Tubuh kering kerontang, pakaian lusuh penuh tambalan disana sini, wajah yg sudah keriput dengan kerutan jelas terlihat didaerah pipi dan sekitar mata nya, tangan yg gemetar sembari menutupi sesosok tubuh kecil dengan selimut butut dgn warna coklat pudar.
Disamping tempat tidur yang terbuat dari tumpukan bambu dan beralaskan kain tipis yang sangat kotor, terlihat boneka Teddy Bear berukuran sedang bewarna biru muda, warna favoritku.
Sungguh pemandangan yang luar biasa menggetarkan hatiku yang selama ini bertirai kesombongan. Terhentak diriku melihat sosok lelaki tua dalam rumah itu dengan cucunya yang tertidur lelap. Mungkin tidur menjadi obat dari segala kenestapaan yang selama menjadi momok dalam hidupnya, hidup dalam kesusahan dan kegetiran. Mungkin dalam mimpinya dia jauh lebih bahagia. walaupun kebahagiaannya itu hanya kesemuan dari kepahitan dunia nyata ketika dia terjaga nanti.
Tak sanggup rasanya aku melanjutkan langkahku memasuki rumah yang begitu kumuh, kotor dan membuatku sempat mual. Segala amarah yg aku pendam rasanya bagaikan buih dilautan, pecah, luluh lantah diterjang ombak. Seketika naluri kemanusiaanku yang sempat bersembunyi dibalik tiang-tiang keangkuhan dan keegoisanku mulai tertegun melihat suasana yang begitu memilukan.
Tiba-tiba ada sebuah tangan mendarat dibahuku. Sedikit keras dan cukup membuatku tersadar dari pandanganku kedalam rumah kecil itu.
" Gimana Jul? " suara yang begitu aku kenal menyapaku. Kupandang sekilas sosok yang menepuk bahuku itu lalu kembali menatap kedalam rumah itu. " Ketemu orang tua gak tau diri itu? " sambungnya dengan nada suara yg tinggi membuatku dengan secepat kilat meletakkan telunjuk kanan kebibirku.
" Lia, pelankan sedikit suaramu, di dalam rumah itu ada yang sedang tidur " kataku dengan suara setengah berbisik.
Bukannya diam Lia malah tertawa keras dan jelas itu membuatku sedikit kesal kepadanya.
" Lia! " bentakku " Kamu gak ngerti ya?? aku bilang diam! "
" Juli, sejak kapan kamu peduli sama orang lain? " tanya Lia disela tawanya.
" Kita pulang " kataku sembari bergegas meninggalkan tempat itu seolah tak mau menjawab pertanyaan Lia.
" Jul, orang tua itu, kamu ga ketemu? " tanya Lia mencoba menahan langkahku.
Aku terdiam sebentar, kembali aku teringat lelaki tua renta yang berada dirumah kecil tak jauh dari kakiku berpijak ini.
Apa mungkin aku tega menuntut pria tua renta yang hidupnya serba berkekurangan hanya untuk sebuah boneka Teddy Bear. Tuhan... dimana rasa empatiku? Apakah aku sudah buta oleh gemerlap kemewahan dunia sehingga aku lupa akan tempat Maha Indah disisiMu kelak? Batinku bergeming. Tapi... Boneka itu... Boneka itu pemberian Edo. Jika bukan Edo, aku takkan semarah ini. Boneka seperti itu, aku bisa membelinya seratus buah lagi kalo perlu. Tapi bukan Edo yang memberikannya. Kali ini perasaan berlawanan dibatinku.
" Jul, bukannya orang tua itu tadi berjalan kearah sini? " suara Lia kembali menyadarkanku dari kebimbangan yang membuatku tak bisa menentukan apa yang harusku lakukan.
Aku masih diam tak mampu menjawab. Dua sisi pilihan ini benar-benar susah aku putuskan. Dan belum pernah aku dihadapkan kepada dua pilihan sulit ini. Yah... setidaknya sulit bagiku.
