Namaku Hana Lee wanita berusia 23 tahun seorang dokter spesialis bedah di Korea Selatan, sebagai anak yatim piatu aku hidup mandiri dengan mengandalkan beasiswa. Dan sangat bersyukur aku bisa menjadi seorang dokter yang di inginkan oleh orang tuaku.
Kalau di ingat-ingat pesan terakhir yang mereka sampaikan padaku adalah bantulah orang yang sedang membutuhkan kita, maka dari itu aku masuk di jalur kedokteran.
Suasana pagi kota Seoul hari ini sangat sejuk membuat aku tambah semangat untuk bangun pagi dan berolahraga paling lama satu jam, selesai itu aku langsung berangkat menuju Rumah Sakit.
Dalam perjalanan menuju Hospital aku mendapat telepon dari rekan kerja jika ada kumpul untuk membahas operasi pasien, "Kenapa mendadak begini bukannya harus satu jam lagi?" gumamku sendiri sambil mengendarai mobil cepat.
Sampai Rumah Sakit aku langsung lari masuk ke dalam dan tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, saya buru-buru," ucapku sambil meninggalkan dia.
Laki-laki itu hanya bisa menatap kepergianku, aku tahu jika salah dan menjatuhkan jamnya tapi ini penting!!!
Dalam ruangan para dokter bedah berkumpul dan membahas tentang operasi kanker yang akan dilakukan hari ini.
"Dokter Lee, saya mau anda yang melakukan operasi ini!" perintah Direktur padaku.
Tentu saja aku kaget mendengar perintah direktur padahal aku tidak siap, tapi jika menolak bukan dokter dong namanya kalau tidak siap.
"Baiklah, Direktur!" jawabku pasrah.
"Maaf, hari ini Rumah Sakit kita kedatangan dokter bedah yang sangat profesional. Silahkan masuk!" ucap Direktur.
Muncullah pria tinggi, tampan tapi dingin, aku memutar mata malas kenapa ada dokter bedah lagi? Apa dokter bedah disini masih kurang?
"Perkenalkan, Park Ji-Hyun dokter bedah yang pernah mendapatkan gelar dokter profesional Amerika," jelas Direktur membuat para dokter bedah lainnya bisik-bisik.
Direktur tertuju kepada diriku yang tak mendengarkan dirinya, "Dokter Lee apa ada masalah? Jika dia disini anda masih menjadi dokter bedah profesional, jangan takut!" ucapan Direktur membuat diriku tersenyum malu.
Pria itu tersenyum kecil ke arahku dan aku hanya mengerutkan kening bingung, ada apa dengannya?
Dengan cepat ia mengangkat tangan dan menunjuk jam tangan dan...
"Hei, wanita London! Apakah kau tak merasa bersalah?" ucapnya dengan nada tinggi.
Aku yang baru keluar dari ruangan aula ingin menuju ruang kerja harus membalikkan badan menghadap dia, "Panggil aku dokter Lee! Masalah apa ya? Kan sudah minta maaf," ucapku dengan menatap tajam dia.
"Apa kamu tak lihat jam tangan edisi terbaru dari Paris! Cuma hanya satu...Dengan kata maaf kamu,..."
"Keluaran terbaru dan edisi terbatas?" ucapku dan langsung mendekat ke arah tempat sampah lalu membuangnya.
Ji-Hyun hanya menatap tajam ke arahku, "Kenapa? Masalah selesai kan?" ujarku tenang dan pergi ke ruang pribadi.
Diruang kerja aku langsung berganti baju operasi setelah itu aku mengambil foto Ayah dan ibu, "Do'akan Hana semoga lancar operasinya!" ucapku dan langsung keluar.
Saat sampai ruang operasi aku bersiap-siap dan memimpin doa sebelum operasi agar lancar...
Ji-Hyun yang melihat dari ruang atas hanya menatap kearah diriku, dengan lihai aku membedah perut pasien dan mengoperasi kanker pankreas jika untuk dokter lainnya pasti membutuhkan waktu lama tapi tidak untuk diriku hanya 2 jam operasi selesai.
