Obsesi
Senja yang kini tak terasa, tergantikan oleh awan hitam dengan suara petir yang menghiasi setiap derap langkah seseorang bersurai (Hair/c) dengan manik (Eyes/c) di perjalanan pulang sekolahnya, seseorang itu tak lain adalah dirimu.
Kamu mempercepat langkahmu agar bisa segera sampai ke rumahmu.
Bingung, Kamu mendapati rumahmu masih gelap gulita, padahal sekarang sudah malam dan seharusnya lampu rumahmu sudah menyala.
Dengan bermodalkan sinar dari lampu jalan kamu mulai membuka pintu.
"Tadaima.."
Tidak ada jawaban sama sekali dan saat pintu sudah sepenuhnya kamu buka.
*Cctttaarrrr!!!!
Suara petir seakan mendukung suasana saat ini. Matamu terbelalak, nafasmu tercekat dan tenggorokanmu sakit. Air mata berhasil lolos dari matamu.
"Tou-sann!!! kaa-sann!!" teriakmu menjatuhkan tasmu dan berlari memeluk ke2 jasad orang tuamu yang bersimbah darah.
Namun kini hal mengejutkan lainnya yang membuat perasaanmu campur aduk. antara tangis, sedih, kecewa, marah, dan juga kebingungan namun sudah terjawabkan.
Di depanmu seorang pria berjas hitam dengan perban yang melilit ke2 tangannya juga leher dan setengah wajahnya tengah menodongkan pistol ke arahmu, bukan! tepatnya ke arah ke2 orang tuamu.
"(YourName)-chan??" pria itu bersuara seraya menurunkan pistol yang sedari tadi di todongkannya.
"OSAMU-SAN APA YANG KAU LAKUKAN!!" Teriakmu pada pria di depanmu yang tak lain adalah, kekasihmu. Dazai Osamu.
"(YourName)-chan, aku bisa jelaskan"
Kamu terdiam, menunduk mengepalkan tangan kencang tak ingin melihat wajah orang yang berada di hadapanmu.
Ia mendekat dan hendak menyentuhmu, namun terlebih dahulu di tepis oleh tanganmu. Kamu berdiri dan menarik kerah Dazai.
"(YourName)-cha–"
"KENAPA KAU MELAKUKAN INI OSAMU!!"
Kamu menatap manik Hezel seorang di depanmu dengan air mata yang berhasil lolos dari manik (Eyes/c)mu yang tersirat kemarahan mendalam ke pipimu.
Tangan kanan Dazai terulur menghapus air mata yang jatuh ke pipimu, maniknya masih menatap manikmu.
"Karena aku mencintaimu" ucapnya datar nan ringan.
Matamu kembali terbelalak dengan jawaban ringan dari mulut Dazai. Kamu semakin mempererat cengkraman pada kerah Dazai.
"Mencintaiku?..hmm?.. hahaha.." Kamu tertawa pahit.
"JIKA KAU MENCINTAIKU KENAPA KAU MEMBUNUH KE2 ORANG TUAKU!!"
*Ssssrrraahhh...
Hujan dengan derasnya turun, seakan hendak menutupi suara teriakanmu.
Tetesan air mata kembali turun ke pipimu.
"Karena mereka tidak menyetujui hubungan kita, dan mengancam akan membawamu pergi jauh dariku" jawabnya masih dengan ringan.
Kamu semakin menarik kerah Dazai dan membuatnya semakin membungkuk ke arahmu.
"APA HANYA KARENA ITU KAU MEMBUNUH KE2 ORANG TUAKU??!!" Teriakmu di depan mukanya dengan tetesan air mata yang kini semakin deras keluar dari manik indahmu.
"Iya" jawabnya singkat dan ringan.
Tangannya kembali terulur hendak menghapus air matamu namun kamu sudah terlebih dahulu mendorongnya menjauh darimu.
"AKU MEMBENCIMU DAZAI OSAMU!!"
*Ccttaarrrrrr
Suara petir kembali terdengar bersamaan dengan teriakanmu seakan kembali mendukung suasanamu saat ini.
Kamu berlari keluar dari rumah mengabaikan teriakan Dazai memanggil namamu berulang kali.
Kamu semakin mempercepat larimu di dalam derasnya hujan dan mengabaikan suara petir juga beberapa orang yang memperingatimu.
Tangisan dan teriakanmu pecah di dalam derasnya hujan tersebut. Kamu semakin mempercepat larimu mendengar seseorang memanggil namamu.
