Bukankah Semua jalan memiliki ujung? entah itu rumah, pantai, atau hutan. Entah itu sabana, lembah atau gurun. Jika tidak ... mungkin ujungnya adalah tempat dimana awal itu di mulai.
Jika seperti ini ... Apa aku bisa berhenti saja?
Dua pria di sudut ruangan ini sama sama terdiam. Mereka ingin membicarakan sesuatu namun selalu mengulur waktu masing masing. Jimin meneguk minuman gelap kemerahan sedang Taehyung hanya memotong motong red velvet dengan garpu tanpa lekas memakannya.
"Jadi bagaimana keputusanmu?" Taehyung mulai bosan.
"Aku akan menikahi Soo ra."
Taehyung menggelengkan kepalanya tak mengerti. "Lalu bagaimana dengan Eun ae? Kekasihmu Jim."
Jimin merasa tidak punya jawaban atas pertanyaan yang sahabatnya lontarkan. "Aku bingung."
"Soo ra menangis ingin meninggalkan rumah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Taehyung mulai mengisi mulutnya dengan potongan kue, berharap glukosa bisa mencerahkan otaknya, mengembalikan kepintaran dan kelicikan yang biasa ia miliki.
"Aku tahu bagaimana perasaannya. Ini bahkan belum sebulan setelah ayahnya meninggal. Lalu mamanya memutuskan untuk menikah dengan papaku." Jimin meremas gelas yang ia genggam. "Sialan memang. Papa sama sekali tidak memikirkan perasaan mama. Yang dia pikirkan hanya saham dan saham. Dia tidak peduli masih beristri dan ingin menikah lagi demi perusahaan. Aku malah ingin menghancurkan perusahaan ini." Tambah Jimin dengan smirk culas.
"Aku akan membawa Soo ra ke rumahku. Mama mendengar rumor ini dan memintaku untuk membawa Soo ra pulang. Jangan khawatir, aku akan menenangkannya. Jangan bertindak ceroboh, pikirkan cara lain untuk menggagalkan pernikahan papamu. Aku tidak ingin Soo ra malah tersakiti."
"Lalu dengan cara yang seperti apa Tae? Ini terlalu cepat berjalan. Mereka merencanakannya seakan hari esok sudah mau kiamat. Mereka akan menikah tiga minggu lagi. Bukankah itu gila?"
Taehyung mengerti bagaimana keadaan Jimin sekarang. Sangat mengerti hingga ia tidak bisa menyangkal atau memberi solusi lain karena memang terlalu mendesak.
"Aku akan bicara dengan Soo ra. Hanya untuk menggagalkan pernikahan orang tua kita."
"Jim, jangan egois. Jangan melibatkan Soo ra dengan masalah ini."
"Soo ra yang memintaku untuk menikah dengannya Tae, dia menangis dan tidak punya pilihan lain. Sama sepertiku, aku tidak ingin mama mendengar semua berita ini. Keadaan mama semakin memburuk. Aku tidak punya cara lain. Aku akan memilih jalan lain jika memang ada."
"Kalian benar benar gila." Taehyung menguyak rambutnya frustasi.
Jimin menghela nafasnya berat. Sangat berat. "Rumor pernikahan orang tua kita memang belum terlalu jauh menyebar karena ayah Soo ra memang baru meninggal. Mereka tidak mungkin mengumumkan rencana pernikahan dalam waktu dekat. Tapi aku tahu mereka diam diam sudah menyiapkan semuanya. Kita akan mengungkap lebih dulu status kita sebelum mereka menyebarkan ke publik."
Tidak ada sanggahan dari Taehyung. Taehyung memilih untuk meneguk minuman asam di depannya untuk menghilangkan stress dan bermaksud menjernihkan kinerja otaknya lagi. Otaknya rasanya sangat buntu. Sama halnya denga Jimin, mereka tidak bisa memikirkan hal lain.
•••
"JUNG SOO RA KAU GILA?" Teriak Eun ae setelah mengguyur Soo ra dengan moctail yang sudah hampir semua melekat ke tubuh Soo ra dan hanya beberapa yang tercecer ke lantai.
Soo ra diam dan tidak membalas karena dia sadar, Soo ra dalam posisi yang tidak benar. "Aku tidak benar benar menginginkan Jimin. Kita melakukan pernikahan ini hanya untuk orang tua kita."
