Kadang hidup itu juga drama, dan kita adalah pemeran utamanya. Dalam hidup juga terdapat skenario yang sudah di buat tuhan. Selain itu, juga ada alur dalam hidup, alur akan menentukan jalan cerita kehidupan.
Namaku Aurora, teman-temanku biasa memanggil ku dengan nama Rara. Aku terobsesi dengan hal-hal berbau Korea, terutama dramanya.
Apa kalian tau drama goblin? Ya,, di mana pemeran utama wanita sangat beruntung bisa menjadi pengantin goblin. Aishhh bodohnya aku,, itu hanya drama, tak mungkin itu akan terjadi padaku kan.
Tapi ada kemiripan antara aku dengan pemeran utama wanita pada drama itu, kami sama-sama tidak memiliki orang tua lagi, aku juga tinggal dengan bibiku dan kedua anaknya yang merepotkan.
Tapi sayangnya,, tidak ada goblin dalam hidupku. Aku Sekarang kelas 12,, tahun depan aku akan masuk universitas,, aku berharap uang tabungan ku tidak di ambil oleh anak-anak bibiku, karena itu satu-satunya hal yang aku butuhkan untuk mendaftar ke universitas idamanku.
Meskipun kehidupan ku tidak seindah di drama, tapi aku masih bersyukur karena bisa hidup. Ya walaupun sebenarnya aku lebih ingin menyusul orang tuaku.
Aku ingin sekali bertemu seorang goblin,, bukan goblin seperti di game ya,, tapi goblin seperti di drama, yang bisa mewujudkan impian ku.
Baiklah, aku akan terus berdoa agar keinginan ku terkabul dan untuk kedepannya, aku mohon biarkan aku merasakan kebahagiaan.
#######
Aku sedang pergi ke sekolah hari ini,, aku berlari karena ketinggalan bus,, oh sungguh menyebalkan. Ini semua gara-gara anak-anak bibiku yang menyuruhku membersihkan sepatu mereka, sungguh membuatku jengkel.
Saat aku sedang berjalan di jalanan yang basah akibat hujan tadi malam, sebuah truk melintas dan mencipratkan air pada seragamku, aishhh aku benar-benar tidak beruntung.
Aku sedikit kesal dan berteriak pada sopir truk,, namun aku berhenti karena tau sopir truk itu tidak akan mendengar suara ku.
Aku kembali berlari, akhirnya aku sampai di depan sekolah, aku hanya tinggal menyebrang saja, namun lampu penyebrangan belum menyala sementara gerbang Sudah akan di tutup oleh pak sekuriti yang gak bisa di ajak kompromi.
Aku nekat saja menyebrang,, toh lalu lintas sedang sepi, aku berlari dengan kecepatan penuh, dan berhasil masuk sebelum gerbang di tutup. Aku berharap tidak ada polisi yang melihat perbuatan ku, hehehe.
Aku berlari di koridor yang licin,, bukan hanya karena faktor lantai, tapi juga karena sepatuku yang sudah tidak punya aus lagi.
Tiba-tiba"Brukkkk", astaga!! Aku menabrak seseorang dan seseorang itu adalah laki-laki,, tapi aku tidak punya waktu lagi, aku langsung berlari menuju kelas, aku bahkan tidak melihat wajah laki-laki yang ku tabrak, aku hanya melihatnya memakai jam tangan yang sepertinya mahal.
Hufttt,, akhirnya aku sampai juga di kelas,, bajuku sedikit kotor karena ulah sopir truk tadi,, tapi it's okay.
Aku membuka ponselku,, berharap ada seseorang yang menyampaikan kabar baik, namun itu hanya imajinasi ku, mana ada orang yang mau menghubungi ku selain saat ada maunya.
"Kringg" ponselku berdering, aku kaget,, aku pikir ini SMS dari bibi,, karena aku lupa mencuci piring tadi pagi. Perlahan aku buka pesan itu.
"Ayo bertemu di lapangan basket" isi pesan itu, aku membulatkan mataku,, siapa yang mengirimkan pesan padaku, aku bertanya-tanya, apa seorang musuh, atau penggemar rahasia, aku rasa tidak mungkin seorang penggemar.
