Deja vu. Sering sekali aku mengalaminya. Saat Inspektur Gio tertabrak sebuah mobil di Jalan Braga, aku ada di sana. Mematung seraya memegang STNK milik seorang pengendara motor dengan tangan gemetar. Benar-benar. Aku melihatnya dengan sangat jelas, bagaimana ban besar itu melindas kepalanya dan ..., ah ... aku tidak sanggup melanjutkan.
Kejadian itu—kecelakaan di sekitar Jalan Braga dan Kejaksaan—terjadi lagi. Dan korbannya adalah Inspektur Gio.
Tunggu.
Satu jam yang lalu, Inspektur Gio terlindas mobil truk, lalu dikabarkan meninggal di tempat. Tapi sekarang, jelas-jelas, mataku menangkap sosok Inspektur Gio terlindas mobil Minivan hitam. Lagi?
Apa maksudnya? Deja vu? Tidak. Inspektur Gio kan sudah ... mati. Lantas, siapa orang yang terlindas mobil Minivan ini. Tapi jelas-jelas dia adalah Iptu Gio! Pria berkumis tipis dengan kulit cerah dan senyum hangatnya. Apa-apaan ini?! Berengsek memang. Bahkan aku saja tidak dapat menjelaskannya.
Mungkinkah aku ... mengulangi masa lalu? Tapi, kenapa mobil yang menabrak Inspektur berbeda? Semula truk kuning, sekarang Minivan hitam. Apa artinya itu?
Aku sadar, memang sedang mengulangi masa lalu. Pun, dengan suasana berbeda. Semula, aku memegang STNK milik seorang pengendara pria dengan motor bebek. Kini, aku sedang memegang STNK milik seorang pengendara moge.
Hal yang sama dari sebelumnya hanyalah seragam abu dan rompi hijau neon yang kukenakan, tempat kejadian, dan titik di mana aku berdiri mematung.
Semua petugas yang bekerja di sekitarnya langsung mengerumuni jasad Inspektur, dan sebagiannya meringkus pengemudi mobil yang lalai. Aku ... masih mematung. Berdiri terpaku, menatap punggung mereka yang lambat laun menutupi pandanganku dari jasad Inspektur.
Kelopak mata ini naik-turun dengan cepat, menahan air mata untuk keluar. Saat ambulans datang, aku memutuskan untuk naik bersamanya—jasad Inspektur. Tak sanggup melihat otaknya yang terburai keluar walau sudah ditutupi kain putih, aku mencoba mengalihkan pandangan pada tubuh lainnya. Kugenggam erat tangan dingin Inspektur. Entah kenapa, tanganku merasa bahwa Inspektur Gio membalas genggamanku. Dia menggerakkan sendi-sendi jarinya, mengusap pelan punggung tanganku. Tapi ... Inspektur sudah mati. Dan pada saat itulah, saat jari-jemari Iptu Gio mengusap punggung tanganku, waktu terulang lagi. Dari awal.
Apa yang harus kulakukan?
Kini, aku berdiri, memandang sebuah STNK milik seorang pengendara wanita yang membawa motor bebek tanpa helm. Sedari tadi, wanita itu mengoceh tak karuan, sedangkan aku menatap kosong ke arah secarik kertas yang sudah mengeras itu.
Keringat mengalir dari pelipis menuju pipi. Kulirik jam tangan yang terpasang di tangan kiriku. Jam sembilan lebih seperempat malam. Kejadian Inspektur Gio tertabrak adalah tepat pada jam setengah sepuluh. Lantas, apa yang harus kulakukan dalam kurun waktu seperempat jam saja?
Wanita itu menyodorkan kertas merah padaku. Ia merayu, "Ambil saja, Mas. Saya buru-buru." Seolah menganggap bahwa aku adalah salah satu polisi penerima suap.
Sudah jelas kutolak. Sebesar apapun nilainya, aku sudah berdedikasi bahwa aku akan menjadi polisi jujur hingga akhir hayat, karena nasihat Iptu Gio sudah mempengaruhi kehidupanku.