"(YourName)-Chan!!" Dazai, ternyata dia sedari tadi mengejarmu.
Kamu tidak menghiraukan panggilannya dan terus berlari entah kemana kakimu membawamu. Sedangkan Dazai, dia sedari tadi masih terus memanggil namamu dan mengejarmu, namun tak bisa mencapaimu.
Kamu kini entah kenapa bisa sampai di atap sebuah gedung tua, Kamu hanya menangis dan menjerit di sana. Menumpahkan rasa sakit pada hatimu.
"(YourName)-Chan..."
Ternyata Dazai berhasil menyusulmu ke atap gedung tua ini. Kamu yang tadinya terduduk kini berdiri hendak kabur namun tidak bisa. Keadaan mu kini terpojokan.
Dazai berjalan semakin mendekatimu. Kamu tak bisa lari sekarang, bingung apa yang harus kamu lakukan saat ini.
Dazai semakin mendekat dan kemudian kamu berteriak padanya.
"BERHENTI DI SANA DAZAI!" ucapmu memanggilnya dengan nama marganya.
Dazai berhenti seketika, terkejut atas panggilannya darimu. Namun dia kembali berjalan mendekatimu.
"(YourName)-Chan ak–"
"DIAM DI SITU ATAU AKU AKAN MELOMPAT!!" Ancammu menggunakan dirimu.
Dazai yang mendengar hal itu lantas langsung menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak, dengan tatapan khawatir.
Air mata semakin deras turun dari matamu, masih sangat terlihat meski derasnya air hujan berusaha menyamarkannya.
Sedangkan Dazai, ia kini sedang menatapmu datar.
Hening, hanya suara tangismu yang keluar di antara kalian. Namun tidak berlangsung lama.
"(YourName)-Chan, ikutlah denganku dan lupakanlah semua ini"
Deg!
Matamu kembali terbelalak dengan kalimat yang keluar dari mulut Dazai. ia mengatakannya seakan ke2 orang tua-mu hanyalah sebuah boneka.
Kamu hanya terdiam sambil menggenggam tanganmu erat, Kamu menunduk.
"Aku mencintaimu, ikutlah denganku dan jadilah milikku (YourName)"
Obsesi, kini kamu tau kenapa Dazai melakukan semua ini. Dia mencintaimu, namun sangat terobsesi padamu.
Seorang anggota eksekutif Port Mafia terobsesi oleh seorang gadis 17 th yang bahkan tidak memiliki kemampuan apa apa. Obsesinya beralas-kan rasa cinta pada gadis itu, rasa cintanya padamu sampai rela membunuh ke2 orang tuamu.
Entah saat ini kamu harus bagaimana, bingung kini kamu sangat bingung. Haruskah kamu menangis ataukah senang karena ada orang yang sangat mencintaimu sampai dia terobsesi padamu, Kamu tidak tau.
Namun amarah dan kecewa memenuhi dirimu. Kamu ingin membunuhnya, membunuh kekasihmu sendiri yang telah membunuh orang tuamu. Namun tidak bisa.
Mau bagaimanapun dia yang kini berada di hadapanmu adalah orang yang kau sayangi. Dazai Osamu orang yang mengisi hatimu, orang yang kamu cintai.
"Bunuh aku Osamu..." Ucapmu pelan.
Sedangkan orang yang kamu suruh membunuhmu hanya diam mematung. Matanya terbelalak akan ucapanmu.
"Tidak (YourName) aku tida–"
"Kau membawa pistol kan?"
Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bunuh aku sekarang dengan pistol itu"
Kamu mulai melangkah maju mendekatinya.
"(YourName)-chan, aku tidak bisa membunuhmu" ucapnya menatapmu dengan sayu.
"Tidak bisa yak?.." kamu hanya tersenyum.
Langkah demi langkah kamu mendekatinya, dan kini kamu sudah berada di hadapannya.
"(YourName)-chan ikutlah denganku, lupakan semua ini. Aku mencintaimu, aku ingin kau hanya menjadi milikku (YourName)-chan, aku–"
Greebb
Kamu seketika memeluknya, namun untuk mengambil sebuah pistol di balik jasnya.
Kamu melepaskan pelukan dan mengarahkan pistol yang kamu rebut pada kepala Dazai.
"Bunuh aku atau ku bunuh diriku sendiri!"
Kamu kini mengarahkan pistol itu pada kepalamu.
Dazai terdiam matanya terbelalak dengan kata kata yang kamu ucapkan. Lalu seketika pandangannya berubah. Kamu merasakan hawa yang berbeda.