Aku menutup ponselku karena guru sudah masuk, pelajaran hari ini membosankan sekali, meskipun iq ku di atas rata-rata, ya namanya juga manusia, pasti ada lelahnya.
Aku duduk paling ujung dekat jendela, selagi guru menjelaskan, aku sibuk melihat anak-anak lain yang sedang olahraga.
Hufttt,, akhirnya pelajaran selesai, aku berjalan keluar dari kelas, ada dua pilihan dibenak ku, ingin ke kantin atau lapangan basket?,, Sepertinya aku akan ke lapangan basket saja, aku penasaran siapa yang mengajakku bertemu.
Aku berlari ke lapangan basket, celingak-celinguk gak jelas seperti mau menyebrang.
Tiba-tiba bola basket mendarat di bahuku " awww " ringisku.
" Itu belum seberapa " ucap seorang laki-laki yang tinggi, aku merasa inscure berdiri di sampingnya.
" Kau siapa, mengapa melempar bola padaku " ucapku menatap sinis.
Tak sengaja aku menatap pergelangan tangannya, dia memakai jam yang mirip dengan jam yang di pakai oleh laki-laki yang ku tabrak, habislah aku,, tamat riwayat ku.
" Kenapa diam?, Sudah ingat? " Ucap laki-laki itu.
" Hmmm, maafkan aku, aku buru-buru tadi pagi " ucapku memasang wajah manis, meskipun sebenarnya aku sendiri jijik.
" Kau lihat ini,, ini harganya 40 juta, dan sekarang sudah hancur karena kau menabrakku tadi, jadi kau harus menggantinya " ucap laki-laki itu mengeluarkan sebuah ponsel yang sudah pecah seribu layarnya.
" Mwoo!, Mana ku tau kau membawa itu, aku kan tidak sengaja, kenapa aku harus menggantinya " ucapku.
" Jadi kau tidak mau menggantinya?,, Kalau begitu aku akan melaporkannya pada kepala sekolah, aku dengan kau masuk ke sini karena beasiswa, kebetulan juga ayahku yang mensponsori beasiswa sekolah ini " ucap laki-laki itu sombong.
Rasanya aku ingin sekali menamparnya, tapi jika itu aku lakukan, bisa-bisa beasiswa ku di cabut, aku tidak mau hal itu terjadi.
" Mohon maaf,, jika aku merusak ponselmu, aku akan menggantinya, tapi tidak secara langsung, aku akan menggantinya berangsur-angsur karena aku tidak punya uang " ucapku.
" Kau tidak perlu menggantinya jika mau " ucapnya.
" Benarkah? " Ucapku sembari berharap.
" Asalkan kau setuju menjadi pelayan ku di sekolah selama satu bulan" ucap laki-laki itu mendekatkan wajahnya padaku.
" Tidak, aku tidak mau, lebih baik aku mengganti dengan uang " ucapku.
" Baiklah, kalau begitu kau harus ganti 50 juta, karena kau membuat jam tanganku ikut lecet dan itu harus secara langsung, jika tidak aku akan melaporkan mu " dia menunjukkan jam tangannya yang tergores.
Aku sedikit menelan ludahku, bahkan uang tabungan ku tidak sebanyak itu. Di tambah lagi dia mengancam perihal beasiswa ku.
Aku menghela nafas panjang " hufttt, baiklah, aku setuju menjadi pelayan mu " ucapku sedikit ragu, ya tapi mau bagaimana lagi, itu pilihan satu-satunya.
Laki-laki itu menyeringai, " baiklah, mulai sekarang panggil aku tuan muda Erick " ucapnya.
Bel masuk berbunyi,, Erick berlalu meninggalkanku, dia merasa sudah menang dariku, hufttt, ingin rasanya aku melompat dari atas gedung sekolah ini, aku sudah lelah sebenarnya, tapi cita-cita ibuku agar aku menjadi dokter belum tercapai, aku harus mewujudkannya dulu.
#######
Akhirnya sekolah hari ini berakhir,, hufttt sungguh nasibku yang kurang beruntung, ditambah lagi harus berurusan dengan laki-laki sombong itu, meresahkan.
Aku rasanya malas ingin kembali ke rumah, melihat wajah bibiku dan anak-anak yang seperti ibu dan saudara Cinderella.
