“Heeyyy!!!” teriak lantang seorang wanita muda yang sengaja aku rampas tas miliknya. Aku sungguh tak menghiraukan dan terus berlari secepat mungkin supaya tidak tertangkap oleh orang yang telah mengetahui tindak kriminalku.
“Hahh…haah…akhirnyaaaa…” ucapku gembira di iringi teriakan. Aku pun telah sampai di gang yang biasa kusinggahi, kuputuskan untuk duduk sembari membuka tas yang aku rampas dari wanita tadi. Ternyata tas itu hanya berisikan sebuah dompet dan alat makeup yang tak ada gunanya untukku. Aku hanya mengambil dompet dan segera membukanya, tak lama kemudian raut kecewa terpampang jelas di wajahku.
“Apa ini?! cuma 150 ribu? sudah seminggu cuma makan mie instan apa sekarang mie instan lagi!” pekikku sangat kesal. Kubuang tas beserta isinya ke tong sampah dan beranjak pergi ke toko kelontong terdekat, sesampainya di sana terpaksa kubelanjakan 1 kardus mie instan supaya bisa bertahan lama dan 5 buah sosis siap makan.
“Total semua 100 ribu,” ucap kasir yang tak lain adalah pemilik toko, aku menyodorkan uang 1 lembar 100 ribuan padanya. Segera aku keluar dari toko untuk pulang menuju ke kontrakan yang sudah setengah tahun lebih kutinggali, sambil 1 tanganku membawa kardus berisikan mie instan dan 1 lagi memegang sosis untuk kumakan. Sesampainya di gang menuju kontrakan, aku di kejutkan oleh seekor anjing dari arah depan entah dari mana asal anjing itu tetapi ia terlihat tampak lemah dan lunglai. Aku mencoba melewatinya dengan santai tetapi tetap hati-hati.
“Fyuhh…selamat,” ucapku sembari melanjutkan perjalanan. Tetapi ternyata anjing itu mengikutiku dari belakang, sontak aku pun mempercepat jalanku hingga sialnya kardus yang kubawa terjatuh dan menumpahkan setengah dari isinya. Anjing itu semakin mendekat, walaupun tubuhnya lemah ia nampak memaksa, hingga setelah aku selesai memasukan semua isi dari kardus itu, aku pun mencoba untuk berdiri tetapi belum sempat, ternyata ia sudah sangat dekat dari tempatku jongkok.
Diam di tempat serta memejamkan mata adalah pilihanku.
“A…anjing baik jangan gigit ya…daging pencuri itu tidak ada yang enak sum…pah,” bicaraku terbata-bata dalam keadaan mata masih terpejam, tak beberapa lama kuputuskan untuk membuka satu mata, kulihat anjing itu sedang mengendus sosis yang berada di genggamanku, aku pun menjauhkan sosis itu darinya.
“Hehh…jangan yang ini!” teriakku padanya yang membuatnya sedikit mundur dan terduduk, aku memakan kembali sosisku dengan posisi jongkok sambil tetap memandangnya, ia pun mengeluarkan suara seperti rengekan serta terus menatap sosisku.
“Apa kau sangat lapar? tatapanmu sangat tidak biasa,” aku mencoba berbicara pada anjing itu yang terus di jawab dengan rengekan olehnya.
“Satu saja ya!” ucapku, lalu kuberikan sebuah sosis yang sudah aku kupas dan tak di duga ia langsung melahapnya hingga habis tak tersisa.
“Ya ampun, kau lapar sekali? Ya sudah satu lagi! ini…” kusodorkan satu sosis lagi untuk di makan olehnya sambil kucoba untuk mengelus kepalanya, ternyata ia bukan anjing yang galak malahan terlihat jinak.
“Anjing pintar, aku pulang dulu ya. Dadah!” akhirnya aku melangkah lagi untuk menuju ke kontrakan.
“Huaaahh…hari yang sangat melelahkan,” kubaringkan badanku di kasur, sedikit demi sedikit aku merasakan mataku sangatlah berat dan akhirnya aku tertidur. Saat aku memejamkan mataku tiba-tiba muncul sosok yang tak jelas dari depan kasurku, aku yang sudah lelah pun tak menghiraukannya, sayup-sayup aku mendengar ia memanggil namaku.