Beberapa Hari Berlalu jadwal operasi sangat padat membuatku sangat lelah untung ada dokter baru itu, kalau tidak? Bisa salah operasi.
"Dokter Park!" panggilku padanya yang baru selesai keluar operasi.
"Apa!" jawabnya singkat tanpa ada ekspresi.
"Untuk kesalahan yang waktu itu...Bagaimana kalau aku traktir," aku menawarkan pendapat.
"Terserah...Kalau ada waktu," jawab Park Ji-Hyun sambil melenggang pergi.
Untung sabar kalau enggak udah aku....
"Dokter, apa masih bisa disembuhkan?"
"Tidak, umurnya hanya tersisa 2 bulan,"
Aku mendengar percakapan antara dokter Park itu hanya melototkan mata dan langsung pergi.
"Kalian tahu, dokter itu dengan bicara terang-terangan depan pasien tersebut," ucapku pada rekan dokter bedah lainnya.
"Kenapa? Jujur lebih baik kan?" ucap seseorang tiba-tiba.
Aku terdiam dan menatap tajam dokter itu, "Huh, jujur...Itu bisa membuat pasien mati seketika,"
Bukannya menjawab dia malah pergi, "Dokter Lee sabar!" ucap Gerald dengan menepuk pundakku.
Satu Bulan berlalu...
"Bagaimana keadaan pasien?"
"Pasien mulai membaik, dokter Lee!" ucap suster itu.
"Dokter Lee! Bisa berbicara?" ucap dokter Park.
Saat dalam ruangannya dia langsung memeluk tubuhku, "Dok, dokter Park!" kataku dengan terkejut.
"Biarkan seperti ini! Aku akan menjelaskan semuanya," aku hanya mengikuti kemauannya.
Saat malam tiba aku masih termenung diruang kerja memikirkan kejadian tadi, "Kenapa hatiku berdebar-debar? Ada apa ini?" tanyaku sendiri.
"Tok...tok...tok, Apa sibuk?" ucap dokter Park dari luar ruangan.
Aku membukakan pintu aku lihat dia tersenyum dan langsung menarikku ke dalam.
"Ah, itu...Maksudnya ada apa?" tanyaku dengan gugup.
"Aku akan menjelaskan tentang kejadian tadi,"
Akhirnya dia menceritakan semuanya, dan aku mulai tahu kenapa dia memelukku tadi karena dia orang yang pernah membantuku saat aku pernah dikejar orang jahat.
"Jadi, saat itu kamu...Datang menolong diriku, dan kamu juga yang membawa aku ke Hospital?" tanyaku pada dokter Park.
Dokter Park hanya tersenyum dan mengangguk, "Akhirnya sekian lama aku bisa bertemu dengan kamu,"
"Aku selama ini ingin mengucapkan terima kasih walaupun aku tak tahu siapa laki-laki itu...Sekarang,"
Park Ji-Hyun memeluk tubuhku dan berkata, "Sekarang kamu di hadapan aku...Jangan pergi ya!"
Kejadian itu membuat aku dan dirinya semakin akrab, melakukan operasi bersama, dinner, jalan kalau jadwal senggang tapi, masalahnya adalah hubungan kita masih teman.
***
"Dokter Lee, kau kesini ada apa?" tanya seorang pria itu.
Aku sempat bingung darimana dia tahu namaku padahal belum bertemu, "Maaf, ini rumah dokter Park kan?"
Setelah itu aku masuk dan duduk menunggu dokter Park, "Kemana dia pergi?" tanyaku setelah menunggu lama.
"Aihh, kenapa begitu lama? Padahal..."
"Hana Lee?" suara itu membuat diriku tersenyum dan langsung menoleh ke arah dirinya.
"Park Ji-Hyun, Darimana dirimu?"
"Hanya cari udara segar! Ada apa?"
Bukannya menjawab aku menekuk wajah kesal, dan benar saja dia langsung membawa diriku ke pelukannya.
