Yoona bersenandu ria sembari berjalan santai dikoridor kampusnya yang ramai, hiruk piruk para gadis yang asik dalam obrolan tidak bermutu yang hanya akan menambah dosa.
Beberapa orang pasti akan menyapa gadis blasteran Indonesia-Korea tersebut, selain berhati baik dan berwajah cantik, Yoona juga termasuk mahasiswi poluler dikampus.
Tidak hanya karna kecantikanya tetapi juga karna kedekatanya dengan dosen lelaki tampan yang diketahui masih single oleh para mahasiswi kampus.
"Kau dekat dengan pak Cakra, Yon. Tidak mungkin kau tidak tahu sekedar wanita yang tengah mengisi hatinya!" gerutu Lia, salah satu sahabat Yoona yang memiliki ketertarikan dengan Cakra Dirgantara.
"Tidak." jawab Yoona santai.
Sejujurnya ada rasa cemburu dihati Yoona saat banyak gadis yang menanyakan Cakra kepada dirinya, Yoona tidak mau berbagi apapun tentang Cakra kepada gadis lain.
Ya, dia memang pelit. Tapi semua Yoona lakukan karna rasa cintanya untuk Cakra, Yoona tidak mau seseorang lebih mengenal Cakra daripada dirinya sendiri.
**
Setelah selesai dengan kelasnya hari ini, Yoona memutuskan untuk makan siang dikantin bersama Lia dan Violet, sahabat baik Yoona dikampus.
Senda gurau menghiasi siang mereka, tak pernah ada perselisihan diantara mereka bertiga, bahkan tidak sedikit orang yang mengatakan jika mereka seperti kembar tiga yang tidak akan bisa dipisahkan.
Namun sepertinya sedang ada sedikit konflik diantara Yoona dan Lia semenjak Yoona mengetahui perasaan Lia untuk lelaki tercintanya, begitupun dengan Lia yang merasa tersaingi oleh Yoona karna ia tidak lebih dulu dekat dan menganal Cakra.
Saat bersama dengan Violet, Yoona akan terlihat baik-baik saja dengan Lia, namun terjadang. Lia akan secara terang-terangan menunjukan ketidak sukaanya dengan gadis blasteran Korea tersebut.
Terkadang Vio akan berusaha membuat keduanya kembali akur, tetapi sayang keras kepala Lia sangat besar hingga membuat rasa bencinya kepada Yoona bertambah besar dengan alasan Yoona telah mengambil Vio darinya jika Vio lebih membela Yoona daripada Lia.
"Bagi nomor pak Cakra dong!" seru Lia meminta nomor Cakra kepada Yoona.
"Tidak ada." jawab Yoona cepat, hal yang paling Yoona tidak sukai adalah saat para gadis meminta nomor ponsel Cakra kepada dirinya.
Bukankah mereka terlalu terang-terangan untuk mengibarkan bendera perang melawan Yoona, padahal gadis tersebut tahu kalau Cakra sedang dekat dengan Yoona sendiri.
"Ngomong aja gamau bagi, pake alasan pula!" cibir Lia kesal karna keinginanya tidak terpenuhi.
"Kalau kataku tidak ada ya berarti tidak ada! minta langsung saja dengan pak Cakra kalau kamu kebelet pingin nomornya!" balas Yoona tidak kalah kesal karna Lia sungguh memaksanya.
Lia seakan tidak peduli, ia berambisi mendapatkan cinta seorang Cakra, tetapi Lia tidak mengetahui jika Cakra tidak suka didekati oleh sembarangan gadis, walaupun gadis tersebut adalah sahabat baik Yoona, Cakra tidak akan segan melukai Lia jika Lia nekat mendekati dirinya.
"Ck, mana ponselmu?! yang aku inginkan hanya nomor pak Cakra!" ujar Lia masih tidak menyerah.
Yoona menggeram kesal, ia sangat tidak suka dipaksa terutama masalah Cakra, rasa cemburu membuatnya segera pergi untuk menghindari Lia.