“Delta…Delta!…” ia memanggilku terus-menerus dengan nada sedikit membentak, hingga membuatku membuka mata. Tetapi betapa terkejutnya saat diriku melihatnya, perwujudannya seperti manusia biasa tetapi yang membuatnya tak biasa adalah pakaian yang di kenakan dan badannya pun hitam, wajahnya juga sangat aneh serta ia memiliki 2 sayap putih sedikit ada bercak hitam di setiap sisinya. Aku terus bertanya dalam hatiku mahluk apa ini apakah iblis? aku pun gemetaran di buatnya.
“Si…siapa kau?” tak kuasa aku menahan ketakutan yang sangat jelas merasuki diriku.
“Aku adalah dosa dan kebaikanmu Delta,” jawabnya singkat.
“Do…dosa dan kebaikan apa maksudmu?” seluruh tubuhku gemetar karena membayangkan apakah diriku akan mati.
“Ya!…lihatlah seluruh tubuhku, di penuhi bercak hitam yang sangat banyak hingga menutupi hampir semua bagian tubuh, itu menggambarkan dirimu Delta. Jika kau terus-menerus melakukan hal menyimpang maka aku akan sepenuhnya menjadi hitam dan jika itu terjadi maka tamatlah riwayatmu!” jelasnya yang membuatku semakin ketakutan sekaligus berpikir.
“A…apa maksudmu? dan si…siapa kau?!” tanyaku masih dengan ketakutan.
“Jangan takut…aku tidak akan menyakitimu. Namaku Ganda, aku hanya akan menyampaikan suatu misi kepadamu,” perkataannya membuatku semakin penasaran, hingga rasa takutku sedikit demi sedikit menghilang.
“Satu hal? Apa itu?” tanyaku lagi.
“Jangan kau biarkan aku menjadi hitam sepenuhnya!” tegasnya sambil memandang ke arahku. Aku yang hampir saja tidak merasa takut pun kini nyaliku kembali ciut.
“L…lalu aku harus apa?” aku semakin tidak berani memandangnya, karena wajahnya yang hitam tetapi setengah putih membuatku merasa aneh jika melihatnya.
“Apa kau ingin bersungguh-sungguh Delta?” tanyanya meyakinkanku.
“I…iya apapun aku lakukan…untuk diriku,” jawabku.
“Baiklah Delta…esok, sebelum jam 09.30 pagi datanglah ke stasiun kereta yang berada tidak jauh dari kontrakanmu. Kutegaskan sekali lagi! Jika kau ingin membuat dirimu baik-baik saja datanglah esok jangan sampai tidak! mengerti!” belum sempat aku menjawabnya tiba- tiba saja ia melempar sebuah batu yang berukuran sangat besar tepat di kepalaku sontak aku yang melihatnya pun terperanjak dan berteriak.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!!!” masih dengan perasaan takut dan mata terpejam aku pun memegangi kepalaku yang ternyata tak sakit sedikit pun, kucoba untuk membuka mata perlahan dan yang kulihat hanyalah silauan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam kamarku. Tak beberapa lama aku pun tersadar yang ternyata semua itu hanyalah mimpi. Aku tertawa kesal dan menatap kosong ke arah tembok.
“Ternyata hanya mimpi ya,” ujarku yang akhirnya memilih untuk tidak menghiraukannya. Kulihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 08.00 pagi, kugapai handuk dan bergegas pergi mandi, sambil kubayangkan berapa banyak uang yang akan aku dapatkan hari ini karena tepat esok hari aku harus membayar kontrakan kalau tidak bisa-bisa aku hidup menggelandang.
Jam menunjukan pukul 09.00 pagi, setelah selesai memakan mie instan yang terpaksa menjadi favoritku setiap saat. Aku bergegas menuju ke stasiun untuk melancarkan aksiku, entah kenapa ingin saja aku kesana dan berharap jika mendapat uang banyak aku akan makan enak dan sisanya untuk membayar kontrakan.
Kuputuskan untuk duduk sejenak di depan area stasiun karena aku tidak ingin masuk kesana, aku terus melihat keadaan sekitar sembari mencari mangsa yang tidak terlalu kuat melawan, jam dinding besar yang berada di stasiun kini menunjukkan pukul 09.25 pagi. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul seorang pria tua memakai jas dan membawa briefcase atau tas kantor, pikiran jahatku pun muncul, kulihat kanan kiriku yang tidak terlalu ramai karena ini masih pagi sehingga aku pun berdiri bersiap untuk menunggu waktu yang tepat.