Bagiku yang selama ini hidup dalam Kemewahan sehingga sifat manja dan tak pernah peduli akan keadaan terlebih perasaan orang lain mendarah daging ditubuhku. Tubuh yang aku pinjam dari penguasa semesta Alam, Tubuh yang ditiupkan roh ku kedalamnya oleh Sang Rabb. Tubuh yang tak selayaknya merasa paling sempurna akan indahnya paras rupa yang dianugerahkan padanya. Tubuh yang tak seharusnya angkuh karena hidupnya berlimpahan harta. Dan Tubuh ini seharusnya malu karena dengan bangganya berlenggak lenggok melakukan dosa.
Tuhan... aku bingung, aku tau aku salah jika aku masih menuntut Pak Diman. Tapi... apakah Edo rela jika tau boneka pemberiannya aku relakan untuk orang lain? Begitu saja... Yah begitu saja aku relakan tanpa pembelaan?
Saat batinku mencari jawaban dari tiap tanyaku. Tiba2 seketika hujan mengucur deras dan mulai membasahi tubuhku dan jalan setapak dimana aku berdiri. Guyuran hujan dimalam ini membuatku sadar dari lamunanku lalu sedikit panik. Ya... panik...karena hujan. Hujan air. Dan itu pula yang tergambar dari mimik wajah Lia.
" Jul, ayo lari ke depan cari taksi, kita pulang aja dulu malam ini, besok kita cari lagi orang tua itu. " kata Lia sambil menarikku menuju kedepan jalan.
Bagaikan sapi yang dicocok hidungnya, aku ikut saja dengan Lia.
Hujan semakin deras membuat aku dan Lia sudah basah kuyup sekarang. Tapi entah kenapa aku hanya diam, tak seperti biasannya yang langsung mengumpat kepada Tuhan yang menurunkan Hujan ini.
" Aduh Jul, kayaknya ga ada taksi yang lewat sini ya. Angkot apalagi. " kata Lia risau.
" Angkot ? " Tanyaku. Asing sekali aku dengar benda itu disebut dalam keseharianku.
" Iya Jul, saat begini gak apa-apa lah naik angkot. " Sahut Lia lagi.
Aku hanya mengangguk, sungguh cuma mengangguk. Rasanya bibir kaku dan lidahku kelu sehingga sulit sekali aku mengeluarkan kata-kata. Aku hanya memandang sekelilingku yang begitu sepi, sunyi dan senyap. Hanya suara nyanyian kodok2 bersahutan seakan ucpan syukur akan turunnya hujan ini. Kulihat Lia sibuk menekan2 tombol handphonenya.
" Busyet... ini daerah mana sih, signal aja ga ada. Udah pake provider yang katanya signal full terus tetep aja KO. " keluh Lia " Jul Hp mu mana? ada signal ga? "
Aku merogoh tas tanganku, mencoba menemukan benda yang kucari. Kutemukan Handphoneku dan ku keluarkan dari tasku. Handphone mewah model terbaru yang aku beli beberapa hari yang lalu. Padahal sebelumnya handphoneku baru aku beli tiga bulan. Sungguh satu bukti lagi betapa angkuhnya aku.
Aku liat sinyal pada layar Handphoneku lalu mendengus sembari menggeleng tanda hal serupa pada Handphone Lia juga aku liat pada layar handphoneku.
"Ah... gimana dong, masa kita pulang jalan kaki, bisa tepar dong." kembali Lia mengeluh.
Aku hanya diam, ya... diam. akupun tak percaya ini aku. Aku yang selalu mendumel disaat-saat hal tak mengenakkan menimpaku. Kini diam tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sembari aku dengar kata-kata dongkol dari mulut Lia. Tak jauh aku liat Pak Diman, lelaki tua yang kuliat dirumah kecil tadi berjalan dari dalam gang dengan membawa gerobak kecil. Aku kaget dan sedikit bertanya, apa yang sedang dia lakukan malam-malam apalagi hujan deras begini dengan gerobak kecil yang didorongnya menyisiri jalan itu?
" Pak Diman " gumamku setelah sempat terdiam. Lia yang dari tadi mengomel kontan langsung ikut menata kearah tubuh tua renta itu.
