Seorang Wanita paruh-baya tengah terduduk di depan latar rumah berkayu itu, mulutnya terus bergerak-berbicara dengan suara yang sangat lirih terdengar.
Entah dia berbicara dengan siapa, karena ia hanya sendiri di sana dan pandangannya terfokus pada tempat duduk di depannya namun terkadang juga menoleh ke samping atas.
Ia nampak benar-benar berbicara dengan seseorang sambil sesekali bertanya lalu ia jawab sendiri.
"Siapa yang mati di sungai?" tanya Wanita paruh-baya dengan suara aslinya yang cempreng itu.
"Tak tahu, tapi katanya seorang Pria." jawabnya sendiri namun dengan suara yang terdengar lebih kuat dan tegas, seperti seorang Pria.
Seorang gadis setinggi 150 centi meter yang memang masih berumur 14 tahun berjalan menuju pintu rumah yang terbuka sambil sesekali melirik kearah Wanita tua itu yang ternyata neneknya dari ibunya. Juliati, nama nenek gadis bernama Ayala tersebut.
"Nek, tidak masuk?" tanya Ayala hanya berbasa-basi sambil melangkah pelan menuju pintu rumah.
"Tidak! Masih ingin di sini." jawab Juliati terdengar sedikit marah dengan perkataan Ayala yang tak bermaksud apa-apa.
Ayala dengan sengaja mengerutkan wajahnya dan menatap aneh neneknya yang kembali berisik. Ayala lalu berjalan cepat sambil terus menatap Juliati yang tak memperdulikan tatapan menjengkelkan darinya itu.
Ayala dan keluarganya tahu bahwa neneknya atau Juliati ini terkena penyakit Skizofrenia, yaitu mendengar bisikan-bisikan dari telinga dan berbicara sendiri.
Namun Ayala dan keluarga lebih menyebutnya sebagai gangguan dari jin atau hantu karna seorang Ustad yang luar biasa hebatnya telah menyebut penyakit medis ini sebagai gangguan jin, biasanya dulu pernah berangan-angan yang kuat namun ketika gagal ia depresi dan datanglah jin-jin yang menyukai orang putus asa.
Ayala melepas hijabnya, mengganti baju tertutupnya dengan baju yang lebih terbuka. Ia lalu merapikan ikat rambutnya dan segera keluar dari kamar menuju dapur untuk mencari makanan.
"Yeay! Tempe dan sambel! Makan aah!" seru Ayala mengambil sambal sesendok penuh lalu mengambil tempe 2 dan nasi setengah sendok besar.
Ayala lalu melangkah menuju ruang tamu untuk ia makan sambil melihat TV. Ia terlihat serius menonton tayangan yang ada sambil mulutnya mengunyah.
Pandangannya lalu teralih kepada Juliati yang memasuki rumah sambil berbicara pelan seperti biasa, namun ditengah perjalanannya ia tiba-tiba berteriak.
"Jangan Sugeng! Dia masih kecil! Umurnya masih 14 tahun!" teriak Juliati menarik perhatian Ayala yang menoleh spontan padanya.
"Kalau ingin cari istri jangan yang masih kecil!" kata Julianti bagai menjawab sosok yang berbicara dengan suara yang rendah dan terdengar santai.
Juliati lalu berjalan kembali setelah ia berteriak sambil menatap sesuatu diatas sedangkan Ayala masih terpaku dengan perkataan Neneknya yang sepertinya membicarakan dirinya.
Jantungnya berdetak cepat, napasnya memburu dan tatapannya nanar. Ayala takut bercampur jijik dengan apa yang ia persangka.
"Benarkah jin bernama Sugeng itu menyukai ku? Ya Allah! Lindungilah hamba!" kata Ayala dalam hati sambil mencoba menenangkan dirinya.
×
[ 05:40 ]
×
Tak terasa, sore sudah berganti menjadi petang, adzan Magrib berkumandang merdu dan lantangnya terdengar.
Inilah saatnya Ayala melakukan ibadah sholat Magrib, tepat setelah bait lantunan adzan itu selesai, Ayala segera pergi ke kamar mandi untuk terlebih dahulu mencuci wajahnya.
Digosoknya perlahan sabun untuk wajah itu di telapak tangannya agar busa sabunnya menjadi lebih banyak. Posisi Ayala menyamping ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, Ayala lalu meratakan seluruh busa itu kewajahnya dan menggosoknya pelan.
Tatapan Ayala yang terlamun ke bawah tiba-tiba bergerak melirik ke samping karna Ayala rasa seseorang sedang memandangnya namun di sana tidak ada siapapun.
Ayala pikir itu hanya halusinasi karna memang ia hanya merasa tidak secara langsung melihat, tapi ia juga bisa melihatnya secara tidak nyata namun hanya ada di ujung mata atasnya.
