Nama ku nawa gadis yang tak pernah beruntung dalam kehidupan percintaan di SMA dan sekarang aku sudah masuk kuliah. Sama seperti sebelumnya aku putus dengan pacar ku LAGI…
Tok tok tok seorang pemuda mengetuk meja tempat ku membenamkan wajah ku di antara kedua tangan ku “Good morning miss..” aku menatapnya dengan mata sembap, “oh ya ampun apa lagi kali ini?” aku membali menundukan kepala ku tampa menjawabnhya.
Namanya fian ia satu tahun lebih tua dari ku, dia adalah teman sekaligus tetangga ku, aku tak ingat kapan pertama kali aku bertemu dengannya mungkin saat kami bayi? Entahlah ibu ku telah lama bersahabat dengan tante lili jauh sebelum mereka memilih membangun rumah yang bersebelahan seperti yang kami tempati sekarang.
“sejak awal sudah ku katakana dia tak cocok dengan mu”, “bagaimana aku bisa percaya itu kau kan selalu mengatakan itu setiap kali aku punya pacar”, “dan kau putus dengan mereka semua itu adalah bukti dari perkataan ku” aku mengangkat kepala ku dan mulai menangis lagi, “ya katakana apa yang kau mau sekarang”
“aku akan ke rumah mu nanti malam, siapkan es krim!” “baiklah sekarang berhenti menagis dosen akan segera datang”
aku menekan bel rumah fian setelah berpamitan pada mama, tante lili menyambut ku dengan hangat dan kambawa ku masuk, aku menghampiri zeo yang sedang sibuk bermain game di komputernya. “hai my teddy bear” “jangan memanggil ku dengan nama itu lagi aku bukan anak kecil lagi, aku sudah SMP sekarang” “ tapi lihat pipi chubby ini kau akan selalu jadi teddy bear ku” ia menatap ku kesal, “oh tuggu mata yang sembap dan bertamu di malam hari? Apa kau putus lagi?”
“bisakah kau berpura-pura tak tau saja” jawabku ketus, “ kenapa kau tak pacaran dengan kak fian saja kalian keliatan serasi” aku mendekat “entahlah kau terlihat lebih tampan darinya, bagaimana kalua kau saja yang jadi pacar ku”, “uh menggelikan” zeo memasang tampang kesal dan segera masuk ke kamarnya meninggalkan ku yang tak bisa menahan tawa setelah berhasil menggodanya.
“ini es krim mu” fian mengacungkan es krim tepat di depan wajah ku yang langsung ku ambil dengan cepat. “menurut mu apa ada yang salah dengan ku” fian meletakan tangannya di dagu seolah berfikir “entahlah kau jelek, punya karakter buruk, dan bodoh hahaha” aku meletakan es krim ku di meja dan memukul fian dengan bantal sofa. “aku bercanda, kau cantik dan ramah meski sedikit ceroboh… tapi menurut ku semua peria yang mendapatkan mu pasti beruntung, mungkin para mantan mu saja yang berselera rendah sehingga tak cocok dengan mu.
Aku menatapnya serius “bagaimana dengan mu, kau mau jadi pacar ku?” “apa kau gila” fian mendorong telunjuknya ke kepalaku sambal tersenyum, “kenapa tidak, bagi ku kau adalah winter flower ku”
“artinya?” tanyanya penasaran “ ya kau adalah berkah yang ku miliki di antara semua kesulitanku” “tapi bagi ku kau pohon cemara” “artinya?” tanya ku bersemangat, “entahlah aku hanya mengarang hahaha” “ kau mau mati… dasar bodoh, ya sudah aku pulang saja”
“tante lili nawa pulang ya sepertinya mama sudah menunggu” “sejak kapan kau menyukai ku?” tanya fian tiba-tiba, yang sontak membuat wajah tante lili bingung, “suka?” tante lili menatap ku sambal terkekeh “a-aku tidak menyukai mu” jawabku “fff manisnya” tante lili melangkah sambal tertawa geli menuju dapur untuk memeriksa kue di oven.
