(Seoul,Korean)
Hello,namaku Jane umurku 20 tahun.Aku anak tengah.Kakakku sibuk bekerja,adikku masih di jenjang SMA.Sedangkan aku baru masuk universitas jurusan farmasi.
Aku sangat menyukai tentang bidang ini.Karena sewaktu kecil aku kagum dengan para apoteker yang pandai sekali meracik obat.Entah kenapa aku juga tertarik.
Disana juga aku bertemu dengan Ansel,musuhku sejak aku kecil.Dari dulu aku selalu benci sekali padanya.Sering kali ia mengacak rambutku dan memakiku karena pendek.Ingin sekali ku remukkan tangannya yang menyentuh helai-helai rambutku itu.
Aku memilih universitas yang jauh dari kotaku.Berharap aku tak bertemu lagi dengan Ansel.Aku senang karena universitas ini sangat jauh.Tapi kenapa,kenapa dia malah ada disini juga astaga.Padahal aku sudah mencari universitas ini secara diam-diam kenapa dia malah juga ikut.
Arghhh....
"Ngapain sih kamu ikut kesini coba" kesalku.
Dia hanya tertawa melihat kesan tak sukaku.
"Kebetulan kali"bisiknya ditelingaku membuatku semakin kesal sekali padanya.
Ansel kemudian menghampiri mahasiswa baru dan meninggalkanku sendirian.Aku menatapnya dan berpikir cermat kembali.Kenapa dia ada disini juga,ini tak mungkinkan kebetulan secara terus menerus.Kesal Jane pada hatinya.
Seorang mahasiswi menghampiri Jane.Ia menyapa dengan senang berkenalan dengan Jane.Membuat kesal Jane mereda dan menatapnya.Iapun memperkenalkan dirinya begitu pula mahasiswi itu.Mahasiswi itu bernama Adena.Ia murah senyum sekali.Ia juga mengajakku berkenalan dengan mahasiswi yang lainnya.Aku merasa cukup terhibur bisa berkenalan dengan mereka.
Sekali-kali juga kita tertawa bersama,meskipun kita tertawa tanpa ada sebab senggaknya bisa menghibur sendiri masing-masing.
****
Dipenyambutan Mahasiswa-siswi baru begitu menyenangkan.Pesta yang digelar di dalam kampus,dibimbing juga dengan para senior.
Kami berpesta bersama,ada banyak makanan,minuman disana.Kami dibentuk dalam beberapa kelompok.Tapi kenapa didalam kelompokku malah ada Ansel.Ia malah tersenyum sinis padaku.Aku hanya bisa pasrah dengan nasibku yang terus bersama dirinya.
Kami disuruh perkenalan diri di tengah aula.Ansel maju lebih dulu.Disaat SMP,SMA ia selalu maju lebih dulu memperkenalkan diri.Entah kenapa pula setelah itu dia akan menatapku dengan senyumnya yang dapat memikat banyak gadis.Gara-gara itu pula aku menjadi musuh teman-temanku.
Aku berdoa semoga ia tak menatapku dengan senyum menggodanya agar aku tak sengsara kembali.Ia melihat reaksiku yang memohon agar ia tak menoleh ke Jane.
Ia menoleh ke murid lain membuatku bersyukur lega.Tapi satu detik kemudian ia menoleh kepadaku.Anak-anak lain pun menatapku dengan tajam.Sungguh membawa sial.
Ansel lalu kembali lagi ke kelompokku.MC kemudian malah membuatku memperkenalkan diri setelah Ansel.
*****
Aku duga setelah aku memperkenalkan diri.Aku akan menjadi bahan omongan karena aku 1 sekolah dengan Ansel.
Aku memperkenalkan diri dengan gugup sekali.
Kenapa aku harus ada disituasi seperti ini gumamku.
Aku hanya membungkukan badanku"Halo namaku Jane,aku dari SMA ***** salam kenal semua"ucapku tanpa ada kata tambahan apapun.
Mereka hanya berbicara sendiri membuat suasanaku menjadi tenggang.Jadi aku kembali ke tempatku.
Perkenalan itu terus berlanjut,hingga akhir pesta dan usai.Aku tinggal di kos dengan 1 kamar berisi 2 orang.Aku senang sekali karena teman kosku adalah Adena.Ia tak menyangka bakal 1 kamar denganku.
Aku memakai piyama polos warna biru tua bergaris putih.Sedangkan Adena memakai piyama bermotif beruang.Ia mengikat rambut panjangnya dengan penjepit.Sedangkan aku hanya memakai roll diponiku.