Ah! Entah apa yang bisa digambarkan karna ini memang sesuatu yang sulit dimengerti.
Ayala lalu membasuh wajahnya hingga bersih lalu keluar kamar mandi dan menuju tempat wudlu yang berada di luar kamar mandi, lebih tepatnya berada di depan pintu kamar mandi.
Masih menyamping kearah lorong pendek rumahnya, Ayala yang berwudlu juga masih merasa ditatap oleh seseorang di lorong itu.
Seperti, saat ia terfokus ke depan, seseorang itu muncul, namun saat ia hanya merasakan kehadirannya makhluk itu pergi.
Setelah berwudlu, kakinya berjalan melewati tembok tak berlampu di lorong sejauh 5 meter itu. Ia lalu berhenti di depan pintu kamar yang sebagian tembok lorong tersebut juga tembok kamar tidurnya.
Ayala langsung masuk sambil mengambil mukena yang berada di samping pintu kamar dan memakainya lalu ia segera melaksanakan ibadah sholat.
~~~
~~~~
~~~~~
"24 karat magic in the air.. Head to toe so player."
Lantunan lagu 24k Magic dari Bruno Mars terdengar seirama dengan gerakan Ayala yang disebut tarian itu.
Keringat membasahi punggung, dahi dan leher gadis yang tak terlihat lelah ini. Tentu saja ia tidak lelah karena ia setiap hari menari dengan ritme yang cepat dan berlangsung selama 2 jam biasanya.
Namun karna ini ia lakukan setelah Magrib jadi mungkin ia hanya akan menari selama 30 menit saja dan dilanjutkan kembali nanti malam jam 9 tentu saja dengan earphone agar tidak mengganggu Neneknya yang tertidur nanti.
"When i walking with you, i watch the whole room change."
Tidak ada jeda, Ayala terus menari sambil menyanyikan lagu Finesse dari Bruno Mars dengan suara merdu miliknya itu. Tatapanya terus mengarah kedepan yang memantulkan dirinya lewat kaca, melihat dirinya sendiri yang begitu hebatnya menari.
Setelah ia menari dengan 10 lagu berjudul 24k Magic dari Bruno Mars , Finesse featuring Cardi B, Please Me featuring Bruno Mars, I Like It dari Cardi B featuring Bad Bunny dan J Balvin, Uptown Funk dari Mark Ronson bersama Bruno Mars, Perm dari Bruno Mars, Runaway dari Bruno Mars, Perm dari Bruno Mars, 7 Rings dari Ariana Grande, That's What I Like dari Bruno Mars.
Ayala langsung berbaring telentang, dia tidak lelah tapi hanya ingin merenggangkan otot tubuhnya yang sedikit linu dibagian tangan kanan dan kaki kanannya.
Mata Ayala tertutup mencoba untuk sedikit tenang sesaat, namun rasa intimidasi, hembusan angin dingin, kehadiran makhluk halus dan rasa takut menyerap dirinya.
Matanya langsung terbuka dan menatap sekitarnya, takut bahwa ia terperangkap hawa negatif ini dan selanjutnya sampai tidak bisa bergerak karena saking takutnya, seperti ia masa kecil dulu.
Suara adzan-pun kembali terdengar membuat Ayala segera bangkit dari kasurnya dan keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi.
Saat memasuki kamar mandi, Ayala entah kenapa merasa ada seseorang mengikuti dirinya lalu tanpa pikir panjang wajahnya langsung ia arahkan ke belakang.
Seperti de javu, tidak ada siapapun disana, namun Ayala sangat bisa membayangkan bagaimana rupa sosok itu.
Rambutnya cukup panjang sedada, wajahnya tak terlihat namun sepertinya lusuh, badannya besar dengan jubah putih usang yang panjangnya dapat menyapu lantai rumah.
Ayala pikir itu sejenis Kuntilanak yang sering mengganggu dia di ruang samping, tapi Ayala juga kurang yakin karna Kuntilanak tersebut posturnya cukup kecil-ramping dan hanya sering berucap "heum" panjang saat dia dikamar mandi ini.
Menghembuskan napas panjang, Ayala akhirnya menutup saja pintu kamar mandi agar sosok itu tidak melihatnya. Namun sepertinya tindakannya tidak juga aman, karna semilir angin bak sedang dipantai itu datang dibagian leher dan telinga Ayala.
"Heuum." suara deheman yang begitu halus nan panjang masuk dipendengaran Ayala.
Walau sudah 4 kali dirinya mendengar itu, tapi tetap saja jantungnya terasa digenggam kencang karna ketakutannya. Mencoba meredam rasa takutnya Ayala segera bersuara.
