Aku masih duduk terdiam di lantai, menatap wajah kekasihku yang kini sudah begitu pucat, dengan senyum tersungging di bibirnya. Ryan, begitu ku panggil namanya. Perlahan air mataku mulai menetes membasahi pipi, hingga pada akhirnya ku tak sanggup lagi menahan derasnya air mataku.
Hari ini, tepat di hari ulang tahunnya, Tuhan mengambil nyawanya dari sisiku. Kecelakaan yang menimpanya begitu membuat aq terkejut dan tak percaya bahwa dia telah pergi.
Takkan lagi kulihat senyuman itu, tak bisa lagi aku menggenggam tangan itu, bahkan kini, untuk memeluknyapun,, aku tak akan bisa.... Hanya bisa melihat dalam mimpiku.. Dalam ingatan kepalaku, dan hatiku..
___________*****_____________
Tiba saatnya saat aku harus menghantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Namun, aq sungguh tak kuasa, menahan air yang membendung di mataku, hingga perlahan mulai membasahi pipiku.
Tumpukan tanah perlahan menutupi jasadnya, hingga yang terlihat hanyalah gundukan tanah dengan btu nisan di atasnya.
Kulihat batu nisan itu dan tertulis disana sebuah nama,,
~RYAN ADHI NUGROHO~
"Ryaaaaan.......!!!!!" , teriakku, menahan tangis di dadaku, sembari menatap batu nisanny dan sesekali mengusap tanah makam itu.
"Kenapa kamu ninggalin aku secepat ini???? Kenapa??", ucapku dengan suara lirih dan nafas tersengal-sengal menahan tangis.
"Ikhlaskanlah, Van. Ryan sekarang sudah tenang. Dia sekarang sudah bahagia di surga..", ucap Reni, salah SATU sahabat dekatku.
Orang-orang satu per satu mulai pergi meninggalkan pemakaman itu. Dan hanya tinggal aku, orang tua Ryan, dan Reni saja.
"Van, makasih ya selama ini kamu sudah jagain Ryan", ucap ibu Ryan padaku sambil mengelus pundak dan sesekali mengusap kepalaku.
"Sama-sama, tante.. ", balasku sembari sedikit menunjukkan senyum di wajahku.
Masih ku usap tanah yang masih basah itu. Butiran air mata terus mengalir tak tertahankan.
Orang tua Ryan kemudian pergi meninggalkankan makam itu, meninggalkanku dan sahabatku itu. Namun, aku masih tetap begitu sedih rasanya. Begitu sesak rasa di dadaku. Aku harus kehilangan orang yang benar-benar aku sayangi.
"Ryan,,, makasih karena selama ini kamu sudah menjagaku dengan baik, makasih untuk semua kenangan yang pernah kamu berikan padaku. Dan makasih karna kamu sudah mengisi hari-hariku selama ini. Sampai kapanpun, kamu tetaplah orang yang paling aku sayangi. Semoga kelak, Tuhan bisa mempertemukan kita kembali di sana. Aku sayang kamu, Ryan.. Kamu adalah yang terbaik di hatiku selama ini", ucapku sambil menaburkan bunga di atas makamnya itu.
"Semoga kau tenang disana, sayang..", lanjutku sembari berdiri dan kemudian mengambil langkah untuk menjauh pergi meninggalkan makam Ryan dan sesekali melihat kembali ke arah makam.
__________*******__________
1 tahun yang lalu di taman kota.
Kala itu aq sedang pergi bersama Reni, sahabatku.
Tengah duduk di taman kota X.
"Vani...", Ku dengar suara seorang laki-laki memanggilku dengan lembut.
Ku alihkan pandanganku ke belakang, dan ternyata itu adalah Ryan, orang yang kini jadi kekasihku itu.
"Hai, Ryan..", balasku padanya.
" Ren, aq boleh ga ngomong berdua sama Vani?", Tanya Ryan pada sahabatku saat itu.
Reni pun berdiri,
"Oh,,, Boleh-boleh aja, tapi janji yaa cuma bentar doang,,", sahutnya kemudian berjalan menjauh.
Tanpa basa basi, Ryan pun menatap ke arahku, sambil berkata ," Van,,, jujur.. aq selama ini sudah lama banget pengen ngomong ini sama kamu, aku sayang kamu,, kamu mau engga jd pacar aku??"
Aku begitu bingung kala itu. Jantung berdegup kencang, tak karuan. Pandangan mataku beralih, dari ke kiri dan ke kanan begitu sebaliknya.
"Van..." , Panggilnya sembari memegang kedua pundakku, " Lihat mataku,, ", lanjutnya padaku.