Kami rebahan diranjang masing-masing.Dan menceritakan hal satu sama lain.Hingga tentang kisah cinta Adena ia ceritakan juga kepadaku.Sayangnya ia harus kuat untuk LDR dengan kekasihnya.Aku nggak yangka,Adena bisa bertahan untuk LDR.Aku pikir itu cukup hebat.Daripada diriku,masih jomblo nggak laku.
Adena menggodaku dengan membicarakan Ansel dan bertanya tentang Ansel kepadaku.
Aku karena benci padanya jadi aku mengarang cerita bahwa ia itu suka sekali menjahili.Penguntit yang menyebalkan,suka menindas teman-temannya.Bahkan pula membuat nangis seorang anak kecil.Tak itu juga aku juga mengarang tentang ia yang suka mengoda para gadis.Itu membuat Adena geli mendengarnya seakan tak percaya dengan omonganku.
Dalam diriku aku minta maaf kepada Ansel tapi aku selipkan juga karena ini kesalahan dirinya sendiri yang selalu mengangguku.
"Jane kenapa kalian nggak jadian aja sama Ansel.Mungkin itu jodoh" ucap Adena.
"Ketemu aja aku dah ogahan bagaimana mau menjalin hubungan" pekikku membuat Adena tertawa keras.
"Yakan siapa tahu,kalian jodoh terus nikah" ucap Adena membuatku enek sekali membayangkan kehidupanku bersama Ansel.
Mungkin dalam rumah tangganya akan dipenuhi makian Ansel karena ia pendek dan menindasnya.Ia takut apa yang ia ucapkan akan berbalik kepadanya.Jadi ia memberhentikan membayangkannya.
Beberapa hari setelahnya seluruh hari dipenuhi dengan jadwal kampus.Beberapa hari juga Ansel semakin menyebalkan juga dan mulai genit.
Saat aku makan sandwich sendirian dikantin.Ia mendekatiku dengan membawa sebotol coca-cola.
Aku hanya melirik dengan kesal.
"Mau apa kamu kesini?" tanyaku tanpa menatap lalu melanjutkan makan sandwich.
"Hmhmhm ya terserah dong kan ini kantin jadi bebas melakukan apapun"jawab Ansel.
Mendengar itu aku langsung pindah tempat makan.Namun ia justru mengikutiku pindah.
"Kenapa kau mengikutiku" ucapku dengan nada setengah membentak.
"Aku sendirian dong,kan gak nyaman sekali" ucap Ansel semakin membuatku ingin membentaknya sekeras-keras mungkin agar ia takut.Aku rasa itu tak mungkin karena aku sering membentaknya tapi justru ia malah makin senang membuatku marah.
"Disanakan ada temanmu ANNNNNSEELLLLL"ucapku ingin meremas Ansel.
" Ah bodoh lah"ucap Jane jengkel.
*****
Aku berjalan sendiri ditengah jalan saat sore.Aku menenteng kantong plastik berisi bahan makanan,seperti mie,telur,tofu,daging sedikit sayuran dan lain-lain.Juga mengambil uang di atm yang dikirim oleh orang tuaku.
Tapi mendung hitam menutupi jingganya langit.Aku cepat-cepat lari agar aku tak tertimpa hujan nantinya.
Usahaku sia-sia buliran air menguyur dengan deras.Aku berteduh didepan minimarket.Mantelku sedikit basah terkena air hujan.
Ansel melirik Jane dari jauh dengan membawa payung miliknya.Ia menghampiri Jane.Aku tak kaget ataupun senang,karena ia selalu muncul ditengah hujan begini.
Aku menjauhinya,namun ia justru mendekat.Aku menjauhinya hingga dibagian ujung.Ia malah mendekatiku lagi-lagi dan lagi.Aku pergi meninggalkan Ansel.Berlari menerobos hujan berharap Ansel tak mengejarku.
Aku kelelahan ditengah jalan yang tak ada tempat teduh sama sekali.Tubuhku semakin mengigit karena dingin.
Ansel datang ia memayungiku dan membiarkan dirinya kehujanan.Aku heran kenapa ia terus mendekatiku.
"Jika kau kehujanan jatuh sakit,aku yang repot.Ayo aku antar" ucap Ansel memegang tanganku dengab hangat.
(Rumah Ansel)
Ia menyelimutiku dengan handuk kering.Membuatkanku ramyeon.
"Ini rumahmu?" Jane.
"Bukan" ucap Ansel.
