Aku tidak mengerti cinta, yang ku tahu ... Aku hanya ingin bersamanya, selalu bersamanya, berada disampingnya dan tidak ingin jauh darinya. Apa itu egois?
"Ma, aku akan mencari pacar segera. Aku tidak ingin menikah dengan Kim Seokjin. Aku tahu Mama menyukainya, tapi aku akan mendapat pacar segera. Jangan khawatir.” Sunny menutup panggilan setelah berdebat panjang dengan sang ibu tentang dirinya yang masih saja sendiri.
Sunny sangat kesal.
“Kenapa? Ibumu masih memaksamu untuk menyetujui perjodohan dari keluarga kim?”
Sunny mengangguk.
“Seokjin oppa sangat baik. Kita akan semakin dekat jika kamu menikah dengannya. Kamu akan jatuh cinta padanya jika kamu lebih mengenalnya.”
Sunny tidak memberikan tanggapan, hanya tatapan dingin yang Eun ae tangkap dari sorot mata cerah sahabatnya. “Maaf,” Eun ae merasa menyesal karena terlalu terprovokasi oleh perkataan mama Sunny. “Kenapa kamu tidak bisa lepas darinya? Apa kamu sangat mencintainya?”
Sunny mengangguk. “Emm … sangat.”
Eun ae menatap sahabatnya prihatin. “Ya, mungkin hatimu telah dibawa terbang olehnya, makanya kamu sulit untuk jatuh cinta lagi.”
“Entahlah, mungkin hatiku telah membeku untuk siapapun. Aku tidak bisa mencintai orang lain selain dia. Aku tahu dia pasti juga sangat merindukanku.”
“Aku sangat penasaran siapa orang yang tega mengambil hatimu dan tidak mengembalikannya," tambah Eun ae setelah menyesap coklat hangat yang di suguhkan Sunny untuknya.
•
Taehyung keluar dari ruang meeting, menanggalkan dasi dan jas abu tua yang menggerahkan lalu melemparnya ke bangku mobil bagian belakang. Taehyung membuka dua kancing teratas dari kemeja hitam bermotifnya lalu menyematkan kaca mata hitam menutupi kedua pupilnya karena sore ini matahari cukup cerah bersinar. Taehyung meninggalkan asistennya dan berkendara sendiri untuk menemui calon tunangannya di sebuah kafe di pinggiran pantai tidak jauh dari warehouse baru miliknya.
Taehyung memarkir mobilnya di halaman luas sebuah kafe besar dengan nuansa kayu bercat putih setelah dilihatnya titik lokasi merah di map layar gadgetnya menandakan Taehyung sudah sampai di lokasi. Tidak ada kafe lain kecuali satu satunya kafe ini, sebuah kafe dengan bangunan khas pinggir pantai berdinding kaca dan kayu.
“Ya, kupikir ini tempatnya.”
"Eun ae sadarlah!" seru Sunny panik mendapati temannya terbaring lemas di lantai kafenya. semua orang ikut panik dan membantu Sunny untuk menyadarkan Eun ae.
"Apa yang terjadi?" Taehyung menghampiri kerumunan orang di dalam kafe dan mendapati kekasihnya tengah pingsan di pangkuan gadis bernama Sunny. "Eun ae!" Taehyung meraih Eun ae lalu menempatkan Eun ae di lengannya seraya mengecek suhu tubuh kekasihnya.
Kim Taehyung. Sunny terpaku lemas memperperhatikan sosok yang sangat familiar di depannya. Badannya gemetar, Kedua telapak tangannya mengepal menahan sesak karena degupan jantung yang semakin cepat. Seketika ingatan Sunny melayang ke masa dimana dia selalu bersama dengan sosok yang kini sedang menghawatirkan Eun ae. Kim taehyung yang selalu ia rindukan.
"Bagaimana dia bisa pingsan begini?" tanya Taehyung seraya mengangkat Tubuh lemah Eun ae dan matanya bertemu dengan mata Sunny. Taehyung sesaat terdiam tidak percaya akan menemui seorang gadis yang berdiri bingung dengan tangan gemetar. Sunny, batin Taehyung lalu cepat tersadar karena kekasihnya semakin kritis.
“Eun ae alergi buah nanas, dia tidak sengaja memakan kue nanas buatanku.”
Tidak memberikan reaksi pada pernyataan Sunny, Taehyun keluar membawa Eun ae ke mobilnya dan di ikuti oleh Sunny yang juga sangat menghawatirkan Eun ae.
