Rars mengangguk paham. Untung ia bawa peralatan mandi dari rumah sebelum pergi. Memang niat Rara awalnya ingin ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di kota tempat papa nya tinggal. Tapi justru ia malah tak dijemput sama sekali karna adik tirinya yang sedang berulang tahun.
"Enakkk." ucap Rara yang tengah memakan omlet buatan Reza.
Reza tersenyum tipis. Tingkah Rara selalu saja menggemaskan dimatanya.
"Ohiya tadi pagi aku denger katanya kakak mau pergi. Pergi kemana." tanya Rara.
"Kamu nguping pembicaraan aku ya." ucap Reza sambil menarik hidung Rara.
"Aaww. Engga ih kak orang aku ga sengaja denger." ucap Rara sambil mengusap-ngusap hidungnya yang merah.
"Rencananya hari ini aku mau pergi ke luar negri."
"Terus kenapa kakak ga pergi."
"Kamu mau aku kunciin selama 5 tahun disini."
Rara mengerjap kaget. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Kakak pergi lama banget sampe 5 tahun."
Reza menghelakan nafasnya. "Iya mau lanjutin pendidikan disana."
Rara mengangguk paham. Kemudian ia terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Heh kenapa bengong." ucap Reza.
Rara menatap Reza dengan lekat. Reza yang ditatap langsung salah tingkah.
"Makasih ya kak buat kebaikannya. Maafin aku udah ngerepotin kakak. Maaf aku belum bisa bales apa-apa. Tapi kalau kakak butuh uang aku ada kok." ucap Rara.
Reza tersenyum. "Aku ga kekurangan uang."
"Terus kakak kekurangan apa dong." ucap Rara cemberut.
"Kekurangan kebahagiaan aja." ucap Reza dengan suara beratnya. Rara melirik ke arah Reza, saat Reza juga melirik ke arah nya ia langsung membuang muka dan berpura-pura melirik kearah lain.
"Emm kalau soal kebahagiaan gimana ya aku juga bingung." ucap Rara menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu gemesin banget sih." ucap Reza spontan.
"Hah?"
"Kamu gemesin kaya anak kecil." ucap Reza tertawa kecil sambil mengelus puncuk kepala Rara.
Rara diam. Sesaat kemudian Reza juga diam. Kenapa ia bisa-bisanya seperti ini sama cewek. Sumpah firsh time ini mah.
"Kalau kamu udah dijemput sama papa kamu, kamu bakal tinggal dimana." tanya Reza.
"Ya tinggal sama papa sama mama tiri aku."
"Nih ya kak masa ternyata papa ga jemput aku karna anak tirinya nangis kalau papa tinggal dihari ulang tahunnya." ucap Rara kesal.
Reza tertawa melihat ekspresi kesal Rara. Rara benar-benar membuat Reza seperti bukan Reza.
"Kok ketawa sih kakk." rengek Rara.
"Kan udah aku bilang kamu itu gemesin." ucap Reza.
"Kak kenapa kakak baik sama aku." ucap Rara tiba-tiba.
"Asal kamu tau, aku itu jarang banget kaya gini sama orang lain selain keluarga Terus baru kamu doang orang yang masuk ke apart ini selain sahabat sama kedua orang tua ku." ucap Reza.
Rara mengangguk paham. "Yess berarti aku orang beruntung dong bisa ke apart kakak, bisa tidur lagii." ucap Rara girang.
Reza tersenyum. "Raa."
Rara terdiam. "Apa kak."
"Raa." ucap Reza dengan lembut.
Reza memanggil namanya. Mendengar Reza memanggil namanya membuat Rara tersenyum girang.
"Iya kak Rezaaa."
"Kalau aku suka kamu gimana."
"Uhukk..uhukk..uhuk..."
Reza langsung menyodorkan segelas air minum ke Rara. Rara meneguk nya sampai habis tak tersisa.
"Ih kakak jangan becanda."
"Aku ga bercanda raa."
"Ya gatau aku juga." ucap Rara menunduk. Ia juga sebelumnya merasa nyaman berada didekat Reza yang memperlakukannya dengan baik dan manis. Tapi Rara buru-buri menepis rasa itu agar tidak terlalu jatuh lebih dalam.
"Kamu ada perasaan ga sama aku." tanya Reza pelan.
"Emm aku gatau. Aku nyaman sama kakak tapi aku takut kalau punya oerasaan lebih bakal sakit nantinya." ucap Rara.
"Kamu mau nunggu aku ga." ucap Reza.
Rara mendongakkan kepalanya ke arah Reza.
"5 tahun." gumam Rara pelan.
"Aku bakal nyelesaiin pendidikan aku secepatnya biar ga sampe 5 tahun. Aku janji." ucap Reza sungguh-sungguh.
Rara menatap mata Reza. Mencari kebohongan disana, ternyata tidak ada.
"Emm."
Reza berdiri nenghampiri Rara lalu memeluknya. "Aku sayang kamu. Aku ga tau perasaan ini muncul sejak beberapa jam yang lalu. Kamu bener-bener wanita unik, lucu, bikin aku nyaman." ucap Reza dibalik punggung Rara.
Rara meneteskan air matanya. "Kakk aku juga sayang kakak. Kakak yang nolongin aku dan nerima aku tanpa mikir yang lain. Kakak udah sayang sama aku, aku juga udah terlanjut sayang sama kakak gimana bisa aku nolak kakak." ucap Rara.
Reza melepaskan pelukan mereka dan beralih menatap Rara.
"Kamu beneram mau nunggu aku?"
Rara mengangguk.
Reza kembali memeluk Rara dengan bahagia walau hanya sementara. Ldr 5 tahun bukan suatu hal yang mudah. Mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu.
"Hati ini kita habisin waktu berdua ya." ucap Reza.
Rara tersenyum. "Iya kak."
"Ohiya minta nomor kakak dong. Masa pacaran ga ada nomor pasangannya sih." ucap Rara.
"Kesenengan sampe lupa hal kecil kaya gini." ucap Reza cengengesan.
Rara mencibir perkataan Reza.
Sudah sore hari tapi papa nya juag belum menjemput, berarti malam hari ia akan dijemput seperti perkataan mama nya tadi.
"Kak." ucap Rara. Mereka tengah nonton film berdua di ruang tv milik Reza sambil memakan beberapa jajanan ringan dan tangan Reza sedang merangkul bahu Rara.
"Kalau kakak pergi aku gimana."
"Kan kita masih bisa chatting, bisa vid call, telfon." ucap Reza.
Rara mengangguk.
"Kamu jangan khawatir, pulang dari sana aku langsung dapet kerja terus nikahin kamu." ucap Reza
"Uhukk..uhukk..uhukk.."
"Kamu batuk mulu dari tadi." ucap Reza sambil menyodorkan air minum ke Rara.
"Abis kakak mikirnya jauh banget." ucap Rara.
"Kok mikirnya jauh, emang kamu ganau nikah sama aku." tanya Reza.
"Mauuu." rengek Rara.
Reza tersenyum sambil mengusap puncuk kepala Rara dan menciumnya.
"Kamu yang sabar ya nanti." ucap Reza.
Rara tertidur di dada Reza. Kebiasaan Rara selalu tertidur tiba-tiba seperti yang di mobil kemarin.
"Aku sayang kamu. Aku janji bakal pulang cepat dan langsung nikahin kamu biar kita ga bisa kepisah lagi." ucap Reza kemudian mencium kening gadisnya itu.
"Raa bangun." ucap Reza.
Rara menggeliat dan mengucek matanya.
"Udah mau magrib bangun terus mandi." ucap Reza.
Rara mengangguk kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Papa Rara tadi menelfon, ia dijemput jam 8 setelah pekerjaan papanya selesai. Di atas meja makan hanya suara piring dan sendok yang saling bersautan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tak terasa kini sudah jam 8. Reza terus menggenggam tanga Rara dengan erat.
Ting..tongg..
Bel apart Reza berbunyi.
"Rara." ucap Ardi kemudian memeluk putrinya.
"Terimakasih sudah memberi tumpangan dan menolong anak saya dengan baik." ucap Ardi.
"Ini sedikit uang dari saya, maaf tidak bisa memberi banyak."
"Engga om, maaf saya nolong Rara ikhlas." ucap Reza.
"Yasudah kalau gitu kita pamit yaa."
"Em pah tunggu." ucap Rara.
"Apa lagi sayang."
Rara melepaskan genggaman dari papa nya kemudian berlari menuju Reza dan memeluknya.
"Kakak."
"Makasih ya atas kebaikan dan cintanya. Nanti kakak jaga diri ya disana." ucap Rara sambil menangis.
Ardi tersenyum melihat putrinya sudah tumbuh dewasa. Ia juga sudah melihat dari tatapan Reza yang sangat tulus dan seperti tidak rela jika Rara pergi.
Reza mengelus kepala Rara. "Sama-sama raa, kamu juga jaga diri disini. Aku sayang kamu." ucap Reza sambil terus mengelus puncuk kepala gadisnya itu. Tak terasa air matanya pun ikut menetes.
"Udah kamu jangan nangis. Malu diliatin papa kamu." ucap Reza.
Rara masih sesegukan.
"Om saya mau minta izin sama om." ucap Reza sambil menggenggam tangan Rara.
Rara dan Ardi sama-sama memandang Reza dengan tataoan penuh tanda tanya.
"Saya mau minta restu, 5 tahun yang akan datang saya janji bakal nikahin Rara." ucap Reza tulus.
Rara dan Ardi sama-sama tersentak kaget. Ardi kemudian tersenyum dan menepuk bahu Reza.
"Saya suka sifat gentle kamu. Saua restuin kamu asal kamu bisa bahagiaiin anak saya." ucap Ardi.
"Papah beneran." ucap Rara tak percaya.
"Iya sayang. Papa bisa lihat Reza sangat tulus sayang sama kamu. Saya harap janji kamu benar-benar terpenuhi ya Reza."
"Iya om pasti saya akan penuhi." ucap Reza semangat.
"Yasudah kalau gitu kami pergi dulu." ucap Ardi.
"Bye kak. Besok berangkatnya hati-hati ya semoga selamat sampai tujuan." teriak Rara sambil melambaikan tangannya.
Reza tersenyum. "Bye raa. Kamu jaga diri disana aku sayang kamu." teriak Reza tersenyum.
"Selamat jalan my hero." gumam Rara pelan kemudian bayangan Reza menghilang dari pandangannya.
Reza mengetik sesuatu kepada Rara.
"Bye bintang ku. Jaga diri kamu disini ya, aku bakal jemput kamu kalau udah waktunya dan bakal menuhi janji aku ke kamu dan papa kamu. Always love you gadis ku, bintang ku, Rara ku❤."