Macet menyebabkan aku dan teman teman mencari jalan pintas agar cepat sampai dirumah.
Liburan kali ini Aku dan teman teman sekelas pergi berlibur didaerah Rokan hilir. Si indah merekomendasikan tempat yang bagus disana. Rencananya kami akan menghabiskan liburan selama dua Minggu. Beso kami akan tinggal di apartemen mewah milik ayah temanku, Kanya.
Hari pertama perjalanan tampak terasa sangat jauh. Kami harus menempuh lebih kurang 2 hari untuk sampai ditempat yang dituju. Aku harap tempat liburan yang direkomendasikan indah tidak mengecewakanku mengingat perjalanan untuk sampai kesini sungguh melelahkan.
Ku hantamkan tubuhku pada kasur empuk milik kanya setelah sampai di apartemen nya. Kami tiba saat matahari telah melenggang pergi. Lelah menghantuiku sampai sampai aku tertidur tanpa bergegas untuk bersih bersih dahulu. Kanya mungkin sengaja tidak membangunkan ku. Akhirnya aku tertidur sampai pagi tiba.
Suhu hangat memasuki jendela yang terbuka. Ternyata Kanya sudah bangun lebih dulu. Kulihat indah masih tertidur pulas di sampingku. Aku turun dari kasur dan berjalan perlahan menuju jendela yang terbuka. Ternyata kamar kami ada dilantai 3. Tadi malam aku sungguh lelah, jadi tidak sempat memperhatikan sekitar.
Sejenak aku berdiri didepan jendela untuk menghirup aroma pagi dan hangatnya mentari. Setelah itu aku pergi mencari Kanya. Terdengar suara ribut saat aku menuruni tangga menuju lantai 2. Kulihat Bima dan Kanya kejar kejaran sedangkan Kevin dan Gio bertepuk tangan bersorak kegirangan.
Kanya yang mengetahui kehadiranku segera memberi sapaan selamat pagi dan aku membalas sapaannya diikuti Bimo, Kevin dan Gio. Tidak lama kemudian, Indah juga sudah terlihat menuruni tangga. Setelah sarapan, mandi dan bersiap siap, kami menuju mobil untuk segera berangkat ketempat yang dijanjikan Indah.
"Udah ready semua guys? Jangan sampai ada yang tertinggal. Menurut maps, tempat yang kita tuju sangat jauh. Mungkin jika kita ini berangkat sekarang akan segera sampai saat matahari terbenam. Kita akan berkemah disana." Ujar Bimo mengingatkan.
Setelah dirasa semua sudah siap pergi, Gio melajukan mobilnya. Diperjalanan kami bernyanyi ria. Tidak ada yang bersedih atau sedang dalam masalah. kami sangat terlihat bahagia.
Sudah 3 jam berlalu, Rasa lelah mulai menyerang. Gio menghentikan mobilnya tepat didepan Alfamart. "Ada yang ingin dibeli?" Tanya Gio pada kami.
Kami semua turun kecuali Kevin yang sejak 2 jam lalu tertidur.
Saat semua sudah ready kembali, Gio melajukan mobilnya lagi. Tak terasa 1 jam berlalu. Terlihat Gio sangat mengantuk, Ia sudah berusaha makan permen juga rasa kantuknya tidak terhindari. Ia menghentikan mobilnya untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
"Lo ngantuk?" Tanya Kevin yang sudah terbangun.
"Iya nih, gantian dong."
"Oke"
Setelah berganti posisi, Kevin melajukan mobil. Dan Gio pun tampak tertidur pulas padahal baru beberapa detik tukar posisi. Saat itu hari sudah mulai beranjak malam. Kami semua tertidur di mobil kecuali Kevin yang menyetir. Ia sama sekali tidak mengantuk karena dia sudah tertidur cukup lama tadi.