"Biar aku yang mengemudi." Sunny menawarkan diri dan membuka telapak tangan meminta kunci mobil hitam Taehyung. "Aku tahu rumah sakit terdekat."
Taehyung memberikan kunci mobilnya dan mempercayai Sunny karena Taehyung memang kurang paham dengan daerah ini.
Sunny mengemudi dengan kencang membelah jalanan pinggir pantai yang cukup sepi. hening, tidak ada suara apapun yang meriuh dari dalam mobil Taehyung. Taehyung cukup tenang menunggu dan beberapa kali memastikan suhu tubuh kekasihnya. kurang dari sepuluh menit, mereka sudah sampai di rumah sakit dan membiarkan Eun ae di tangani oleh beberapa perawat dan dokter yang bertugas.
Kini Taehyung dan Sunny saling terdiam di bangku tunggu depan IGD.
Sunny tidak membawa tas dan handphonenya hingga dia hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan apapun. jantungnya masih berdegup tak beraturan setelah kekhawatirannya pada Eun ae. dan berlanjut semakin tak beraturan karena kini Taehyung berada di sampingnya. Taehyung tampak sangat tenang, dan seperti tidak peduli dengan Sunny yang terus gugup.
Eun ae alergi dengan buah nanas, Eun ae memakan kue buatan Sunny dan membuat alerginya kambuh. Eun ae tidak tahu jika kue yang Sunny bikin adalah kue vanila dengan selai nanas di dalamnya.
Eun ae kembali baikan namun harus cukup istirahat sebelum keluar dari rumah sakit. Eun ae harus istirahat sejenak di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya.
“Terima kasih telah membawa kami kesini, kamu bisa kembali.” Sunny tidak ingin Taehyung terlalu lama di rumah sakit.
“Pulanglah, aku akan menungguinya hingga Eun ae siuman.”
“Kamu mengenalnya?”
“Dia kekasihku.”
Degg .... Serasa puluhan ton pasir gurun Gobi kini menguburku. mungkin seharusnya aku sudah tidak bisa bernafas lagi. Tapi aku masih hidup dengan sesak yang tidak akan mudah hilang karena ucapannya. Suara berat yang menyuarakan kalimat dengan sangat ringan. Jadi pria ini yang dibicarakan Eun ae sepanjang hari, kekasihnya yang sangat ia cintai dan sangat mencintainya.
"Emm, aku akan pulang. permisi," pamit Sunny tidak ingin berlama lama di depan Taehyung.
Mata Sunny menggenang, memikirkan kekasihnya telah bahagia dengan orang lain. Sunny melangkah lemah menjauhi Taehyung seraya mengusap pipinya yang mulai teraliri air bening dari matanya. tangan kirinya mulai meremas kerah bajunya karena terasa mencekat, sangat sesak dan sakit.
Aku akan membiarkanmu pergi lagi, aku terlalu banyak menyakitimu. Taehyung bersandar lemas duduk di bangku tunggu loby rumah sakit, membiarkan Sunny pergi dan menunggui kekasihnya yang masih terbaring lemah dan belum bisa ia temui.
**
”Sunny maaf. Aku mengacaukan grand opening kafe mu. Aku seharusnya bertanya dulu padamu kue apa yang kamu buat. Maafkan aku.” Suara Eun ae terdengar dari ujung layar handphone tipis di atas meja.
“Tak apa ... grand openingnya berjalan lancar meski ada adegan kamu jatuh pingsan. Kamu sudah baikan?” Sahut Sunny seraya menjejalkan beberapa roti ke mesin pemanggang untuk membuat sarapan.
“Emm.. sangat baik. Padahal aku ingin mengenalkan kekasihku padamu sebelum acara pertunangan. Tapi semua gagal.”
Perlahan ayunan tangan Sunny mengambil selai di lemari tepat di atasnya melambat. Aku sudah mengenalnya, sangat mengenalnya.
“Sunny, kamu mendengarku," tanya Eun ae merasa tidak ada jawaban setelah ucapannya.
“Ya, aku sedang menyiapkan sarapan.”
“Kamu belum ke kafe?”
“Setelah ini.”
“Kamu jangan lupa datang ke acara pertunanganku nanti malam. Aku akan kecewa jika kamu tidak datang.”
“Emm, aku pasti datang.”
