Seorang anak menggigil kedinginan di sebuah kamar gelap. Hanya bercelana pendek, anak itu berbaring meringkuk beralaskan tikar. Matanya tertutup tak bisa menahan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Jimin, bangun! Tidur terus. Nggak usah manja!" Lora menendang kaki anak itu hingga mau tak mau anak itu mengaduh dan terduduk cepat.
"Iya Bibi." Dengan gemetar anak bernama Jimin itu mencoba berdiri. Segera disambar bajunya yang dilepas untuk mengoles salep pada lukanya dan memakainya kembali. Tak sabar, Lora menyeret anak itu supaya lebih cepat berjalan. Pekerjaan rumah malam itu menumpuk karena Lora baru saja mengadakan arisan.
Sepertinya luka di tubuh Jimin membuatnya demam. Beberapa kali dia mengusap mukanya dengan air cucian untuk meredakan panas di wajahnya yang seperti terbakar.
Prak. Sebuah piring kotor mendarat di atas piring yang telah di basuh bersih Jimin. Jimin menatap anak yang meletakkan piring itu.
"Kenapa liat-liat? Cuci tuh yang bersih!" Anak berseragam SMP itu tersenyum mengejek. "Belum kapok aku hajar?" sambungnya karena Jimin masih menatap piring kotor itu. Jimin buru-buru membersihkan piring itu lagi.
"Nggak Kak Suga, maaf," ucap Jimin pelan, takut pada kakaknya. Secara garis keturunan, Suga memang kakak kandungnya. Hanya saja dia dilahirkan dari istri simpanan ayah mereka. Ibu Suga tentu tak terima tapi ketika suami dan simpanannya meninggal dalam kecelakaan 2 tahun lalu, membuat jiwa keibuan Lora bergolak dan memutuskan membawa Jimin ke rumah. Tapi rasa bencinya masih tersisa hingga dia bahkan tak bisa menatap wajah anak tak berdosa itu.
Suga tersenyum licik, kemudian mengangkat mangkuk besar berisi air kotor di bak cuci piring ke kepala Jimin. Membuat Jimin tergelagap. Suga tertawa terbahak-terbahak menatap adiknya yang basah kuyub. Jimin mengusap wajahnya dan melipat tangannya kedinginan. Ini musim dingin, dan mereka tak menyalakan pendingin di dapur.
"Suga! Apa yang kau lakukan di sana? Jangan ganggu Jimin, nanti lama dia kerjanya!" teriak Lora dari ruang tengah. Suga meninggalkan Jimin yang hampir menangis.
"Astaga! Apa yang kau lakukan Jimin! Lantai basah kayak gitu!" Lora memukul punggung Jimin berkali-kali begitu dirinya ke dapur mengambil piring. Jimin terdiam menahan pukulan ibu tirinya. Tubuhnya terasa kebas oleh dingin, nyeri dan sakit. Lora meninggalkan Jimin setelah melemparkan pel di depan anak itu. Dengan terburu-buru Jimin menyelesaikan membersihkan lantai dan mencuci piring. Dirinya tak ingin Lora menghajarnya lagi.
Jimin kembali ke kamarnya. Dirinya berhenti sebentar di pintu ruang keluarga. Suga dan Lora tengah menonton TV kesukaan mereka. Beberapa kali Lora mengusap rambut Suga lembut. Jimin melihatnya iri. Dia ingin merasakan usapan itu juga, tak hanya tamparan dan tendangan. Dengan lesu Jimin memilih berjalan kembali ke kamarnya di pojok. Dulu itu ruangan untuk kamar mandi namun tak jadi. Jadi Lora merombaknya sekedarnya asal tak kena sinar matahari atau hujan. Tapi ketika musim dingin seperti ini, itu tak membantu banyak. Lubang di bawah atas tetap mengijinkan udara dingin masuk, Jimin yang diberi selimut tipis selalu demam di musim dingin.
Jimin berganti celana pendek. Dia hanya memiliki beberapa baju, dan Lora tak mengijinkannya mencuci menggunakan mesin cuci atau pengering. Jadi dengan musim seperti ini bajunya akan susah kering. Baju itu sudah dipakainya beberapa kali. Dan kali ini dia harus mengeringkannya. Dia memilah baju di dalam ruangan itu namun masih belum ada yang kering.