" Eh Jul, ini orang tua gak tau diri yang kita cari." bentak Lia.
" Li, tunggu." kataku menahan emosi Lia. Lalu kembali aku alihkan pandanganku kearah Pak Diman.
" Mau kemana non, kok malam2 begini disini, hujan lagi, ntar no sakit." kata pak Diman dengan senyuman tersungging di bibir keriputnya.
" Kami...." sebelum Lia yang tengah emosi melanjutkan kata-katanya, aku langsung menyanggahnya.
" Oh... engga, jalan-jalan aja pak, eh taunya kesasar kesini." elakku. " Bapak ngapaen bawa gerobak hujan-hujan gini."
" Oh... ini, biasa non, sehabis sholat isya, saya mungutin sampah di komplek-komplek, lumayan non buat tambahan ngepulin dapur" jawab Pak Diman ramah dan tetap dikhiasi senyum.
Aku semakin menyesal sempat membawa amarah besar yang tadinya siap untuk aku tumpahkan pada Pak Diman. Sekilas raut wajah Lia pun menandakkan rasa prihatin. Jarang aku dapati wajahnya seperti itu.
" Non berdua gak coba minta jemput Kang Asep? " kata Pak Diman.
" Gak ada sinyal pak." jawabku.
" Oh.. maklum Non, kampung kecil seperti ini, ga ada yang punya hape, jadi gak penting ada jaringan sinyal disini kali." jawab Pak Diman merendah. " Mana malam begini jarang ada angkot lewat sini non, Hujan lagi. Banyak orang takut sama hujan sehingga banyak yang berbondong-bondong mencari tempat berteduh. Apa mereka juga takut mati. Tapi masih banyak yang bangga melakukan bahkan mempertontonkan perilaku maksiat." kata pak Diman.
Kata-katanya ini memekakan telingaku dan menggetarkan hatiku. Apakah itu aku? Aku yang takut hujan. Dan aku yang tak sadar aku nanti akan mati.
" Ya sudah, non Julaika dan Non Lia nginep aja dulu dirumah saya sampai besok pagi, besok pagi biasanya ada angkot yang mangkal diujung jalan sana, nanti saya panggilkan."
" Tapi..." desirku ragu.
" Ga ngerepotin non." sahut Pak Diman seolah tau apa yang aku katakan. " Malah non nanti yang repot nepokin nyamuk kalo nginep dirumah saya."
" Ya udah Jul, daripada kita ujan-ujanan, lagian besok pagi kita bisa langsung pulang." saran Lia.
Aku mengangguk.
Juli, hebat kamu. Ini orang yang akan kamu maki-maki bahkan akan kamu adukan ke polisi. Orang yang berhati mulia menolongmu disaat kau terpuruk tak ada yang menolong. Orang yang selama ini kau Dzalimi, Kau hina dan kau perlakukan buruk. Hebat kamu Jul, masih bisa kau menerima bantuannya. Tapi... dia yang mengambil boneka pemberian Edo. Hatiku kembali bergeming.
Langkah kakiku dan langkah kaki Lia mengikuti langkah kaki Pak Diman yang getir, karena kedinginan oleh guyuran hujan ini atau karena usianya yang sudah renta. Aku dan Lia tak bersua, kami hanya mengikuti Pak Diman menuju rumahnya.
Langkah kakiku yang sedikit berjingkit karena melintasi jalan yang becek terhenti tepat di depan pintu rumah Pak Diman. Rumah kecil dan kumuh yang mungkin istana bagi Pak Diman. Paling tidak dia terbebas dari terik matahari ataupun guyuran hujan. Tapi kurasa tidak juga, begitu kumasuki rumah itu, pandanganku tertuju pada atap rumah yang penuh denngan lubang2 kecil dimana air hujan mengucur dari sana. Sungguh tak habis fikir aku, apakah bisa Pak Diman dan cucunya tinggal ditempat seperti ini? Ini bukan rumah, terlebih istana. Ini gubuk. Gubuk Jul. Gubuk si tua renta dan cucunya.