Mencari pakaian wanita dan memberikan pakaian itu ke Jane."Pakailah"Ansel.
"Apa kau selalu membawa pulang wanita? kenapa punya pakaian wanita"Jane.
"Ini punya kakakku,rumah ini juga punya kakakku.Dia sedang pergi keluar kota" ucap Ansel.
"Cepatlah ganti sebelum kau masuk angin!" perintahnya padaku.Aku hanya mengangguk.
Pakaian yang dipinjamkan padaku adalah berlengan panjang.Bagiku ini terlalu panjang untukku jari-jariku tenggelam karena kepanjangan.Hanya ada itu,jadi pasrah saja.
"Terima kasih telah meminjamkannya padaku" ucapku.
Ia masih saja merogoh lemari kakaknya.Mencarikan mantel untukku agar lebih hangat.
"Kau tak perlu mencarikanku mantel" larangku.
"Kau harus tetap hangat kalau kau sakit.Kau juga akan merepotkanku dan temanmu juga nantinya" ejeknya menertawakanku.
"Hmmm terserah padamu sajalah"...
****
Aku duduk dengan kakiku direndam air hangat oleh Ansel.Aku meniup-niupku coffe yang dibuatkan olehnya.Rasanya pas sekali dilidahku,aku tak menyangka ia bisa membuatkan coffe.
Setelah itu ia duduk kelelahan disampingku.
" Kau nanti pulang setelah hujan reda,aku akan mengantarkanmu"ucap Ansel.
"Hmm terserah padamu saja"
"Hei kau tak benci padaku apa?padahal aku tak berlaku buruk padamu" ucapkua menyinggung perasaannya.
"Apakah kau itu bodoh.Seseorang yang dibenci belum tentu ia akan bersikap sama pada orang yang membencinya.Contohnya saja aku dekat dengan kamu" ucap Ansel menceritakan masa lalu.
"Kau tak waras? aku tak dekat denganmu.Jadi berhentilah mencoba mendekatiku"
"Aku waras kok,buktinya aku bisa jatuh cinta denganmu" ucap Ansel membuatku tak percaya dan menertawakan dirinya.
"Jangan ngadi-ngadi kamu,kisah cintamu tuh nggak jelas.Dari dulu nyebelin aku saja" ejekku membuat dirinya merasa bersalah karena selalu menguntitnya.
"Aku tak berani waktu itu makanya aku hanya bisa menguntitmu" ucapnya membuatku kasihan sekaligus ngakak.Pasalnya seorang pria takut menyatakan cintanya pada seseorang itu hal yang langka sekali.
"Kau mengumpatnya bertahun-tahun.Seharusnya sudah hilang bukan"kataku.
" Tidak tuh"
"Sudahlah jangan banyak bicara cepat habiskan ramyeonmu sebelum dingin"suruh Ansel.Aku hanya mengiyakan dan menyeruput mie dengan sumpit.
******
Ansel mengantarkanku sampai ke kosan.Adena berterima kepada Ansel karena sudah mengantarkanku.
Adena bertanya padaku kenapa ia bisa bersama dengan Ansel.Aku menceritakan rasa bertanya Adena itu.Adena dengan cepat membuat kesimpulan tentangku dan Ansel.Aku mengelak karena ia seperti mendekatkan aku kepada Ansel itu.Aku menolak karena ia bukan cowok romantis pada umumnya.Adena malahan membela Ansel agar aku menerimanya.Malam itu di isi dengan perdebatan antara aku dan Adena.
Sejak saat itu hatiku mulai terbuka kepada Ansel.Setiap hari aku justru merindukan kebiasaan aneh Ansel.Menguntit,mencoba mendekati dan lain-lain.
Dia makin menjauh dan jarang sekali menguntitku sekarang.Aku tak tahu aku ini suka kepadanya atau tidak yang jelas aku rindu dengan sikap menyebalkannya.
Suatu saat disenja yang membeku ditengah hujan.Ia berdiri diminimarket tanpa membawa payung.Aku datang dengan mantel,juga payung transparan.
Mendekatinya,mengantarkan dirinya ke rumah.Tepat ditengah jalan yang tak ada tempat teduh aku berhenti.Aku menatapnya dalam-dalam.
Dalam pikiranku mungkin ia kecewa dengan perkataanku saat itu.Mungkin dia membenciku seperti aku membencinya dulu.
"Ada apa?" tanya Ansel padaku.
"Aku...aku..." ucapku malu bertanya padanya.
"Ucapkan dengan jelas!" tegas Ansel seperti membentak bagiku.