"Apa kau senang? Jangan membuatku frustasi!" aku tersenyum mendengar perkataannya.
5 Bulan berlalu...
Aku yang mengelus rambutnya dan menatap wajahnya hanya bisa terdiam tanpa kata-kata, perasaan cintakah ini? Kenapa ada yang aneh dengan diriku?
"Apa yang kau rasakan?" ucap Park Ji-Hyun dengan mata terpejam.
"Aku...Entahlah apa yang aku rasakan," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari wajahnya.
Tanpa aku sadari air mataku jatuh begitu saja dengan cepat aku menghapusnya, Park Ji-Hyun membuka matanya dan langsing mendekap diriku, "Menangis lah jika itu membuat kamu menjadi tenang!"
Aku tidak tahan untuk menahannya dan tentu saja aku menangis dalam pelukannya, "Aku tidak pernah merasakan ini semua, kalau bisa aku ingin bersamamu sepanjang perjalanan,"
"Itu tidak akan bisa,!" ucapan dia membuatku melepaskan pelukan.
Dia tersenyum dan, "Jika tuhan berkehendak lain apa bisa buat?"
Dari hari itu aku dan Park Ji-Hyun tidak bertemu aku yang sibuk operasi dan dia izin untuk istirahat, sebenarnya aku penasaran ada apa dengannya yang tiba-tiba izin.
"Dokter Lee!" panggil Direktur kepadaku.
Aku menoleh dan menghampirinya, "Ada apa Direktur?"
"Ikut saya, ada pembicaraan yang harus kita bahas!"
Aku hanya mengikutinya sampai ruangan Direktur ternyata disana ada Dokter Park Ji-Hyun juga, ada apa ini?
"Dokter Lee, apa kamu tahu saya memanggil kamu kesini?" aku hanya menggeleng tidak tahu.
"Saya mewakili CEO dan wakilnya, melalui saya kalau dokter Park akan pergi dari rumah sakit ini,"
Apa-apaan ini? Apa aku enggak salah dengar?
"Maksudnya bagaimana, ya?" aku bertanya lagi.
"Dokter Lee, dokter Park tidak akan menjadi dokter di Hospital ini lagi. Jadi, sebagai gantinya untuk sementara waktu kamu melakukan operasi sendiri sambil menunggu dokter bedah lainnya," jelas Direktur membuatku seperti tersambar petir di siang hari.
Park Ji-Hyun hanya terdiam tanpa membuka mulutnya.
Saat selesai pembicaraan aku dan Dokter Park berbicara berdua, "Ini maksudnya bagaimana? Kamu tidak lagi..Akan kemana?" tanyaku tapi dia mengalihkan pandangannya.
"Aku harus pergi!" tentu saja aku marah bukannya dia bilang jangan pernah pergi!
"Kamu pergi? Akan kemana? Tatap aku Ji-Hyun?"
Saat dia menatapku terlukis wajah yang sedang berpikir dan akhirnya ucapan itu keluar juga, "Aku mau kamu mandiri, jangan menjadi orang egois, jaga baik-baik diri kamu! Karena, aku tidak bisa lagi ada disamping kamu,"
Ucapan itu selalu teringat pada otakku, tiga hari ini aku izin karena tidak enak badan dan suhu badanku terus naik, malam tiba aku menelepon Ae-Ri untuk membawakan obat ke rumah.
Ting...tung...Saat terdengar suara bel pintu aku menguatkan tubuhku untuk berjalan ke arah pintu, saat kulihat bukanlah Ae-Ri yang datang melainkan Park Ji-Hyun.
"Mana Ae-Ri? Bukannya kamu udah pergi?" tanyaku dengan lemas.
Park Ji-Hyun hanya terdiam melihat keadaanku yang kusut dan pucat seperti mayat.
"Masuklah! Aku akan mengobati kamu!" perintahnya dan aku hanya ikut saja.
Aku menatap dia saat Park Ji-Hyun melakukan cek suhuku dan juga memasang infus. Setelah itu dia menempelkan telapak tangannya ke dahiku, "Kenapa bisa seperti ini?"