'Bukan, dia bukan Osamu! Bukan!'
Kalimat itu yang kau pikirkan, seorang Dazai Osamu yang konyol namun terkadang juga bersikap dingin dan datar. Di hadapanmu terlihat sosok lain darinya.
Tangan kananmu di tepisnya membuat pistol di tanganmu terlempar entah kemana. Tanganmu berdarah kamu meringis saat air hujan mengenai luka di telapak tanganmu yang entah mengapa bisa ada di sana.
Dengan cepat Dazai meraih tanganmu dan menjilat telapak tanganmu, menghilangkan sisa sisa darah pada telapak tanganmu dengan menggenggam erat pergelangan tanganmu hingga kau meringis kesakitan.
"Kau harus jadi milikku, bagaimanapun caranya" ucapnya dingin menatapmu masih dengan menjilat telapak tanganmu. Sontak dengan reflex kamu menarik tanganmu dan mundur perlahan.
"(YourName)-chan! Berhenti di sana!" Dazai memperingatimu. "Tidak!!!" Kamu terus mundur. "Ku bilang berhenti!" Dazai meraih pergelangan tanganmu dengan keadaan kau berada di ujung gedung. Selangkah lagi kamu mundur maka nyawamu melayang.
"Kau akan terjatuh bodoh! Aku tidak mau kehilanganmu! Kau harus jadi milikku! Harus!" Ucapnya memegang erat pergelangan tanganmu hingga kamu meringis.
Kamu berusaha melepaskan dirimu dari Dazai masih di tempat yg sama. Namun Dazai ternyata tak mau kalah ia lagi lagi memegangmu dengan erat. Ucapan sumpah serapah dan perkataan kasar terus kamu ucapkan sedangkan Dazai terus menyuruhmu diam dan menekankan kalau kau harus menjadi milikknya, terus melakukan hal itu hingga–
– kamu mendorong Dazai sekuat tenaga namun, hasilnya kamu yang terdorong ke belakang karena Dazai terlalu berat untukmu. Tak di sangka karena hujan membuat tempat itu licin, kamu terjatuh namun tangan kekar Dazai dengan sigap menangkap tangan kananmu dan menggenggam erat.
Air mata berhasil lolos dari matamu, tersirat ketakutan akan kematian. Sedangkan Dazai dia menangis, oh tunggu! Dazai menangis! Matamu terbelalak melihatnya. Senyuman kecil terlihat di bibirmu. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan sekarang.
Kamu tersenyum. "Osamu-kun" ucapmu memanggilnya dengan embel embel 'kun'
"Terimakasih, aku membencimu. Namun hati ini tetap mencintaimu. Terimakasih.. karena telah mengisi hariku, mengisi hatiku, aku mencintaimu... Dazai.. Osamu" air mata terlihat saat kamu mengucapkannya. Tangis mu dan Dazai tak dapat di bendung.
"Maaf" ucapmu seketika melepas tangan Dazai dan terjatuh dari ketinggian gedung tersebut. ' Aku sungguh sangat mencintaimu, Osamu' batinmu melihat ke arah Dazai. Kemudian menajamkan mata dan tersenyum.
'Kaa-san, Tou-san (YourName) akan segera menyusul kalian' batinmu, kemudian kamu mendengar seseorang meneriaki namamu kencang, sangat kencang.
"(YOURNAME)-CHAANN!!!!!" Dazai menjerit ia hendak melompat namun di tahan oleh Chuuya.
"Jangan bodoh Dazai!!!" Ia masih menahan Dazai agar tidak melompat dan membawanya ke tempat aman.
Perlahan, kamu mulai tidak merasakan apa apa. Hanya menikmati detik detik kematian yang terasa begitu lama. Sampai akhirnya kamu tak lagi bisa membuka mata.
Dazai tau, semua yang berharga baginya pasti akan pergi. Buktinya setelah kepergianmu beberapa bulan kemudian ia harus berhadapan dengan kepergian teman baiknya Odasaku. Lagi lagi tangis tak dapat Dazai bendung ketika melihat tubuh temannya yang sekarat bersimbah darah. Keinginan terakhir Odasaku Dazai penuhi.
Karena ia tau, semua yang berharga baginya pasti akan pergi meninggalkannya sendiri. Dan juga benar apa kata Odasaku tidak ada yang bisa mengisi kekosongan di hatinya.
Karena yang bisa mengisi kekosongan hatinya hanyalah dirimu, yang kini telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Dan tak akan pernah kembali...