"Munafik, kamu benar benar iblis. Kamu sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil Jimin dariku. Kau pikir aku bodoh, huh? Tidak, Aku tidak akan membiarkan kalian menikah. Bila perlu, kau menikah saja dengan Tuan park. Menikah saja dengan ayah Jimin."
"Eun ae!" Jimin dan Taehyung datang bersamaan ke kafe elit Keluarga Kim untuk menghentikan perdebatan mereka. Mereka tahu akan seperti ini jika Soo ra bertemu denga Eun ae.
"Jim, apa semua itu benar? Bagaimana gadis sialan itu memintaku untuk memberikanmu padanya?"
Jimin membeku mendapati Soo ra basah oleh minuman dan Taehyung mencoba membersihkannya.
"Jim, katakan kalau semua itu tidak benar. Aku mencintaimu Jim. Aku benar benar mencintaimu."
Otakku benar benar ingin meledak. Memikirkan Soo ra dan Eun ae secara bersamaan. Membuatku gila. Ma ... kau tahu bagaimana caranya lari dari dunia ini? Kupikir menjadi seperti mama sekarang adalah pilihan terbaik dari pada hidup penuh sandiwara seperti ini. Batin Jimin terdiam di depan Eun ae.
"Jim," ucap Eun ae lirih seakan meminta jawaban yang ia inginkan. Eun ae melemas ketika Jimin tidak juga menjawabnya. Eun ae tahu Jimin dalam kondisi yang tidak baik jika Ia memilih untuk diam.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kita hanya ..."
"Kenapa terlalu lama kamu menjawabnya? Kamu bingung? Apa hal semacam ini membuatmu sulit berfikir?" Eun ae tiba tiba menutup mulutnya. "Kau menyukainya?"
Sontak Taehyung dan Soo ra mengalihkan fokusnya pada Eun ae karena perkataannya.
Jimin tetap diam. Memilih diam. Selalu begitu, Jimin tidak banyak bicara ketika sesuatu mengganggu pikirannya.
"Eun ae, tidak seperti itu." Soo ra mengejar Eun ae yang tergesa gesa keluar kafe sedang Taehyung menatap Jimin bingung.
•••
Hening, mereka bertiga hanya duduk dan menelan pikiran mereka masing masing. Pakaian Soo ra basah hingga membuat beberapa bagian tampak transparan. Soo ra mengenakan jas dark grey Taehyung untuk menutupinya. Soo ra duduk di samping Taehyung dan Jimin di depannya. Tidak ada apapun yang bisa mereka makan di meja, hanya ada sisa sisa kerusuhan yang di hancurkan Eun ae beberapa menit lalu. Gelas moctail masih tergeletak manis dan tak terjamah. Mereka memang tidak sedang ingin memakan sesuatu. Pikiran mereka kalut karena rencana gila yang mereka lakukan.
Hingga seorang pelayan datang dan membersihkan meja. "Tuan kim anda ingin minum apa?" Tanya seorang pelayan pada Taehyung anak dari pemilik kafe yang mereka tempati.
"Berikan aku air dingin." Taehyung memajukan badannya karena terlalu lama bersandar di sofa dan tidak menemukan titik terang. Taehyung mulai angkat bicara. "Semua mulai hancur dari awal. Kalian ingin melanjutkannya?"
"Jim, aku akan bicara dengan Eun ae. Maaf membuatmu malah bertengkar dengannya seperti ini. Aku harus menjelaskannya dengan rinci supaya tidak ada kesalah pahaman. Memang aku salah, aku tidak seharusnya memulai ide ini."
"Jangan meminta maaf, aku juga menyetujuinya. Dia hanya terlalu khawatir, aku akan menjelaskannya sendiri."
Kebohongan ini mulai menyulitkan. Bahkan belum di mulai, semua sudah kacau. Jimin mungkin saja akan kehilangan kekasihnya dan taehyung mungkin akan kerepotan dengan semua ulahku dan Jimin. Aku tahu Taehyung tidak mungkin membiarkan kita dalam kesulitan. Dia yang selalu ada untukku, untuk jimin. Begitu juga dengan Jimin, sahabat yang selalu mengerti bagaimana aku. Aku tidak ingin kehilangan mereka karena rencana ini. Aku tidak harus memulainya.
"Kupikir kita tidak harus memulainya. Aku tidak ingin orang lain ikut kecewa jim."
Taehyung menoleh Soo ra dengan tatapan khawatir.