Mendekati jam 8 malam, jalanan terlihat ramai. Ramai sekali sampai sampai tidak bisa menyalip mobil. Beberapa menit kemudian mobil didepan berhenti. Kevin mengira, Mobil didepan berhenti karena menunggu mobil arah lain lewat agar mobil itu bisa menyalip mobil yang didepannya lagi. Ternyata tidak. Mobil itu berhenti cukup lama. Alhasil mobil dibelakang mobil kami juga berhenti. Hanya jalan berlawanan arah yang terlihat lancar.
Macet ini membuat kami semua terbangun kecuali Gio. Karena kesal mobil didepannya tidak kunjung jalan, Kevin turun dari mobil dan berjalan menuju supir yang ada didepannya yang kebetulan turun dari mobil juga. Kevin berinisiatif untuk bertanya.
"Pak, ada apa didepan? kenapa bisa macet?" Tanya Kevin sopan.
"Anu dek, Katanya sih ada kecelakaan beruntun. Ada dua keluarga tewas, organ tubuhnya tercecer kejalanan. Jadi masih ada pembersihan jalan." Jelas sopir mobil travel yang berperawakan gendut itu.
Setelah mengucapkan terimakasih, Kevin masuk kembali kedalam mobil. Bimo langsung antusias bertanya,
"Ada apa Vin?" Tanya Bimo.
"Ada kecelakaan. sepertinya kita bakalan menginap di mobil deh semalaman." Dengus Kevin.
"Loh kenapa??" Pekik Indah yang membuat Gio terbangun.
"Soalnya ada korban yang tewas, organ tubuhnya tercecer kejalanan. bakalan dilakukan pembersihan jalan. Bukannya sebentar untuk membersihkan sesuatu yang seperti itu. Bakalan ada evakuasi dulu. Bakalan ada riset dulu. Ah ribet deh pokoknya." Jelas Kevin panjang lebar.
Tidak ada sahutan dari kami. Kami semua terdiam dengan pikiran masing masing.
"Udah bangun Lo? cepet amat?" Pertanyaan tersebut terlontar pada Gio.
"Ada apa kok berhenti?" Tanya Gio sambil sesekali mengucek mata dan menguap.
"Macet,"
"Macet kenapa?"
"Gausah banyak tanya Lo, tidur aja lagi."
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mobil tidak kunjung berjalan. Kevin yang sedari tadi tidak bisa tidur semakin dibuat kesal dengan keadaan. Ia melihat sekeliling, terlihat sangat sepi padahal mobil yang mengantri sebanyak ini. Kevin menghela nafas.
Tidak beberapa lama sopir mobil travel tadi keluar dari mobil menuju penjual kaki lima yang masih terlihat buka tapi tidak ada pembeli sama sekali. Kevin memperhatikan dengan seksama apa yang mereka bicarakan. Ternyata sopir itu bertanya tentang jalan pintas. Setelah sopir itu kembali kemobil, ia segera melajukan mobilnya untuk putar balik.
Dirasa yakin sopir tadi bertanya soal jalan pintas, Kevin mengikuti. Tidak ada yang tampak protes karena kami semua tertidur. Kevin melajukan mobilnya perlahan mengikuti mobil itu, anehnya mobil dibelakang kami pun mengikuti. Tampak ada 8 mobil termasuk kami yang mengikuti mobil travel itu.
Mobil travel itu masuk ke pedalaman sebuah desa. Ada beberapa rumah sudah terlewati. Terlihat ramai anak anak bermain padahal ini sudah jam 10. Jam yang tidak wajar anak anak masih bermain diluar rumah. Kevin tetap mengikuti laju mobil itu. Jalan yang bergelombang membuat Kevin kesusahan untuk mengejar mobil travel yang sepertinya jalannya terlihat mulus. Jarak sudah tergambar antara mobil travel dan mobil kami. Semoga kami tidak kehilangan jejaknya.
Beberapa menit kemudian, kami menemukan pertigaan. Google maps saat itu sama sekali tidak berfungsi. Mungkin jalan yang kami lalui belum tercatat di maps. Terlihat jalan besar sangat jauh dari kami mengemudi sekarang. Mobil didepan kami berhenti. Sang sopir keluar dan berjalan menuju mobil kami. Sopir itu mengetuk jendela mobil, Kevin membuka perlahan.
