Andini berusia 23 tahun tersebut mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta, Prestasi lah yang membawanya sampai ke kota metropolitan. Namun harus terjerat cinta lokasi dengan Manager karena sebuah Kopi.
Dia mempunyai cita-cita yang sangat mulia ingin membahagiakan kedua orang tuanya kemudian mencari lah lowongan tentang perusahaan di internet dan didapatkannya sebuah perusahaan di jakarta.
Tanpa pengalaman apapun untuk merantau ke kota orang Dia hanya mempunyai tekad yang kuat dan bulat untuk merubah keadaan keluarganya. Namun Dia sangat beruntung sekali mempunyai kedua orang tua yang selalu mendukungnya.
Seperti biasa setiap hari Andini bekerja berangkat pagi dan pulang sore hingga kadang sampai lembur semua dilakukan dengan ikhlas.
"Din Kamu tau nggak besok ada manager baru yang datang ke kantor Kita." ucap Lisa teman sekantornya.
"Emang mau ada pergantian Manager ya." Andini memang tipe orang yang tak mau tahu urusan orang lain yang penting urusan dia selesai tanpa mengganggu orang lain.
" Kamu itu Dini taunya Cuman kerja kerja dan kerja, Kapan kamu punya pacar."ledek Lisa.
"Aku nggak mau cari pacar Lisa mau langsung nikah aja biar enggak banyak dosa." kata Andini sambil merapikan pekerjaannya ingin pulang.
"Ya semoga segera dapat ya." suara Lusa agak mengejeknya.
"Aamiin, makasih doanya. Aku pulang duluan ya Assalamualaikum." Andini meninggalkan Lisa.
"Ya Waalaikumsalam hati-hati." Jawab Lisa.
Esok hari seperti biasa Andini berangkat ke kantor dengan mau memesan motor online.
Karena berangkat terlalu pagi Dia melupakan ritual paginya yaitu minum kopi.
Andini pun menuju pantry untuk membuat segelas kopi kesukaannya.
"Bisa buatkan Saya Kopi." suara laki-laki mengagetkannya.
"Maaf Pak, Saya bukan bagian pantry dan ini hanya membuat kopi sesuai selera saya saja." ucap Andini.
"Buatkan Lah sajalah apa yang kamu bisa saya terlalu pagi tadi berangkatnya."
"Tapi Pak, kalau tidak enak bagaimana."
" saya belum mencobanya bagaimana saya tahu kopi buatan mu itu enak atau tidak."
"Baik Pak saya coba buatkan."
"Antar ke lantai 5, Saya tunggu."
"Ha...Apa ngantar lantai 5 juga Pak. " Andini celingak-celinguk mencari keberadaan laki-laki itu.
"Eh... kemana Itu Bapaknya, aduh... sarapan apa sih tadi Dini." Andini menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah selesai membuatkan kopi Andini pun mengantarkannya ke lantai 5.
"Yang mana ruangannya." Andini celingak-celinguk mencari ruangan.
"Siapa juga namanya tadi, aduh...." Dini berdiri di tengah jalan sambil memegang nampan dan bingung.
"Mbak cari siapa." seorang perempuan cantik mengagetkan Andini.
"Itu Mbak, tapi ada laki-laki yang belum pernah saya lihat minta dibuatkan kopi kemudian ke lantai 5. Mbak tau nggak siapa."
"Siapa Mbak namanya." yang diajak bicara pun juga bingung.
"Nggak tau." Andini menggeleng.
"Sebentar Saya cek dulu ruangan mana yang sudah datang." Mbak yang cantik itu mengecek ruangan Manager yang sudah datang.
"Sepertinya Pak Manager baru yang dimaksud Mbaknya." kata wanita cantik itu.
"Mbak sini, itu kopi Pak Andre Manager baru yang mulai bekerja hari ini di kantor kita."
Andini malah melongo nggak tahunya tadi yang minta kopi adalah manager baru.
"Mbak sini, sudah ditunggu Pak Andre."
"Oh iya Mbak."
"Masuk aja Mbak, Pak Andre sudah nunggu."
Andini mengetuk pintu dan masuk ke dalam setelah orang yang didalamnya mempersilahkannya masuk.
"Ini Pak Kopinya."
"Ya Terima kasih taruh aja di meja."
" Saya permisi Pak."
Andre pun hanya menganggukkan kepala tanpa melihat Andini yang pergi dari ruangannya.
Setelah Andini pergi dari ruangannya Andre pun mencoba kopi yang dia buat kan untuknya.
"Enak juga." komentar singkat dari Andre.
Setelah sekali mencoba kopi buatan Andini esok harinya Andre seperti kecanduan dan ingin mencobanya kembali makanya dia datang dan menuju ke pantry siapa tahu Andini di sana.
Ternyata pucuk dicinta ulam pun tiba Andini sedang duduk di sana menikmati secangkir kopi bersama sebungkus roti.
" Bisa buatkan saya satu cangkir lagi." Andre duduk di depannya dan sontak Andini pun berhenti mengunyah roti yang ada di mulutnya.
"Eh.. Pak Andre Iya Pak, Maaf Pak sebelumnya untuk kopinya kemarin kurang apa"
"Sudah cukup takarannya Saya suka." senyumpun pun terbit di bibir Andini.
"Oke, Saya buatkan khusus untuk Pak Andre."
Andini beranjak membuat secangkir kopi untuk Andre.
"Silahkan Pak, semoga suka."
Andini meletakkan secangkir kopi di hadapan Andre dan langsung disambar oleh Nya.
"Enak kopinya, Saya Suka. Tiap Pagi buatkan Saya ya." Kata Andre.
"Mana bisa Pak, Saya kan bukan pantry. Ini juga tadi gara-gara saya nggak sempat sarapan makanya di sini."
"Bisa aja, Kamu khusus buatkan kopi untuk Saya. Antar ke ruang Saya setiap pagi." Andre menghabiskan waktunya kemudian beranjak meninggalkan Andini.
"Apaan...Tugas tambahan ini, aduhhh..." Dini menggaruk kepalanya yang tidak datang.
Kemudian terhitung pagi hari ini kembali Andini membuatkan kopi dan mengantarnya ke ruangan Andre begitu setiap harinya.
Hingga suatu ketika Andre menawarkannya untuk mengantar pulang ketika Andre melihat Andini menunggu motor online pesanannya di depan kantor.
"Ayo masuk." Andri membuka jendela mobilnya dan menyuruh Andini masuk ke dalam mobil.
"Saya Pak." Andini menuju dirinya sendiri sambil melihat ke sekelilingnya siapa tahu ada orang lain.
"Iya siapa lagi."
"Tapi Pak." Andini ragu apa kata orang nanti dia pulang bersama managernya.
"Sudah nggak usah bantah, buruan masuk."
Andini pun masuk ke mobil Andre kemudian dilajukannya menuju kost Andini.
"Ini ucapan terima kasih saya karena kamu setiap pagi sudah membuatkan saya kopi."
"Tidak perut seperti ini Pak saya Ikhlas."
"Saya juga Ikhlas."
kata Andre sambil tetap fokus menyetir tanpa melihat ke Andini.
"Ehmmm... Saya boleh tanya sesuatu nggak Pak." Andini memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang selama ini dia pendam.
"Mau tanya apa."
"Pak Andre kalau pagi apa tidak ngopi di rumah istrinya enggak buatin kopi Pak harus ngopi di kantor setiap hari, maaf Pak tapi kalau bapak tidak berkenan menjawab nggak papa" Andini berani sekali Kamu.
"Saya belum punya istri dan tidak ada yang buatkan kopi untuk Saya karena Saya tinggal sendiri di apartemen." jawab Andre datar.
"Hehehe.. maaf ya Pak." Andini merasa tidak enak.
"Nggak papa, kamu pasti berpikir laki-laki seumuran saya tapi belum punya istri." Andre melirik ke arah Andini.
"Hehehe.. nggak kok Pak. Menurut saya usia bukan ukuran seseorang harus mulai berkeluarga tapi lebih penting sebuah komitmen untuk membangun sebuah keluarga dimana Dirinya siap untuk keluarga tanpa harus menunggu usianya."
"Kamu sudah punya pacar atau bahkan sudah berkeluarga." tanya Andre.
"Hahahaha... Pak Andre bisa aja mana ada yang mau sama saya."
"Kenapa Nggak."
"Mereka semua menghindari saya Pak Karena saya tidak mau diajak pacaran. Saya maunya langsung menikah mana ada coba laki-laki yang berani seperti itu."
"Kalau ada yang berani seperti itu, apa Kamu siap menerimanya walaupun belum mengenalnya."
"Bagi Saya saling mengenal itu bisa dilakukan selama kita berjalan bersama dengan ikatan halal. tanpa harus membuang waktu untuk pacaran dan menambah dosa."
"Kalau begitu kalau saya ingin serius denganmu apa Kamu menerimanya nya." Andre menghentikan mobilnya tepat di depan kosan Andini.
"Hahaha... Pak Andre bercanda ya mentang-mentang Saya habis ngomong gitu terus Pak Andre dipraktekin."
"Saya serius, Saya ingin menjadikan Mu istri saya." Andre menatap serius Andini dan dia pun bisa menangkap sorot mata Andre yang tak main-main.
"Temui kedua orang tua saya kalau memang Bapak serius. Saya permisi Assalamualaikum." Andini Pun turun dari mobil Andre.
Setelah mendengar jawaban Andini, Andre pun semalaman memikirkannya dia memantapkan hatinya meminta petunjuk kepada Sang pemilik hati.
Andre pun mendapatkan kemantapan hati dan segera menemui Andini untuk mengutarakan keseriusannya dan siap menemui kedua orang tuanya.
Nat baik Andre sangat diterima oleh Andini dan Andini pun memberikan alamat rumahnya kepada Andre supaya menemui kedua orang tuanya.
Setelah pertemuannya dengan orang tua Andini, Andre dan Andini pun semakin yakin dan mantap untuk melangkah ke jenjang pernikahan dengan restu dari kedua belah pihak keluarga.
......Tamat.....