[Denial - By Splashwin_]
♥*♡∞:。.。*:..。o○ ○o。..:*。.。:∞♡*♥
"Ck ngeselin banget sumpah dosen-dosen hobi banget seenaknya"
Omel Anna sambil mengacak rambutnya kesal. Eve cuma bisa liatin bestienya itu sambil menghela napas panjang.
"Eh tapi kalo bolos lagi ini kan bakalan di absen double sama yang minggu kemarin. Huh tau gitu minggu kemarin gak usah masuk" - Lala
"Bener ih ngeselin, yaudah ayo kita makan dulu" - Anna
Mereka bertiga akhirnya pergi ke kantin buat ngisi perut dulu sebelum menerima double materi di mata kuliah selanjutnya. Pak Ravi emang udah 2 minggu gak masuk, tapi bukan karena dia gak bisa melainkan memang harusnya libur
Tapi 'Si Dosen Ambis' begitu julukan Anna untuk Pak Ravi, menganggap libur dua minggu kemarin sebagai penghalang pembelajaran mereka.
"Eh Eve, kemarin Pak Ravi bilang apa pas lu dipanggil ke ruangannya" -Lala
"Oh itu dia tanyain siapa nama temen yang duduk di sebelah gw, gak tau juga tuh kenapa dia tanya soal Anna" - Eve
"Asiikkk Anna dicariin Pak Ravi HAHAHAHAHA" - Lala
"IDIH OGAH BANGET SAMA SI PALING AMBIS. Bisa gila kalik ya kalo gw pacaran sama dia ihhh" - Anna
Eve dan Lala tertawa puas melihat wajah sebal Anna. Padahal awal masuk Anna paling semangat karena menurut dia Pak Ravi ganteng, Eve dan Lala juga mengakui itu tapi makin kesini Anna jadi dendam kesumat sama Pak Ravi akibat cara ngajarnya yang ambis
"Udah deh gak usah bahas dia lagi alergi gw"
Lagi-lagi Eve dan Lala tertawa keras, sampai beberapa orang yang ada di kantin menatap mereka bingung. Setelah makan mereka langsung masuk ke ruang kelas
"Anna dipanggil Pak Ravi"
"YA TUHAN KENAPA SIH" - Anna
"MAMPUSSSS jangan terlalu benci Na" - Lala
"Bener tuh HAHAHAHAHA" - Eve
Anna berjalan dengan kaki yang sengaja di hentak hentakan, seolah dia ingin memberi tahu satu dunia bahwa dia sangat sangat kesal dengan dosen yang satu itu
"Kenapa Anna mukanya masam begitu"
Anna menatap jutek Pak Ravi yang tersenyum sambil merapikan kertas kertas yang Anna duga itu hasil kuis mereka dua minggu yang lalu
"Tolong ini dibagikan ke teman-temannya ya. Hari ini saya agak telat sebentar, karena ada urusan sama Pak Rektor. Tolong kasi tau temannya link tugas udah saya kirim di grup nanti sore terakhir di kumpul"
"Kan kita udah ada kelas Pak kenapa masih ada tugas"
"Iya kan saya telah satu jam jadi tugas sebagai gantinya"
"Tapi kan cuma satu jam Pak"
"Memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Oke Anna mau diem disini ngadem atau balik ke kelas, saya mau ke ruang Pak Rektor dulu"
Anna dengan cepat keluar dari ruangan Pak Ravi, berlari kecil menuju kelasnya. Anna juga bingung kenapa malah dia yang dipanggil padahal Eve yang menjadi ketua kelas untuk mata kuliah yang beliau ajar
"Nih disuru bagi, dia telat satu jam sebagai gantinya ada tugas di link yang dibagikan di grup" - Anna
"Oh my god dosen itu beneran 100% ambis deh, sejam doang padahal tetap harus ada gantinya" - Lala
"Huhhh mau gimana lagi, yaudah kerjain aja deh ayok" - Eve
Dengan perasaan agak kesal, mereka tetap mengerjakan tugas yang diberikan. Dua jam berlalu, Pak Ravi akhirnya datang namun sebagian mahasiswa di kelas masih serius mengerjakan tugas yang diberikan
"Kalo begini kan adem di diliatnya, keliatan rajin kalian jadinya"
"Dih rajin apaan, ini mah terpaksa" - Anna
"Hooh ishh" - Lala
"Udah buruan selesaikan" - Eve
Mereka lanjut kerjain tugasnya, sedangkan Pak Ravi sibuk menyiapkan proyektor untuk membantu kegiatan mengajar hari ini. Biasanya Fero bantu menyiapkan proyektor tapi karena lagi sibuk nugas, Pak Ravi nyiapin sendiri semuanya
"Oke teman-teman sekarang kita mulai pembelajaran nya ya"
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
Matahari mulai bertukar tugas dengan bulan. Perlahan sinar orange memenuhi langit biru membuat gradasi disana. Anna baru saja selesai kelas, namun kali ini dia sendirian karena Eve dan Lala ada kegiatan UKM.
Langkah Anna terhenti setelah matanya menangkap pemandangan mengerikan menurutnya. Tepat di depan motornya, Pak Ravi berdiri sambil asik berbincang dengan dua mahasiswa laki-laki yang tidak Anna kenal. Mungkin kakak tingkat
"Duhh ngapain sih dia disana, mana udah sore banget"
Anna masih diam ditempatnya, sekitar 300 meter dari motornya. 15 menit kemudian dua mahasiswa laki-laki yang menjadi teman bicara Pak Ravi pamit pulang. Anna memutar bola matanya kesal, akhirnya dia bisa pulanga juga
"Loh Anna baru pulang? Dua temen kamu mana?"