"Soo ra, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Seperti sebuah catatan, Soo ra sangat mudah di baca oleh Jimin. "Aku baik baik saja meski harus berpisah dengan Eun ae."
"Jim, kamu tidak harus mengorbankannya. Aku akan cari cara lain untuk menghentikan mama. Aku tidak seharusnya melibatkanmu jim."
Dan aku tidak ingin mengorbankanmu juga. "Aku membutuhkanmu." Untukku, batinnya melanjutkan. Aku bahkan tidak masalah kehilangan Eun ae jika itu karenamu.
Taehyung merasa perkataan Jimin tidak sesuai dengan konteks yang mereka bicarakan. Taehyung merasa ada arti lain di balik perkataan Jimin.
"Aku membutuhkanmu untuk ...."
Belum sempat Jimin menyelesaikan perkataannya, Soo ra tiba tiba berdiri penuh amarah. Bukan karena perkataan Jimin, tapi karena pemandangan di depan matanya. Jauh dari mereka duduk, tapi Soo ra tahu persis siapa yang sedang berpelukan dan bermesraan di seberang sana. "Mama."
Taehyung dan Jimin kontan menoleh meluruskan tatapannya selaras dengan tatapan Soo ra. Mereka sama sama tercengang. Entah dari kapan Soo ra melangkah, Soo ra kini sudah berada di depan mamanya yang dengan mesra memeluk Tuan Park, Ayah Jimin.
"Mama ...." Teriak Soo ra membuat pelukan mereka terlepas dan semua pengunjung kafe itu menoleh padanya.
Mama Soo ra dan tuan park nampak sangat terkejut dan bingung.
"Mama, bagaimana bisa ..." nafas Soo ra tersengal, tidak paham dengan situasi yang ia dapati saat ini. Mereka bilang pernikahan mereka hanya di dasari oleh bisnis dan tidak ada ikatan apapun, namun nyatanya ... tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan. "Ma apa begini mama memperlakukan papa? Apa yang mama inginkan? Papa baru saja meninggal dan mama sudah bisa menggoda pria lain."
Plakkk...
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Soo ra. Membuat rambutnya teracak ke depan dan menutupi sebagian wajahnya.
Jimin sudah berada di dekat Soo ra. Mengangkat wajah Soo ra yang tertunduk, menyingkirlan helaian rambut di wajahnya dan mengusap pipi Soo ra perlahan dengan ibu jarinya. Jimin tahu Soo ra sedang tidak baik baik saja, Jimin tidak perlu bertanya keadaannya. Kacau, pasti. "Pa, kita akan menikah. Jadi kalian tidak perlu melanjutkan drama sialan ini. Aku mencintai Soo ra. Kita akan menikah secepatnya dan kupikir rencana kalian bukan di dasarkan karena bisnis, tapi sesuatu yang lain. Perusahaan papa akan hancur jika media mengetahui keberadaan istri papa seperti apa. Jangan coba coba bertingkah konyol. Aku akan menghancurkan perusahaan ini jika ini terjadi." Jimin beralih menggenggam tangan Soo ra.
"Tetaplah bertingkah seperti bajingan namun jangan sampai aku melihatnya lagi. Cobalah untuk lebih pintar," tutup Jimin segera menarik Soo ra pergi di ikuti oleh Taehyung di belakangnya. Mereka tidak peduli seisi kafe memperhatikan kekacauan yang mereka buat.
•••
Soo ra menidurkan kepalanya di lengan sofa, Jimin menunduk dengan lengan bertopang di kedua sisi pahanya dan Taehyung berdiri meminum sesuatu menghadap keluar jauh menembus dinding kaca. Entah apa yang masing masih pikirkan. Mereka hanya tidak ingin membahas sesuatu.
Mereka sedang berada di apartemen Taehyung. Tempat Taehyung ketika tidak ingin pulang ke rumah. Apartemen besar dan megah yang terlalu luas untuk Taehyung tempati sendiri. Taehyung semakin prihatin dengan kedua sahabatnya, Taehyung merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang harmonis, sangat harmonis malah. Taehyung tidak bisa terlalu banyak berpendapat, dia tidak bisa merasakan apa yang kedua sahabatnya rasakan.