"Karena aku memikirkan kamu,"
Dia tersenyum lalu, "Cepatlah sembuh aku ingin melihat cahaya bulan dan bintang bersama kamu!"
Aku melepaskan tangannya dari dahiku dan mengajaknya ke rooftop.
"Mau kemana?"
"Bukannya kamu ingin melihat bulan dan bintang bersamaku? Hari ini bulan dan bintang bersinar di malam hari,"
Sesampainya di rooftop, Park Ji-Hyun melepaskan jaketnya dan memakaikan kepadaku.
Dia memelukku, rasa ini sungguh membuatku tak ingin lepas dari kamu!
Sebenarnya aku ingin melihat bulan dan menemani dia tapi, karena infus itu membuatku ingin memejamkan mata, Park Ji-Hyun tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke dinding.
Pagi harinya matahari terbit menyinari wajahku, saat aku terbangun melihat Park Ji-Hyun yang tergeletak di lantai dengan khawatir aku membangunkan dirinya, "Park Ji-Hyun, bangun! Bangun!" aku menggoyangkan badannya agar bangun tapi dia tidak membuka matanya. Akhirnya, aku membawanya ke Hospital.
Sampai sana dokter menanganinya dan berkata, "Dokter Lee, Park Ji-Hyun sudah meninggal sejak perjalanan kemari!" aku mendengar ucapan dokter Nam Doo hanya menggelengkan kepala tidak percaya.
"Gak mungkin! Dia tidak meninggal kan?" ucapku dengan terjatuh ke lantai, air mataku sudah tak terbendung lagi.
Ae-Ri yang melihat diriku langsung menghampiri, "Apa kamu belum tahu, Hana?" ucap Ae-Ri dan aku menatapnya.
"Apa...Yang kamu bicarakan?"
"Dokter Park Ji-Hyun mengalami kanker otak stadium empat,"
"Enggak, itu gak mungkin!!!" aku tidak percaya apa yang dibicarakan oleh Ae-Ri.
"Itu memang benar, Hana!"
"Kalau memang benar kenapa kalian tidak bilang!!" ujarku yang masih sesenggukan.
"Maaf, itu kemauannya agar kamu tak mengetahui,"
Percaya atau tidak aku gak bisa jika dia harus pergi, tanpa sengaja aku melihat tulisan di tangan kiriku dan, "Aku mencintaimu...Semoga selalu teringat," tulisan itu...Enggak mungkin.
Aku berlari menuju ruangan Park Ji-Hyun dan langsung memeluknya, "Apa ini yang kamu maksud akan pergi? Dan semalam apa itu kenangan terakhir buat aku dan kamu?"
5 Tahun Kemudian
Hari ini adalah tepat kematian Park Ji-Hyun yang ke 5 tahun, aku mengunjungi makamnya dan membawakan bunga. Waktu terasa begitu cepat tidak terasa jika kepergian mu itu membuatku rindu denganmu.
Aku hanya bisa berdo'a agar kamu bisa bahagia disana, dan juga aku belum menjawab perasaan yang pernah kamu tulis di tangan aku, jawabannya adalah perasaan aku sama kamu sama yaitu perasaan cinta yang sesungguhnya.
Aku hanya bisa berharap di kehidupan selanjutnya aku ingin bisa bertemu lagi dengan sosok dirimu.
Tenanglah disana! Aku akan pergi tapi aku takkan pernah melupakan masa saat kamu bersamaku.
Aku menaruh bunga itu di makam Park Ji-Hyun dan langsung pergi. Hal yang paling sulit aku terima adalah jika harus kehilangan orang terdekat, tersayang, maupun tercinta tapi yakinlah semua itu pasti ada hal terindah yang akan datang.
Mulai saat itu aku membuka lembaran baru dan mulai saat itu juga aku mencoba mengikhlaskan kepergian dirimu dari sampingku. Jika tuhan berkehendak maka kita tidak bisa mengubahnya.
Tamat