Besok pasti udah kering, pikirnya.
Dengan perut keroncongan dan telanjang dada, Jimin menarik selimut usang menutup seluruh tubuhnya. Mencoba menutup mata. Tak dirasakan badannya yang panas di dalam kamar dinginnya. Hanya sesekali dalam tidurnya dia merintih.
Lora melongokkan wajahnya ke dalam kamar Jimin. Hatinya sedikit terenyuh melihat kondisi Jimin, tapi entah kenapa dia tak bisa meredam rasa bencinya tiap kali menatap anak itu. Mata yang sama dengan mata jal**** simpanan suaminya. Mata yang sangat dibencinya.
"Heh! Bangun. Makan ini." Lora kembali menendang kaki Jimin hingga anak itu tersentak kaget dan menatap ibunya nanar. Kemudian langsung diambil roti dari tangan ibunya begitu tersadar. Dia menatap ibunya tak percaya.
"Makasi Bibi," ucap Jimin segera melahap roti murah itu, membuat Lora terhenyak dengan ekspresi bahagia di wajah Jimin.
***
"Suga, cepat busmu udah datang sayang! Jimin! Dimana kau? Busmu juga udah di depan, lelet sekali kau!" Seperti biasa Lora sudah ribut di pagi buta. Jimin segera menyambar tas sekolahnya, dan membawa bekal roti sisa arisan ibunya kemarin. Dengan sepatu butut dan tas penuh tambalan, Jimin menuju halaman depan. Dirinya kelas 6 SD, jadi mereka berangkat dengan bus berbeda walau sekolah mereka sama. Lora mencium kening Suga sebelum anak itu lari menuju busnya. Dengan tertatih karena merasa tak sehat, Jimin berusaha berjalan.
"Kau sangat lelet! Apa saja yang kau lakukan sampe tiap pagi bikin ribut!" Lora kembali mengomel padahal dia tahu tugas Jimin di pagi hari menyapu, mencuci piring bekas sarapan dia dan Suga kadang harus mencuci baju juga. Jimin memandang Lora ingin dicium juga. Tapi justru Lora mendorongnya supaya jalan lebih cepat, karena bus sudah menanti dari tadi. Seperti biasa harapan Jimin tak tersampaikan, dia berusaha berlari karena pak supir sudah mengklaksonnya. Kemudian melambai pada ibunya, walau dia tahu ibunya tak peduli.
***
"Aku habis hajar dia kemarin. Dia bikin kesel," ucap Suga pada teman-temannya. Teman-temannya yang merupakan kumpulan anak-anak nakal memberinya ide untuk mengerjai adik Suga itu. Suga berpikir sebentar, kemudian tersenyum setuju. Mereka akan membawa Jimin ke belakang sekolah dan menghajarnya di sana. Lora tak pernah memarahi Suga tiap kali anak itu mengerjai Jimin di rumah, jadi dia yakin kali ini pun ibunya tak akan marah.
Pulang sekolah.
"Min, ayo ikut aku," ajak Suga merangkul adiknya yang baru saja keluar kelas. Jimin menatap kakaknya tak percaya kakaknya mengajaknya pergi bersama.
"Ke mana Kak?" tanya Jimin.
"Main." Mendengar itu Jimin merasa sangat senang. Suga tak pernah bersikap baik padanya, padahal dia sangat menyayangi kakaknya itu. Dia berpikir Suga benar-benar mengajaknya main.
Sesampainya di belakang sekolah. Mereka terkejut karena teman-teman Suga telah babak belur dihajar anak SMA senior mereka. Belum lagi Suga melarikan diri, dua orang anak SMA itu menyeret mereka ke depan kawan-kawan Suga yang sudah berdarah-darah.
"Hei, hentikan Jin! Lo mau bikin mereka mati? Gila lo!" Salah satu dari mereka berusaha menghentikan anak yang dipanggil Jin itu menghajar salah satu teman Suga.