Baru saja ia ingin melangkah pergi, tetapi sebuah kaki menghadang jalanya hingga jatuh tersungkur dilantai dingin kantin kampus.
Mendadak kantin menjadi heboh, banyak orang yang menertawakan Yoona tetapi tidak sedikit orang yang meringis kasihan melihat nasib buruk gadis blasteran tersebut.
Lia tertawa melihat keadaan Yoona yang sudah kotor, pakaian gadis itu tertimpa makanan yang sebelumnya ia makan, Lia dengan sengaja ingin mempermalukan Yoona didepan umum.
Benar, kaki yang menghalangi jalan Yoona tidak lain adalah kaki Lia, gadis itu mereka jengkel karna Yoona tidak memberikanya nomor Cakra dan hendak meninggalkan dirinya dan Vio dikantin.
Lia berdiri dari kursinya dengan sebuah gelas berisi jus alpukat ditanganya, dengan sengaja Lia menumpahkan jus miliknya diatas kepada Yoona hingga membasahi rambut panjang Yoona.
Tawa pengunjung kantin pecah melihat keadaan Yoona yang semakin kotor, air mata mengalir dari pelupuk mata berkornea coklat milik Yoona.
Kenapa Lia tega mempermalukan dirinya didepan umum seperti ini? hanya karna masalah nomor telepon seorang Cakra Dirgantara?
Bukankah obsesi gadis itu bertambah besar untuk mendapatkan Cakra? Lia sungguh-sungguh mengibarkan bendera perang melawan dirinya. Yoona harus lebih waspada sekarang karna sepertinya Lia sudah beralih, dari kawan menjadi lawan.
Yoona memegangi rambutnya yang terasa lengket karna jus alpukat milik Lia, rasanya sakit melihat Lia menertawakan dirinya dihadapan banyak orang, Vio-pun tidak membantu dirinya.
Namun tiba-tiba sebuah jaket melilit tubuhnya yang kotor, gadis itu menengadah melihat wajah orang yang sudi menolong dirinya disaat banyak pasang mata yang menghina dirinya.
Kantin mendadak hening, tidak ada lagi suara tawa yang terdengar diindra pendengaran Yoona, dengan jelas Yoona dapat melihat tatapan takut pengunjung kantin setelah seseorang dengan berani menolong dirinya.
"Para manusia hina! teman kalian dalam keadaan susah, bukan kalian bantu malah kalian tertawakan!" seru orang tersebut marah.
Tidak ada yang berani menjawab karna perasaan takut, Lia bahkan menundukan kepalanya karna melihat tatapan penuh amarah dari orang yang telah menolong Yoona hari ini.
"Kamu! bukankah kamu sahabat Yoona? kenapa kamu mempermalukan sahabat baikmu sendiri dihadapan umun seperti ini hah?! dasar gadis tidak bermoral!" hinanya seraya menunjuk wajah Lia.
Hening, semua terdiam dengan nyali dengan menyurut. Perasaan takut tentu saja mereka rasakan, ingin rasanya mengulang waktu dan menolong Yoona bukan malah menertawakan gadis malang tersebut.
Namun apa daya? nasi sudah menjadi bubur. Hanya dapat pasrah karna pasti hukuman adalah jalan keluarnya. Tentu bukan hukuman ringan yang akan mereka dapatkan.
"Cakra, aku tidak apa-apa." lirih Yoona berusaha menyurutkan amarah Cakra, gadis itu sama seperti yang lain, merasa takut karna Cakra saat ini seperti bukan dirinya yang biasanya ramah.
Ya, Cakra yang menolong Yoona disaat semua orang menghinanya dengan tawa nista mereka. Cakra dengan berani menyelimuti tubuh Yoona yang menggigil karna rasa dingin lantai kantin dan es batu dari jus alpukat yang membasahi kepala hingga sebagian tubuhnya.
Selama ini, Cakra Dirgantara dikenal karna ramah dan baik hati, senyumanya yang manis sukses menghipnotis para gadis untuk terjebak didalam pesonanya yang menggoda.