Aku juga telah lama mengaguminya. Menyimpan rasa untuknya. Dan semoga kali ini aku tidak salah, gumamku saat itu.
"Iya, Ryan.. jujur juga.. aq juga kagum sama kamu, aku juga suka smaa kamu, dan sekarang,, aku mau mencoba untuk kenal kamu lebih jauh lagi. Jadi, yaa ... aku terima kamu.." , ku beranikan diri mengatakannya.
"Makasih, Van,," , balasnya kemudian mengecup pipiku.
Pipiku merona, menahan malu saat itu. Reni yang berdiri jauh dari kursi kami, memalingkan wajahnya, seolah tidak melihat apa yang terjadi.
Kemudian Ryan berlalu pergi. Reni kembali datang menghampiriku.
"Ciye.. ciye... Ada yang baru jadian nih......??", Reni menggodaku.
"Apaan siiih......??? Dah yuk kita balik... Dah mulai malem ini..", sahutku mengalihkan pembicaraan.
Kami pergi menjauh dari taman kota, kemudian aku dan Reni kembali pulang.
Hari itu, tanggal 21 Oktober, itu adalah tanggal aq dan Ryan resmi menjalin hubungan dengan status *Pacaran* .
_________***********___________
Hari demi hari berganti. Bulan demi bulan berganti. Aku dan Ryan semakin mengenal satu sama lain. Hingga tahunpun berganti.
Hari ini, tepat. 1 tahun hubungan kami berjalan. Ryan berencana untuk mengajakku untuk pergi jalan-jalan ke taman kota. Akan tetapi, bukan hal yang menyenangkan yang aq dapatkan. Malah sebaliknya.
Baru saja aku selesai mengganti pakaianku, dan berhias cantik untuknya hari ini.
KRIIIIIING..... KRIIIIIING......
Teleponku berdering. Segera ku tinggalkan meja riasku dan dengan segera ku angkat gagang telepon itu.
"Ya, haloo.. ", jawabku.
"Bisa bicara dengan mbak Vanni,,?", tanya orang dalam telepon itu dengan suara lantang.
Ku mulai kebingungan, " Iya, saya sendiri,, ini siapa dan ada apa yaa??", Sahutku kemudian.
"Saya Donni mb . ", Kata orang dalam telepon itu.
"Donni, adiknya ryan??" , sahutku padanya.
Rasaku mulai tak karuan. Bingung, cemas dan semua rasa bercampur aduk jadi satu.
"Iya mbak,, aku Donni. ", Ku dengar suara kecil di telepon yang terisak ," Mbak,, mas Ryan mengalami kecelakaan.. dan.. sayangnya sudah tidak dapat ditolong lagi. Ini sekarang sudah di bawa pulang ke rumah...", Lanjutnya.
Seakan dunia berhenti bergerak. Telepon ku terjatuh dari genggaman.
Ku abaikan semuanya. Segera ku ambil langkah cepatku dan bergegas menuju rumahnya.
Hanya butuh 20 menit untuk ke rumahnya. Kulihat kursi yang sudah tersusun rapi,dan begitu banyak tamu berpakaian hitam yang datang.
Ku berjalan perlahan dari luar rumahnya. Dengan hati yang bergejolak, aku masuk ke dalam rumah itu. Ku dekati jasad yg sudah tertutup kain baik itu. Perlahan aku buka kain itu, dan benar saja. Seolah aku tak percaya.. memang itu adalah wajahnya, wajah orang yang benar-benar aku sayangi, Ryan. Untuk terakhir kalinya, aku melihatnya. Kucium mesra di keningnya.
Selamat jalan sayangku, semoga kau tenang di sisiNya ...
Meski begitu berat aku melepasnya, namun itu sudah kehendak Tuhan.
Sekarang, aku sudah tak akan bisa lagi melihat senyumannya lagi, tak bisa lagi bercanda dengannya, tak bisa lagi menggandeng mesra tangannya saat berjalan berdua, dan aku takkan bisa lagi menyentuh wajahnya bahkan untuk memeluknya sudah tak mungkin bisa.
Namun, kini aku harus berusaha ikhlas, menerima apa yang sudah terjadi. Ini adalah jalanNya..
Dan aku yakin, Kelak Tuhan akan memberikan aku seseorang yang seperti dia, yang akan menyayangiku apa adanya dan bisa mengerti diriku.
Kau yang telah pergi....
Kenangan tentangmu takkan pernah aku lupakan.
Terimakasih untuk semuany.
Aku sayang padamu.