"Hish! Takut tahu!" seru Ayala berlagak pelan membuka pintu kamar mandi kemudian kembali berkata.
"Kau pikir aku berani apa! Tapi awas kalau kau sampai benar-benar mengganggu ku, aku bisa marah!" ancam Ayala lalu bersiap-siap untuk mencuci wajahnya yang tadinya penuh dengan keringat.
—
Setelah Ayala beribadah wajib yang terakhir kalinya hari ini, Ayala segera merapikan kasur untuk ia tidur nanti, bibirnya bergerak melantunkan lagu sambil ia menata letak kasur, walau kelihatannya ia hanya fokus dengan kegiatannya namun Ayala was-was dengan sesuatu yang sedang menatapnya tajam.
Setelah kamarnya rapi, Ayala segera keluar dari sana dan berjalan panjang menuju pintu rumah ini. Ditutupnya pintu rumah lalu ia melirik sebentar kepada Julianti yang terdengar menyebutkan namanya.
"Kalo Ayala itu masih muda, jangan ganggu dia. Cari wanita lain." kata Julianti menatap pekat kearah depannya namun juga sedikit keatas.
Ayala semakin merinding mendengar pembicaraan Neneknya yang kemungkinan dengan jin bernama Sugeng itu. Cepat-cepat Ayala masuk kamar dan menutup pintu kamar, ia duduk termenung memikirkan dirinya dan Sugeng.
"Jadi Sugeng maksudnya menyukai ku?" kata Ayala dalam hati sambil meremas kaos hitamnya yang terletak didada.
Ayala lalu membaringkan tubuhnya dan menatap keatas dengan tatapanya yang terlihat begitu khawatir, didalam hati ia berdoa kepada Tuhan agar ia dapat dilindungi oleh-Nya dari segala kejahatan dunia apapun.
Tubuh Ayala bergerak menyamping mencoba mencari letak yang nyaman untuk ia bisa tidur lelap, tatapan Ayala lekat kedepan agar ia bisa melihat dengan tajam sesuatu disekitarnya.
Sosok itu terus memandangnya lewat belakang tubuh Ayala dengan aura yang begitu menyusahkan Ayala untuk bergerak.
Ayala secara tiba-tiba menoleh pada keberadaan sosok pengintai itu yang seperti biasa langsung menghilangkan diri, namun Ayala tidak ingin gentar, ia masih saja menatap kearah belakang tubuhnya yang hanya terlihat dinding berbahan kayu tipis itu.
"Kurang ajar, beraninya dibelakang saja!" gerutu Ayala memasang wajah menantang dan meremehkan pada udara lalu tubuhnya akhirnya berbalik menghadap sosok yang tadinya sedang menatap dirinya.
Baru setengah menit ia menunggu kedatangan sosok besar namun penakut tersebut, akhirnya jin, setan atau apalah itu datang dan kembali dengan aura menyeramkan menatap Ayala namun masih dengan pengecutnya ia membelakangi Ayala yang melirikkan pandangannya pada jin tersebut.
"Tidak bisa! Jika seperti ini terus aku ketakutan." pikir Ayala lalu sama seperti sebelumnya, ia dengan bergerak mengejutkan menoleh pada makhluk itu yang sampai sekarang tidak bisa ia tatap dengan jelas.
"Dasar pengecut! Kau takut pada ku 'kan?" seru Ayala sambil diakhir katanya memukul ranjang dengan kedua kepalan tangannya pelan.
Akhirnya Ayala ber-inisiatif untuk pergi saja keruang tamu. Entah kenapa setiap ia berjalan seseorang juga ikut berjalan mengikuti dirinya, namun Ayala hanya merasa tidak melihat langsung.
Sesampai di ruang tamu, Ayala mendapati Julianti yang jarang sekali terdiam seperti ini. Ayala lalu menyalakan televisi dan memilih salah satu stasiun TV yang akan ia tonton.
Ayala dengan serius melihat tayangan tersebut hingga suara teriakan melengking Julianti membuatnya spontan menoleh dengan wajahnya yang terkejut.
"Kalau kau ingin mendekatinya, jangan dengan aku! Kau sendiri sana!" teriak Julianti terlihat sedang menuturi seseorang dengan kepalanya yang mendongak keatas.
Ayala kembali berfikir jika mungkin itu adalah Sugeng namun ia masih tidak tahu bahwa sosok yang baru-baru ini mengikutinya itu adalah Sugeng.
"Dasar gadis murahan Ayala! Murahan! Tak punya harga diri!" teriak Julianti lagi, namun kali ini suara terdengar seperti wanita yang genit dan sangat marah padanya.