Hingga suara ponsel Jimin berdering, Eun ae memanggilnya. Namun tidak di hiraukan oleh Jimin dan kemudian asiatennya yang menelfon. Jimin segera mengangkat telfonnya karena pasti tentang mamanya. Jimin keluar ke balkon dan menuntaskan pembicaraan.
"Kau bisa tidur di kamarku atau di kamar tamu jika lelah." Taehyung duduk di samping Soo ra dan meletakkan gelas yang ia bawa di meja.
Sora menegakkan badannya. "Aku tidak ingin tidur, tidak bisa."
Taehyung mendekatkan kepala Soo ra untuk bersandar di bahunya. "Menangislah jika memang bisa membuatmu tenang."
Soo ra tersenyum paksa, lalu menyandarkan lelahnya ke bahu Taehyung. "Aku tidak tahu ingin menangis dari mana, semua terlalu kacau."
"Emmm ... semua akan baik baik saja." Taehyung menggenggam telapak tangan Soo ra karena ia tahu Soo ra perlu kenyamanan. "Jim, kau tak apa? Siapa yang menghubungimu?"
"Asistenku, seperti biasa tentang mama." Jimin melempar handphonenya ke atas meja dan merebahkan badannya di sofa hitam memejamkan mata untuk tertidur.
Sudah beberapa tahun terakhir ini, mama jimin mengalami gangguan psikis hingga selalu ingin melukai dirinya sendiri. Semua bermula karena pertengkaran hebat mama dan papanya. Jimin tidak tahu pasti, yang jelas Jimin sangat membenci ayahnya sampai saat ini.
"Jim, kamu baik baik saja? Maksudku, aku tahu kamu tidak sedang baik baik saja. Maafkan aku." Soo ra menyesal telah melibatkan Jimin dalam rencananya.
"Berhentilah meminta maaf. Aku tidak mau kamu lebih terluka dari siapapun. Aku baik baik saja. Jangan terlalu khawatir." Sahut jimin dengan mata terpejam.
•••
Hari ini beberapa media mengabarkan rencana pertunangan Jimin dan Soo ra. Mereka tetap pada rencananya, Jimin tidak ingin mamanya semakin sakit mendengar berita buruk tentang ayahnya. Sebenarnya Jimin tidak peduli perusahaan keluarganya akan hancur, Jimin hanya memperdulikan perasaan sang Ibu.
Berbeda dengan Soo ra, Soo ra masih tidak rela sang mama memanfaatkan keadaan tentang perusahaan demi mendapatkan Tuan Park. Soo ra tidak ingin ayahnya yang baru saja meninggal terhianati.
Sangat tidak masuk akal.
Rencana pertama Jimin dan Soo ra berjalan dengan lancar, semua media telah memberitakan pertunangan mereka hingga nilai saham semakin melonjak. Pernikahan antara keluarga Park dan keluarga Jung sebagai pemilik perusahaan ternama semakin menjadi sorotan.
Namun semua kesuksesan itu tidak berlangsung lama. Siang itu, Jimin mendapat telfon dari asistennya dan mendapat kabar buruk darinya. Kabar yang sangat buruk dan membuatnya hancur. Mama tercinta Jimin telah tiada. Mamanya memotong pembuluh nadi di pergelangan tangannya hingga kehabisan darah di dalam kamar mandi. Nyonya park mendapat kabar tentang rencana pernikahan suaminya hingga membuatnya hilang akal dan menyudahi hidupnya.
Jimin sangat sakit dan terluka. Sangat ... Ketika harus kehilangan orang yang begitu ia sayangi.
Soo ra memberikan penghormatan dan segera pergi setelah mendapati Jimin yang benar benar kacau. Soo ra merasa sangat bersalah.
Jimin kehilangan hampir separuh jiwanya. dia hanya terdiam di apartementnya setelah semuanya usai hingga waktu telah berlalu. Sudah hampir genap lima hari, Jimin tidak ingin di ganggu siapapun termasuk Taehyung yang sedari tadi hanya terdiam di sampingnya.
"Soo ra, bagaimana keadaannya?"
"Buruk." Taehyung cepat menjawab pertanyaan Jimin ketika sahabatnya itu mulai buka suara. "dia tidak berani menemuimu."
•••
"Mama... kenapa mama tega melakukannya?" Soo ra berdiri gemetar dengan wajah memerah siap untuk menumpahkan semua tangis yang ia tahan. "kenapa mama sengaja melakukannya? Menemui mama jimin dan mengatakan hubungan mama dengan Tuan park. apa yang mama inginkan? menghancurkan keluarga park, huh?"