"Mereka lagi ada UKM Pak. Oiya saya langsung pamit ya pak permisi"
"Saya boleh numpang sampai bengkel? Kamu tau kan bengkel sebelum gerbang kampus itu, mobil saya disana tadi macet"
Anna jujur malas banget, tapi kasian juga ngeliat Pak Ravi kalo harus jalan ke bengkel yang jaraknya hampir 1km dari wilayah fakultas Anna
"Boleh Pak, tapi maaf Pak Ravi aja yang bawa motornya"
"Iya lah saya juga gak berani dibonceng sama Anna, lihat perbandingan antara badan kita ini"
Anna hanya tersenyum canggung, setelahnya pak Ravi langsung mengendarai motor Anna menuju bengkel. Tentunya sekaligus membonceng Anna. Ini kalo diliat Eve dan Lala, Anna yakin dia bakal jadi bahan ejekan
"Terimakasih ya Anna, hati-hati dijalan udah lumayan gelap"
"Iya Pak sama-sama, saya pamit dulu"
Anna bisa lihat dari kaca spion, Pak Ravi lagi dadah dadah sambil senyum manis kayak biasanya. Anna fokus aja mengendarai motornya walaupun agak salfok dikit.
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
"Tiba-tiba cinta datang pada Anna~~"
Anna yang baru sampai bareng Eve mengerutkan dahinya bingung, ada apa sampai Lala bernyanyi begitu.
"Tuh ada yang nitipin brownies kesukaan lo, ada suratnya loh HAHAHAHAHA"
Anna dengan cepat mengambil surat yang dipegang Lala. Berharap Lala gak jahil baca baca isi suratnya. Anna langsung nyimpen suratnya dalam tas, terus brownies nya dia simpen juga. Gak lama dosen pun datang
**
Sampai rumah Anna langsung baca suratnya, mungkin lebih cocok disebut memo sih daripada surat karena hanya berisi beberapa kata doang. Tapi jujur Anna malah kaget ngeliat siapa yang nulis memo itu
"Hah??? Ih kok takutttt"
Anna menatap box brownies yang tinggal 4 potong itu, 4 lainnya sudah dimakan Eve dan Lala
"Semoga Eve sama Lala gapapa abis makan brownies nya"
Anna menaruh memo itu dalam laci meja belajarnya. Lalu dia pergi mandi, karena sudah ada tugas yang menanti untuk diselesaikan
Baru saja Anna selesai memakai baju, handphonenya berdering. Anna pikir itu teman kelas, Lala atau Eve yang menelepon. Anna reflek melempar handphonenya ke kasur begitu membaca nama pemanggil
"Hah ngapain"
Namun Anna tetap mengangkat telepon nya karena nilai adalah taruhannya.
"Selamat malam Pak"
"Malam Anna, saya dapat informasi dari rektorat Anna lulus pembiayaan dikti tingkat 2. Besok Anna diminta ke rektorat untuk bertemu warek 2"
"Terimakasih infonya pak, ada berkas yang perlu dibawa gak pak?"
"Gak ada Anna langsung aja ke rektorat ya. Tau kan ruangan warek 2 dimana?"
"Tau Pak, terimakasih pak udah infoin. Besok saya langsung kesana"
"Sama-sama selamat ya Anna. Oiya brownies nya enak gak? Itu kemarin ibu saya yang buat karena Anna udah bantu saya jadi saya kasi ke Anna juga"
"Eh iya Pak enak kok salam sama ibunya ya Pak. Baik Pak kalo begitu saya tutup teleponnya"
"Oke selamat malam"
Senyum Anna merekah, akhirnya proposalnya membuahkan hasil. Dengan cepat jarinya mencari nama Eve dan Lala untuk mengabarkan mereka juga. Karena proposal itu dibuat oleh mereka bertiga
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
"Selamat pagi Anna"
"Pagi pak"
Anna masih di parkiran rektorat menunggu Eve dan Lala yang masih otw, Anna agak bingung kenapa Pak Ravi juga ada disini. Setahun Anna dia ada kelas sekarang
"Pak gak ngajar? Seinget saya ada kelas kan Pak di EP"
"Iya hari ini saya harus ngurus pendanaan dikti yang turun, salah satunya buat kalian kan. Jadi mereka udah saya kasi tugas aja"
"Owhhh gituuu"
Setelahnya hening, Anna juga bingung mau ajak ngobrol apalagi. Anna memilih duduk di bangku taman gak jauh dari parkiran sambil mainin handphonenya. Gak lama Pak Ravi juga ikutan duduk disamping dia
"Anna, eh maaf Pak hehehe. Ayo langsung aja" - Lala
"Udah lengkap semua ini ya tim nya? Ayo langsung kita urus biar cepat selesai"
"Eh Pak Ravi yang bantuin urusnya? Waaahhhh TERIMAKASIH PAK" - Eve
"Hahahaha iya sama-sama"
Mereka berempat barengan pergi ke ruangan warek 2 untuk mengurus pendanaan dikti nya. Cukup lama mereka disana sampai jam makan siang tiba
"Pak kita mau ke kantin makan siang dulu, mau nitip atau makan siang bareng gitu?"