Tetapi saat ini Cakra bagaikan singa yang siap memangsa buruanya, matanya menatap tajam semua orang dengan aura mengintimidasi miliknya yang pekat.
"Tidak apa-apa kau bilang? lihat dirimu Yoona!" seru Cakra kesal.
Tanpa ba-bi-bu lagi Cakra segera menggendong gadisnya menuju klinik yang tidak jauh dari kampus, karna saat ini perawat UKS sedang tidak ada ditempatnya.
Cakra tidak ingin gadisnya kenapa-napa karna ulah manusia sialan yang menjelma menjadi sahabat baik Yoona, rasanya Cakra ingin mencabik habis wajah Lia yang menurutnya jelek dan pasaran.
Tetapi keselamatan Yoona saat ini adalah prioritas utamanya, Cakra tidak akan memaafkan siapapun orang yang berusaha menyakiti gadis kecilnya.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Cakra khawatir.
"Pasien baik-baik saja, hanya sedikit lecet dibeberapa bagian dan demam karna suhu tubuh yang cukup tinggi. Saya akan memberikan obat dan kemungkinan demamnya akan segera turun beberapa saat lagi." jelas sang dokter ramah.
"Terimakasih dok, apa boleh saya melihat pasien?" tanya Cakra kemudian.
"Silahkan, kalau begitu saya permisi." pamit sang dokter berlalu pergi.
Cakra masuk dengan cepat, ia menatap wajah Yoona dengan sendu. Gadis cantik ini tidak sadarkan diri karna pingsan sebelum tiba diklinik membuat Cakra takut setengah mati.
Lengan kekarnya mengusap lembut kepada gadis kecilnya, dapat ia lihat beberapa lecet diwajah cantik Yoona, tetapi itu semua tidak mengurangi pesona gadis kecilnya. Menurut Cakra, Yoona selalu cantik bagaimanapun keadaanya.
Hanya saja ia merasa gagal melindungi gadisnya yang malang ini, amarahnya kembali memuncak ketika mengingat kejadian beberapa saat lalu.
Amelia Yuliana, gadis itu akan menerima akibat dari perbuatanya yang berusaha menyakiti Yoona-nya Cakra, tunggu saja pembalasan yang akan Cakra berikan untuk Lia.
Dan juga, Violettha Angelina Cempaka. Gadis ini hanya diam dan terkekeh kecil melihat Yoona dipermalukan oleh Lia tadi, walaupun Vio tidak ikut menyakiti Yoona seperti Lia, gadis ini akan sedikit merasakan pembalasan dari Cakra.
Aish, sepertinya Yoona sudah gagal memilih teman untuk menjadi sahabatnya, tangan Cakra sudah gatal untuk membalas perbuatan Lia kepada gadis kecil kesayanganya, tetapi Cakra harus menunggu sampai Yoona tersadar dari pingsanya.
Tentu saja Cakra tidak ingin meninggalkan Yoona sendirian, Cakra tidak ingin Yoona mencari-carinya saat sadar nanti, Cakra ingin Yoona melihat wajah tampanya saat gadis itu pertama kali membuka matanya.
Terserah jika ingin mengatakan jika dirinya sudah menjadi bucinya Yoona, para pembaca yang mengatakan Cakra bucin sepertinya tidak pernah merasakan cinta ( xixixi, canda gan:v)
Setelah beberapa saat menunggu, Yoona akhirnya membuka matanya walau masih sedikit merasa pusing dikepalanya. Yoona melihat wajah tampan Cakra yang telah tertidur lelap sembari memeluk dirinya.
Yoona tersenyum lembut, tanganya mengusap sayang kepala Cakra, Cakra menggeliat merasakan sesuatu yang mengelus kepalanya.
Ia tersenyum melihat Yoona sudah sadar, dan tengah tersenyum manatap dirinya, tetapi Cakra dapat melihat jika gadis itu meringis walaupun lirih.
"Apa ada yang sakit?" tanyanya lembut.
"Sudah tidak lagi." jawab Yoona.