Sesaat, pria tua itu menyebrang dengan sangat pelan hingga aku mulai berlari menghampirinya kupercepat pergerakanku yang akhirnya aku telah sampai berpapasan dengannya, tetapi nahas! tepat saat aku akan menyahut tasnya tiba-tiba dari arah kanan kami melaju sebuah mobil berkecepatan tinggi, aku yang sedikit bimbang pun akhirnya memutuskan untuk menarik lengan pria tua itu dan akhirnya kami jatuh bersama di trotoar yang berada di dekat stasiun.
Kami bertukar pandang, dari sorot matanya ia terlihat sangat syok atas kejadian itu aku pun juga merasakannya. Orang-orang di sekitar yang tahu kejadian itu langsung menanyai keadaan kami dan aku hanya menjawab bahwa kami baik-baik saja. Setelah itu kutuntun pria tua itu untuk duduk di bangku terdekat dan ia pun menatapku.
“Ini salah…ini sangat salah…sudah sering di nasehati tetapi tetap saja saya meremehkan mereka, keluarga saya!. Seharusnya hari ini saya beristirahat tetapi malah memaksa untuk mengikuti pertemuan penting, betapa bodohnya saya yang hanya mementingkan uang daripada kesehatan dan keluarga saya. Saya sangat menyesal!” celetuknya yang sama sekali aku tidak memahaminya. Kini diriku yang awalnya akan berencana untuk merampas tasnya, tetapi sekarang malah menjadi pendengar curahan hatinya selama berjam-jam.
Ia memutuskan untuk menelepon manager di perusahaannya, karena ia memilih untuk tidak mengikuti meeting hari ini. Setelah itu, kami pun berjabat tangan memperkenalkan diri satu sama lain, ia adalah pak Adam. Hingga kuketahui ternyata pak Adam yang sedang duduk di sampingku ialah CEO sebuah perusahaan batu bara yang sangatlah sukses, di balik kesuksesannya ia adalah seorang yang ramah dan sangat sederhana, ia bercerita kalau dirinya tidak ingin terlalu mencolok.
Oleh sebab itu, setiap berangkat ke kantor miliknya ia lebih suka menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Rencananya ia hari ini akan menemui seorang klien dan isi tasnya berupa berkas-berkas penting. Kenyataan yang membuatku berpikir jika saja aku mengambil tasnya mungkin sekarang aku sudah jadi buronan atau malahan sudah di tembak mati.
“Dik, saya juga sudah mengabari sopir pribadi untuk menjemput. Apa adik sekalian ingin di antar pulang? Apa rumah adik jauh?” tanyanya dengan sangat halus dan sopan.
“Ah…tidak pak terima kasih, rumah saya dekat kok saya bisa pulang sendiri,” jawabku sambil tersenyum.
“Apa kamu tidak kerja, dik?” aku pun kebingungan menjawab pertanyaannya.
“Anu pak…saya serabutan,” dalam hatiku biarlah aku berbohong supaya pria ini tidak takut jika mendengar kegiatanku setiap hari. Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna putih berhenti tepat di depan kami yang ternyata itu adalah sopir pribadi pak Adam.
“Dik, sopir saya sudah datang, saya pamit pulang dulu ya…oh iya ini kartu nama saya simpan saja, jika adik membutuhkan pekerjaan saya akan sangat senang menerima adik. Saya sangat berhutang budi karena mungkin jika adik tidak menyelamatkan saya, kemungkinan besar tepat jam setengah 10 tadi saya sudah tiada dik. Oh iya…satu lagi,” ia membuka tas kantor miliknya dan betapa terkejutnya aku yang melihat isinya penuh dengan uang tetapi ia sengaja menutupinya dengan berkas miliknya. Ia mengambil segepok uang bertuliskan 5 juta di kertas pembatasnya lalu dengan sengaja ia memberikannya kepadaku.
“Loh pak…ini?” tanyaku yang masih kebingungan.
“Iya…itu buatmu dik, itu tidak seberapa di bandingkan dirimu yang sudah menyelamatkan nyawa saya. Yasudah saya mau pulang dulu ya,” ia pun berjalan menuju ke mobilnya, aku masih melamun memandangi telapak tanganku karena tidak percaya ada uang 5 juta yang menjadi milikku bukan hasil mencuri, aku pun seketika langsung tersadar dan mengucapkan terima kasih kepada pak Adam.