Aku berjalan sambil menendang kaleng soda yang ada di depan ku " duggg " tak sengaja kaleng itu mengenai seseorang, tamatlah riwayat ku, ternyata orang itu adalah Erick.
Aku berjalan melewatinya, pura-pura tidak melihat. Tiba-tiba dia menarik tanganku, aku seketika jatuh di dekapannya, aku menutup mataku sambil berharap dia tidak akan mempersalahkan tentang kaleng soda itu.
" Kau mau mati ya " pekiknya membuat gendang telingaku terkejut.
Aku menoleh ke belakang,, ternyata ada seorang yang membawa sepeda motor dengan kencang.
" Kenapa mau mati?, Apa ingin lari dari janjimu " ucap Erick. " Bukan begitu,, tapi aku tidak melihatnya " ucapku. " Tapi kenapa kau menyelamatkan aku, Kenapa tidak membiarkan aku tertabrak "
" Jangan kira aku perhatian padamu, aku hanya tidak ingin rugi, jika kau tertabrak, siapa yang akan mengganti ponselku atau menjadi pelayan ku " ucap Erick.
Ternyata memang aku yang terlalu baperan, aku memalingkan wajah dan beranjak pergi, kali ini aku benar-benar tidak beruntung, sungguh suram.
Rasanya aku ingin tidur malam ini dan tidak mau bangun besok pagi.
Aku tiba di rumah, bibiku Sudah menyiapkan setumpuk hadiah untukku.
" Cuci ini semua baju ini, jangan hanya menumpang saja " ucapnya. " Aku mengganti pakaian ku dan mengerjakan tugas dari bibi.
" Cuci ini semua baju ini, jangan hanya menumpang saja " ucapku mengulang kata-kata bibi dengan nada kecil sambil sedikit memanyunkan bibir, jujur aku kesal sekali.
" Apa yang kau katakan barusan! " Tegur bibi membuat ku terkejut, hampir saja jantungku meloncat.
" Tidak bi, aku hanya bernyanyi " teriakku sedikit tertawa.
Kenapa aku punya bibi seperti ini,, jika kisah hidup ku di jadikan drama, pasti akan mendapatkan rating yang tinggi, tapi ya sudahlah,, nikmati saja dulu,, anggap saja busa detergen ini adalah salju musim dingin.
Setelah sekian lama aku mencuci dan terus mencuci, hingga tanganku ikut bersih, akhirnya cuciannya selesai, waktunya bersantai.
Kerjaan be like : " tidak semudah itu Ferguso "
Ya,, masih ada pekerjaan lain lagi, jika kalian butuh cleaning servis,, panggil aku saja,, aku sudah profesional,, eh sudah-sudah,, kenapa bahas hal lain.
Aku bersih-bersih dulu.
#######
Hari baru datang lagi,, aku pergi ke sekolah, kali ini tidak buru-buru karena aku berangkat pagi sekali, bahkan ayam saja belum berkokok,, tidak!, Aku terlalu berlebihan.
Saat aku datang ke sekolah, Erick Sudah menunggu di depan kelasku " hari ini kamu pindah ke kelasku, no koment " ucapnya seraya menarik tanganku.
Ya aku hanya pasrah, sesuai perjanjian,, aku adalah pelayannya hari ini hingga satu bulan kedepan.
Setelah sampai di kelasnya, dia duduk di atas kursi dan memanjakan kakinya di atas meja " cepat pijat, ucapnya. Aku mulai memijatnya, ingin sekali aku pijat hingga uratnya bersilaturahmi satu sama lain.
Tiba-tiba siswa yang lain masuk ke kelas.
" Wah ada pembantu baru " ucap salah satu anak perempuan, katanya sih idola sekolah.
Dengan sengaja dia menyenggol ku hingga tersungkur.
Lalu seisi kelas mentertawakan aku.
Sikutku sedikit memar, ya tapi tidak apa-apa,, tiba-tiba Erick mengulurkan tangannya " ayo berdiri,, kau berada di bawah perlindungan ku, jika kau kenapa-kenapa aku tidak akan tanggung jawab " ucapnya.
Bahkan jika Erick berkata begitu,, di dalam hatiku sudah senang sekali, karena paling tidak masih ada orang yang mau membantuku.