Ucap Eve niatnya basa basi untuk opsi kedua. Tapi malah diiyain sama Pak Ravi
"Saya ikut ke kantin aja deh, ribet kalo makan disini"
Mata Anna auto melotot natap Eve yang sok ngide ngasih tawaran begitu. Sedangkan yang pelototin cuma bisa senyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya gak gatal juga
"Budheeee kuuuu udah lama ih gak makan disini. Mau mie ayam satu ya"
Sapa Anna heboh ke budhe kantin yang menjual mie ayam, bakso dan soto. Selama setahun kemarin mereka emang selalu dapat kelas di sekitaran rektorat jadi sering makan siang disini makanya akrab sama budhe
"Oalah anak gadisku makin ayu ya, ayo ayo mau pesen apa lagi. Budhe ada buat mendoan nih"
Mereka bertiga heboh memesan makanan pilihan mereka. Sampai lupa kalo mereka kesini bareng dosen. Pak Ravi yang berdiri dibelakang mereka hanya bisa tertawa melihat tingkah heboh dan pecicilan mereka yang sebelumnya gak pernah terlihat
"Eh ada pak dosen, monggo pak mau pesen apa"
"Saya pesen soto ayam aja 1 bu"
"Oke tunggu dimeja aja nanti saya anter sekalian sama punya anak gadis ini"
Setelah puas bergosip singkat dengan budhe sekalian mesen makanan, mereka bertiga nyari meja kosong. Sayangnya cuma ada 2 meja kosong yang bisa nampung masing-masing dua orang aja
"Hehehehe Anna itu udah ditunggu mas crush" - Lala
"La, jangan nyari hal atau lo gw betot" - Anna
"Ih galak banget, mau gimana lagi kan mejanya pas banget ini tinggal 2" - Lala
"Ya jangan gw dong yang disana. Ketua kelas dipersilahkan" - Anna
"Ah ogah, mending lu tarik kursinya kesini deh kita mepet mepet" - Eve
"Lu kira ini kursi kantin utara bisa di pindahin" - Anna
"Aduh iya juga ya, yaudah Na mau gimana lagi" - Eve
"Ck, awas aja ya kalian" - Anna
"Ntar gw traktir deh janji" - Lala
"Sama gw juga bakal beliin lo deh photocard nya bias lo oke?" - Eve
Anna menatap sinis kedua sahabatnya yang kini menyatukan tangan memohon agar Anna saja yang duduk bareng Pak Ravi. Langkah kaki Anna terasa sangat berat, tapi kalo gak duduk disana udah gak ada kursi kosong lagi
Apalagi budhe udah jalan ke arah mereka buat nganterin pesenan. Mau gak mau Anna duduk bareng Pak Ravi
"Ini anak gadis mie ayamnya. Budhe kasi bonus mendoan hehe. Pak dosen ini soto ayamnya ya"
"Terimakasih bu"
"Senyum dong anak gadis mau makan masa masem mukanya"
"Iyaa budheee ini Anna senyumm iiiiiii"
Budhe tertawa melihat Anna yang memaksakan senyuman. Entah mengapa Pak Ravi yang melihat itu begitu gemas, sampai ingin mencubit pipi Anna. Namun jelas ditahan dengan sekuat tenaga
Mereka makan dalam diam, begitu juga dengan Eve dan Lala di meja sebelah. Mereka fokus menikmati makanan masing-masing, selain itu mereka juga harus cepat selesai makan supaya bisa melanjutkan mengurus pendanaan supaya langsung selesai hari ini
Jarum jam menunjukkan pukul 4 sore, mereka baru saja selesai mengurus pendanaan yang akan cair dua hari lagi. Mereka bertiga mengucapkan banyak terimakasih ke warek 2 yang mau mempercayakan mereka
"Terimakasih juga Pak Ravi udah bantuin kita seharian sampai gak ngajar dulu" - Eve
"Sama-sama kita saling bantu aja. Oke kalau begitu saya langsung pamit ya, ada urusan dirumah"
"Iya Pak hati-hati" - Lala
Mereka bertiga juga ikutan pulang, tapi Lala sama Eve nginep di kosan Anna. Soalnya mereka lagi malas balik ke kosan mereka yang agak jauh, mereka juga udah prepare buat nginep
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
"Aduhhh kenapa sih harus macet segala ini motor"
Entah kesialan macam apa ini, Anna yang sedang membeli bahan-bahan untuk stok di cafe milik mereka bertiga mendapat kesialan motornya mogok di tengah jalan raya. Sudah berbagai cara Anna coba lakukan tapi gak membuahkan hasil
"Aduh kalo ke bengkel ini barang-barang berat banget"
Anna udah mencoba telepon Eve dan Lala tapi mereka belum bisa bantu karena cafe lagi ramai pengunjung. Anna duduk pasrah di trotoar, sambil mencari cara agar dia bisa membawa motornya ke bengkel terdekat
"Anna, ngapain disini?"
Wajah Anna yang tadinya lesu, pasrah seketika kembali cerah ceria begitu mendengar namanya disapa.
