Dia benar-benar ada didepanku dan sedang tersenyum, begitu manis dan memabukkan. Tangan yang mulai berkeringat kumasukkan kedalam saku jaket. Dingin AC ruangan yang sejak tadi kurasakan kini menghilang, sejak Kao mulai berbicara diacara diatas panggung, tubuh dan jiwaku sudah tidak sinkron. Tubuhku duduk diantara jutaan penonton, sementara jiwaku sudah sampai didepan podium berdiri di sampingnya. Aku benar-benar yakin dia adalah Ergaku yang hilang.
"Erga!" aku berteriak histeris ketika dia melemparkan senyuman manisnya, aku yakin dia sedang menatapku.
"Kao! Kao! Kao! " Aku membenci suara-suara manusia di aula ini yang sejak tadi terasa mengganggu. Mereka benar-benar hendak menyaingiku, mereka selalu menyebutmu Kao, Kao, Kao. Aku benci.
Sejak saat itu, aku tak menyukai keramaian. Aku pergi meninggalkan aula besar itu dan kembali ke kamarku. Kamar putih yang membuatku merasa tersisihkan. Mataku mengerjap, dan kesadaranku mulai berdatangan.
Aku menyukai dia sejak lama, entah kapan tepatnya aku tak bisa mengingatnya. Namun aku selalu memanggilnya Erga setiap kali ku berbincang dengan gambarnya. Sebuah gambar besar yang kutempel di kamar ini dan sebuah photo kecil yang selalu kugenggam.
"Erga, kenapa kau pergi meninggalkanku, kenapa kau memilih wanita itu, hiks hiks hiks," aku meneriakinya yang hanya terdiam menatapku.
"Aku tau namamu dari dulu adalah Erga, kenapa setelah menghilang kau berganti nama? Kao Jirayu? Kao Jirayu? bahkan kau tak lagi mau menyapaku, huuu huuu huuu," sesak ini semakin terasa.
"Aku sayang kamu, aku begitu mencintaimu melebihi diriku sendiri, tapi kenapa, kenapa kau menghianatiku?" teriakku sekuat tenaga, melepas semua beban dan keluh kesah yang tertahan.
"Jawab! " aku meraih cangkir yang ada diatas nakas dan melemparkan ke wajahnya.
Pranggggg
Kegaduhan ini membuat para penjaga berpakaian putih itu masuk. Akupun membenci mereka karena selalu memberiku suntikan dan setelah itu aku akan menjadi tak berdaya. Betul saja, mereka langsung memegangi tanganku.
"Cepat suntikan obat penenangnya Sus," lelaki berpakaian putih itu kudengar memerintahkan mereka untuk kesekian kalinya.
"Baik dok," jarum itu menancap kembali di kulitku, ngilu namun perlahan tubuhku terasa ringan.
Aku merasa semakin ringan, hingga akhirnya aku melupakan kemarahanku padamu. Photomu masih selalu tergenggam. Perlahan aku kembali terlelap, dan mulai memasuki ruangan itu lagi. Ruangan yang penuh dengan teriakan histeris.
"Kao, Kao, Kao Jirayu!"
"Kao, Kao, Kao Jirayu!"
"Kao, Kao, Kao Jirayu!"
Suaranya semakin menggema, menggema dan menggema memenuhi seluruh ruangan ini. Hidupku memang tak bisa lepas darimu.
-End-