Alex adalah keturunan dari kerajaan vampir. Ayah, ibu, dan kakaknya adalah vampir yang sangat ditakuti. Mereka selalu menghisap darah manusia. Namun, Alex tidak mau menjadi vampir yang jahat seperti keluarganya. Dia lebih memilih menjadi seorang remaja biasa dan menutupi identitasnya.
Meski begitu, vampir tetaplah vampir. Seorang vampir tidak bisa bertahan jika mengenai cahaya. Jadi, Alex selalu menyendiri dan bersembunyi dalam kegelapan.
“Halo Lex," sapa Silvia, sahabat dekat Alex.
“Halo juga Sil," Alex membalas sapaan Silvia.
Silvia adalah satu-satunya orang yang mau berteman denga Alex. Semua orang mencap Alex sebagai orang yang sombong dan judes. Namun, Silvia tidak percaya dengan omongan orang. Silvia percaya bahwa Alex adalah anak yang baik.
Silvia mengajak Alex untuk pulang. Tetapi, Alex mengatakan bahwa dia akan pulang terlambat, karena ada jadwal piket.
“Oh, ya udah kalau gitu. Aku pulang dulu ya," ucap Silvia.
“Iya, hati-hati di jalan," ujar Alex.
Ternyata, Alex tidak memliki jadwal piket hari ini. Dia hanya menunggu malam tiba agar bisa pulang. Saat di jalan, dia melihat seorang anak yang sedang kesakitan karena terjatuh. Kakinya terluka dan berdarah.
Hal itu membuat sisi vampir Alex bergejolak. Tubuh Alex seakan bergerak sendiri menuju darah yang bercucuran itu.
“Aku mohon jangan lakukan hal yang buruk," ucap Alex berusaha menahan dirinya sendiri.
Akhirnya Alex mampu menahan diri, kemudian dia bergegas untuk pergi meninggalkan anak tersebut. Sesampainya di rumah, Alex terkejut saat melihat keluarganya sedang membawa orang.
“Apa yang kalian lakukan kepada orang ini?" tanya Alex.
“Kami hanya menjalankan aktivitas seorang vampir, bukan seperti kamu yang malah menjadikan manusia sebagai teman," ujar Lucifer, yaitu ibu Alex.
“Jangan melawan takdirmu sebagai seorang vampir," ucap Abaddon yang adalah ayah Alex.
“Manusia selalu menganggap kita sebagai monster," ucap Levi, kakak Alex.
“Itu adalah hal yang wajar. Manusia menganggap kita sebagai monster, itu karena kita selalu menghisap darah dan melukai mereka," ujar Alex.
“Tapi darah memang makanan kita kan," ucap Lucifer.
“Aku benci harus terlahir sebagai seorang vampir," ujar Alex.
“Oh... sekarang kau sudah berani melawan, itu pasti karena teman perempuanmu itu," ucap Levi.
“Dia sama sekali tidak tau apa-apa tentang vampir, jangan coba-coba sakiti dia," ucap Alex lalu pergi.
“Lihat saja apa yang akan kami lakukan pada teman perempuanmu itu," ucap Levi sambil tersenyum sinis.
Alex bersandar di tembok dan mulai merosot ke lantai.
“Kenapa aku harus terlahir sebagai seorang vampir? " tanya Alex pada dirinya sendiri.
Silvia sedang tertidur di kamarnya, namun dia mendengar suara ketukan jendela. Silvia terbangun dan membuka jendela untuk mengecek apa yang terjadi. Ternyata, yang ada di luar adalah Lucifer, Abaddon, dan Levi. Mereka membawa Silvia ke gudang sepi.
“Siapa kalian?" tanya Silvia dengan tubuh terikat.
“Sebenarnya kami tidak ingin memberi tahu identitas kami kepada manusia. Tapi untukmu, kurasa itu pengecualian," ujar Levi.
“Kami adalah vampir, dan kamu akan menjadi penyedia darah untuk kami," ucap Lucifer sambil memegang dagu Silvia.
Lucifer mengeluarkan gigi taring khas vampirnya, dan bersiap untuk menghisap darah Silvia.
“Aku mohon jangan lakukan itu," ucap Silvia sambil menangis.
“Kau tidak perlu takut. Setelah ini kau dapat beristirahat dengan tenang di atas sana, hahaha," ucap Lucifer seraya tertawa jahat.
Saat hendak menghisap darah Silvia, tiba-tiba Lucifer diserang oleh seseorang, dia adalah Alex.
“Sudah kubilang, jangan ganggu dia," ucap Alex.