Namun arti dari perkataan Julianti itulah yang membuatnya naik pitam, ia tak sudi dihina oleh jin yang kafir dan akhirnya akan masuk ke neraka itu.
"Heh! Kau itu yang murahan! Menjijikan! Dasar jin hina! Asal neraka kembali ke neraka!" seru Ayala tak kalah tinggi suaranya dari Julianti.
Setelah berbicara seperti itu, Ayala lalu mematikan televisi dan melangkah pergi sambil menatap tajam Julianti yang terlihat terperangah mendengar suara nada tingginya.
Ayala menutup pintu kamar lalu bersandar dipintu tersebut sambil berusaha mengatur napas dan memegang dadanya karena ingin merasakan detak jantungnya yang terasa akan lepas.
"Jin konyol tak tahu diri! Beruntung perkataan ku tadi tidak belepotan." gumam Ayala masih berada diposisinya.
Ayala lalu berjalan menuju ranjangnya, ia lalu mengambil ponselnya dan membuka SNS Instagram.
Dilayar besarnya terlihat foto profil seseorang dan nama akun tersebut, Ayala dengan konyolnya tersenyum manis sambil melihat deretan foto pemilik akun tersebut.
Mungkin inilah salah satu ide Ayala yang ingin segera meredakan amarahnya dengan melihat foto idolanya yang berprofesi sebagai timnas senior itu.
Ayala terus memainkan ponselnya, entah itu video, foto, menulis, atau bermain game.
Sampai waktu menunjukkan pukul 9 malam, Ayala akhirnya mematikan cahaya layar ponselnya dan membenarkan letak selimutnya lalu mencoba untuk tidur walau sosok yang Ayala pikir kuntilanak itu terus menghantuinya.
—
Ayala kebingungan, ia melihat kesana-kemari mencoba menemukan jalan keluar dari ruangan tanpa penerangan ini.
Ayala lalu berjalan menuju sebuah pintu besar untuk ia mungkin bisa keluar dari sini, namun saat ia sudah terlanjur melangkah melewati pintu besar itu sepertinya Ayala malah terjebak.
Ayala semakin ketakutan, ia lalu berbalik dan mencoba untuk menarik pintu itu namun tenaganya seperti sudah hilang.
"Ayala." panggil seseorang bersuara Pria yang terdengar berada dibelakang gadis itu.
Ayala berbalik dan melihat sosok itu, wajahnya samar dan bajunya panjang dan lebar kebawah, seperti bajunya orang Timur Tengah.
Pria itu terus mendekat pada Ayala tanpa berkata apapun, ia hanya terus mendekati Ayala yang sangat lebih kecil darinya.
"Kau milik ku!"
Mata Ayala terbuka sempurna dan telinganya langsung mendengar suara adzan Subuh.
"Alhamdulillah." gumam Ayala masih berbaring untuk mengumpulkan kesadarannya selepas tertidur panjang.
"Agh, bismillah." ucap Ayala sambil terbangun dari tidurnya dan perlahan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah ia hampir sampai tepat didepan pintu kamar mandi, Ayala mendengar suara Julianti didalam sehingga dia menahan tangannya untuk menyentuh knop pintu kamar mandi.
"Sudah! Kau diam Julianti!" teriak nenek Ayala yang berada didalam kamar mandi itu.
Ayala lalu bersandar ditembok kamar mandi sambil menunggu keluarnya Julianti nanti.
"Kurang Ajar! Semua menantang ku! Jangan ada yang melawan! Aku ini Sugeng!" teriak Julianti terdengar oleh Ayala yang berusaha memanfaatkan momen ini.
"Sugeng sudah mati! Sudah dipenjara dengan Allah! Amin!" teriak Ayala secepat mungkin setelah Julianti berbicara.
Julianti yang dari tadi terus berbicara sekarang terdengar diam, mungkin karna suara Ayala tadi yang membuat Julianti dan jin-jin yang ada didalamnya terdiam-terkesiap.
Ayala bahkan juga cukup terkejut dengan semua perkataannya tadi, tapi ia juga lega karna bisa melepaskan suara isi hatinya.
Beberapa waktu kemudian pintu kamar mandi-pun terbuka dan muncul-lah Julianti yang saat membuka pintu langsung menatap Ayala yang juga menatapnya dengan tatapanya yang ia buat setajam mungkin.
"Bocah kok jawab terus." gumam Julianti sambil melangkah dan membuang tatapanya dari Ayala.
Ayala terlihat menghembuskan napas berat setelah kepergian Julianti, didalam hati ia juga berucap meminta perlindungan dari Tuhan.
"Astagfirullah." gumam Ayala lalu memasuki kamar mandi dan menutupnya.