"Mama, mama bahkan tahu Jimin sangat menyayangi mamanya, dia benar benar sangat kacau. bagaimana aku bisa menemuinya setelah ini? semua karena mama. semua hancur KARENA mama!" teriak Soo ra memaki.
"Apa yang mama inginkan?" Soo ra masih menggunakan nada tinggi. "Mama ingin harta, ya ... ambil semua sahamku, ambil semua harta dari papa dan aku bisa pergi dari sini. aku tidak memerlukannya."
"Mama mencintainya." Akhirnya mama Soo ra buka suara.
"Ma ...." Air mata Soo ra tumpah sejadinya. "Jangan ... jangan pernah mencintainya ma!" Soo ra memundurkan langkahnya seakan ketakutan dengan jawaban sang ibu. "Jangan pernah mencintainya!"
"Maafkan mama Soo ra."
Hancur ... apa yang bisa Soo ra perjuangkan jika itu menyangkut tentang cinta. Cinta, terlalu klise memang. Penghianatan yang hanya menimbulkan kebencian. Aku lebih baik mengutuk diriku untuk jadi gelandangan dengan cinta tulus dari pada Hidup mewah dengan kepura puraan dan penghianatan. Aku sangat bosan.
Soo ra pergi setelah mendengar pengakuan mamanya. mengendarai mobil secepat kilat menerobos riuhnya kota mencari keberadaan sahabatnya. Taehyung dan Jimin, hanya mereka yang ingin Soo ra temui. Namun ia sangat takut, takut melihat keadaan Jimin dan membuatnya semakin bersalah.
•••
"Jim, aku tahu kamu mencintaiku. Jim, hubungan kita bukan hanya setahun dua tahun. kita bahkan sudah menjalaninya dengan perjalanan yang tidak mudah. kamu harus kembali padaku." Eun ae memohon dengan tangis. "Jim, Soo ra hanya menggodamu, dia sengaja menyusun semua rencana ini karena ingin mendapatkanmu."
"Jangan bicara omong kosong." taehyung tidak terima.
"Tae, kau juga. Bukankah kau sudah memiliki kekasih? kenapa kalian selalu bersama Soo ra? Apa dia juga menggodamu? anak dan Ibu tidak ada bedanya. sama sama seperti wanita murahan."
"Hentikan ucapanmu." Tehyung merasa semua perkataan Eun ae tidak masuk akal.
Jimin diam tidak berniat untuk membalas perkataan Eun ae.
"Karena dia semua jadi seperti ini. Karena dia ... Bibi park telah tiada. Soo ra menghancurkan semuanya. Soo ra yang harusnya menanggung ini semua. Bukan kamu Jim ..." teriakan Eun ae menggetarkan seluruh badan Soo ra.
Ya, Soo ra dari awal telah mendengar semua perkataan Eun ae. Berdiri dengan pakaian tidur sleeve less dan outer tidur sisa kekacauan dengan mamanya. Soo ra meninggalkan rumah setelah berdebat dengan sang Ibu. Mengharap ketenangan dari kedua sahabatnya, namun yang di dapat adalah hal lain. memang benar, semua yang Eun ae katakan adalah benar.
Mata Jimin dan Taehyung membulat tak percaya karena melihat Soo ra yang tengah berdiri di sana. Pucat, berantakan dan seperti tak bernyawa.
"Jung Soo ra." Jimin berlari menghapiri Soo ra yang tengah menunduk menatap lantai. tapi tidak secepet Taehyung yang kini sudah mendekapnya.
Soo ra bukanlah gadis lemah yang sering menyalahkan diri sendiri. dia selalu tegar dan jarang menangis. namun setelah ayahnya meninggal, Soo ra sering terdiam dan tidak bisa memikirkan apapun dengan otak jernihnya. Soo ra mendadak jadi gadis yang lemah dan banyak mengalah. itu membuat Taehyung dan Jimin sangat menghawatirkannya.
Eun ae tersenyum sinis penuh amarah. "Apa sepeduli itu kamu padanya? seseorang yang telah menghancurkan hidupmu."
"Aku mencintainya."
terkejut. pasti.
Soo ra membelalak di pelukan Taehyung. Taehyung pun kini tersenyum bingung mendengar pengakuan jimin.
"Jim." Taehyung tidak ingin memperumit keadaan.