••
Gaun hitam back less fit body membalut badan ramping Sunny, long dress hitam dengan bahan lace dan split di paha kiri memperlihatkan bagian lutut kebawahnya itu membuat Sunny sangat anggun.
“Sunny,” panggil Seokjin disamping Taehyung dan Eun ae membuat Taehyung seketika melempar pandangannya ke lantai.
Taehyung sangat menghindari Sunny, bila perlu Taehyung ingin pergi dari hadapan Sunny sekarang. Namun Eun ae menggandengnya. Tangan Eun ae melilit di lengan Taehyung memperlihatkan mereka sebagai pasangan yang berbahagia.
Sunny sangat canggung berada di dekat mereka. Memang tidak tampak aneh, tapi Sunny benar benar grogi hingga tangannya agak mengepal menyembunyikan tremor yang menyerangnya tiba tiba.
“Sunny, bagaimana bisa kamu ada disini?” Seokjin cukup terkejut melihat Sunny di pertunangan adiknya.
“Kak Seokjin juga bagaimana bisa disini?”
“Kalian saling mengenal? Kak Seokjin, ini Sunny sahabatku dan Sunny, ini kak Seokjin kakak kandung kekasihku,” Sahut Eun ae tidak memberikan waktu Sunny untuk menjawab.
Takdir apa ini? Aku dipertemukan dengan Taehyung di antara mereka. Orang orang yang sudah sangat aku kenal.
“Wah, bukankah bumi ini cukup sempit?” Seokjin masih tidak percaya bisa bertemu Sunny.
“Sunny, ini Taehyung. Kekasihku yang sering aku ceritakan padamu.”
“Senang bertemu denganmu,” sahut Taehyung membuat hati Sunny runtuh.
Taehyung bahkan berpura pura baru mengenalku. “Ya, senang bertemu ...”
“Sunny kau sakit?” Putus Seokjin melihat Sunny yang tampak pucat dengan tangan terlalu erat mencengkeram gaun di bagian pahanya.
“Oh, tidak ... aku hanya ... ah.” Lengan Sunny menabrak nampan pelayan dan menumpahkan minuman panas di lengannya.
“Sunny.” Taehyung seketika menyahut lengan Sunny namun segera di gantikan oleh Seokjin.
“Sunny kamu tak apa?”
“Tak apa, ini bukan luka yang serius. Aku hanya harus membasuhnya. Permisi.” Sunny meninggalkan Mereka untuk pergi ke toilet bermaksud untuk membasuh lengannya. Namun di tengah perjalanan Sunny melemas di dinding loby yang sepi dan berjongkook karena kakinya terasa sangat lemah. Pikirannya campur aduk. Kim Taehyung, kenapa kamu memperlakukanku seperti baru saja mengenalku? Sunny menyembunyikan wajah sedihnya di lengan yang masih terasa perih.
Sunny terisak karena pikirannya kini melayang ke lima tahun lalu, dimana dia sangat kebingungan mencari Taehyung yang tanpa kabar menghilang dari kehidupannya dan ikut pindah ke luar kota bersama keluarganya. Beberapa kali Sunny menghubungi Taehyung, mencari tahu tentang Taehyung namun tidak membuahkan hasil. Sunny selalu berharap Taehyung akan menghubunginya, memberinya kabar bahwa dia baik baik saja. Sunny selalu menantikan kabar darinya, namun tidak seharipun kabar itu sampai ke telinga Sunny. Taehyunh tidak pernah menghubungi Sunny bahkan sekalipun.
Tangan Sunny kini beralih menekan pertengahan dadanya. Meremas asal gaun yang ia kenakan karena sesak membuatnya sangat sakit. Sangat sakit ketika setelah sekian lama merindu, namun seseorang yang kini ia rindukan tanpa sedetikpun membalas kerinduannya.
Sepasang kaki dengan sepatu fantofel mangalihkan fokus Sunny. Mata Sunny kini mendongak mencari tahu pemilik sepatu coklat tua yang kini di hadapannya.
“Kim Taehyung.” Air mata Soo ra tumpah sesaat setelah matanya menangkap sosok yang paling ia nantikan.
Taehyung hanya menatapnya datar namun penuh kekhawatiran.
“Kim Taehyung, aku merindukanmu ….” Mata Sunny mengawasi Taehyung dengan harapan Taehyung akan membalas dengan ucapan yang serupa. tapi tidak ….