Aku duduk di kursiku, huhhh kelasnya tak seenak kelas lamaku, meskipun di kelas lama tidak ada yang menganggap aku ada, paling tidak tak ada yang akan menyenggol ku hingga tersungkur.
Akhirnya jam istirahat,, aku kira aku anak bebas, ternyata aku harus mengikuti Erick kemana saja dia pergi,, dia pergi ke kantin dan duduk bersama teman-teman pakboy nya.
" Pesankan aku makanan " ucapnya. Aku menurut dan pergi memesankan makanan untuknya.
Saat aku kembali,, salah satunya teman Erick dengan sengaja mengulur kakinya hingga aku tersandung, semua makanan yang aku bawa berantakan dan mengenai seragamku. Seisi kantin mentertawakan aku, termasuk Erick.
Aku berusaha kuat walaupun air mata sudah di ujung mata, aku berdiri dan pergi ke toilet, aku membersihkan kotoran di seragamku, bahkan ada mie di rambutku.
Aku menangis sejenak,, hanya sejenak namun itu melegakan.
Aku kembali lagi ke kantin,, ternyata Erick sudah tidak di sana,, aku berjalan ke arah loker ku,, aku melihat lokerku yang terbuka,, aku mendekatinya, ternyata lokerku sudah di acak-acak,, untungnya aku tidak memiliki hal berharga, sehingga tidak ada yang bisa di curi.
Aku terus mencari keberadaan Erick, ternyata dia berada di kolam renang outdoor sekolah,, sebenarnya aku malu jika pergi ke sana,, tapi dia memanggilku.
" Ambilkan handuk " ucapnya.
" Ambilkan jus " ucapnya lagi.
" Keringkan rambutku " perintahnya.
Lalu Erick pergi untuk mengambil pakaiannya,, aku sendirian di tepi kolam, tiba-tiba teman-teman Erick mendorongku hingga jatuh ke kolam, dan aku tidak bisa berenang. Saat itu aku berfikir jika aku akan menyusul ibuku. Tapi aku salah, Erick tiba-tiba berlari dan langsung meloncat ke dalam kolam, dia membawaku keluar dari kolam, aku hanya melihatnya sesaat setelah itu aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun di UKS,, baju dan rambutku masih sedikit basah, aku duduk dan memeluk kedua lututku, aku menenggelamkan wajahku diantara dua tanganku.
Aku tidak bisa lagi menahan semuanya,, aku menangis saat itu. " Ibu,, baru saja aku senang karena aku pikir aku akan menyusul mu, tapi dia menyelamatkan aku,, Kenapa dia menyelamatkan aku,, kenapa tidak biarkan saja aku tenggelam,, aku sudah lelah,, harus bekerja,, ditambah lagi bibi dan kedua saudaraku yang bersikap kasar padaku,, kenapa aku tidak hilang saja dari muka bumi ini" ucapku sambil sedikit mengencangkan suara karena emosi.
Aku keluar dari UKS sambil mengelap air mataku, aku tidak boleh terlihat cengeng, aku masih harus melayani si sombong Erick itu,, setelah perjanjian selesai,, aku tidak mau berhubungan dengannya lagi.
Aku masuk ke kelas,, lagi-lagi ada yang mengandung kaki ku,, dan aku tersungkur lagi.
" Hei,, apa yang kalian lakukan " ucap Erick.
Erick mendekati ku dan mengulurkan tangannya, " tidak usah,, aku bisa berdiri sendiri,, aku tidak lemah " ucapku.
Aku duduk di kursiku sambil berpura-pura membaca buku, aku menutup wajahku karena aku menangis, tapi aku tak ingin orang-orang tau. Akhirnya satu lagi hari yang menyulitkan berhasil ku lalui.
#######
Sudah lebih dari satu Minggu aku dan Erick membuat perjanjian itu,, setiap hari aku di perlakukan seperti entahlah aku tak bisa bicara lagi, badanku rasanya remuk, banyak memar di badanku, dan itu sangat sakit, tapi tak sebanding dengan hatiku, dan yang aku bingung, saat aku hampir menyusul ibuku,, Erick selalu menyelamatkan ku,, tak tau aku harus berterima kasih atau bagaimana,, karena aku merasa lebih baik jika aku tiada.
