Kamar sempit yang hangat, redup, dan hanya menampakkan layar TV yang menyala. Di luar hujan, pasti udara sangat dingin. Sunny terduduk di karpet abu yang menempel di lantai, bersandarkan sofa biru tua dan menyembunyikan dirinya di balik selimut bulu yang hangat.
Matanya berbinar tak lepas memandangi TV LED 32 inch, menampakkan tujuh lelaki muda yang sangat dikagumi banyak orang hampir diseluruh pelosok dunia. Di new Zealand pun, ia pasti akan mendengar teriakan seorang fans yang tak sengaja mengenalinya.
Sesekali ia tersenyum memperhatikan kekasihnya, lelaki berambut ikal, tinggi, berkulit putih dan memiliki senyum yang terlau manis. Sunny sangat menyukai senyum manis itu, ia juga sangat merindukan sosoknya yang akhir akhir ini selalu jauh dari dirinya.
Ini sudah pukul 22.45, konser sudah berakhir sekitar empat jam yang lalu namun handphone Sunny tak kunjung bergetar. Ia sangat berharap kabar baik akan datang dari ponsel tipisnya yang tergeletak di samping kue bulat berdiameter 14 centimeter yang sudah tertancap beberapa lilin ramping di permukaannya.
Berulang kali Sunny melirik ponselnya penuh harap. Sunny sama sekali tidak ingin mengganggu kekasihnya, ia tidak ingin membebaninya dengan menanyakan kapan ia akan datang. Ia tahu kekasihnya sangat sibuk dan terlalu sibuk untuk sekedar mengetik pesan untuknya.
Kim Taehyung, ia berjanji untuk datang malam ini, setelah puluhan janji yang tidak pernah bisa ia tepati. Ia berjanji akan menemui Sunny di hari ulang tahunnya, ia juga berjanji akan memberikan ucapan pertama padanya.
Tapi nyatanya ...
Ini sudah jam 23.55, 5 menit lagi sudah memasuki tgl 7 februari.
Sunny mengulas senyum. "Apa yang aku harapkan?" Ia membenarkan duduknya, menarik meja kecil tempat kue ulang tahun sederhana yang ia siapkan dan menempatkannya tepat di hadapannya.
Persis seperti tahun tahun sebelumnya, Sunny hanya akan melewatkan hari ulang tahunnya seorang diri.
"Sunny ..." Sunny tersenyum simpul di hadapan lilin lilin yang kini telah menyala.
"Selamat ulang tahun," tambahnya sebelum meniup semua nyala lilin.
Lalu padam, menyisakan gelap yang sudah biasa bersamanya.
Tidak ada harapan, tidak ada keinginan. Sunny sudah lebih baik hidup seperti ini, tidak ingin terlalu serakah memimpikan apapun. Ia hanya gadis biasa biasa saja yang hidup penuh kesederhanaan.
Ia ingin memejamkan mata sejenak dan kembali bangun untuk bekerja esok hari. Membiarkan kuenya tanpa sedikitpun ia cicipi. Melangkah ke tempat tidur setelah mematikan TV dan menyamankan dirinya bergelut dengan selimut tebal yang biasa ia pakai.
Ia ingin tidur, ia tidak ingin memikirkan apapun.
Kau tidak seharusnya berharap lebih pada kekasihmu, batin Sunny dengan mata terpejam. Setetes air mengalir dari sudut matanya. Kecewa? Sangat ... karena kekasihnya tak juga datang meski Sunny menunggunya hingga dini hari.
Sunny tetap terjaga, raganya terlalu lelah namun jiwanya tak bisa mengikuti isyarat sang raga. Terlalu kecewa, meski ia paham hal ini memang sudah biasa terjadi padanya.
•
Sunny beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi bekerja. Sunny masih berharap akan menemukan kekasihnya di pagi hari, namun nyatanya nihil. Melihat kuenya masih utuh, Sunny membawanya masuk ke kulkas kecil di sisi ruangan.
Sunny memeriksa ponselnya, mengetik pesan untuk Taehyung namun urung mengirimnya. Ia tidak ingin membebani Taehyung dengan segala kerinduan yang ia miliki.
Ia pergi bekerja di sebuah yayasan pinggir pantai sebagai pengajar dengan gaji kecil. Ia tidak pernah mengeluh, ia juga selalu menolak menerima semua bantuan dari kekasihnya. Ia akan sangat marah jika kekasihnya memberikannya barang mewah dan mahal. Ia lebih memilih barang sederhanya dengan penuh syarat akan cinta dan kasih di banding barang mewah yang tidak berharga buatnya.