Hari sudah larut, aku sangat kelelahan karena aku memutuskan membelanjakan uang itu dengan semua yang kubutuhkan tak lupa dengan sisa yang masih tergolong banyak aku akan memberinya kepada bu Anya pemilik kontrakan, karena aku ingin memperpanjang masa tinggal. Sesampainya di kontrakan aku pun membaringkan tubuhku serta kutaruh belanjaanku di atas meja, sekejap aku mulai terlelap karena merasa lelah. Dalam tidurku tiba-tiba sosok itu muncul kembali dan memanggilku lirih.
“Delta…Delta…” sayup-sayup suara itu terasa semakin mendekat. “Deltaaa!!!!” sontak teriakannya membuatku sangat terkejut.
“Hah…hah…apaaa kau lagi!!” mataku terbelalak tetapi kini kulihat sosok itu dengan penampilan sedikit berbeda, kini ia memiliki wajah yang sepenuhnya putih dan satu sayapnya kembali berwarna putih bersih. “Kenapa kau berbeda?” tanyaku.
“Apa kau masih belum sadar? perlakuanmu kepada pak Adam tadi yang membuatku seperti ini, lihatlah Delta! jika dirimu terus berbuat baik sedikit demi sedikit sama saja kau membersihkan diriku dan apakah kau masih belum sadar juga Delta?! setiap perbuatan baik pasti akan di balas kebaikan juga! jadi tetaplah di jalan itu dan aku harap esok jam 13.00 siang pergilah ke kafe yang terletak di depan supermarket, kau akan sangat beruntung jika kau pergi kesana Delta!” jjdddaaarrrr!!! sosok itu lenyap di iringi suara petir yang sangat dasyat sampai-sampai aku terbangun dari tidurku.
“Hah…hah…” aku yang masih bernapas dengan terengah-engah pun langsung menyadari bahwa ternyata aku mimpi lagi termasuk suara petir itu hanyalah mimpi karena saat aku terbangun hari sudah menjelang pagi dan sangat cerah bahkan untuk sekedar kilatan pun tak akan ada. Akhirnya aku yang sedikit merasa kesal memutuskan untuk berbaring kembali, sejenak aku berpikir tentang mimpi itu, apakah kejadian kemarin ada hubungannya dengan mimpiku? untuk mengatakan tidak sangatlah susah karena kejadian kemarin sangat pas dengan apa yang di mimpikan sebelumnya.
Kuputuskan untuk pergi mandi setelah itu aku berjalan menuju dapur dan memakan nasi lauk ayam yang aku beli kemarin, kulihat jam dinding yang kini menunjukan pukul 11.00, hari ini aku hanya ingin bermain game di laptop pemberian ayahku dulu. Tak terasa sudah hampir 1 jam aku memainkan game, tiba-tiba aku teringat perkataan mahluk dalam mimpiku tadi malam kalau aku akan mendapatkan keberuntungan jika aku pergi ke kafe di depan supermarket pada jam 1 siang, kutatap jam dinding yang kini menunjukkan angka 12.25.
Akhirnya aku yang tertarik pun bergegas mengenakan pakaianku dan tak lupa mengenakan jaket sebab di luar sangatlah berangin. Aku berjalan menelusuri gang demi gang yang akhirnya sampailah aku di supermarket yang ternyata baru kuketahui di depannya terdapat sebuah kafe yang mungkin saja baru buka.
Aku pun membuka pintu kafe itu di dalamnya banyak sekali orang, aku memilih untuk duduk di pojokan karena hanya bangku itu yang tersisa, sambil memesan sepotong kue serta secangkir coklat, aku menikmati pemandangan luar dari dalam kafe yang hanya memberikan pandangan jalanan macet yang sama sekali tak ada indahnya namun aku tetap mencoba untuk tersenyum.
Tepat jam 13.00, jam dinding yang berada di kafe itu berbunyi di sertai datangnya seorang wanita muda yang berjalan menuju ke arahku, kami duduk berhadapan karena hanya bangku ini yang tersisa.
“Permisi, apa aku boleh duduk di sini?” tanyanya dengan nada yang sangat lembut, aku yang sedari tadi tidak melihatnya dan hanya berpura-pura membaca koran pun akhirnya mendongakkan kepala. Betapa terkejutnya saat kulihat wajah wanita muda itu, ia membuatku tak bisa berkata-kata, aku yang awalnya sangat santai pun kini gemetaran dan akhirnya kusembunyikan tanganku di bawah meja.