" Kenapa neng? Lebih bagus kandang Mimi ya? " sahut Pak Diman masih dengan senyum simpulnya.
Tiba-tiba aku teringat kandang Mimi, kucingku, memang jauh lebih bagus dari rumah Pak Diman. Sungguh inikah tempat yang dijadikan tempat bernaung dan berlindung oleh Pak Diman? Mengerikan. Sungguh mengerikan. Hanya ada satu pintu disini. Entah aku sebut itu pintu rumah, atau pintu kamar? Rumah berukuran 4x4 m itu hanya memiliki satu ruang, dimana dia dan cucunya tidur, dimana dia makan dan dimana dia menerima tamu. Bahkan hanya seperempat dari kamarku. Baru kusadari, betapa tak pedulinya diriku. Pak Diman yang tiap hari aku temui, tiap hari memotong rumput di taman rumahku. Tiap hari mencoba menjaga keindahan rumahku dan memberi makan ikan koi peliharaan Papah. Dan Pak Diman yang tiap hari pula aku marahi karena telat membukakan pintu rumah saat aku pulang, Pak Diman yang selalu aku bentak setiap kali beliau tak menyahut saatku panggil dan Pak Diman yang selalu menjadi sasaran tembak amarahku saat aku ada masalah.
"Daripada ngontrak non, walau jelek asal rumah sendiri." lanjut Pak Diman sembari mendekati tumpukkan bambu dimana cucunya tertidur lelap.
Bambu yang disebutnya ranjang.Ya... Ranjang. Konyol memang. Itu hanya tumpukkan bambu beralaskan kain tipis yang kotor.
Pak Diman menepuk-nepuk pelan tubuh cucunya. Sepertinya dia ingin membangunkan cucunya dari mimpi indahnya. Mimpi menjadi cinderella, seorang gadis miskin yang menjadi puteri raja.
Perlahan-lahan gadis kecil dan kurus itu mulai membuka matanya. Dipandangnya wajah kakeknya kemudian geliat kecil melengkungkan tubuh mungilnya.
" Fi, hari ini kakek ada tamu, Fifi tidur sama kakek ya dibawah, biar tamu kakek yang tidur disini." pinta Pak Diman.
Tanpa kata-kata, Fifi, cucu Pak Diman beranjak dari ranjang bambunya lalu berbaring tepat disampingku berdiri. Kupandangi gadis kecil itu. gadis kecil kurus berambut sebahu itu nampak mulai kembali terlelap.
" Ini cucu saya, Fifi, kasian dia, saat usianya 4 tahun dia sudah ditinggalkan mati kedua orang tuanya." kata Pak Diman membuka cerita." Biasa lah pedagang asongan suka gak liat2 kalo nyebrang rel kereta api."
" Jadi..." Desir Lia.
" Ya anak sama mantu saya ketabrak kereta api." jawab Pak Diman enteng.
" Bapak gak sedih." tanyaku heran melihat ekspresi santai Pak Diman.
" Awalnya saya pasti sedih non, malah saya menangisi kejadian itu, tapi wong itu sudah kehendak Gusti Allah. Manusia sekecil saya bisa berbuat apa." terang Pak Diman tenang, sungguh luar biasa ketabahan yang dia miliki." Ya kalau kejadian itu gak terjadi, mungkin Fifi gak semandiri sekarang, di usianya 8 tahun ini dia sudah pandai bikin kue buat dia jajakan sebelum berangkat sekolah. Semuanya pasti ada hikmahnya non kalo kita mau bangkit dan berusaha."
Kata-kata yang sedikit pun tak pernah terbesit dalam otakku. Seinchi pun dari puluhan meter panjang otakku tak pernah terlintas seperti apa yang di utarakan Pak Diman barusan. Sungguh sosok lelaki tua yang punya semangat dan pemikiran mantap terhadap keyakinan kepada Tuhannya.
" Non berdua tidur disini ya. Maaf jelek non. Mungkin seumur hidup baru kali ini non tidur ditempat ini." lanjut Pak Diman tampak tak enak hati.