—
Ayala mengakhiri ibadahnya dengan bergumam 'Alhamdulillah' sambil telapak tangannya ia sentuhkan diwajahnya.
Ayala lalu merapikan mukena, namun wajahnya terlihat muram dan kebingungan karna ia tengah memikirkan sesuatu.
"Oh ya ya, orang dimimpi ku itu pasti Sugeng." kata Ayala dalam hati sambil masih melipat mukena-nya.
"Huh! Kalau wajahnya setampan Daneo pasti aku suka. Eh! Cih! Ternyata aku gila ya." gumam Ayala sambil menampar pipinya pelan diakhir katanya tadi.
*
*
Hari sudah petang, Ayala pun sudah berniat untuk mandi hari ini. Ia mempersiapkan segala sesuatu untuk mandi.
Ayala lalu berjalan menuju kamar mandi dan seperti kemarin ia terus merasa diikuti.
Sesampai didepan pintu Ayala teringat sesaat dan segera menengadahkan kedua tangannya dan berdoa.
"Bismillah. Ya Allah, lindungilah hamba dari godaan setan pria maupun wanita. Amin." doa Ayala dengan bahasa Indonesia, ia lupa dalam kata Arab bagaimana tapi yang penting bukankah dari artinya? Dan Ayala cukup ingat bahwa itu arti dari doa masuk kamar mandi.
Entah mengapa setelah berdoa seperti itu Ayala merasa tidak terbebani, seperti sosok yang terus mengikutinya itu pergi atau kabur.
"Heum, alhamdulillah." gumam Ayala berterima kasih kepada Tuhan yang sudah mengabulkannya.
Ayala lalu memasuki kamar mandi dan bersiap-siap untuk membersihkan tubuhnya.
*
Setelah 20 menit Ayala didalam kamar mandi, ia keluar lalu berjalan luar rumah untuk menjemur bajunya.
Sesampai disana Ayala bertemu dengan Julianti yang terus menatapnya dengan mulutnya yang terus berbicara.
"Kenapa Nek?" tanya Ayala setelah selesai menjemur semua bajunya.
Julianti langsung memalingkan pandangannya dari Ayala dengan senyum dibibirnya yang jarang diperlihatkan.
"Tak apa, hanya melihat mu yang sedang menjemur." jawab Julianti seolah ia malu karna Ayala tahu bahwa ia sedang melihatnya.
Ayala tiba-tiba berpikir jika yang ia ajak bicara tadi adalah Sugeng, Ayala langsung bergidik ngeri bercampur jijik lalu segera pergi dari hadapan Julianti.
"Ih! Jijik. Ya Allah! Lindungilah hamba mu!" seru Ayala saat sudah memasuki rumahnya.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, ini saatnya Ayala untuk melihat acara televisi yang cukup ia gemari. Langkah kakinya membawa Ayala keruang tamu, ia lalu menyalakan televisi dan menekan tombol nomor 1 diremote-nya.
Terlihat tema dari acara kali ini sedang membicarakan isu-isu korupsi. Ayala terlihat sangat menyimak pembicaraan presenter dan seorang juru bicara KPK.
Julianti terlihat keluar dari kamarnya dan melirik kearah televisi yang terdengar sangat menarik, apalagi reaksi Ayala yang terlihat ber-antusias melihatnya.
Karna penasaran, Julianti lalu berjalan menuju ruang tamu dan duduk dikursi yang sama dengan Ayala. Namun sepertinya Ayala malah waspada dan terlihat membatasi geraknya.
Sepertinya acaranya sudah usai, Ayala lalu mematikan televisi dan melirik cepat kearah Julianti yang masih membicarakan tentang acara televisi tadi.
"Nenek tidak tidur?" kata Ayala mengajak Julianti untuk beranjak dari tempat ini.
"Iya, nanti." jawab Julianti yang sepertinya dirinya sendiri yang berbicara.
Ayala lalu berjalan ke belakang menuju kamarnya dengan aura gelap yang mengikutinya. Ia beberapa kali melihat kebelakang karna ingin menangkap sosok makhluk halus itu.
Sesampai dikamar Ayala langsung menjatuhkan tubuhnya dikasur—berniat untuk langsung tidur. Karena ia sudah terlalu mengantuk ia sampai tak ingin memperdulikan sosok pengintai-nya tersebut.
~~~~~
Makhluk itu datang lagi, anehnya kali ini ia memakai jas dan celana slim fit layaknya orang kerja.
Ayala dimimpi ini tahu dia adalah Sugeng, namun ia tidak berusaha bangun atau setidaknya kabur dari ruangan yang sama seperti kemarin.
Wajah Sugeng kali ini sangat mencolok namun sepertinya berbeda sekali dengan wajahnya yang kemarin.