"Pak, maaf boleh gak jagain barang saya disini sebentar aduh baru disapa saya langsung minta tolong. Tapi ini motor saya mogok, Eve sama Lala lagi urus pengunjung cafe"
"Rumah saya ada di deket sini, kita kesana aja dulu. Saya coba liatin motornya, sini biar saya yang dorong motornya"
Anna mengekori Pak Ravi menuju rumahnya yang emang beneran gak jauh, sekitar 3 menit dari tempat Anna berhenti tadi
"Duduk dulu, ini tissue lap keringetnya astaga kasian mahasiswa saya ini"
Sekujur tubuh Anna memang dibasahi keringat, selain karena sudah lelah mendorong motor dari tempat pertama kali macet. Cuaca hari ini juga sangat panas dan terik mataharinya gak masuk akal
Anna yakin pulang nanti pasti wajah dan tangannya gosong
"Nih minum dulu, saya coba liatin motornya. Kalo gak bisa Anna pakai motor saya aja ke cafe nya, motor Anna biar saya bawa ke bengkel"
"Gapapa Pak gak usah repot biarin aja disini nanti saya naik taksi ke cafe. Ntar sore saya balik kesini buat bawa motornya ke bengkel"
"Gapapa saya juga gak ngerasa direpotin"
"Pak makasih ya kalo gak ada Pak Ravi saya gak tau ini sampe jam berapa bakal duduk di trotoar sana"
Pak Ravi tersenyum sambil mengangguk. Kemudian dia mulai mengecek kondisi motor Anna. Setahu Anna, Pak Ravi emang gabung ke dalam geng motor antik gitu jadi mungkin karena itu Pak Ravi sedikit banyak tahu soal permotoran
"Hmm ini olinya seharusnya udah perlu diganti. Gampang kalo oli sekarang saya ganti juga bisa, cuma harus pergi beli dulu olinya. Saya gak punya oli untuk motor matic"
"Belinya dimana Pak? Biar saya aja yang beli"
"Emang tahu oli matic gimana?"
"Eeemmm gak tahu sih Pak, tapi ntar tanya yang jual aja"
"Hahaha nanti dikasi yang gak bagus. Gapapa kita pergi beli bareng aja, sekalian anter Anna ke cafe ini barang nya mau dipakai sekarang kan?"
"Iya Pak, maaf banget Anna ngerepotin Pak"
"Gapapa Anna astaga hahaha. Yaudah ayok kita berangkat"
Anna membantu Pak Ravi mengangkat beberapa barang belanjaannya ke dalam bagasi. Terus mereka langsung pergi ke cafe Anna dulu
"Anna, baru aja ini Lala mau pergi jemput. Maaf ya buat lo nunggu, duh motor butut itu emang suka nyusahin" - Eve
"Gapapa ih kalian juga repot disini kan. Tadi gw dibantu Pak Ravi" - Anna
"Hah serius? Ih syukur deh ada yang bantu, terus Pak Ravi mana sekarang?" - Lala
"Udah langsung pergi beliin motor lo oli. Katanya ntar bakal langsung dianter kesini kalo olinya udah di ganti" - Anna
"Ih jadi gak enak sama Pak Ravi, baik banget astaga. Mau aja direpotin kita" - Eve
"Hooh padahal tadi gw udah bilang gapapa biar nitip aja motornya disini ntar sore gw bawa ke bengkel gitu. Tapi dia kekeuh di bilang saya bisa perbaiki kalo yang ringan ringan gitu" - Anna
"Kita harus kasi Pak Ravi voucher makan nih disini buat sekeluarga nya" - Eve
"Iya weh biar gw siapin langsung" - Lala
Mereka gak banyak ngobrol lagi, karena setelahnya rombongan murid SMA datang memenuhi meja kosong cafe. Mereka langsung gerak cepat melayani pengunjung
**
Pukul 8 malam, mereka lagi siap-siap buat tutup cafe. Anna lagi ngelap semua meja dan kursi, Eve lagi beresin bagian bar dan sekitarnya. Sedangkan Lala lagi cuci piring di kitchen
"Yah kayaknya saya terlambat nih datangnya"
"Eh gak kok Pak silahkan duduk mau pesen apa?" - Anna
"Hahaha gapapa ini motor Anna udah beres. Lancar jaya dijamin gak bakal macet lagi"
"Pak Ravi makasih banget udah bantuin Anna dan motor butut saya" - Eve
"Loh itu motor Eve? Saya kira itu motornya Anna"
"Motor saya Pak butut banget dia emang hobi macet. Kalo motor Anna mah rajin servis mana mungkin macet" - Eve
"Gak butut motornya cuma perlu ganti oli aja. 6 bulan lagi ganti olinya ya, kalian kan paling bawa motor di sekitaran kota sini aja kan gak sampai jauh banget"
"Iya Pak gak pernah, saya kalo jauh biasanya nebeng Lala atau Anna" - Eve
"Pak silahkan diminum, saya gak tahu sih Pak Ravi bakal suka ini atau gak" - Lala
"Astaga saya bilang gapapa juga. Tapi thanks ya"
"Sama-sama Pak, saya izin balik ke. Kitchen dulu Pak" - Lala
"Oke semangat beres-beres nya. Eve, Anna juga kalo mau lanjut beres-beres lanjut aja. Saya sendiri aja gapapa"
Mereka bertiga balik ke posisi masing-masing. Anna sekarang berpindah bantuin Lala di kitchen buat beresin dan lap lap kompor, dinding dapur dan lantainya juga yang kecipratan selama mereka masak seharian ini
"Anna, udah sisanya gw aja. Temenin Pak Ravi sana kasian sendirian aja, dia udah baik mau bantuin kita"
Anna agak gimana sih gitu pas Lala bilang gitu. Tapi Lala bener Pak Ravi udah bantuin mereka hari ini, jadi gak enak kalo dianggurin aja
"Udah selesai beres-beres?"