Benar. Bahkan tempat tidur Mimi jauh lebih layak daripada ini. Pasti sakit jika tubuh pak diman yang hanya berlapis kulit kering itu dan cucunya membaringkan tubuh kecilnya disana. Itu cuma tumpukkan bambu, bambu-bambu bewarna kuning gading yang disusun menyerupai ranjang.
Pandanganku beralih pada boneka Teddy Bear biru tepat disamping ranjang Pak Diman. Boneka pemberian Edo dua tahun lalu. Pak Diman telah mengambilnya. Mengmbil boneka satu-satunya yang paling aku sayangi.
Tapi aku tak daya menyalahkan Pak Diman setelah kemurahan hatinya menolongku. Orang yang selama ini selalu menyakiti hatinya. Hatinya yang begitu mulia.
Andaikan Edo disini, mungkin aku bisa meminta pendapat padanya, apakah harus kurebut kembali boneka itu lalu memarahi Pak Diman. Atau harusku relakan saja Teddy Bear itu untuk Pak Diman? Apa yang akan kau jawab do? Apa yang akan kau pilih? Haruskah aku menanyakan pada nisanmu? Atau kubongkar kembali makammu untuk menanyakan pendapatmu?
" Boneka itu!" desir Pak Diman membuatku seketika menatap wajah pak Diman dalam. Wajah tuanya dengan dahi yang agak menyerngit. " Bu Ross yang kasih."
" Mamah?" kejutku.
Untuk apa mamah memberikan boneka itu untuk Pak Diman? Mamah kan tau itu boneka kesayanganku. Pemberian Edo yang terakhir kali sebelum kecelakaan maut itu merenggut nyawa dan cita-citanya tepat di ulang tahunku yang ke-17.
" Iya non, Tadi sore, bu Ross memberikan boneka ini untuk cucu saya Fifi." lanjut Pak Diman." Katanya boneka ini membuat non berubah menjadi orang gila."
" Gila? maksud bapak?" tanya Lia heran.
" Setelah mas Edo meninggal, boneka ini dianggap non Juli seperti pengganti mas Edo, kata bu Ross, semenjak kepergian mas Edo, Non Juli sering ngomong sama boneka ini, bermain dan menari-nari dengan boneka ini."
Aku terdiam. Mataku mulai sembab mencoba menahan buliran-buliran air mata yang ingin jatuh menerobos katup mataku. Memang, setelah Edo pergi boneka itu aku anggap pengganti posisi Edo. Dimana aku curhat, dimana aku berbagi es krim, dimana aku marah saat teman-teman sekolah yang menyebalkan mulai meledekku ataupun saat aku mencoba menceritakan banyak hal tentang kesombonganku. Persis seperti yang aku lakukan saat disamping Edo.
" Jul, benar kata Pak Diman." tanya Lia sambil menatapku tajam.
Tak sedikitpun mampu aku tatap wajah Lia. Air mata yang sedari tadi aku tahan mulai menetes membasahi pipiku. Pipi yang selalu aku rawat tiap minggunya dengan berbagai produk Facial paling mahal.
" Non, Mas Edo udah gak ada, cepat atau lambat semua manusia dimuka bumi ini akan berpulang kepadaNya sesuai janji manusia itu di alam rahim sang ibunya." nasihat Pak Diman.
Sekali lagi aku tak bersua. Bungkam mendengar perkataan Pak Diman.
" Boneka ini benda mati. Dia gak bisa disamakan sama mas Edo."
Semakin deras air mataku menetes ke wajah yang selalu aku lapisi make up dan selalu risau jika ada jerawat yang bersarang padanya.
Aku tau yang aku lakukan selama ini salah. Menganggap Teddy Bear itu adalah Edo. Jelas berbeda, dan akupun tau itu. Tapi hanya Boneka itu yang membuat aku merasa Edo tetap ada disampingku.
Aku belum menceritakan tentang Edo. Edo memiliki sifat yang sama sepertiku. Bahkan garis wajah kami juga memiliki kesamaan. Bentuk hidung dan dagu yang nyaris tak ada bedanya. Hal wajar bagi sepasang anak kembar. Ya... aku dan Edo kembar pengantin.