"Kendaraan Ibu akan kami bawa ke kantor. Ibu sudah tahu kan apa kesalahannya? Kesalahan perlu pertanggungajawaban," ujarku, menatap manik mata wanita itu.
"Tapi Mas, saya cuma—"
"Melajukan kendaraan di atas kecepatan rata-rata, tidak memakai helm, surat-suratan tidak lengkap, dan melanggar lampu merah. Itu yang Anda bilang 'cuma'?" Begitu banyak kesalahannya, tapi dia tidak menyadari. Kutitipkan perkara wanita ini pada Briptu Faris, sementara kakiku melangkah maju menuju Inspektur Gio yang tengah memberikan binaan pada sekelompok remaja.
"Kamu mau apa dengan celurit ini? Tawuran, ya?" terka Inspektur Gio, seraya menggerakkan pelan sebuah celurit. "Nggak, Ndan. Saya cuma mau bantu bapak saya di sawah," jawab pemuda itu, mengelak dari tuduhan.
"Bantu di sawah ndas-mu! Sejauh mata memandang, mana ada sawah di sekitar sini! Ngobat ya kamu?" Tuduhan itu semakin meluas.
"Lihat, Pak. Pantas saja kelihatan teler begitu. Yeuh budak emang ngobat*." Briptu Didin menunjukkan sekumpulan bungkus bekas obat yang digadang-gadang sebagai obat psikotropika. Obat yang membuat pemuda itu teler dan sudah tidak nyambung lagi ketika diajak bicara.
Inspektur Gio mendecih sembari menggeleng. Dia memukul pelan ubun-ubun pemuda itu sebagai gambaran bahwa dia sudah gemas terhadap tingkah remaja nakal. "Bawa dia ke Polsek," titah Inspektur pada anak buahnya.
Menyadari kehadiranku di sisinya, Inspektur tersenyum ramah. Dia menyapa, "Lih, kamu seperti hantu saja. Saya sempat kaget."
Aku hanya terkekeh kecil. Bagaimana bicaranya, ya? Tidak mungkin jika aku memberitahu pada Iptu Gio bahwa dia akan tertabrak mobil, jadi menyuruhnya untuk jangan dekat-dekat dengan jalan raya. Pasti aku ditertawakan dan diejek Inspektur sebagai dukun gadungan.
"Kang, sudah lama tidak makan satu meja. Hayu atuh**, saya lapar," ucapku, mencoba menjauhkan Inspektur dari jalan dengan mengajaknya makan malam. "Kamu datang di saat yang tidak tepat. Saya masih ada patroli lagi," tolak Inspektur, masih dengan senyum hangatnya.
Aku semakin resah. Ketika Inspektur malah berdiri di sisi jalan, mengibas-ngibaskan kedua lengannya—mengontrol lalu lintas—membuatku semakin khawatir. Detak jantungku terpacu bersamaan adrenalin yang naik. Bahkan aku tidak tahu kendaraan yang mana yang akan melindas kepala Inspektur kali ini atau dari arah mana malaikat maut akan mencabut nyawanya.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil angkot menabrak kencang raga tak bersalah Inspektur Gio. Bahkan mobil itu tak berhenti sampai menghantam sebuah kafe di sisi jalan. Mulutku menganga melihatnya. Tangan dan kaki bergetar hebat, ketika aku sama sekali tidak dapat melihat satu pun jari Inspektur.
Terulang lagi. Orang-orang berkerumun. Tidak lama setelah itu, ambulans datang. Aku ikut naik ke dalam. Lalu menggenggam tangan Inspektur Gio dengan erat. Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukannya, tapi tangan ini seolah tidak berada dalam kendaliku.
Inspektur mengusap pelan punggung tanganku yang membasah karena keringat. Dan sekejap, hanya butuh satu kedipan mata, aku kembali lagi berdiri mematung di dekat tiang. Kali ini, aku menggenggam KTP seorang pria berkumis tebal dengan kemeja kotak-kotak.
Melirik sejenak ke arah KTP dengan nama Susano, lalu kembali mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Iptu Gio. Rupanya, dia sedang berbincang santai dengan anggota yang lain di sisi jalan, dua puluh meter dari titikku saat ini.