"Kenapa disini ga ada rumah ya, dek. Tadi bapak tanya sama orang pedagang kaki lima itu katanya kalau sudah Nemu pertigaan bakalan ada satu rumah disini. Tapi dimana?"
Kevin yang ditanya juga bingung, pasalnya dia tidak mengetahui jalan ini.
"Bapak bawa penumpang?" Tanya Kevin.
"Iya, dek. Mereka panik, saya udah berusaha menenangkan mereka."
Gio dan aku terbangun saat dirasa mobil tidak bergoyang lagi.
"Jadi bagaimana ini, pak? Mau tanya siapa? Google maps juga ga fungsi disini, soalnya ga ada jaringan."
Kulihat Kevin dan sopir itu terdiam sejenak seperti berfikir. Gio elihatannya juga seperti itu. Aku melihat sekeliling untuk mencari sisi terang. Tidak kutemukan apapun, hanya ada pohon pohon tinggi menjulang dan bulan yang sedang purnama.
"Ini dek nomor saya, Segera telepon saya untuk saling berkabar. Sepertinya saya tidak bisa berlama lama meninggalkan penumpang." Ujar sopir itu. Terdapat raut wajah takut.
Setelah Kevin menerima kertas kecil yang berisi nomor telepon sopir itu, Sopir tersebut berlari kecil menuju mobil kemudinya. Kevin menaikkan kaca jendela mobil dan termenung untuk beberapa saat.
"Semoga ada seseorang yang lewat sini." Ucap Gio perlahan tetapi kami berdua mendengarnya.
"Mengapa kita tidak jalan saja, Vin?" Usul Gio setelah itu.
"Tidak bisa gegabah. Kalau sempat minyak kita habis gimana? Gue lupa tadi mau ngisi. Gue kira ga bakalan kejebak macet kita." Keluh Kevin sambil mengacak acak rambut nya.
Aku juga frustasi mendengarkan kalimat Kevin yang tidak menyenangkan. Tiba tiba ada seseorang yang mengetuk kaca jendelaku. Aku tersentak kaget dan merapatkan diriku pada Bimo yang sedang tertidur pulas.
"Yo, Gio!" pekikku pelan sambil menarik narik baju Gio.
"Apasih?"
"Itu, itu!" Tunjukku pada jendela mobil.
Berdiri seorang bapak paruh baya membawa sabit dibahunya sedang mengetuk ngetik kaca mobil. Gio yang melihat segera membangun Kevin yang sudah menutup mata ntah sejak kapan.
"Vin, bangun. Ada yang ngetuk kaca jendela Pinkan."
"Siapa?" tanya Kevin pelan.
Kevin langsung melihat kebelakang. Kevin membuka kaca jendelanya dan bertanya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?"
"Kalian tersesat?" Tanya bapak itu.
"Iya pak. Kami bingung didepan ada pertigaan, tidak ada seorang pun yang bisa kami tanya disini." Keluh Kevin.
"Kalian bisa belok kearah kanan. Nanti kalian akan menemukan rumah penduduk, tanya saja pada mereka. mereka dengan senang hati akan mengarahkan kalian kejalan besar. Bahaya berlama lama disini, den." Terang bapak itu.
"Makasih pak. Ngomong ngomong, bapak orang desa sini?" Tanya Kevin.
"Iya, den. Rumah saya ada disana."
"Kenapa bapak malam malam berada disini?"
"Saya baru pulang mencari kayu bakar untuk memasak."
"Kalau boleh tau, nama bapak siapa ya?"
"Orang kampung sini sering manggil saya demit."
"Oh, terimakasih pak demit. Kami akan lanjutkan perjalanan. Mari, pak." Kilah Kevin lalu melajukan mobilnya sambil menelepon seseorang.
"Halo, pak. Ikuti saya pak. saya tau jalannya."
Dalam perjalanan jalan sangat bergelombang. Perutku sampai sakit. Rasa nya pengen pipis.
"Woy pengen pipis nih gue." Resah Bimo yang ntah sudah sejak kapan terbangun.