Dia adalah orang yang paling aku sayangi dalam hidup. Cuma dia yang kuyakini mengerti diriku. Tapi semua mendadak berubah. Berubah menjadi kelam dan hitam saat petaka itu merenggut Edo dari sisiku.
Dua tahun lalu, tepat dihari ulang tahunku yang ke-17. Edo mengalami sebuah kecelakaan maut. Mobilnya menabrak tronton besar. Saat itu dia mau menghadiri pesta ulangtahunku. Ulang tahun kami. Di jok depan mobilnya aku temukan Teddy bear biru itu dan secarik kertas berisi tulisan tangan Edo.
Julaika ku sayang...
Sahabatku... saudaraku...
Kini usiamu sudah beranjak dewasa.
Mudah-mudahan sifatmu juga semakin dewasa dan bijaksana.
Teddy bear ini sengaja aku bingkiskan untukmu.
Dengan ini aku harap kau tak kesepian jika nanti aku tak disampingmu.
Anggaplah dia Edo mu yang selalu ada untukmu.
Edo
Itu sebabnya aku tak pernah rela jika boneka itu diambil siapapun termasuk Pak Diman. Tapi harusnya akupun tak semestinya memperlakukannya selayaknya saudara kembarku Edo. Dia hanya seonggok benda mati yang tak bisa bicara bahkan mengangguk tanda setuju. Betapa konyolnya aku. Desir batinku.
Baruku tersadar akan kegilaanku selama ini. Aku sia-siakan dua tahun hanya untuk mengagungkan boneka Teddy Bear itu. Pak Diman sekali lagi memberikanku pelajaran hidup. Bahwa segala yang bernyawa pasti akan mati. Termasuk Edo dan juga diriku nanti.
" Tapi kalo non Juli ingin mengambil bonekanya kembali, ini non ambil saja." kata Pak Diman sambil menyodorkan boneka Teddy Bear itu kehadapanku. "Tapi jangan non menyiksa diri non dan mas Edo disana dengan menganggap boneka ini adalah jelmaan mas Edo."
Aku tak bergeming, tak mengangguk dan pula tak menggeleng. Aku hanya diam. Ya... benar-benar hanya diam. Ada rasa penyesalan dari sanubariku terdalam. Benar kata Pak Diman. Menganggap Teddy Bear ini sebagai flagiat dari Edo merupakan suatu hal yang salah. Hal yang semakin menyiksa jiwaku dan bahkan semakin menyiksa Edo di alam kuburnya. Betapa dzalimnya aku pada diriku sendiri. Sungguh perbuatan setan yang dua tahun ini aku lakoni. Perbuatan yang tak percaya pada Qadar Allah.
" Ambil saja kembali non bonekanya." kembali Pak Diman bersua sembari meletakkan boneka Teddy Bear itu kepangkuanku. " Ya sudah Non berdua istirahat saja, ini ada pakaian almarhumah anak saya. Sangat lusuh dan jelek memang. Tapi pakaian ini pakaian favoritnya dan sudah pasti terbaik dari pakaiannya yang lain."
Pak Diman menyodorkan dua lembar pakaian terusan milik mendiang puterinya. Memang jauh sekali dengan model2 pakaianku. Mungkin dirumahku pakaian ini sudah dipakai bi Ijah sebagai kain lap. Tapi pakaian ini yang membantuku menghilangkan rasa menggigilku karena basah kuyup didera hujan.
Tiba-tiba suara berisik terdengar dari sudut rumah itu. Pak Diman terlihat mencoba mengais2 uang receh dari tabungan tanah liatnya yang baru saja dia pecahkan. Untuk apa malam-malam seperti ini dia membongkar tabungannya yang sudah bertahun-tahun ia kumpulkan?
" Buat apa pak?" tanya Lia heran.