Sama seperti sebelumnya, kuserahkan urusan Bapak ini pada Brigadir Faris. Lantas dengan cepat berlari mendekati Inspektur. "Kang Gio!" tegurku, sedikit berteriak.
Dia menoleh sebentar, dan kembali memfokuskan perhatiannya pada seseorang di depannya. Seorang pria berjas biru tua dengan payung hitam yang mengembang di atasnya. Tak lama setelah itu, pembicaraan mereka berakhir. Inspektur memberikan seulas senyuman pada pria itu, sedangkan pria itu mengangguk, lalu berjalan pergi.
"Eh, Lih. Ada apa?" Masih dengan senyuman ramahnya. Tak pernah berubah. "Anu ... itu ..., masih patroli, Kang?" tanyaku, basa-basi. Inspektur hanya mengangguk pelan. Dia menatapku heran, "Ada apa, Lih? Kok mukamu pucat begitu? Sakit?"
Cepat-cepat aku menggeleng dan menyangkal dugaan Inspektur. Suasana kembali hening. Kulirik kembali jam tangan dengan ragu. Lima menit lagi sebelum mobil berengsek itu melindas kepalanya.
Aku sudah menerka. Kejadian pertama, mobil datang dari arah utara. Kejadian kedua, mobil itu datang dari arah sebaliknya. Yang ketiga, mobil itu datang dari arah barat. Dan ... yang keempat, mobil biadab itu akan datang dari arah utara. Pasalnya, tiada timur. Karena ini pertigaan, bukan perempatan.
Lima menit begitu lambat. Bukannya aku menunggu kematian Inspektur, tetapi aku ingin cepat-cepat mencegah kejadian mengenaskan itu. Satu detik rasanya seperti satu menit. Jarum jam panjang perlahan bergerak, hampir sempurna menuju angka enam.
Kulihat, sebuah truk melaju tak karuan. Benar. Dari arah utara. Tidak salah lagi. Truk hitam itu makin melaju ke arah Iptu Gio. Refleks, aku mendorong Inspektur menjauh. Aku mendorongnya kasar, hingga Inspektur terpelanting.
Rasa lega mengaliri peredaran darahku. Aku dan Inspektur sama-sama selamat sebelum truk itu mendekat. Namun, menganggap ini adalah akhir dari segalanya adalah sebuah kesalahan. Ketika truk semakin dekat, sepasang kaki ini tak kuat lagi, perlahan melangkah mundur, tersandung sesuatu, hingga tepat berada di titik di mana Inspektur akan kehilangan nyawa.
Aku terduduk di atas aspal. Menatap kosong Inspektur yang mencoba berdiri. Waktu rasanya melambat. Kembali melihat jam tangan itu. Setengah sepuluh. Lalu beralih menatap Inspektur dengan ekspresi tak terduga.
Klakson berbunyi sangat nyaring. Membuat polusi suara yang memekakkan telinga. Beberapa detik setelahnya, moncong truk menghantam keras sesuatu di depannya. Sesuatu di depannya terlempar bermeter-meter. Sesuatu di depannya terkulai tak berdaya. Sesuatu di depannya mengeluarkan cairan merah. Sesuatu di depannya ..., sebentar lagi berhenti berdetak.
Cairan merah keluar dari kepala belakang, mulut, dan hidung. Tulang yang membentuk tubuh ini rasanya remuk semua. Aku sadar. Orang yang dapat menghentikan waktu yang terulang kembali hanyalah aku. Dan waktu menginginkanku mati.
Suasana di sekitar terlihat berbeda. Di ambang kesadaran, kulirik seorang pria berjas biru tua dengan payung hitam yang mengembang di atasnya tengah berdiri di samping Inspektur. Dia belum pergi rupanya. Lalu, beralih menatap Inspektur. Pakaiannya agak kotor karena aku mendorongnya jatuh. Persetan dengan itu. Dia baik-baik saja, tak terluka sedikit pun.
Syukurlah. Inspektur selamat. Tapi, kenapa dia menyeringai?
- TAMAT -
Ket:
* Nih anak memang ngobat
** Ayolah