Saat aku membuka lokerku, ada secarik kertas bertuliskan sorry,, aku mengambilnya dan membuangnya,, karena itu sering terjadi dan ujung-ujungnya aku di kerjain lagi. Aku menaruh sepatu balet ku di dalam loket. Saat aku berbalik Erick berada tepat di depan ku. " Selamat pagi " ucapnya.
" Apa lagi yang kau butuhkan, ayo katakan, aku tidak ingin basa basi " ucapku.
" Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu makan di kantin " ucapnya
" Tidak,, aku tidak mau,, aku akan mengerjakan tugasmu saja " tolakku.
" Kau harus mau, ini perintah, kau harus menemani aku " ucapnya.
Aku menghela nafas,, pasti akan ada jebakan lain " baiklah " ucapku.
Erick menarik tanganku dan membawaku ke kantin.
" Duduklah, aku akan pesankan makanan " ucapnya.
Selagi Erick pergi,, tiba-tiba teman-temannya datang ke arahku dan menyiramkan air di kepala ku dan mereka tertawa,, aku basah kuyup,, dan apa yang aku takutkan terjadi.
Aku sudah tidak tahan, aku mengepalkan tangan ku,, tapi aku tak bisa melawan, tiba-tiba air mataku jatuh.
Aku rasanya ingin mati. Aku berlari tanpa tujuan.
" Aurora.......... " Aku mendengar Erick berteriak. Tapi aku tak menoleh, aku yakin mereka sekongkol.
Tak tau kenapa,, akhirnya aku sampai di makam ibuku,, aku menangis sangat kencang, tapi aku tidak peduli, aku ingin menangis, " ibu,,, jemput aku,, tolong,, aku mohon,, aku sudah tidak tahan,, bawa aku ibu " ucapku seraya memeluk nisan ibuku.
Tiba-tiba tangan yang hangat menepuk bahuku. Aku menoleh, ternyata itu Erick.
" Kenapa kau ke sini " ucapku.
" Aku khawatir dengan mu, ayo kembali ke sekolah " ucap Erick.
" Tidak,,, kau dan teman-teman mu akan mempermainkan aku lagi, aku sudah lelah " ucapku sambil menangis.
Seketika Erick memeluk ku " tenanglah Aurora,, aku minta maaf atas nama teman-teman ku, tapi sungguh aku tidak ikut campur dalam mencelakai mu, justru aku mencoba menolong mu " ucap Erick.
" Tapi kenapa,,, Kenapa menolong ku,, kenapa tidak membiarkan aku mati " ucapku.
" Karena aku sayang padamu " ucap Erick.
" Deg " seketika hatiku tak karuan.
" Bagaimana bisa, aku hanya pelayan mu, kau pasti bohong, kau pasti ingin menjebak ku lagi " ucapku.
" Tidak,, apa kau ingat saat aku menyelamatkan mu dari kolam renang, saat kau sadar dan menangis,saat itu aku ada di sana, aku mendengar semuanya, saat itu juga aku sadar bahwa aku salah memperlakukan mu " jelas Erick.
Aku masih menangis tersedu-sedu.
" Aku minta maaf padamu Aurora, aku janji akan melindungi mu, aku akan membuatmu bahagia,, seperti goblin dalam drama,, seperti yang kau inginkan " ucap Erick sambil menyodorkan sebuah buku, buku itu adalah buku harian ku.
" Bagaimana bisa kau mendapatkan buku ku "
" Ini jatuh saat kau berlari tadi, maaf aku membacanya " ucap Erick.
" Sudahlah,, jangan menangis,, goblin mu ada disini,, ayo kita wujudkan mimpimu, kau ingin ke Korea,, ayo kuliah di sana, kau ingin makan bibimbap,, ayo kita beli, kau ingin buat permohonan saat salju pertama,, ayo kita buat sama-sama " ucap Erick sambil menghapus air mataku.
Entah mengapa aku mulai tersenyum, semua kata-kata Erick seperti hiburan bagi ku, aku berpamitan dengan ibuku dan kembali ke sekolah bersama Erick.
Begitulah kisah ku menemukan goblinku sendiri, dan saat ini kami sedang di Korea,, sedang menanti salju pertama,, dan ingin membuat permohonan bersama.
Tamat