Setelah mungkin hampir setengah jam kami tidak mengeluarkan sepatah kata pun akhirnya ia memanggil waiter dan melakukan pembayaran, ingin rasanya aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur saja tetapi di sini sangatlah ramai aku tidak mau mati konyol babak belur karena tidak sempat membayar.
“Bisa ambilkan sekalian nota pembayaran dia?” tanyanya pada waiter itu sambil menunjuk kearahku.
“Mohon di tunggu sebentar,” jawab waiter itu. Aku merasa bingung, kenapa ia meminta nota pembayaranku. Kami masih tidak berbicara sepatah kata pun, sesekali kami bertemu pandang dan tersenyum.
“Permisi, ini notanya…” ucap waiter yang tiba-tiba muncul di samping wanita itu, setelah melihat nota ia mengeluarkan sejumlah uang, ia membayar makanannya dan milikku juga.
“Ahh…hey,” mereka berdua menatapku tetapi aku tidak meneruskan kata-kataku karena kubiarkan terlebih dahulu waiter itu pergi, setelah pergi aku berbicara pada wanita itu.
“Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau baik padaku? ” aku bertanya di susul oleh senyuman wanita itu.
“Karena kau sudah baik, membiarkanku duduk di sini. Tak apa tenang saja aku memang suka mentraktir,” jelasnya, ia pun mengambil tasnya dan ingin beranjak pergi.
“Tu…tunggu…” ucapku sedikit terbata. “Emm…duduklah sebentar dulu, ada yang ingin aku bicarakan padamu,” kuberanikan untuk menatap wajahnya dan menarik napas panjang.
“Apakah kau masih ingat kejadian pencopetan waktu itu?” tanyaku yang membuatnya menyerngitkan dahinya. “Aku sungguh minta maaf…kumohon…waktu itu aku sangat kelaparan dan jujur aku tidak mempunyai pekerjaan, jadi maaf sekali aku akan menggantinya sekarang juga,” tambahku. Aku merogoh jaketku yang berisikan sejumlah uang tetapi tiba-tiba ia mencegahnya dan menarik tanganku, aku yang masih kaget pun hanya bisa menatapnya.
“Jadi kau yang mengambil tasku waktu itu?” aku pun menganggukan kepala yang malah membuat wanita itu tersenyum. “Tidak apa kau sudah mengakuinya, aku sangat menghargai itu karena tidak semua orang bisa melakukannya. Tidak apa, tak usah di ganti toh tak ada hal yang penting di tas itu, aku hanya kaget saat orang tiba-tiba merampas tasku lalu aku tidak sengaja berteriak, hahaha…” jelasnya yang membuatku semakin bingung.
“Ta…pi…” aku pun tak bisa berkata-kata lagi.
“Iya, aku sudah melupakannya. Jangan terlalu di pikirkan, yasudah aku mau pergi dulu,” aku hanya bisa memandangnya sedikit demi sedikit berjalan menjauh, tiba-tiba aku terpikirkan ucapan mahluk itu. “Apa ini keberuntungannya?” ujarku lirih di sertai perasaan hati yang sangat senang karena baru pertama kali aku mendapat maaf dari orang yang jelas-jelas aku melakukan kejahatan padanya.
**********
Tak terasa sekarang sudah memasuki bulan ke-3, aku pindah di salah satu apartemen sederhana sejak 1 bulan yang lalu. Hari-hari kulalui dengan sangat bahagia dan rasa syukur. Perlu di ketahui juga, aku telah bekerja di perusahaan pak Adam sebagai salah satu tangan kanannya serta sudah mempunyai penghasilan sendiri, aku juga sangat tidak menduga hal itu akan terjadi terlebih lagi aku hanya lulusan sekolah menengah atas yang jauh dari kata sempurna dan ada satu hal lagi yang membuatku sulit percaya bahwa ternyata wanita muda yang pernah aku rampas tasnya, ia adalah anak bungsu pak Adam yang bernama Abigail, ya! mereka ternyata ada hubungan darah sebagai ayah dan anak, apakah ini kebetulan atau takdir, betapa tidak menduganya aku.
