Semua pasti pernah jatuh cinta bukan. Ini kisah tentang cinta pertamaku, ia bernama Anna. Kami satu angkatan di sebuah Madrasah Aliyah, awal tahun ajaran baru di kelas sepuluh kami berbeda kelas. Awal pertemuan kami sangat sederhana, dia menawariku yang berjalan menumpang di sepedanya saat pulang sekolah, tapi aku menolak karena jantungku saat itu sulit dikendalikan.
Rumah kami pun berada di satu Gang yang sama. Aku mengetahui itu sedangkan dia tidak. Wajar saja ia baru saja pindah dari kota lain dua bulan lalu.
Setahun berlalu aku masih menyimpan perasaan itu. Ia pun mungkin sudah lupa pernah menawariku 'pulang bareng'. Takdir berpihak padaku awal semester ini. Di kelas sebelas kami di jurusan yang sama bahkan di kelas yang sama pula. Aku sengaja memilih tempat duduk persis di belakangnya. Begitu menyenangkan setiap hari bisa menatapnya.
Meski aku menyukai Anna, bukan berarti aku begitu mengenalnya. Seperti buta tuli aku mencintai. Saat satu kelas dengannya kini lah aku mencari tahu.
Anna yang berparas kalem itu tampaknya juga mudah bergaul dengan siapa saja. Ia lebih sering di perpustakaan daripada di kantin. Pernah beberapa kali aku memergokinya sedang membaca novel saat pelajaran di kelas sedang berlangsung. Dia suka membaca rupanya. Tapi ia bukan tipe gadis bodoh.
Saat pelajaran biologi misalnya. Kelompoknya saat itu giliran presentasi. Aku berkali-kali menyerangnya dengan pertanyaan, ia begitu mudah menjawabnya. Pintar bukan. Ia juga bersuara merdu aku pernah mendengar ia membaca Al-Quran saat tadarus dengan teman sebangkunya, hafalan Quran Hadist pun tidak buruk, beberapa kali kusimak ia tak jarang memilih surah-surah panjang. Ah, aku sudah memimpikan memiliki calon istri seperti dia.
Ada satu kejadian istimewa yang kuingat sepanjang hidupku. Hari itu Jumat, tepat ujian terakhir semester genap. Tanpa sengaja aku mendengar dari teman sebangkunya bahwa Anna besok berulang tahun. Aku juga ingin memberikan kejutan.
Sabtu yang kunanti tiba, meski mendung. Kulihat ia datang ke kelas seperti biasa, berjalan santai dengan tas biru di pundak. Sesekali ia melambaikan tangan menyapa siswa-siswi yang ia kenal.
"Kenapa kalian semua di luar kelas?" tanyanya heran. Ah ya, tadi semua siswa di koordinasi oleh teman sebangkunya untuk menunggu di luar. Hanya para siswi yang akan menyambutnya di kelas.
Aku mengangkat bahu, mewakili yang lain menjawab pertanyaannya tadi. Anna yang tidak curiga langsung saja membuka pintu dan masuk namun, seember tepung tepat jatuh di atas kepala, ia memutih dengan seragam pramuka. Tidak hanya itu, sebuah kue bertuliskan selamat ulang tahun juga mendarat di wajahnya. Ia menangis, entah terharu atau sedih tertimpa sial dua kali di pagi hari.
Sesuai arahan Yuna teman sebangku Anna, kami akan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya saat misi berhasil. Dia masih menangis. Aku mengeluarkan bungkusan dari balik seragamku, sebuah novel dengan judul Laskar Pelangi sebagai hadiah. Ia tersenyum menerimanya, senyum yang manis. Semanis krim kue yang mencemongi wajahnya, mungkin.
Tahun ajaran baru dikelas dua belas, aku tidak mendapati Anna selama seminggu ini. Ia tidak masukkah? atau mungkin beda kelas? Sampai minggu berikutnya pun Anna tak terlihat batang hidungnya di sekolah. Hal ini membuatku memberanikan diri bertanya pada Pak Budi, beliau wali kelas kami. Dari keterangan beliau, aku mengetahui Anna sudah pindah ke kota lain.
Sepanjang tahun sampai waktu kelulusan kujalani dengan hambar. Aku mengakui semenjak mencintai Anna aku begitu semangat ke sekolah. Tidak dengan setahun terakhir jumlah absen tanpa keteranganku menyentuh angka dua puluh. Untungnya aku lulus dengan nilai yang tidak buruk.
Aku masih belum juga melupakan Anna, meski ia hanya cinta monyet di masa SMA. Kini di usiaku yang sudah terbilang cukup untuk menikah belum juga bisa membuka hati untuk gadis lain. Anna masih begitu istimewa.
Seperti sore biasanya aku menyesap kopi di teras rumah. Seorang gadis dengan kerudung biru melambai kepadaku. Aku tersenyum malas. Ia malah masuk ke halaman dan memarkirkan sepeda motornya.
"Kau Hidayat kan?" Sambil menunjuk ke arahku.
Aku meng-iya-kan pertanyaan gadis berparas kalem itu. Ah, aku tidak mengenalnya. Tidak mungkin Anna kan?
Kini ia berada di terasku, mengulurkan tangan. Aku jabat hangat dan persilakan ia duduk.
"Kau ingat aku?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Tentu saja, kau hanya ingat Anna." Ledeknya.
Aku terpengarah. Tapi tersenyum.
"Aku Yuna, kau ingat?"
Kini aku mengangguk.
"Sebenarnya Anna juga menyukaimu. Tapi kau saja yang kurang peka!" cercanya. Aku kembali terpengarah.
"Bagaimana kau tahu aku menyukai dia?" selidikku.
"Anna pun tahu itu, kau tidak pandai bersembunyi." Ledeknya lagi.
"Benarkah?" Setelah hampir delapan tahun rasa itu terpendam, aku merasa memiliki harapan. Cita-citaku beristrikan Anna mungkin saja akan terwujud. Senyumku mengembang.
"Tapi kau terlambat," celetuk Yuna. Kemudian ia menyodorkan selembar surat undangan. Anna akan menikah minggu depan.