"Taehyung!" panggil Suga, tapi kawannya itu tak merespon.
"Breng***! Kalo gua minta uang ya kasih uang!" ucap Jin menendang perut Taehyung hingga anak itu muntah darah.
"Hentikan! Berapa yang kalian mau?" Suga berusaha menghentikan tindakan brutal Jin. Jin akhirnya memandang Suga yang dipegang temannya.
"Berikan semua yang lo punya. Sini!" Suga berusaha melepaskan cengkeraman penyanderanya dan merogoh tasnya. Ditemukan uang 200 ribu. Segera diberikannya pada mereka. Jin tertawa.
"Lo ngledek gua?" Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Suga. Jimin berontak melihat kakaknya berdarah di mulutnya.
"Kak Suga! Jangan pukul kakakku!" Jimin menarik baju Jin dari belakang menjauhkannya dari Suga. Kemudian berlari menubruk kakaknya. Jin sangat marah, dengan sekali sentakan diseretnya Jimin menjauh.
"Heh anak kecil, kalo lo nggak mau mati. Minggir!" Jin mengangkat Jimin dan menjatuhkannya ke tanah. Tapi Jimin secepat kilat kembali melindungi kakaknya dengan badan kecilnya.
"Jangan! Jangan pukul Kak Suga!" teriak Jimin menghalangi Jin dengan merentangkan kedua tangannya. Dengan sekali tendangan Jin, Jimin terpental ke belakang menubruk kakaknya. Perutnya yang tertendang terasa nyeri, Jimin ingin muntah dan kaget begitu dia memuntahkan darah dadi mulutnya. Dengan membabi buta Jin menghantam kepala Jimin dengan tinjunya.
"Jangan, jangan pukul Kak Suga," Dengan kepala penuh darah dan tak mampu mengangkat kepalanya lagi, Jimin masih meracau menggapai tangan Suga. Suga yang melihat bagaimana adiknya ingin melindunginya menjadi menangis. Dia berusaha memeluk Jimin, ingin melindungi tubuh kecil itu, namun Jin lebih cepat dengan menginjak tangan kecil Jimin, menendang tubuh tak berdaya itu makin menjauh dari Suga seperti menendang sebuah bola.
"Jin! Hentikan! Kita bisa kena masalah!" Teman-temannya ngeri akan kebrutalan Jin berusaha menghentikannya.
"Hei! Anak-anak nakal! Apa yang kalian lakukan di sana!" Suara seorang bapak sukses membuat Jin dan kawanannya lari secepat kilat dari sana. Meninggalkan Suga dan kawan-kawannya. Suga berlari mendekati adiknya yang sekarat. Napasnya sangat lemah. Darah dimana-mana.
"Jimin, bangun!" Suga berusaha memanggil adiknya, namun Jimin tak menjawab walau Suga berusaha menggoyang-goyangkan tubuh itu. Akhirnya sebelah mata Jimin terbuka, tangannya berusaha menggapai Suga.
"Kakak, dingin.... Peluk," ucap Jimin sangat lirih. Suga segera memeluk Jimin erat, merasakan tubuh dingin adiknya di bawah jaket tipisnya yang kini bersimbah darah. Berusaha memberi kehangatan yang tak pernah dia berikan. Tak terasa air mata mengalir deras membanjiri pipi Suga. Suga tak peduli lelaki tua di sana yang berusaha memanggil ambulan. Dia tak peduli kakinya kram. Dia hanya ingin tubuh Jimin menghangat.
***
Suga tersenyum dan melangkah cepat, tak sabar ingin segera menemui adiknya. Sendirian, Suga duduk di samping batu nisan adiknya.
"Jimin, aku bawakan bunga untukmu. Aku juga akan sering ke sini. Kau nggak akan kesepian. Aku janji," ucap Suga mengusap batu itu seperti halnya dia yang ingin mengusap kepala Jimin. Suga tersenyum, dia tahu adiknya akan sedih jika dia menangis.
"Kau nggak akan sakit lagi sekarang. Aku akan sering ke sini untuk memelukmu." Suga memeluk batu nisan itu setiap minggu setiap dirinya ke sana.
THE END.