Sapa Pak Ravi begitu Anna duduk di kursi hadapannya. Anna mengangguk sambil senyum tipis, Pak Ravi juga membalas senyuman itu
"Untung tadi macetnya deket rumah saya ya. Kalo gak mungkin sekarang Anna masih sibuk urusin motornya"
Ucap Pak Ravi membuka obrolan karena sejak duduk Anna hanya diam saja. Pak Ravi tahu persis mahasiswanya ini sebenarnya anak yang tidak pintar berbasa-basi, jadi dia membuka obrolan sebisanya
"Iya, kayaknya itu juga kalo udah gak ada banget yang tolongin terpaksa Anna dorong sendiri motornya ke bengkel bolak-balik sambil bawain barangnya"
"Gak kebayang, itu barangnya banyak banget. Biasa kalian pakai mobil kenapa tadi gak dipakai mobilnya?"
"Itu sebenarnya mobil pinjem Pak, tapi hari ini yang punya mobil lagi pakai mobilnya jadi ya gitu. Namanya juga minjem Pak"
"Hmmm gitu, kalo gitu kalian kalo mau belanja pakai mobil saya aja. Itu mobil juga jarang saya pakai, kasian juga kalo diem terus. Mending kalian manfaatkan buat akomodasi"
"Gapapa Pak, masih bisa kok itu kan motornya udah beres hehe. Besok-besok kalo belanja saya pakai motor saya aja biar gak macet lagi hahahaha"
"Serius saya ini, mobilnya dipakai kalo pas ujan aja kasian jadinya. Mending kalian yang pakai kan, saya lebih suka naik motor"
"Gak deh Pak kasian istri Pak Ravi ntar kepanasan"
Pak Ravi diam sejenak setelah itu tawa Pak Ravi pecah. Sampai Eve sama Lala yang lagi ngitungin duit di kasir nengok ngeliatin mereka
"Astaga bisa-bisanya kalian berpikir saya udah nikah"
"Hah jadi belum pak?"
"Saya pacaran aja terakhir pas mau ambil S2 Anna itu pun gak lama. Ya gimana belum takdir dikasi istri"
Anna menggaruk kepalanya canggung, dia sudah salah kira sama pak Ravi. Sedangkan pak Ravi masih tertawa gak menyangka
"Kalo Anna ada kenalan bisa lah promosikan saya hahaha"
"Boleh pak boleh nanti saya promosikan langsung hehe"
Mereka masih lanjut mengobrol, Eve dan Lala juga ikut bergabung. Hingga pukul 10 malam mereka baru bubar
"Saya pamit dulu ya, oh iya kalo lagi berempat aja gak usah panggil pak Ravi panggil apa kek yang lain. Kak misalnya panggilan pak cukup di kampus aja"
"Yah kenapa gak bilang dari tadi sih Pak eh maksudnya kak hahahaha"
"Saya juga baru kepikiran, ntar kalo butuh bantuan kabarin saya aja"
"Siap kak terimakasih"
"Eh kak boleh nitip Anna gak. Dia gak bawa motor hari ini, kan gak bisa bonceng tiga"
"Hah gapapa saya naik taksi aja"
"Gapapa Anna bareng saya aja, sama sih naik taksi tapi kan seenggaknya jadi ada temen"
Eve memberi kode agar Anna cepat mengikuti Pak Ravi atau kak Ravi sekarang, masuk ke dalam taksi. Anna ngikut aja, bener juga kata kak Ravi kalo berdua kan lebih aman. Apalagi ini udah jam 10 malam
Anna akhirnya ngikut satu taksi bareng kak Ravi. Sedangkan Eve dan Lala boncengan pakai motor yang tadi macet itu
"Ke jalan Jelantik gang 4 ya Pak"
"Gang kos putri itu ya?"
"Iya Pak"
"Saya baru tau Anna tinggal disana, ternyata gak jauh dari saya"
"Hehehe iya kak, saya juga baru tau kalo rumahnya disana"
Setelahnya hening, Anna lagi berusaha keras menahan ngantuknya. Sedangkan Ravi asik ngobrol bareng Pak supir. Dari cafe menuju rumah Anna memakan waktu 20 menit, memang agak jauh karena Anna milih kos yang deket ke kampus
"Anna bangun udah sampai nih"
Pada akhirnya Anna ketiduran nyender di bahu Ravi. Udah beberapa kali Ravi coba bangunin gak bangun-bangun juga. Pasti Anna kecapekan banget
Ravi memutuskan turun terus nanya ke salah satu penghuni kos yang lagi nongkrong di beruga kos. Biar Ravi angkat Anna ke dalam gitu maksudnya
"Pak tunggu sebentar ya biar saya anter dulu ini ke dalam kosnya. Susah ini bangunnya kecapean"
"Walah kasian neng cantik sampai ketiduran. Iya mas tenang aja saya tungguin ini"
Ravi mencari-cari kunci kamar kos Anna di dalam tasnya. Tadi Tiara, temen kos Anna yang ditanya sama Ravi ngasih contoh kunci kos mereka biar Ravi bisa nyari di tas Anna
Untungnya langsung ketemu, Ravi langsung gendong Anna ke dalam kosnya. Tiara juga bantuin buka pintu kamar kos Anna sekaligus bagusin posisi bantal dan kasur Anna yang agak berantakan
"Makasih ya pak, besok saya kabarin ke Anna. Anna emang kalo udah tidur susah dibangunin"
"Iya apalagi dia kecapean tadi, tapi gapapa. Saya langsung pamit aja ya gak enak lama-lama di kos putri"
"Iya pak sekali lagi terimakasih ya"