"Baiklah, istirahatlah dulu nanti aku akan antarkan kamu pulang." ujar Cakra.
Yoona hanya menjawab dengan anggukan kecil, Cakra benar-benar mengantarkanya pulang disaat hari sudah hampir malam.
"Hati-hati dijalan, love you!" ujar Yoona
"Love you too, my girl friend!" balas Cakra sebelum mengendarai mobilnya pergi.
Pemikiran kalian tidak salah, Yoona dan Cakra adalah pasangan kekasih. Namun mereka merahasiakan hubungan mereka karna Yoona yang tidak ingin menjadi bahan bully-an para fans bocil kekasih tampanya itu.
**
Malam ini Yoona akan menemui Cakra, ia sudah memiliki janji dengan dosen tampan yang sudah mencuri hatinya tersebut, Yoona merasa bahagia karna akan menghabiskan waktu bersama Cakra.
Tadi sore Cakra mengirimkanya pesan singkat untuk membicarkan hal serius berdua yang Yoona sendiri tidak mengetahui masalah apa yang ingin Cakra bahas bersama dengan dirinya.
"Hai, lama nunggu?" tanya Yoona sekedar berbasi- basi (tapi basi xixixi).
"Santai saja." jawab Cakra.
Mereka berada diruangan private yang Cakra pesan, setiap meja terdapat lilin dengan lampu ruangan yang dipadamkan, ini sangat romantis bagi Yoona.
Keduanya duduk sembari menunggu pesanan yang Yoona pesan, sedangkan Cakra sudah terlebih dahulu memesan secangkir kopi hangat.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Yoona yang sepertinya menangkap gelagat gugup kekasihnya.
"Aku-aku-aku." ujar Cakra gugup bercampur bingung ingin memulai dari mana.
"Are you oke?" tanya Yoona sedikit khawatir.
"Yes. I'm oke." jawab Cakra mulai tenang. Namun tidak sepenuhnya, ia masih sedikit gugup.
"Katakan saja, tenang. Tarik nafas, buang. Terus begitu, oke?" ujar Yoona memberi semangat kecil.
Cakra mengangguk pelan, ia memantapkan niatnya dengan mencoba mengikuti intruksi yang diberikan Yoona, gadis kecil kesayanganya.
"Aku tidak ingin lagi menjadi pacarmu, Yoona." ujar Cakra cukup santai.
Mata Yoona terbelalak sempurna, apa maksud Cakra? lelaki ini meminta putus dengan dirinya? begitu?!
"Ap-apa maksudmu?" tanya Yoona sedih, wajahnya bahkan seolah kehilangan semangat hidup. Cakra, Yoona sudah bersama lelaki itu selama tiga tahun, tentu rasanya menyakitkan jika tiba-tiba putus seperti ini.
"Iya, aku tidak ingin lagi menjadi kekasihmu karna aku ingin menjadi suamimu." lanjut Cakra kemudian. Lelaki itu mengambil kotak kecil berwarna merah dari dalam saku celananya.
Cakra berjongkok dihadapan Yoona lalu membuka kotak tersebut perlahan. Sebuah cincin bertahtahkan berlian pink diatasnya tampak cantik dimata Yoona. Apa ini? ia dilamar? oleh Cakra? ini bukan mimpi-kan?!
Oh, rasanya sangat bahagia. Yoona dilamar oleh orang yang Yoona cintai dengan suasana yang sangat romantis.
"Kau melamarku, Cakra?" tanya Yoona lirih, namun tersirat sejuta kebahagiaan didalam kalimatnya.
"Yes. So, will you marry me Joanna Indah Prasetyo?" tanya Cakra meraih tangan kekasihnya.
"Yes! i will marry you Cakra Dirgantara!" jawab Yoona dengan antusias.
~~~
Hai, selamat membaca. Silahkan mampir dikaryaku yang lain jika berminat !
-Oh My Glency (novel)
-Playboy Jatuh Cinta (novel)
-Bertemu Jodoh di Negri Orang (cerpen)
-Playboy Jatuh Cinta (cerpen)