Namun Ayala tidak menyadarinya, ia hanya terdiam dengan melihat dahi-nya yang lebar, mata-nya yang tajam—hitam lekat, hidung-nya yang bangir namun ramping, bibir-nya yang tebal, rahang-nya yang tegas, semua itu bagai lukisan sungai Mahakam yang tiap memandang keindahannya sampai tak bisa jumpa titik akhir keindahan. Sekali berjumpa dengan-nya bisa menjadi sebuah 'pelet' untuk seorang itu rindu dan akan mencari dan berjumpa kembali, ya seperti sungai Mahakam yang ketika meminum air-nya maka ia akan datang kembali nanti.
Sugeng yang berwajah berbeda itu terus mendekati Ayala, sedangkan Ayala hanya bisa terdiam dan bergerak sedikit untuk bersandar dimeja yang berada disampingnya.
Setelah Sugeng berada didepan Ayala, ia memegang kedua telapak tangan Ayala dan menatap gadis itu lekat.
Entah apakah karna wajah Sugeng berubah menjadi sosok yang sangat Ayala kenal sehingga gadis itu hanya bisa terdiam dan menatap hantu penjiplak wajah itu lekat nan berbunga-bunga.
Ayala tentu mendongak melihat Sugeng, karna bukan hanya wajah yang disamakan, namun ukuran tinggi badan juga dia sama-kan, yaitu yang tingginya Sugeng mungkin sekitar 300cm kini menjadi 187cm.
-
"Ayala."
Kelopak mata Ayala terbuka dan ia langsung teringat dengan mimpi yang baru saja terpotong atau mungkin memang sampai disitu saja.
Bibir Ayala melengkung keatas, tersenyum tipis menandakan bahwa ia bahagia. Ayala langsung beranjak dari tidurnya dengan kaki yang masih terbaring, ia memukul beberapa kali selimut tebalnya lalu menutup setengah wajahnya dengan telapak tangannya dan beberapa kali menggelengkan kepalanya pelan.
Ayala nampaknya begitu senang dengan mimpinya barusan, sampai-sampai ia tak sadar bahwa pria yang berada di mimpinya adalah jin bernama Sugeng.
"Oh! Ya Allah! Astagfirullah!" seru Ayala sambil memegang kuat sisi kepalanya.
Ayala akhirnya malu karena menyadari bahwa ia sangat senang karna si jin Sugeng itu mendatangi dia, tapi tentu bukan karena sosok Sugeng namun sosok yang Sugeng jiplak untuk membuatnya mungkin bisa menerima jin itu.
Ayala bergidik jijik ketika memikirkan maksud Sugeng yang menyamakan wajahnya dengan pria yang Ayala sukai.
"Setampan-tampannya dia, jika itu setan 'kan menggelikan, apalagi wajahnya tidak asli setampan itu. Dasar Sugeng penjiplak wajah orang." gumam Ayala dengan alisnya yang turun curam hingga mengerutkan dahinya dan matanya yang tajam bercampur marah, terlihat sangat terganggu.
Setelah Ayala menunggu beberapa saat adzan Subuh-pun berkumandang pukul 4:25, seperti biasa Ayala bergerak yang intinya menuju kamar mandi.
*
Hari ini Ayala sangat antusias, ia memakai celana longgar, baju kebesaran dan hijab berwarna biru. Pagi ini ia berencana untuk olahraga dari rumah sampai kaki bukit yang jauhnya hanya sekitar 1 kilo meter, ya rumah Ayala masih dalam pedesaan dan pertanian mungkin saja hampir setengah dari perumahan adalah sawah-sawah yang sudah siap panen.
Setelah keluar rumah, Ayala menutup dulu pintu rumah lalu mulai berlari kecil dengan salah satu earphone ditelinga-nya.
Ayala akhirnya sampai dirumah dengan berjalan kaki, terhitung 55 menit perjalanan Ayala yang total jalan tempuhnya mencapai 2 kilo meter.
Tujuan Ayala langsung kepada kamarnya untuk ia beristirahat, namun sebelumnya ia melepas dulu semua pakaian panjang nan besarnya dan menggantinya dengan baju biasa.
Ayala dengan sengaja langsung menjatuhkan kasar tubuhnya diranjang, ia menutup matanya dulu untuk beristirahat sebentar.
Anehnya saat dipagi, siang ataupun sore hari makhluk pengintai itu tidak mengganggu dirinya, hanya malam sajalah yang membuat Ayala merasa ter-intimidasi. Dengan itu tentu saja Ayala merasa bersyukur kepada Tuhan.
Setelah sudah merasa tidak lelah, ia lalu menuju ruang tamu untuk menyalakan saluran televisi yang ditiap paginya ia tunggu-tunggu mungkin lebih menunggu sosok kehadiran seorang ustad yang menurut Ayala begitu spesial.