Taehyung tidak membalas tatapan Sunny namun melepaskan jas hitam yang ia kenakan, menutup bahu Sunny yang terbuka dan menunduk untuk mengangkat badan Sunny lalu membawanya berjalan ke luar reshort.
Apa yang kamu lakukan? Mata Sunny membulat menatap wajah dingin Taehyung yang kini membawanya dengan lengan kekar menuju mobil hitam yang terparkir di halaman vvip.
Taehyung mendudukkan Sunny di bangku mobilnya dan lekas menutup pintu mobil lalu bersiap untuk menyetir. Taehyung masih diam. Taehyung tidak peduli seberapa lama Sunny menatapnya, Taehyung tetap fokus pada jalan yang ia lalui.
Taehyung berkendara dalam diam.
Sunny ikut diam, manatap kosong ke samping dan membiarkan hening menguasai mereka.
“Aku selalu menunggu kabarmu. Bagaimana kamu bisa meninggalkanku dengan cara seperti ini?” Tanya Sunny lirih ketika mereka sudah cukup dekat dengan rumah Sunny.
“Aku hanya akan memgantarmu pulang. Acaranya sudah berakhir.”
“Kim taehyung.” Sunny membelokkan badannya untuk menghadap ke arah Taehyung. “Kenapa kamu berubah dingin padaku? Apa aku melakukan kesalahan hingga kamu meninggalkanku dan sekarang …” Sunny memelankan perkataannya. “Bersama orang lain.” Sambungnya lirih.
Sunny menghela nafas berat bermaksud menghilangkan sesak yang mencekat dan berusaha menyuarakan isi hatinya lagi. “Aku selalu menunggumu. Aku selalu datang ke rumahmu tapi kamu tidak pernah kembali.”
“Kamu bahkan tahu dimana aku tinggal.” Sunny melukis senyum sinis dalam kesedihan. “Kim taehyung ... Kenapa kamu diam saja?”
Mobil Taehyung terparkir bebas di halaman luas rumah Sunny dengan pagar tinggi yang otomatis terbuka. Taehyung keluar mobil dan membukakan pintu untuk Sunny lalu diikuti langkah Sunny memposisikan dirinya tepat di hadapan Taehyung di bawah gelapnya langit tanpa bintang dengan udara dingin yang menusuk kulit.
“Masuklah, diluar sangat dingin.”
“Jangan menghawatirkanku. kekhawatiranmu hanya akan membuatku tidak bisa melepasmu.”
“Sunny, aku akan segera menikah dengan Eun ae. Bagiku …”
“Katakan jika kamu tidak mencintaiku. Katakan padaku jika kamu tidak menyukaiku. Kenapa kamu hanya pergi dan menyisakan aku sendiri dengan luka?”
“Sekarang atau waktu itu kita berpisah, akhirnya akan tetap sama. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Aku harus menikahi Eun ae.”
“Cukup katakan padaku jika kamu hanya menginginkanku. Aku akan tetap bersamamu ...”
“Sunny …”
Soo mendekap pria tinggi di depannya dengan erat. “Aku hanya ingin bersamamu. Aku selalu merindukanmu.”
“Park sunny, maaf …” Taehyunh melepas tangan Sunny yang melingkar di pinggangnya. “Aku mencintai Eun ae.”
Gelap. Rasanaya galaksi di angkasa runtuh dan tidak menyisakan bintang satupun. Tangannya yang membiarkan tanganku lepas darinya, dan ucapan cintanya pada orang lain. Aku tidak bisa menahannya lagi. Sangat ingin menahannya, namun tidak bisa. Kata kata itu cukup menyadarkanku betapa tidak bergunanya aku baginya. Betapa tidak berartinya aku baginya.
Maafkan aku … aku tidak ingin menyakitimu.
Selama seminggu setelah Taehyung berhasil menghancurkan hari Sunny, Sunny sama sekali tidak terlihat datang ke kafenya. Sunny mengabaikan semua panggilan telfon atau pesan dari siapapun. Sunny hanya menerima panggilan dari orang tuanya yang kini sedang berada di luar kota dan menetap di sana untuk beberapa saat.
“Ma … aku akan menjalani perjodohan yang mama sarankan. Aku ingin menikah dengan Kak Seokjin.”
•
Pertunangan segera dilakukan. Acara akan segera di gelar karena memang sudah sangat terencanakan. Seokjin tahu Sunny hanya menganggapnya sebagai kakak baginya, namun Seokjin sangat senang Sunny mau menerima lamaran kluarganya yang sudah cukup dekat.
Sore ini pertunangan akan segera dilakukan. Sunny tampak sangat cantik, gaun off white panjang fit body yang ia kenakan membuatnya tampak begitu manis.
“Sunny.” Eun ae menghadiri pertunangan Sunny bersama Taehyung karena mereka akan menjadi saudara ipar. Eun ae memeluk Sunny erat karena terlampau bahagia. “Jika seperti ini, kita akan selalu bersama.”
Tatapan mata Sunny hanya mengarah pada Taehyung yang berdiri tepat di belakang Eun ae yang sedang memeluknya. “Emm, aku tidak ingin jauh darinya.”
Taehyung seketika melempar pandangannya ke tumpukan minuman dan pergi mendekatinya. Taehyung tahu Sunny tidak benar benar menyukai Seokjin.
“Park Sunny.” Taehyung menarik Sunny ke sebuah loby yang tampak sepi.
Tatapan Sunny kini berubah dingin. Tidak seperti terakhir Taehyung menangkap sorot mata Sunny.
“Kenapa?” Taehyung menggenggam erat lengan Sunny. “Aku tahu kamu tidak menyukainya.”
“Dan kaupun tahu aku menyukaimu.”
“Park Sunny.”
“Aku hanya ingin bersamamu.” Ucapan Sunny terdengar sangat jelas. “Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu?”
“Sunny, ini bukan sesuatu yang bisa kamu permainkan. Kamu sungguh akan menikah dengannya?”
“Ya, akan sama saja. Jika dengan orang lain pun, akan tetap sama saja. Aku tidak akan pernah mencintainya. Aku tidak akan pernah bahagia.”
“Lalu kenapa kamu memilih kak Seokjin untuk pelampiasanmu?”
“Karena aku ingin selalu melihatmu. Aku benar benar merindukanmu.”
“Park Sunny.” Eun ae menghampiri Sunny dan melepaskan satu tamparan di pipi kiri Sunny.
“Eun ae.” Taehyung menghentikan Eun ae yang ingin memberikan pukulan lagi pada Sunny.
“Sunny, bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku?” Teriak Eun ae tanpa kendali.
“Pria ini ... adalah seseorang yang selalu aku ceritakan padamu.”
Mata Eun ae membulat tak percaya. Kedua tangannya membungkam mulutnya yang menganga. Menggambarkan keterkejutan yang luar biasa.
“Apa yang bisa aku lakukan?”
Eun ae menatap mata Taehyung meminta penjelasan. “Tidak … Kim Taehyung … katakan sesuatu padaku.”
Taehyung menghela nafas beratnya sebelum berucap. "Aku telah meninggalkannya lima tahun lalu. Kekasihku yang masih sangat aku cintai. Aku tidak pernah berfikir akan dipertemukan lagi dengannya. Aku tidak bisa melupakannya. Maafkan aku …”
Bugh … satu pukulan membuat Taehyunh tersungkur ke lantai. “Aku hanya mewakili perasaan Hae won," ucap Seokjin merasa tangannya sangat ngilu.
“Sunny, maaf karena aku terlalu mengharapkanmu. Aku cukup terkejut kamu mau menerima lamaran dari keluarga kim, sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan keputusanmu. Tapi caramu ini sangat menyakitiku.” Seokjin semakin mendekati Sunny. “Tak apa, aku tidak akan membencimu karena masalah kecil ini.” Tambah seokjin di sertai senyum tulus dan segera pergi menyusul Eun ae yang sudah sedari tadi meninggalkan mereka.
Hanya tersisa Sunny dan Taehyung yang sedang berusaha berdiri setelah mendapat pukulan dari Seokjin.
“Tidak ingin memelukku?”
Sunny melangkah dan menghambur ke pelukan Taehyung tanpa menolak tawaran darinya.
“Maafkan aku … aku mencintaimu.” Taehyung mengusap surai halus Sunny dan mendekapnya menyalurkan kehangatan, mengembalikan cinta yang telah Taehyung ambil dari Sunny.
“Jangan meninggalkanku lagi.”
Cinta kadang terdengar menyakitkan. Cinta akan sangat membahagiakan jika kedua makhluk pemilik cinta saling memberi cinta dan tidak ada satupun penolakan.
•End•