" Oh ini, saya yakin non berdua belum makan malam. dirumah ini saya dan Fifi cuma makan nasi dan telur rebus. Itupun yang ada cuma nasi saja yang tersisa. Nah saya mau membelikan makanan yang hampir serupa seperti yang non makan sehari-hari. Bukankah tamu itu harus kita muliakan. Tamu itu rezeki, penghilang penyakit yang bersarang dalam rumah. Lagipula terakhir kali ada orang bertamu kerumah ini saat melayat anak dan mantu saya."
" Tapi pak... itu uang tabungan bapak." kataku pelan.
" Tabungan bisa dikumpulkan lagi, sudah bapak mau mungutin sampah di komplek depan dulu. Pulangnya bapak belikan makanan buat non, maaf mungkin makan malamnya terlambat. Non berdua istirahat saja."
" Masih hujan pak." peringatku ketika Pak Diman beranjak menuju pintu rumahnya.
" Sudah biasa non." kata Pak Diman seraya kembali melanjutkan langkahnya.
Beberapa jam kemudian aku mulai terjaga ketika sayup2 terdengar oleh indera pendengarku suara pekikan roda gerobak Pak Diman yang terkena kubangan air hujanr. Aku sempat terlelap semenjak kepergian Pak Diman dari rumahnya. Sempat aku liat dari jam yang terbelit dipergelangan tangan kananku. Tangan kanan? Ya... ini salah satu kebiasaanku, mengenakan jam tangan di pergelangan tangan kanan tak seperti kebanyakan orang.
Hujan sudah reda, entah kapan redanya, mungkin saatku terlelap di ranjang dari tumpukkan bambu punya Pak Diman.
Sudah pukul 22 lewat 10 menit. Jam segini Pak Diman baru pulang. Ya Tuhan... orang setua itu harus bekerja sekeras ini. Pintu rumah dibuka perlahan oleh Pak Diman, namun suara gesekannya dengan lantai masih terdengar jelas dimalam gulita ini.
" Maaf non membuat non terbangun." kata Pak Diman begitu masuk kerumahnya dan menemukanku terduduk diatas ranjangnya yang terasa empuk bagiku dimalam ini. Ranjang bambu itu? Ya.. entah mengapa terasa lebih enak daripada kasur empukku dikamar.
" Bapak baru pulang?" tanyaku prihatin.
" Iya non, kalau gak hujan biasanya jam 9 atau setengah 10 udah pulang."
" Bapak gak capek?"
" Capek pasti non, tapi ini demi Fifi. Demi uang sekolahnya. Walaupun dia anak tukang kebun seperti saya dia harus sekolah di sekolah paling bagus non, biar nanti dia juga jadi orang bagus." kata Pak Diman.
Terlihat dari rona matanya yang sipit akan ambisinya itu.
" Nah ini bapak belikan nasi goreng sama ayam panggang buat non dan non Lia. Ayo bangunkan non Lia buat makan dulu nanti sakit kalo gak makan malam."
Mungkin karena lapar yang menjalariku dan Lia, kami dengan lahapnya menyantap makanan pembelian Pak Diman itu. Mungkin makanan seperti ini sangat biasa bagiku, tapi malam ini rasanya begitu nikmat. Apakah karena seharian aku belum makan atau karena makanan ini begitu tulus dipersembahkan Pak Diman untuk kami.
Malam pun berlalu cepat, pijaran sinar bulan malam tadi mulai tenggelam beralih pancaran paparan matahari seolah siap menjalankan pergantian tugas shift nya dengan bulan.
Pelajaran malam tadi sungguh luar biasa bagiku. Pelajaran dari seseorang tua renta yang selama ini aku hina dan aniaya. Pelajaran yang tak bisa aku dapatkan disekolah termewah dan termahal manapun jua. Orang seperti Pak Diman yang hidup berkekurangan masih mampu membantu orang lain tanpa peduli orang itu telah berlaku kasar dan bahkan biadap padanya. Dan hal yang aku sesali sempat berprasangka buruk pada Pak Diman. Pak Diman orang baik dan sholeh tak mungkin mencuri. Apalagi hanya mencuri sebuah boneka Teddy Bear bewarna biru. Seharusnya itu yang aku fikirkan dari awal. Sudah aku putuskan untuk merelakan kepergian Edo dan merelakan Teddy Bear ini untuk Pak Diman, untuk Fifi.