Sunny selalu mengajar hingga sore, ia berangkat dini hari dan kembali sore hari kadang juga sampai petang. Di sela ia mengajar, berulang kali Sunny memeriksa notifikasi masuk untuk memastikan kekasihnya menghubunginya, ia berharap kekasihnya akan memberinya sebuah alasan kenapa ia tidak datang atau kenapa ia tidak mengabarinya sama sekali.
Ia akan sangat lega jika Taehyung mengiriminya pesan ntah sebuah ucapan atau janji untuk menukar janjinya malam itu. Ia hanya mengharapkan kabarnya ... Tidak lebih, ia mengharapkan kabar jika ia baik baik saja, hanya itu.
•
Mentari menyulap langit menjadi jingga, camar camar mulai sadar dan kembali pulang. Ombak beriak tak peduli, tetap tenang untuk pulang pergi ke pesisir.
Tebing kokoh itu tak pernah lelah mendengar aduan air dari tengah laut, datang dan kembali semaunya. Membuatnya bising hanya dengan mendengar deburannya.
Angin mulai berubah haluan, daratan mulai dingin dan angin berubah arah. Dari daratan kembali bertiup ke lautan. Angin angin tak henti menerbangkan apapun membuat helaan nafas berat Sunny juga sedikit tersamar.
Ia berjalan melewati jalanan dekat pantai untuk kembali ke rumah kecilnya. Menuntun sebuah sepeda yang akan ia kayuh setelah matanya puas memandangi lautan.
Langkah Sunny terhenti, dadanya tiba tiba bergemuruh ... matanya menggenang tak sabar untuk tumpah ketika di pandangnya seorang lelaki berbadan tinggi menggenggam buket bunga kering berdiri melambaikan tangan padanya.
"Taehyung-ah ..." Sunny tersenyum lega seraya mendongkrak sepedanya dan berlari ke arah kekasihnya.
Dan aku tahu, kau tak pernah sedikitpun berniat untuk mengingkari janjimu. Aku sadar ini sulit, tapi ntahlah ... Cinta ini terlalu besar hingga tak memperdulikan rasa sakit karena menunggumu.
Sunny menghambur ke pelukan kekasihnya, dan Taehyung mendekapnya erat mengusir kerinduan yang terlalu dalam.
"Jangan meminta maaf." Seperti sudah paham tentang apa yang akan dikatakan kekasihnya, Sunny terlebih dulu menghentikannya berbicara.
"Selamat ulang tahun ... maaf karena tidak pernah bisa menepati janjiku, maaf karena tidak bisa menjadi orang pertama yang mengucapkannya."
"Taehyung-ssi berhentilah bicara!" Sunny mendongak memastikan kekasihnya baik baik saja. "Kau selalu menjadi yang pertama, aku tidak memiliki siapapun selain dirimu."
"Terima kasih karena telah menungguku, aku mencintaimu," bisik Taehyung lirih mengeratkan pelukannya.
"Aku lebih mencintaimu."
Sunny cukup malu untuk mengeluh pada laut yang tanpa pamrih dan lelah mengikuti titah angin. Selalu mengikuti sebesar apa usaha angin untuk terus membimbing air tetap bersemangat menunjukkan riaknya pada pesisir.
Tanpa lelah, tanpa keluhan.
Ia akan tetap mencintai Kim Taehyung dan ia akan mundur jika cintanya tak lagi kepadanya. Sunny bukanlah seseorang yang bisa membuat Taehyung tetap bersamanya. Terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak kekurangan jika berdampingan dengannya. Sunny sangat mencintai Taehyung, sampai kapanpun tapi ia tidak pernah lupa siapa dirinya. Ia sangat berterima kasih pada Taehyung yang mau menerima dirinya, tidak pernah mempermasalahkan apapun, tidak pernah menuntut apapun.
Taehyung menangkup wajah Sunny dengan kedua telapak tangannya. "Jangan pernah lelah untuk menungguku, kamu adalah bahagiaku. Aku berjanji akan selalu berada disampingmu suatu saat nanti. akan ku tunjukkan pada dunia tanpa ada satu hal pun yang ditutup tutupi," janjinya sembari mngusap pipi Sunny yang basah oleh air mata.
Sunny menatap mata coklat Taehyung lembut. "Ya, aku akan menantikan hari itu."
End
Terimakasih sudah membaca
Tinggalkan komentar & saran untuk tulisan ini,
Saranghae ... 💕