Ravi pamit ke penghuni kos yang masih nongkrong di beruga. Setelah itu Ravi pulang ke rumahnya yang jaraknya gak jauh sebenarnya dari kos Anna. Cuma kalo pakai mobil harus muter karena beda jalur
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
Paginya Anna bingung kok dia bisa tiba-tiba udah di dalam kos aja. Perasaan terakhir kali dia ada di dalam taksi bareng Ravi
"Hah siapa yang bawa kesini coba"
Anna denger suara orang-orang di kos udah pada bangun rame banget biasa lah namanya juga kos putri mesti berisik. Apalagi ini hari libur semua penghuni kos yang hampir semuanya mahasiswa kampusnya Anna, berkumpul bareng-bareng. Ada yang nyuci baju, ada yang beresin kamar dan lainnya
"Ini nih anak gadis bangun juga. Spill rasanya digendong pak Ravi dong" - Tiara
"Hah digendong? Semalam ada cerita apaan sih" - Anna
"Yeeuhhh gimana si Tiara, kan Anna tidur mana tau dia gimana rasanya" - Ratih
"Oiya juga hehehe. Semalam lo dianter pak Ravi pulang kan dibangunin gak bangun-bangun yaudah abis itu pak Ravi gendong lo sampai ke kamar lo" - Tiara
"Hah anjir kenapa gak bilang dari tadi" - Anna
"Lu aja baru bangun yaampun Anna" - Ratih
"Iya juga ya, ih ih Aaaaa mana kamar lagi berantakan aduh. Maluuuu" - Anna
"Mana semalam semuanya lagi nongkrong pas lo datang" - Tiara
"AAAA CUKUP GW MALU" - Anna
Tiara dan Ratih tertawa puas setelah berhasil membuat Anna panik. Padahal penghuni kos sini juga biasa aja sih semalam, tapi Tiara dan Ratih yang emang asalnya jahil jadi gangguin Anna
"Gapapa kali Na, kan gak sadar mau gimana lagi. Kita mah biasa aja, lo kayak gak tau jahilnya Tiara sama Ratih aja" - Jihan
"Ih beneran maaf ya bikin heboh, aaaa Anna malu gak tahu ah mau ngunci diri di kamar aja" - Anna
Bener aja Anna langsung masuk ke kamarnya. Bukan mau ngunci diri tapi mau siap-siap belanja kebutuhan cafe, tiap pagi Anna emang bertugas buat belanja kebutuhan cafe. Sedangkan Eve dan Lala yang menyiapkan opening cafe
"Hah beneran dong ih AAAAA KENAPA LU GOBLOK MALAH KETIDURAN ANNA 2LOL"
Anna semakin malu setelah melihat notifikasi chat dari Ravi yang meminta maaf karena lancang gendong Anna tanpa izin juga masuk ke kamar kosnya.
"Hiks mengapa harus begini, harus taro dimana muka gw. Mana besok kelasnya Pak Ravi, YA TUHAN BERASA PENGEN LANGSUNG NAIK SEMESTER SELANJUTNYA AJA BIAR GAK KETEMU PAK RAVI LAGI AAAAAAA!!!"
Cerocos Anna sambil menyiapkan sarapan untuk dirinya. Setelah itu Anna mandi dan bersiap untuk belanja kebutuhan cafe
**
"Kak, asik bawa pelanggan lain hahahaha"
"Seneng kalian ya, oiya saya izin nongkrong disini ya bareng temen-temen geng motor. Nanti kalo mereka ambil apa aja tolong di catat dulu, saya bayar sekalian pas pulang nanti"
"Siap kak"
Anna yang baru sampai abis anter food delivery mendadak diem di depan pintu cafe. Dia gak berani masuk, bukan karena takut sama gerombolan temen-temen Ravi. Tapi justru dia malu karena harus ketemu Ravi
"Sialan kenapa harus sekarang sih. Gw kan siap ketemunya besok hiks"
Gumam Anna, dia langsung mengambil handphonenya dan menelpon Lala yang ada di kitchen
"La, buka pintu belakang dong gw masuk lewat belakang aja"
"Hah emang kenapa masuk aja, itu temen-temen kak Ravi doang santai"
"Justru itu buruan bukain"
"Lah iya udah ini gw bukain"
Anna dengan langkah mengendap-endap jalan ke pintu belakang. Posisi pintu belakang tepat berada di samping toilet.
"Anna, tumben lewat pintu belakang?"
Ravi yang emang lagi cuci tangan sebab tangannya ketumpahan krim kue malah mergokin Anna yang jalan ngendap ngendap. Anna pastinya kaget, dia agak bingung harus jawab apa
"Oh itu kak hehe gak enak sama tamunya di depan rame bawa-bawa belanjaan gini"
"Padahal temen saya semua itu gapapa kali. Sini saya bantuin"
Reflek Anna ngejauhin kantong belanjaan yang dia tenteng dari tangan Ravi yang udah mau ngambil alih.
"Gapapa kok udah deket ini sama dapur hehe"
Anna langsung kabur buru-buru masuk ke dapur. Lala yang lagi masak pesanan pengunjung cuma bisa geleng-geleng heran ngeliat tingkah Anna. Abis itu Anna menyibukkan diri dengan merapikan barang belanjaan, sengaja biar Eve gak minta dia bantu anter pesanan
"Anna gak ada alasan, itu temen-temen kak Ravi banyak banget. Buruan bawain"
Anna terpaksa nurut sama Eve, dia bukannya malas tapi dia gak pengen ketemu Ravi aja udah.
"Ini yang namanya Anna? Terus Lala yang mana?"
