Black rose bagian 2
Saat pulang ke rumah anji merasa kaget saat dia membuka pintu rumah dan ternyata ada seseorang yang sudah duduk dalam kegelapan rumahnya.
"Kau baru pulang, siapa pria itu."
Gusti menatap dengan tajam pada Panji yang berdiri diambang pintu bersama dengan Aryan.
"Ar kau bisa pulang dulu untuk hari ini, kita akan ketemu lagi besok." Panji
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya." Aryan
"Apa yang ayah lakukan, aku sudah bilang kalau aku tak suka ada orang lain masuk sembarangan ke rumah ku." Panji
"Orang lain. Jadi kau menganggap aku sama dengan orang lain? Kau jangan lupa siapa dirimu dan statusmu. Jika bukan karena aku kau tak akan jadi seperti sekarang ini, kau harus ingat itu." Gusti
"Aku tak ingin mengotori tangan ku dengan darah lagi." Panji
"Tak ingin lagi, apa kau tau Panji untuk apa aku membawamu dan membesarkan mu. Aku membuat mu bisa menjadi seperti sekarang ini bukan hanya untuk sia - sia."
Gusti bangun dan berjalan mendekati Panji.
"Dengarkan aku, kau adalah anak ku dan aku mengasah dirimu menjadi seperti sekarang ini untuk menunjukkan kalau kau itu berguna. Ingatlah apa yang kau miliki sekarang ini bukanlah milik mu, semuanya berasal dari ku. Dan kau tak akan bisa memutuskan balas budi padaku."
"Lakukan pekerjaan mu dengan baik dan jangan jadi penghianat yang tak berguna, karena jika itu terjadi maka kau akan menemukan nerakamu."
Gusti pun pergi meninggalkan Panji setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Panji terlihat sangat frustasi dan tak bisa apa - apa atas apa yang telah diputuskan oleh Gusti untuk jalan hidupnya.
Beberapa hari berikutnya Gandi sedang bicara sama Aryan yang akan dia jadikan sebagai pengawalnya.
"Hem, bagaimana kabarmu dan juga kakak mu."
Gandi yang saat ini bertemu dengan Aryan bertanya soal keadaan kakak Aryan yang bernama Agata.
"Iya kakak baik seperti biasanya."
Jawab Aryan dan dia lebih banyak menunduk dari pada menatap Gandi.
"Hem, kau tau kan apa tujuanku memanggil mu sekarang? Karena mereka sudah mengenal seluruh anggota dan anak buah ku. Jadi aku membutuhkan wajah baru yang tak bisa dikenali oleh mereka. Kamu yang menjadi pengawal bayangan ku ini ku harap kau bisa menjadi sangat berguna dalam menjaga dan melindungi ku" Gandi berkata dengan penuh harapa pada Aryan.
"Baik aku mengerti dan akan ku usahakan untuk melindungi dengan baik." jawab Aryan dan itu membuat Gandi sangat senang.
"Baiklah Aryan, aku akan memanggilmu saat ku butuhkan dirimu." Gandi
"Baik."
Aryan keluar dan menatap mobil Gandi melaju didepannya dan dia terlihat sangat tak semangat.
"Ada apa Ar, apa kau bertengkar dengan Panji." tanya Agata
"Tidak kak." Aryan
"Terus apa, apakah dia tak mencintaimu sama seperti kau mencintainya." Agata
"Tidak, bulan begitu. Panji sangat mencintaiku" Aryan
"Lalu apa masalahnya, kenapa kau murung dan terlihat sedih begini." Agata
"Kak aku sangat mencintaimu." