Lenka menghempaskan tubuhnya keatas kasur empuk miliknya, meraih boneka Panda kesukasnnya kemudian menjadikannya sebagai bantalan penopang dagunya. Ia ingin srkali dapat tertidur dengan lelap untuk saat ini, setelah sekuan lamanya dirinya terkurung dalam tekanan batin yang ia buat sendiri.
"Hah. Kau bodoh sekali, Lenka." ucapnya bermonolog sendiri. Ia menelusupkan kepalanya kedalam bagian perut boneka Pandanya, ia menangis sesunggukan meratapi nasib kisah percintaanya.
Bermenit-menit ia sudah menangis sampai dadanya terasa sesak, emosinya tidak juga kunjung mereda. Padahal banyak orang bilang, menangislah sekeras-kerasnya jika memang itu yang membantumu mengurangi beban.
Sungguh, sudah tak terbendung lagi berapa kali ia sudah menamgis kurun waktu kebelakamg hari.
Lenka mengubah pisisi tidurnya, dari telengkup menjadi terlentang menatap. langot-langit kamar.
Yang sekarang harus ia lakukan adalah, menghilangkan bekas patah hatinya. Yah, pria itu bukan jodohmu Lenka.
"Kotak kenangan. Iya, aku belum buang benda itu. Aku harus membuangnya, mungkin ini caranya." ucapnya, setelah mengingat apa yang belum ia buang dari kenangan tentang pria itu.
Dengan gontai Lenka bangkit dari kasurnya, berjalan kearah lemari pakain.
***
Gelang ini terbuat dari bahan karet berearna hijau, sesuai warna kesukasn Lenka, "D love L" kata itu terukir di lingkaran gelang.
"Lenka, aku pilih gelang ini untukmu sebagai hadiah hari jadian kita yang ketiga tahun. Maaf, sampai sekarang aku belum bisa memberimu barang yang mahal."
"Tidak apa, Dheo. Aku akan selalu menerima apapun darimu, asal kau tulus memberinya untukku."
Lenka tidak kuat tetus menatap gelang itu dan mengingat kenangan yang tersisa dari benda itu. Ia menyingkirkanya. Semasa SMA mereka menghabiskan waktu bersama dalam bentuk berpacaran, banyak benda yang menjadi objek kenangan mereka. Tentang waktu dan kebersasn, sangat sulit melupakkanya.
Lembaran foto-foto berukuran cukup untuk dompet, menggambarkan perjalanan cintanya dengan Dheo.
Mulai dari foto selfi mereka berdua, sampai foto mereka saat berjalan-jalan menyusuri sudut kota.
Diperhatikannya gambar Dheo, pria itu sedang tersenyum manis didepan kamera sambil menunjukjan sebuah benda yang menjadi ciri khas cita-cota yang Dheo idamkan selama ini.
"Aku ingin menjadi seorang Biarawan, Lenka. Maafkan aku yang harus meninggalkanmu demi impianku."
"Baiklah, aku setuju jika itu adalah pilihanmu. Aku berdoa semoga kau bisa menggapai impianmu."
"Aku juga berdoa, semoga kau mendapat penggantiku yang lebih baik dariku, yanh tidak pernah meninggalkanmu. Aku pergi."
Lenka menangis mengingat pertemuan terakhir mereka, ia mendekap lembar foto yang tenggelam dalam telapak tangannya.
Jika dirinya nekat membongkar semua isi kotak itu, semakin ia akan menangisi pria itu. Cepat-cepat ia menutup kotak kenangan itu lalu membawanya keperapian dibelakang kamarnya.
Tega tidak tega dengan pergolakan batin yang menyesakkan, akhirnya Lenka berhasil memyentuhkan ujung pemantik api keujung sudut kotak yang terbuat dari kardus kecil.
Kardua itu hamgus di lalap si jago merah bersama kenangan Dheo didalammya.
"Selamat tinggal. Dheo, selamat berjuang untuk cita-citamu." ucapnya sambil memangis bersama air matanya yang terbawa asap. api.
Setelah satu tahun lamanya, setahun waktu yang lama untuk mencoba melupakan rasa cintanya kepada Dheo.
Jejak patah hatinya yang masih tersisa, sudah habis dilalap api. Lenka sungguh tidak menyangka perjalanan cintanya berakhir seperti ini, terhalang oleh cita-cita yang mengharuskan ia merelakan Dheo untuk berpaling darinya. Ia hanya bisa menghayal dapat bertemu langsung dan masih bisa memeluk Dheo sebagai kekasihnya.
***
Dikeramaian pesta orang berlalu lalang, suara iring-irangan memeriahkan semerak perayaan hari ini. Tepat diatas panggung terlihat seorang pria yang sedang berdiri gagah sudah menggunkan jubah kemanggannya, bersama teman-temanya terlihat seperti sekumpulan malaikat tampan yang sedang berbaris menyapa manusia yang datang menyalami padanya.
Memberanikan diri Lenka ikut mengantri untuk ikut memberi selamat pada Dheo. Ia merasa gugup untuk melangkah, menyiapkan kalimat untuk ia ucapjan nanti.
"Selamat untukmu, Dheo." Lenka mengulutkan tangganya merasa canggung.
"Terima kasih sudah mau datang."
"I-iya." ucap Lenka putus-putus. Senyuman Dheo masih sama seperyo dulu.
SELESAI