"Aku tidak ingin kehilangannya Tae," ucapan Jimin terdengar tulus. Memang mungkin Soo ra akan menganggap ucapannya hanya bualan untuk membuat Eun ae menyerah. Tapi ini berbeda, ucapannya membuat hati Soo ra bergetar. Soo ra merasa Jimin benar benar mengungkapkan ketulusan hatinya.
Cukup untuk Eun ae mengerti bagaimana kekasihnya. Eun ae menyerah dan memilih pergi setelah mendaratkan tamparan pada Jimin.
"Eun ae, bukan seperti itu." Soo ra berlari mengejar Eun ae namun lengannya tertahan oleh seseorang.
"Jung Soo ra, aku mencintaimu."
"Jim."
"sungguh."
"Jim, kumohon."
"Kumohon cintai aku. Aku tidak menginginkan siapapun selain dirimu." Pinta jimin tulus. Jimin menarik Soo ra ke pelukannya.
Soo ra menyerah, membenarkan semua perasaannya. Bohong jika ia tidak menyukai Jimin. Bohong jika perasaan Soo ra pada Jimin hanya sebatas sahabat. Bohong jika peduli Soo ra tidak di sertai dengan cinta. Cinta yang menginginkannya lebih, bukan sekedar sahabat. Lebih dari itu. Menginginkan dirinya untuk selalu bersamanya. Soo ra sangat peduli pada kedua sahabatnya, sangat sayang meski harus menyimpan perasaan yang mendalam pada Jimin selama ini.
Soo ra mendorong Jimin untuk memberi jarak diantara keduanya. "Tidak, jangan. Semua akan hancur jika begini Jim."
"Semua sudah hancur ra. Sudah terlanjur."
Taehyung bahkan tidak mengerti jalan pikiran Jimin. Taehyung memilih bungkam.
"Aku tahu orang tua kita menikah tidak di dasarkan oleh kepentingan bisnis semata. Mereka akan menikah karena ego mereka. Aku tidak bisa membiarkan mereka melakukannya. Aku akan tetap menikahimu. Mereka tidak akan macam macam jika tidak ingin tersebar rumor buruk. Mereka hanya harus menghilangkan perasaan terlarang mereka. Ya, aku sangat tega. Aku hanya tidak suka melihat mereka bahagia. Aku akan menikahimu ra, Bukan hanya karena saham, tapi karena aku mencintaimu."
"Jim, kamu tidak harus mengasihaniku. Aku baik baik saja, aku akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu kembali pada Eun ae. Semua akan baik baik saja."
"Aku mencintaimu."
"Jim ..."
Jimin melukis senyum. "Kau benar benar menyebalkan ... Jung Soo ra, Kau tega membuatku memohon berulang kali. Aku tahu kamu selalu cemburu padaku. Kemarilah, peluk aku."
Wajah Soo ra memerah padam. "Bagaimana dengan Taehyung?" Soo ra ragu.
"Anggap saja aku tenggelam." Taehyung cemberut bersamaan ketika Soo ra menghambur ke pelukan Jimin. "Kau curang Jim. Kau curang karena mengungkapkannya duluan." Taehyung bersedekap seraya bersandar di bibir pintu.
"Kau belum putus dengan kekasihmu Tae."
"Sial kau Jim. Kau bahkan tahu aku berpacaran karena menuruti permintaan mama." Taehyung melepas pelukan kedua sahabatnya. "Larilah padaku jika Jimin menyebalkan. Aku akan langsung merebutmu darinya." Taehyung memegang kedua pipi Soo ra dengan kedua telapak tangan hangatnya.
"Pasti ... aku mencintaimu Tae."
Taehyung mengagguk, membiarkan Soo ra dengan semua pilihannya. "Aku juga mencintaimu."
"Jangan bertingkah seolah kalian akan terpisah jauh. Aku jadi merasa sangat bersalah. kau hanya harus merelakan Soo ra untukku Tae."
"Emm... Akan kulakukan, meski aku tidak rela." Taehyung cemberut. "Aku sangat cemburu. Kalian harus menghiburku karena membuatku patah hati."
"Pasti, kita tahu bagaimana cara menghiburmu."
Bertahanlah ... Jangan menyerah! tetaplah berjalan! Hingga kau tahu sampai mana kamu akan berhenti. Hingga kau tahu sampai mana kau akan mendapatkan tujuanmu.
End