🍂Aku mencintaimu meski kita sudah terpisah dunia 🍂
Degi adalah lelaki paling romantis yang ku kenal.
Aku adalah seorang atlet atletik. aku adalah salah satu utusan gugus untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten.
Semua olahraga diadakan.
Hari itu adalah hari terakhir latihan menjelang perlombaan.
Latihan hari itu membuatku sangat letih. namun, lariku terhenti saat seorang menatapku dengan senyum menyerkah dari belakang pelatih.
Dia adalah Degi. lelaki yang waktu itu belum pernah ku lihat sekali pun.
"Siapa dia?"tanyaku pada pasangan atletik ku yang bernama Dany.
"Owh, Degi maksudmu?! dia atlet takraw gugus kita!"penjelasan Dany membuatku hanya mengangguk sambil tersenyum sedikit.
Sesi latihanku semakin semangat saat Ia membelikan ku sebotol air.
"Degi!"menyondorkan air pada ku. Degi memperkenalkan dirinya.
"Ah terimakasih. aku Riri!"menerima botol mineral itu menjadi hal pertanda aku kembali membuka hati setelah kehilangan Zaky yang ntah menghilang kemana.
"Semangat latihannya, semoga besok kita menang. jangan sampai tidur begadang ya malam ini. kasihan tubuhnya nanti sakit!!"Aku mengangguki ucapan Degi dengan senyum.
"Makasih ya"
Sesi latihanku sudah selesai.
"Kalau gitu aku duluan ya Ri. sampai ketemu esok. aku menunggu semangat darimu. semangat!!"Degi tidak hentinya membuatku tersipu malu hari itu.
-----
Pagi nya perlombaan itu berjalan lancar, sayangnya aku tidak bisa melihat perlombaan Degi karena waktu lomba kami begitu dempet.
Makan siang waktu itu mengejutkanku.
Dengan membawa kan sebotol air mineral lagi. Degi memberikannya padaku.
Terkadang aku berfikir Degi itu seperti tau saat-saat aku memerlukan air
"Makasih ya!!" hanya itu percakapan kami karena menurut ku tidak ada hal yang harus dibicarakan.
Hari itu juga, aku melihat nya sholat tanpa menghiraukan sahabat-sahabatnya yang lain asik menonton perlombaan. Melihat itu ntah mengapa hatiku mulai bergetar dibuatnya.
-----
Hari esoknya aku kembali dibuat tersipu oleh nya.
"Pagi Ri. kamu cantik saat rambut dikucir seperti itu!!"aku membisu ditempat saat Degi membisikkannya tepat di telingaku.
Tanpa menjawab, akhirnya pembicaraan kami hanya sampai disana. Ya, hanya sampai sapaan Degi yang tidak aku balas karena sudah lebih dahulu tersipu malu.
Aku juga tidak sering bertemu Degi, karena hari itu perlombaan begitu dempet. Jadi, kami hanya bertemu saat pulang dan pergi saja.
------
Hari esoknya lagi adalah hari dimana aku merasa gagal menjadi seorang atlet.
Karena kesalahan ku tidak pemanasan sebelum lomba. aku akhirnya gagal dan lansung di diskualifikasi.
Aku terjatuh ke tanah, kaki ku terkilir dan rasanya begitu sakit. Pelatih datang dengan raut wajah kecewa padaku. Waktu itu adah saat-saat penuh kecewa pada diriku sendiri.
Aku mencoba bangkit dan duduk diatas matras. Degi menghampiri ku dengan wajah yang begitu khawatir.
"Ri, kamu gak apa-apa??"Degi langsung memijati pergelangan kakiku.
"Aw gak apa-apa kok Deg! kamu kok kesini sih, bukannya sekarang lomba terakhir kamu ya?!"aku mencoba menahan nyeri dikaki.
"Kamu lebih penting Ri dari lomba itu!!"ucapan Degi membuatku merasa sangat senang.
Tanpa banyak bicara, aku membiarkan nya mengobati kaki ku yang cedera ditambah dengan bantuan panitia perlombaan. Meski dekat atau pun bertemu, tetap saja aku tidak punya kosa kata yang tepat untuk dibicarakan dengan nya. Mungkin aku terlalu malu untuk memulai hal itu.
------
Hari esoknya menjadi hari terakhir perkumpulan atlet gugus. Kami diberikan liburan ketempat wisata. Waktu itu hari yang sangat tidak mendukung. hujan terus menerus. Dan jailnya para atlet lain malah menarikku nenikmati hari hujan.
Di saat tengah asik bermain dan bersenda gurau dengan yang lain nya. Tanpa sadar, Degi menarik ku kesuatu tempat yang tidak akan pernah terlupakan bagiku sampai sekarang.
Yaitu sebuah ditaman wisata tempat kami liburan. Tempat nya begitu bagus, meski rintik-rintik hujan namun kupu-kupu masih terbang bebas mengitari kami.
Aku dan Degi menghindari semua atlet dan hanya berdua di taman bunga itu. Ntah inisiatif dari mana, Degi meraih setangkai bunga kuning itu.
Ia berlutut dihadapanku.
"Bunga ini cantik, cantik kayak kamu. jujur Ri aku suka sama kamu" Dengan ekspresi yang tidak bisa di isyarat kan. aku kaget, dan tidak tau harus melakukan apa. Akhirnya, ku putuskan untuk menerima bunga itu dengan senyum menyerkah.
Ntah itu disebut dengan menerima rasa suka Degi atau tidak. Namun, kenangan manis itu tetap memiliki jejak dalam hati ku.
Saat aku menerima bunga. lagi-lagi Degi dan aku kehabisan kata-kata. kami saling diam. sampai akhirnya beberapa atlet lainnya memergoki kami. mereka mencibir kalau kami berdua tengah berpacaran. meskipun demikian, tetap saja itu hanya bercanda. Degi dan aku hanya menganggap mereka biasa saja. aku dan Degi pun kembali ikut bersama anak-anak lain nya tanpa mau berbicara tentang kejadian barusan.
kami hanya saling tatap dan tersenyum malu. aku pun demikian. bahkan rasanya sungguh tidak bisa di isyarat kan.
Hari itu begitu menyenangkan, meski kami tidak bicara sampai sudah pulang ke rumah masing-masing.
Namun...
Tanpa aku ketahui hari itu adalah hari terakhir aku bercanda gurau dengan Degi. 2 tahun setelah perlombaan itu aku tidak lagi bertemu dengan Degi. Sampai akhirnya aku telah lulus dan melanjutkan sekolah ku.
Malam itu adalah malam tersulit yang pernah kurasakan, malam sebelum mos aku mendapat kabar dari sahabatku.
Bahwa Degi sudah meninggal dunia. Rasanya aku tidak bisa berkata apapun selain menangis sendiri didalam kamar malam itu.
Aku bahkan sudah lama tidak bertemu dengan nya, rasanya tidak adil karena aku tidak sempat membalas ucapan nya waktu itu. Rasanya baru kemarin bunga itu ia berikan kepada ku. ketidak percayaan ku malah membuat ku semakin hancur malam itu.
Meski demikian, kenyataan Degi telah meninggalkan ku. meninggalkan dunia ini. Aku hanya bisa berdoa agar ia ditempatkan ditempat yang terbaik disisi Tuhan.