Kini aku dan Abigail juga dekat sebagai seorang teman tetapi ia tetap menyembunyikan identitas lamaku pada ayahnya dan tidak menceritakannya. Hidup yang sekarang sangatlah aku impikan sampai-sampai aku sering bertanya pada diriku sendiri apa ini sudah rencana Tuhan karena hal yang menurutku tak akan mungkin terjadi kepadaku ternyata sekarang bisa kulalui berkat kehendaknya.
“Delta…Delta…” panggil mahluk itu kepadaku. Aku sudah terbiasa dengannya, karena setiap hari ia mendatangiku walaupun hanya di dalam mimpi. Aku yang mendengar panggilannya pun membuka mataku pelan.
“Kau semakin bersih saja,” ucapku sambil tersenyum padanya.
“Semua ini berkat perilakumu Delta, karena aku mencerminkan dirimu…” ia kini menjadi sosok yang sangat teduh bercahaya dan tidak mudah marah seperti saat pertama kali ia muncul, ia juga semakin bersih karena bercak hitam di tubuhnya sudah hilang walaupun belum sepenuhnya. Ia masih memiliki bercak di bagian sayap kirinya, hanya di bagian itu, ya! hanya di bagian itu saja karena hampir semua tubuhnya kini berwarna putih. “Aku ingin kau melakukan permintaan terakhirku Delta, aku harap kau melakukannya karena setelah ini aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi,” ucapnya.
“Permintaan apa itu?” aku bertanya padanya.
“Besok jam 09.00 pagi, datanglah ke acara pembagian sembako untuk tunawisma ikutlah mengantri dan kau hanya perlu berjalan beberapa menit saja karena sangat dekat dengan apartemenmu,” jelasnya.
Aku mengiyakan dengan anggukan kepala, membuatnya tersenyum lalu seketika pergi menghilang, ia sudah tidak menggunakan kekerasan untuk menyadarkanku dari tidurku melainkan aku selalu mendengarkan kicauan burung yang merdu saat pagi hari. Kulihat jam dinding di kamarku yang kini menunjukan pukul 08.00 pagi, segera aku bergegas untuk mandi, setelah itu aku memakan sarapanku dan pergi mencari tempat yang di maksud oleh Ganda, karena hari ini aku telah mendapatkan libur kerja.
Setelah sampai ternyata tempat itu sangat ramai, sesuai anjuran Ganda aku pun ikut dalam antrian pembagian sembako.
“Panjang sekali antriannya,” aku yang sudah merasa haus pun mau tidak mau harus meninggalkan antrian untuk membeli minum, setelah meminum jus yang kubeli aku berniat kembali lagi, namun nahas! saat aku tidak fokus melihat jalanan tiba-tiba dengan tidak sengaja aku menabrak seorang pria dan menumpahi bajunya dengan jus yang kubawa.
“Aduh! maafkan saya pak…tidak seng…” saat aku melihat wajahnya betapa terkejutnya diriku, mulutku beku seakan tak bisa bicara.
“Deltaa…” panggil pria itu, yang membuatku sedikit berkaca-kaca.
“ Ayah…” aku tak kuasa menahan tangisku, karena pertengkaran kami yang terjadi tepat 1 tahun yang lalu aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan hidup sebagai berandalan, aku sangat merasa bersalah dan sangat merindukan orang tuaku. Kami saling bertatapan dan meneteskan air mata serta akhirnya ia memelukku erat, pelukan yang tak pernah aku rasakan setelah aku dewasa.
“Tak akan ada ayah yang rela jika anaknya meninggalkan dirinya…” ucapnya di iringi tangis sesegukkan. Ternyata ayahlah yang berniat membuat acara ini karena ia merasa kesepian setelah aku pergi meninggalkan rumah. Maka dari itu ibu bersikeras untuk menghibur ayah dengan beramal kepada orang yang tidak mampu atau tunawisma.
Tak lama kemudian ibuku datang menghampiri, saat ia melihat diriku saat itu juga senyum bahagia di iringi tangis haru pun terlukis di wajahnya. Kami terlarut dalam suasana haru. Dalam hati aku berterima kasih kepada Ganda yang entah itu nyata atau ia terbentuk oleh keinginan dan suara hatiku sendiri tetapi yang pasti semua telah di atur oleh Tuhan, maka dari itu ia berhasil menuntunku menjadi pribadi yang lebih baik sampai titik ini dan semoga akan bertahan seterusnya. Tetapi, ada satu hal yang aku herankan sampai saat ini, kenapa aku sering sekali menemukan sehelai bulu di kamarku?.