Waktu pukul 7:00, Ayala akhirnya mematikan televisi karena acara penyejuk hati itu sekarang telah usai.
Masih merasa lelah dan sedikit pusing karena kelaparan dan tidak ada makanan, Ayala mensiasati-nya dengan tidur saja dikamar.
Sesampai dikamar Ayala langsung tertidur dengan kelopak matanya yang kini sudah tidak dapat terbuka dan wajahnya sudah terlihat sangat tenang, seperti seorang yang tertidur lelap karna kelelahan.
*
*
"Kalau kau sampai bersama dengan Sugeng, hidup mu akan selalu terganggu."
Sebuah suara terdengar dimimpi Ayala, gambaran-nya hanya terlihat asap berwarna abu-abu pekat.
"Kalau kau membiarkan Sugeng terus mengganggu mu, mungkin iman mu akan terus berkurang dan kau akan menikah dengannya."
"Tidak!? aku tidak mau!?"
—
Ayala terbangun dengan mata yang terbelalak, jari tangan yang menegang dan tubuh atas yang hampir setengah beranjak.
Wajah Ayala langsung gusar namun tidak sampai menangis, ia lalu bergerak mengambil ponselnya dan melihat jam di wallpaper, waktu menunjukkan pukul 9:06 pagi.
Ayala juga sepertinya kekurangan pangan diperutnya, ia lalu turun dari ranjang dan mencari makanan.
Seharian ini Ayala berwajah lesu, ia semakin khawatir memikirkan dirinya dan Sugeng. Ditiap sholat-nya ia memohon kepada Tuhan agar ia bisa dijauhkan dari perbuatan jahat dalam bentuk apapun.
Sekarang ini Ayala sedang berolaharga yang menurutnya ini adalah olahraga yang paling mudah, yaitu Dance atau bahasa Indonesia-nya menari.
Ayala nampak sangat bersatu dengan irama lagunya yang butuh energi dan kelincahan lebih itu, hingga padam-nya listrik membuat Ayala terpekik dan segera berlari kecil mengambil ponselnya lalu mengetuk gambar berbentuk kepala senter dilayar Android-nya.
Cahaya terang dari balik layar ponsel Ayala, ia lalu berjalan mengambil senter dimeja samping tempat tidur dan menyalakan-nya.
Tidak bisa menari lagi, tapi Ayala masih bisa bernyanyi karena ia sekarang terduduk dipinggir ranjang.
Jari-nya bergerak dilayar ponsel dan mengarahkan ke-kamera depan, ia sedang merekam wajahnya yang bersandar didinding dengan pencahayaan didepannya jadi tak ada penerangan lain selain diwajahnya.
Ayala membentuk wajahnya macam-macam, mulai dari salah satu alisnya naik keatas, hidungnya yang ia runcingkan dan masih banyak lagi.
Saat Ayala sibuk merekam wajahnya ia menangkap pandangan sesuatu dipojok atas kamarnya, seperti kain berwarna putih yang tersangkut disana.
Namun sepertinya itu hanya prasangka Ayala karna tidak ada apapun disana. Lalu Ayala kembali menghadap dan melihat layar ponsel hingga sebuah wajah yang tak mempunyai mata, hidung maupun mulut tengah berada tepat dipundak kiri Ayala.
"Akh!" pekik Ayala langsung menjauh dari tempatnya tadi sambil terus melihat tembok yang tadinya ada sebuah sosok aneh yang ia langsung sangka itu adalah Sugeng.
Lampu lalu menyala dan keadaan kembali seperti semula, namun hanya saja Ayala masih berwajah takut dan detak jantungnya yang melaju keras.
-
Ayala tidak bisa menceritakan tentang kisah tadi pada siapapun karena tidak ada juga yang percaya dengan ceritanya kecuali neneknya yang tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Sekarang Ayala sedang membersihkan ranjangnya untuk ia tidur dijam 10 malam ini.
Setelah bersih, ia langsung membaringkan tubuhnya dan menutup kelopak matanya, namun sudah 10 menit ia tunggu ketiduran-nya masih saja ia terjaga walaupun rasa kantuk itu ada.
Ayala lalu teringat, mungkin Allah tidak membiarkan dia tertidur karena nanti Sugeng akan datang mengacau dimimpinya.
Oleh karena itu, Ayala beranjak terduduk diranjang lalu mengadahkan kedua tangannya.
"Bismillah, ya Allah, hamba mohon kepada mu. Lindungilah mimpi hamba, jauhkanlah hamba dari berbuatan jahat makhluk apapun disaat hamba tertidur. Amin." doa Ayala lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya diakhir kata.