"Lala tugasnya di kitchen dia bro, jadi jarang keliatan di luar"
"Itu yang gw cari"
Anna ngeliatin cowok yang ngomong tadi. Keliatannya lebih kecil dari Ravi, kalo diliat dari mukanya. Setelah selesai nganter semua pesanannya, Anna bantuin Lala di dapur gak keluar keluar lagi
Inget dia masih malu ketemu Ravi
"Na, dicariin kak Ravi tuh"
Anna udah ketar-ketir, Eve bingung Lala juga tiba-tiba hari ini Anna yang jutek jadi panikan. Padahal biasanya dia slow aja jutek dan bodoamatan sama apapun disekitarnya
"Ternyata gelang Anna nyangkut di saya semalam. Ini untung gak ilang, gelangnya ada magnet jadi gampang nempel di jam saya"
"Semalam??? Emang kemana abis pulang dari cafe?"
Ucap Lala bingung, Anna nepuk jidatnya. Terus cepet-cepet ambil gelangnya dan kabur ke toilet. Gak tahu pokoknya dia malu banget
"Semalam Anna ketiduran mungkin kecapean. Terus saya bangunin gak bangun bangun, yaudah saya bopong ke kamar kosnya dibantu sama Tiara temen kosnya"
"Pantesan"
Jawab Eve dan Lala serempak, setelahnya mereka tertawa jahil. Giliran Ravi yang bingung, dia cuma bisa ngangguk ngangguk aja
"Anna lagi malu makanya kek gitu kak. Apalagi dibopong, pasti tadi pagi dia jadi bulan-bulanan temen kosnya hahahaha secara Anna gak pernah bawa cowonya ke kos"
"Oh hahahaha pantesan aneh tingkahnya"
Anna nguping dari toilet, dia udah gak tahu lagi harus taro mukanya dimana. Rombongan Ravi pun pulang, setelah itu baru Anna keluar dari toilet
"Elah gapapa kali Na, kan lo ketiduran ya harus di bopong masa di seret" - Eve
"Udah ah gak usah bahas itu lagi" - Anna
"Tapi gimana rasanya digendong sama kak Ravi?" - Lala
"SERAH KALIAN DEH" - Anna
Eve dan Lala ketawa puas banget, Anna kabur buat beresin meja dan ngangkut piring, gelas atau alat makan lainnya yang udah ke pakai. Dia malu banget, tapi entah kenapa agak seneng juga dikit
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
Semenjak insiden digendong Ravi, entah perasaan dia doang atau gimana. Temen-temen kelas di mata kuliah Pak Ravi terbagi jadi dua kubu. Satu kubu tim ceng cengin Anna, kubu lainnya tim sinisin Anna. Tapi Anna gak terlalu peduli juga sih
Toh dia gak melakukan hal yang memalukan atau hal buruk lainnya. Dia cuma digendong gegara ketiduran, walaupun Anna juga agak kepo siapa yang nyebarin kabar ini. Gak mungkin temen kosnya karena mereka rata-rata anak DKV atau teknik informatika, iya cuma Anna sendiri anak Manajemen di kos itu
Gak mungkin juga Eve atau Lala karena mereka berdua selalu bareng sama Anna. Gak ada kesempatan untuk gosip, Anna cukup mempercayai mereka
"Oke teman-teman hari ini pembahasan kita cukup sampai disini. Jangan lupa tugasnya kumpul di Eve, Eve abis ini langsung bawa ke ruangan saya ya"
"Baik pak"
Kelas bubar, Anna masih temenin Eve rapihin tugas yang harus dikumpul. Sedangkan Lala kebelet ke toilet
"Berarti kalian buka ntar sore ya"
"Iya kak, eh pak"
Ravi ketawa denger Eve bingung mau manggil dia pake embel-embel apa. Anna diem aja, dia pura-pura gak kenal sama Ravi. Dia takut nanti gosip yang ada makin parah dan menjadi-jadi
"Perasaan saya aja atau Anna hari ini kurang aktif"
Eve nyenggol lengan Anna, sedangkan yang disenggol melotot
"Gapapa pak cuma gak mood aja"
"Gosipnya gak usah di pikirin, atau saya perlu klarifikasi biar orang-orang gak gosipin Anna lagi?"
"Hah gak usah pak ngapain. Emang lagi gak mood aja bukan karena apapun"
Abis itu Anna, Eve dan Ravi jalan barengan keluar dari kelas. Mereka kepisah di lorong pemisah antara deretan ruang kelas dan gedung fakultas. Ravi masih ada kelas yang harus diajar, sedangkan Eve dan Anna mau ke ruangan Ravi untuk ngumpulin tugas
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
Anna menatap datar Geby yang mencak-mencak ke dia dari tadi. Anna juga bingung kenapa manusia ini tiba-tiba narik Anna terus marah-marah. Yang dia omongin pun bagi Anna gak jelas
"Lo gak usah kegatelan, mentang-mentang dibaikin pak Ravi"
"Eits maaf maksudnya apa ya? Jadi dari tadi lo marah-marah karena itu?"
Anna tertawa remeh yang membuat Geby kesal. Dengan cepat tangan Geby udah sampai di rambut kecoklatan Anna, dijambak cukup keras. Anna diem aja karena bagi dia ini gak seberapa
Sampai akhirnya Anna mulai emosi, dia cuma ngeluarin satu gerakan. Yaitu nendang perut Geby pakai lutut, sampai dia tersungkur ke lantai. Terus Anna pergi
**
"Na lo gapapa? Gw denger kabar tadi lo berkelahi sama Geby. Ada apa?"