Fian mengantarkan ku ke depan rumah “ah padahal aku hampir mau menerima mu” ujar fian menggoda “benarkah kau mau jadi pacar ku?” “tentu saja tidak hahah, cepat pulang sana” “baik komandan” jawabku datar, hanya butuh beberapa langkah hingga aku tiba di pintu rumah ku, aku masi memberikan tatapan kesal pada fian sambal membuka pintu dan masuk ke rumah.
FIAN POV
Aku kaget mendengar pernyataan nawa pada ku, jantung ku berdebar cukup kencang seperti akan meledak, bagaimana tidak gadis yang sejak lama ku sukai tiba-tiba mengajak ku pacaran dengan mudah. Namun aku langsung tersadar nawa bukan tipikal orang yang akan mengungkapkan perasaan pada orang yang dia sukai dengan mudah, mungkin ia bosan mengusik zeo jadi ia mengusik ku…
NAWA POV
Seperti biasa aku berangkat kuliah dengan fian, aku menatap fian yang sedang fokus mengemudi. ke mana aku selama ini fikir ku, bagaimana mungkin aku baru sadar pria di samping ku ini terlihat sangat sempurna, ia cukup tampan dengan tinggi 187 cm, tubuh yang kekar dan kulit yang putih, ia juga pintar dan yang terpenting ia sangat perhatian, kenapa dia tidak pernah pacara? aku yakin pasti ada banyak wanita di luar sana yang mengaguminya.
“kelas kita berbeda jadi jika kau sudah selesai tunggu saja aku di kantin” “ hei pak tua, beri tau aku jika kau sudah menyukai ku” aku mengedipkan sebelah mataku dan masuk ke kelas.
Hari ini mata kuliah ku berjalan sanagat baik, dan yang membuat ku tambah gembira dosen sama sekali tak memberikan tugas yang membuat ku harus bergadang di malam hari, sepertinya aku bisa tidur nyeyak malam ini.
Aku menuju kantin bersama ke dua teman ku, kami berbincang cukup lama hingga akhirnya fian datang. “mau ku pesankan minum” tanya ku “aku sudah memesanya jawab fian sambal meletakan buku yang ia pegang di meja, “bagai mana apa kau sudah memikirkan untuk menjadi pacar ku” “oh ayolah kau sudah menanyakan itu dari beberapa bilan yang lalu apa kau belum lelah”, “tidak, aku harus mendapatkan winter flower ku bagai mana pun ca…” fian menyumpal mulut ku dangan roti yang di sambut tawa oleh teman-teman ku. “aku berhasil ikut pertukaran mahasiswa ke jepang” “apa.. kau serius wah sukurlah, oh tunggu apa kau bisa membawa aku juga” “tidak untuk apa aku membawa mu merepotkan saja” aku menatap fian memohon, “tidak, kau harus fokus kuliah di sini”
Hari terus belalu, aku jarang mendapatkan kabar dari fian karna kesibukan kuliah ku di tambah sekarang aku harus mulai mempelajari segalahal tentang bisnis keluarga ku, karna aku adalah anak tunggal jadi ayah memintaku untuk segera mempersiapkan diri untuk bergabung di perusahaan.
Tania berlari masuk ruangan dan duduk di sebelah ku, “kabar buruk” ia menyodorkan hapenya pada ku, aku melebarkan mata ku, ya itu foto fian dan seorang gadis jepang dengan caption good luck love di bawahnya, foto itu tak di ambi dari media social fian tapi dari social media lain. Aku segera menelfon fian “aku melihat foto mu, apa itu pacar mu?”, “foto? Oh itu aku mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai model dan gadis itu adalah kru di sini” aku menghirup nafas legah “apa gadis di sana cantik?” “oh tentu saja jauh lebih cantik dari mu hahah” fian tertawa bahagia.
“mau ku belikan minum” tania menawarkan yang segera ku respon dengan anggukan
Sejak percakapan itu aku merasa sepertinya tak ada harapan lagi bagi ku, mungkin tak lama lagi ia akan menyombongkan pacarnya pada ku atau mengolok-olok ku yang menunggunya seperti orang bodoh.
Tok tok tok, seseorang mengetuk meja ku, “good morning miss” aku melihat ke arah sumber suara yang sangat familiar di telinga ku itu, “mau jadi pacarku?” fian menyodorkan bungga ke arah ku yang ku sambut dengan memeluk pacar baru ku itu…..
-TAMAT-