Ayala lalu kembali berbaring dan kantuk-pun semakin mendera hingga membuat jaringan otaknya melemah dan tertidur-lah Ayala.
-
"Bangun Ayala, waktunya mengakhiri ini. Kau ingin terus merasa khawatir 'kah?"
-
Mata Ayala terbuka sempurna dan langsung mendengarkan bait terakhir lantunan adzan Subuh. Ayala langsung berdiri dari tidurnya dengan mengucap 'bismillah'.
Ia terlihat antusias sekali karena kali ini ia nanti setelah sholat akan berdoa kepada Allah.
Ayala dengan khusyuk-nya berwudlu lalu dengan terus menyebut nama Allah berjalan menuju kamarnya hingga ia memulai sholat.
Setelah sampai disalam terakhir lalu berucap 'Alhamdulillah' dengan telapak tangan yang mengusap wajah dari atas sampai bawah, Ayala kembali menengadahkan kedua telapak tangannya.
"Bismillaahir-rahmaanir-rahiim, ya Allah ya Tuhan ku, sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Maha Pelindung. Hamba yang rendahan ini memohon kepada Mu ya Allah agar Engkau mau menghancurkan jin yang bernama Sugeng, yang akhir-akhir ini terus mengganggu hamba ya Allah. Hamba mohon tolong hamba, siapa yang bisa menolong hamba selain Engkau ya Allah—Tuhan ku. Hamba mohon kepada Mu ya Allah, hancurkan-lah jin yang bernama Sugeng, yang telah mengganggu hamba hampir 3 hari ini ya Allah. Hancurkan-lah jin-jin yang mengganggu hamba." doa Ayala terlihat sangat bersungguh-sungguh.
Dan dilain tempat, Julianti yang tengah tertidur langsung terbangun dan seperti biasa bibirnya terus berucap namun kali ini dengan suara yang terdengar seperti seorang yang sedang marah dan wajah yang terlihat risih.
"Hamba mohon ya Allah dengan kekuatan Mu yang besar dan tidak bisa tertandingi itu, akan sangatlah mudah untuk mengabulkan doa hamba ya Allah. Hancurkan-lah jin bernama Sugeng yang ingin menikahi hamba itu ya Allah."
Julianti terlihat semakin marah namun juga bercampur gusar dan ketakutan, ia lalu keluar dari kamar dengan tergesa-gesa menuju kamar Ayala.
"Hancurkan-lah jin yang bernama Sugeng ya Allah, karna ia adalah jin yang tidak bermanfaat, kafir, serakah dan mengganggu hamba. Amin. Subhanallah walhamdulillah walau ilaha il-lallah wallahu akbar wala hawula wala kuwata illabilla hil aliyhil adzim. Amin, Alhamdulillah."
Ayala lalu mengusap wajahnya dan berbalik kebelakang melihat Julianti yang menatapnya tajam namun Ayala tak kalah tajamnya menatap Julianti yang ia kira sekarang ini bukanlah diri neneknya.
Ayala bingung kenapa Julianti mendatangi dirinya ia juga sempat berfikir jika Sugeng yang berada didalam tubuh neneknya itu kepanasan mungkin, tapi bukankah Ayala terlalu sombong jika berfikir seperti itu.
~
~
~
Sekarang, saat ia dikamar mandi tidak ada lagi yang berdiri jauh menatapnya. Sekarang, saat ia akan tidur dia tidak merasakan lagi udara dingin ditengkuk-nya atau ditelinga-nya dan sosok yang Ayala pikir kuntilanak itu tidak lagi terus berada didekatnya. Sekarang Ayala juga tidak bermimpi Sugeng lagi.
Setelah semua itu, satu yang Ayala baru tahu bahwa sosok yang terus mengikutinya itu adalah Sugeng. Kalau tentang apakah Sugeng benar-benar hancur atau dikurung oleh Allah, biarkan Julianti yang berbicara lewat sini.
Ayala makan siang dengan lahapnya sambil menjadi pendengar yang baik bagi Julianti yang berada disampingnya. Mereka sekarang sedang berada dihalaman depan.
"Kalo Sinta sekarang penurut. Tapi kalo Sugeng sekarang entah tidak tahu dia kemana."
Ayala yang mendengarnya langsung melirik kearah Julianti dengan wajahnya yang ia bodoh-bodohkan. Pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
Jangan lupa kepada Allah karena jika kita mengingat-Nya itu akan membuat hati tenang.
Minta-lah perlindungan kepada-Nya karena Allah akan melindungi hambanya yang senantiasa bersyukur dan bertaubat kepada-Nya.
Ya, selamat tinggal Sugeng.
***
****
*****
Hasil cerita nyata dari Author sendiri :)