"Au dah tuh dia kenapa. Datang datang marah-marah, terus jambak rambut gw. Yaudah gw tendang"
Eve mengusap wajahnya kasar, Anna emang selalu begitu. Dia emang gak bakal balas kalo baru 1 atau 2 kali orang itu berulah tapi sekalinya balas bisa tu orang langsung UGD
"Aduh jangan keras-keras dong Na. Katanya tadi Geby dibawa ke UGD, tapi gapapa deh soalnya dia emang rese"
Eve ngobrol lagi bareng Anna. Tiba-tiba gak tahu dari mana, Ravi datang terus gebrak meja bikin Eve dan Anna kaget parah.
"Anna, saya denger kabar Anna bikin anak orang masuk UGD ada masalah apa"
"Yeuh gara-gara kak Ravi saya dijambak Geby yaudah saya tendang. Gak boleh?"
"Ya jangan ditendang juga Anna, cukup di dorong aja. Jangan galak-galak kasian itu Geby di UGD"
"Ini kak Ravi kesini cuma buat marahin Anna? Gak perlu, Anna tau mana yang harus di bales mana yang gak perlu dibalas. Gak usah sok tau"
"Anna, saya gak nyangka kamu aslinya begini"
"Begini gimana? Begajulan? HAHAHA KASIAN BARU TAHU. Apa mau marahin lagi? Gak sekalian kak Ravi juga mukul Anna?"
Ravi diam, dia gak tahu kenapa kesulut emosi pas dengar kabar tadi. Satu fakultas gempar soal perkelahian itu yang ngebuat Ravi marah.
"Kak, maaf Eve bukan mau bela Anna. Tapi Geby udah terkenal tukang labrak, Eve yakin pasti Geby duluan yang ganggu Anna. Eve tau betul Anna gak bakal sakitin orang duluan, kecuali dia diusik"
Ravi ngacak rambutnya pusing, Anna udah pergi dari tadi. Dia emang harus pergi belanja, tapi sekalian kabur juga. Dia kesel banget, kenapa Ravi malah belain Geby bukannya nanyain Anna baik-baik aja atau gak
Air mata Anna entah kenapa malah turun deras. Dia sampai berhenti sebentar di pinggir jalan, karena air mata yang berebutan turun jadi menghalangi pandangannya
Kenapa rumor kecil itu malah ngebuat dia jadi begini? Anna bingung
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
Ujian Akhir Semester akhirnya selesai. Eve, Anna dan Lala sekarang lagi nongki di lantai dua cafe mereka. Belum buka, sengaja agak lambat mereka mau menikmati hari terakhir UAS dengan gembira
"Akhirnya selesai juga UASnya" - Eve
"Huaaa akhirnya gak perlu belajar sampai tengah malam lagi" - Lala
"Akhirnya gak ketemu dosen bangsat" - Anna
Eve dan Lala yang dengar Anna bilang gitu auto noleh natap Anna dengan wajah kaget. Sedangkan yang ditatap cuma masang wajah santuy
"Eh kayaknya ada yang datang"
Anna turun ke lantai 1 buat bukain pintu. Tapi belum dia masukin kunci ke lubangnya, Anna balik badan lagi. Orang yang dia sebut sebagai dosen bangsat malah datang dengan sekantong Bagelen kesukaan Anna
"ANNAAA PLIS BUKA, SAYA MAU BICARA"
Teriak Ravi yang terdengar samar bagi Anna. Anna masih diam di tempatnya, dia sama sekali gak berharap manusia ini datang menemui dia
"Anna, saya mau pindah"
Mendengar kalimat itu baru Anna berbalik badan. Senyum Ravi seketika terbit, akhirnya Anna mau menatap dia. Ravi memberi kode agar Anna membuka pintunya.
Ravi langsung memeluk Anna begitu pintu terbuka. Perempuan yang entah sejak kapan membuat pikiran dan hatinya kacau, yang membuat Ravi semakin semangat mengajar agar bisa bertemu dia
"Iya saya mau pindah ruangan. Karena saya sekarang jadi sekretaris kaprodi hehe"
Anna yang mendengar itu mendorong Ravi menjauh, melepaskan pelukan mereka.
"Pulang sana"
"Jangan dong, emang Anna gak kangen sama saya?"
"Gak"
"Jangan terlalu jujur dong Na, sakit nih hati saya"
"Yaudah itu urusan anda"
Ravi meneguk salivanya, jleb semua jawaban Anna menusuk tepat ke jantungnya. Anna masih dingin ke dia,
"Udah gak mau bicara lagi? Sana pulang cafe belum buka. Pelanggan bernama Ravi dilarang datang"
Ravi menarik tangan Anna, membuatnya mendekat hingga seluruh jarak mereka kini terpangkas. Ravi tersenyum lebar, walau Anna membalasnya dengan datar
"Jangan sembunyikan perasaan Anna, kalo suka bilang"
"Masalahnya saya gak suka anda"
"Tapi saya suka"
Mata Anna terbuka lebar begitu kecupan singkat itu mendarat di bibir nya. Sial, Anna jadi deg-degan. Namun Anna dengan cepat mengembalikan kewarasannya
"Gak usah peduliin orang lain, yang penting perasaan saya cuma buat Anna ya kan. Lagian umur kita gak jauh jadi apa lagi yang harus menjadi penghalang? Status? Bentar lagi juga Anna melepas status sebagai mahasiswa jadi gak perlu dijadikan alasan bukan"
"Berisik"
Ravi kembali memeluk Anna erat. Kini Anna juga membalas pelukan itu, Ravi benar seharusnya Anna tidak perlu memikirkan penilaian orang lain. Yang terpenting mereka bahagia
"Omg mata gw udah gak suci melihat mereka" - Lala
"Sialan tapi bener juga" - Eve