Lebih seminggu setelah malam itu Pak Diman tidak muncul lagi untuk membereskan rumah dan tamanku.
Setelah malam yang 180 derajat merubah perilakuku itu tak pernah lagi aku melihat sosok lelaki kurus dan tua renta itu. Mamah sempat heran kenapa Pak Diman tak datang tanpa kabar. Selama lebih 4 tahun dia bekerja pada keluarga kami dia tak pernah tak datang tanpa ijin.
" Jul, kamu tau rumah pak diman kan?" tanya mamah saat aku baru pulang dari kampus.
" Iya, sekitar 1 jam dari sini mah." jawabku heran." Kenapa mah?"
" Pak Diman udah lebih seminggu gak datang, mungkin beliau sakit Jul, makanya mamah mau jenguk."
Kembali lagi aku menjambangi rumah kecil, kumuh dan sempat membuatku mual karena baunya. Kali ini dari pintu yang terbuka itu tak aku liat keberadaan Pak Diman, hanya ada Fifi bermain-main dengan boneka Teddy Bear. Ya boneka Teddy Bear bewarna biru pemberianku. Dimana Pak Diman? Batinku. Mungkin sedang keluar.
"Assalamualaikum." mamah mengucap salam.
" Waalaikum salam." sahut Fifi sembari berlari keluar rumah." Cari siapa?" tanyanya tampak heran.
Mungkin selama ini tak pernah di dapatinya ada tamu dengan pakaian parlente seperti mamah.
" Pak Diman ada?" mamah bertanya ramah.
" Kakek? Ada dibelakang. Kata Kakek kalo ada tamu menanyakannya suruh langsung antarkan saja menemuinya dibelakang." kata Fifi sembari menggandeng tangan mamah dan mengajak kami berjalan menuju belakang rumah itu.
" Ini Kakek." kata Fifi sambil menunjuk sebuah gundukkan tanah yang dipangkalnya terdapat nisan dari kayu yang sudah mulai lapuk.
Pak Diman sang guru yang berjasa mengingatkanku akan kenyataan. Mengajarkanku banyak hal hanya dalam satu malam kini terbaring diterminal penantian terakhirnya sebelum menuju tempat yang paling hakiki nanti. Pak Diman telah pergi. Pergi menemui dua malaikat yang akan menanyai dan menghakimi perbuatan kita didunia. Pergi meninggalkan cucunya Fifi sebatang kara. Benar-benar sebatang kara.
Ternyata sejak kehujanan malam itu besok harinya Pak Diman sakit. Mungkin tubuh rentanya sudah tak sanggup lagi menahan guyuran hujan di malam hari itu. Dia pun jatuh sakit, karena biaya dan tak ada keluarga lain selain Fifi, Pak Diman akhirnya meninggal dua hari berselang setelah malam itu. Dan malam itu adalah pertemuan terakhirku dengan sosok dengan keikhlasan dan keteguhan hati luar biasa. Bahkan aku tak sempat meminta maaf atas segala perlakuan kasarku selama ini. Tapi aku yakin hati semulia Pak Diman dengan ringan akan memaafkan segala perbuatanku yang menyakitkan beliau. Ya.. paling tidak itu harapanku. Karena aku hanya bisa berharap.
Akhirnya Papah dan Mamah memutuskan mengadopsi Fifi sebagai anak angkat mereka. Mungkin inilah yang disebut Pak Diman setiap kejadian sekecil apapun ada hikmahnya. Hikmah yang begitu luar biasa.
Fifi bisa mendapatkan orang tua baru yang mampu mengayomi dan menjadi tempatnya berlindung. Aku bisa memiliki saudara baru. Saudara baru yang pastinya mampu memberikan reaksi dari semua aksi yang aku lakukan padanya. Dan yang terpenting dia bukan benda mati.
Dan tak aku sangka, aku bisa melihat kembali boneka Teddy Bear bewarna biru itu. Ya... Boneka Teddy Bear yang pernah aku berikan untuk Pak Diman.
THE END