"Kau tak seperti biasa Jane,kau kenapa? apa ada masalah?" tanya Ansel yang justru khawatir kepadaku.
Aku takut mengakuinya,aku memeluknya erat-erat.Membuat payung yang aku pegangi ku jatuhkan.
"Aku rindu padamu Ansel" ucapku keras agar terdengar olehnya.
Ia memelukku kembali "Aku juga,aku terlalu sibuk dengan tugasku yang menumpuk.Jadinya aku tak bisa terus bersamamu" ucapnya Ansel.
Aku malu dengan pengungkapan ini.Diwaktu yang tak pas justru aku membalas sukanya.Tidak apa-apa ini sudah terlanjur aku memeluknya dengan erat sekali.
"Peluklah dengan erat sampai kau puas Jane" ucap Ansel senang sekali.
*****
Di kursi taman,hujan sudah mereda.Kami duduk bersama.Ia menatapku dengan manis.Dia membeli 2 handuk kering.Satu untuk menyelimuti dirinya satu lagi menyelimutiku.
"Bukankah kita akan masuk angin?" ucapku mengingat perkataanya yang seakan memarahiku waktu itu.
"Tidak akan,aku akan menghangatkanmu" ucapnya makin genit kepada ku.
"Jane" panggilnya.
"Apakah kamu memandangku sebagai laki-laki?" tanya dia kepada ku.
"Ya tentu saja kamu itukan memang laki-laki" ucapku dengan sedikit candaan.
"Bukan itu,aku memandangmu sebagai seorang wanita.Apakah kamu memandangku juga sebagai laki-laki" pertanyaan nya menbuatku menjawab dengan senyum.
"Jika kau bertanya padaku,apakah kau juga menyukaiku.Maka aku akan bilang ya,aku juga menyukaimu" ucapku membuat harapannya seakan terkabul.
"Aku akan ganti pertanyaanku" ucap Ansel kesal karena ia tak menemukan kata yang cocok untuknya.
Beberapa menit kemudian....
"Bukankah kita harus kembali? ini sudah benar-benar tak hujan" ucapku mengadahkan tangan.Mengetes apakah masih turun hujan atau tidak.
"Tunggulah beberapa menit lagi Jane" ucap Ansel memikirkan sesuatu.
"Ayolah aku sudah kedinginan" rajukku mengigilkan tubuhku agar seolah-olah beneran kedinginan.
Ansel bergerak seperti seorang pangeran melamar putri.
"Jane,aku adalah tumbuhan yang tak lengkap" ucapnya.
"Ya terus?" tanyaku bingung sulit sekali menebak hal yang akan dikatakan Ansel.
"Aku adalah batang yang berduri.Aku adalah tangkai yang sangat berduri.Tumbuhan yang sangat jelek,tak ada yang membuatku bersinar" lanjutnya.
"Jika kamu menyukaiku,apakah kamu bersedia untuk menjadi pelengkap tumbuhan jelek seperti aku?" lanjutnya lagi.
Aku menebak dengan keras "apakah kamu ingin aku menjadi mawar?" tanyaku.
"Ya,aku akan melindungimu dengan duri-duriku agar kamu tetap aman.Jadi apakah kamu mau menjadi"
"Ya aku mau" jawabku memotong pertanyaan Ansel.
"Beneran kamu mau"tanya dia seakan tak percaya dengan ucapanku.
" Aku kan sudah bilang iya,berarti jawabpanku ya 'Iya'"jelasku.
"Ahhh terima kasih Jane" ucap Ansel kegirangan.
Ia memeluk-meluk diriku berkali-kali menjadi pusat perhatian orang yang lewat.
"Ansel jika terus begini kapan kita pulangnya.Aku sudah kedinginan sekali" ucapku melirik orang-orang.
"Ah maaf,ayo pulang.Nanti malam adalah kencan kita" ucap Ansel.
"Baiklah,aku akan berdandan dengan cantik"
Ansel mengantar Jane padahal jarak paling dekat adalah rumahnya.Tapi apa boleh buat Ansel sudah terlanjur senang sehingga menghiraukan kedinginannya.
Hari-hari kami lewati dengan senang tertawa bersama.Menangis bersama bila melihat drama yang menguras air mata/ sad ending.Bagiku aku senang jika bersama dengannya.Meski itu sekejap aku akan sangat bahagia
"Aku senang jika aku bersama mu Jane"
𝚂𝚝𝚒𝚕𝚕 𝚠𝚒𝚝𝚑 𝚢𝚘𝚞
~Tamat~