"Sama gue juga nih." ucapku menambahkan.
"Tahan dulu dong, gamungkin kita berhenti ditempat sepi kayak gini." Ujar Kevin.
"Kencing dicelana dong Lo Bim, hahahaha." canda Gio. Tapi sayangnya tidak ada balasan dari si empunya.
Sudah 2 jam berlalu tapi kami tidak juga menemukan rumah penduduk. Tiba tiba ponsel kevin bergetar. Ada telepon masuk.
"Halo, pak?"
Sang sopir mobil travel menelepon.
"Dek, mobil yang mengikuti kita tidak ada lagi. kemana mereka?"
"Loh kok tanya saya pak, saya kan jelas ada didepan bapak."
"Mereka hilang tiba tiba, dek."
"Tadi waktu pertigaan, mereka belok kemana pak?"
"Sama kayak kita den. Belok kiri."
"Belok kiri? Kanan mungkin maksudnya, pak." Ujar Kevin berusaha tenang.
"Kiri kok dek. Itu mobil kamu didepan saya kan. Mobil warna hitam."
"Mobil saya warna putih, pak."
"Jadi itu siapa dek?"
"Itu bukan saya pak." Kevin langsung melihat kebelakang, benar saja. Dibelakang tidak ia temukan mobil travel. Hanya ada beberapa mobil pribadi.
"Pak, masih dengar saya?"
"Mobilnya berhenti dek."
"Pak, putar balik pak. Itu bukan mobil saya. saya ga berenti pak!" Teriak kevin membuat indah dan Kanya terbangun. Aku menangis ketakutan dipelukan bimo.
"Ada apa ini?" Tanya indah sambil mengucek kucek mata.
"Loh kita dimana sih?" Tanya Kanya bingung.
"Ini jalan pintas, tadi kita kena macet." Jelas Bimo.
Tuuutt suara telepon dimatikan sepihak. Kevin mencoba menelepon terus, tapi tidak ada sambutan dari sana.
"Gio, coba lo terus telponin." Suruh Kevin sambil tetap melajukan mobil.
Gio terus menelepon.
"Ga bisa, Vin. Panggilan tidak terjawab."
"TERUS PANGGIL!!" Teriak Kevin. Wajahnya sangat panik.
"Wooyy, ada rumah warga!" Teriakku saat melihat semburat cahaya lampu.
Kami semakin bersemangat mengemudi. Tetapi cahay lampu itu terasa jauh, padahal cahaya lampu itu terlihat besar.
2 jam berlalu. Kami awalnya melewati kuburan dan akhirnya menemuka masjid yang sepi seperti tidak terurus lagi. Kami tetap melanjutkan perjalanan.
"Tidak bisa ditelepon lagi, Vin. Udah diluar jangkauan."
Tidak ada balasan dari Kevin. Ia terus melajukan mobil sampai akhirnya kami menemukan rumah warga dan jalan besar. Kevin berhenti digang.
"Gantian Bim." Ujar Kevin sambil turun dari mobil menuju pintu Bimo. Bimo keluar dan masuk ke duduk kemudi.
Bimo mengemudi.
"Kalian ngerti ga? Ini gang masuk yang kita masuki tadi. Lihat kebelakang, ga ada mobil siapapun. Gue lelah selalu dipermainkan sama ilusi." Keluh Kevin sambil menyenderkan kepalanya pada pundak ku.
"Bapak sopir tadi siapa?" Ujar Gio.
"Bapak tua tadi siapa yang nunjukin jalan kita?" Ujar Bimo.
"Gatau gue ah pusing main main sama yang kasat mata." Ucap Kevin sambil memejamkan mata.
"Jam berapa ini Bim?" Tanya Kevin kemudian.
"Jam 11.11," Jawabnya
Kevin terperangah. Ia tidak percaya, pasalnya keluar dari kemacetan menuju jalan pintas waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Berarti mereka hanya menempuh waktu 1 jam untuk keluar dari sini? Padahal perjalanan terasa sangat lama sekali.
Kami semua terpaku.