“Oh... sekarang adik kecilku datang untuk menyelamatkan temannya," ucap Levi sambil tersenyum sinis lagi.
“Cih... gak usah basa-basi," ujar Alex.
Alex mulai menyerang Levi. Tetapi sayangnya, Levi terlalu kuat untuk Alex.
“Masih ingin mencoba untuk melawan ha?" tanya Levi seraya mencekik Alex.
Levi menyuruh ibunya untuk segera menghisap darah Silvia agar Alex bisa menjadi seorang vampir.
“Jangan ganggu dia," ucap Alex.
“Wah... ternyata kau lebih tangguh dari bayanganku, kalau begitu mulailah," Levi berlari ke arah Alex..
Tiba-tiba, mata Alex berubah menjadi warna merah darah. Levi berhenti karena terkejut.
“Bukankah itu...
Alex berlari dan menusuk Levi hanya dalam sekejap saja. Sehingga membuat Levi tergeletak tak berdaya di tanah.
“Siapa lagi?" tanya Alex yang sudah menunjukkan sisi vampirnya.
Kedua orang tua Alex gemetar ketakutan setelah melihat Alex melukai Levi hanya dalam sekejap. Alex berlari ke arah Lucifer dan Abaddon. Kemudian, Alex memukul Abaddon hingga terlempar jauh. Lalu, Alex mencakar Lucifer hingga terluka parah.
“Lex, hentikan," Silvia mencoba menghentikan Alex.
Alex berbalik dan melihat Silvia dengan mata merah darahnya. Alex berjalan ke arah Silvia dan mengeluarkan gigi taringnya.
“Lex, sadarlah," ucap Silvia.
Setelah mendengar hal itu, mata Alex kembali normal. Alex segera melepaskan tali yang mengikat Silvia.
“Terima kasih Lex," Silvia berterima kasih kepada Alex.
Pertarungan masih belum selesai, tangan Levi masih bisa bergerak. Levi mengeluarkan sinar penghancur miliknya dan mengarahkannya kepada Alex. Sinar itu menembus tubuh Alex. Sehingga membuat Alex terjatuh dan tergeletak di tanah.
“Lex," Silvia memegang tubuh Alex.
“Sil, terima kasih karena telah mempercayaiku. Terima kasih karena telah menemaniku, aku mencintaimu," ucap Alex kemudian matanya menutup perlahan.
“Alex..., jangan pergi," Silvia memeluk Alex sembari menangis sejadi-jadinya.
Keesokan harinya, Silvia malas untuk pergi ke sekolah karena dia harus kehilangan orang tang sangat dia cintai. Sesampainya di kelas, Silvia terkejut dan tubuhnya mematung. Silvia melihat Alex sedang duduk di kursi sambil membaca komik.
“Hah... aku pasti bermimpi," ucap Silvia.
“Sil, sini," Alex memanggil Silvia.
Silvia segera menghampiri Alex kemudian mencubit pipinya.
“Katakan aku tidak bermimpi," ucap Silvia.
“Benar, kau tidak bermimpi," ujar Alex.
“Tapi, bagaimana kau bisa hidup. Bukankah kau sudah?" tanya Silvia.
“Aku ini vampir, dan aku bisa hidup kekal di dunia ini," ucap Alex.
Silvia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia terus mencubit pipinya untuk memastikan.
“Berhenti mencubit pipimu, nanti kau akan terluka," ujar Alex.
“Kenapa kau peduli padaku, bukankah kau seorang vampir?" tanya Silvia.
“Karena aku mencintaimu," Alex secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya kepada Silvia.
“Aku pasti salah dengar," ucap Silvia.
“Aku mencintaimu, apakah sudah jelas," Alex mengulangi perkataannya.
Pipi Silvia menjadi merah dan salah tingkah. Kemudian Silvia berjalan menuju mejanya dan berpura-pura membaca buku.
“Sil," Alex memanggil Silvia.
“Lex, aku masih baca buku tolong jangan diganggu," Silvia berbohong kepada Alex.
“Kau tidak sedang membaca buku kan?" tanya Alex.
“Aku lagi baca kok, kamu lihat sendiri kan," ucap Silvia.
“Bukumu terbalik, bagaimana bisa seseorang membaca buku dengan tulisan terbalik," ujar Alex.
“Oh iya, hehe," Silvia semakin malu dan menutup wajahnya dibalik buku.
Keluarga Alex sudah sadar dan mengakui kesalahannya. Sejak saat itu, hubungan Alex dan Silvia semakin dekat. Akhirnya, Alex dan Silvia memutuskan untuk menjalani hubungan. Mereka hidup bahagia bersama.
---Tamat---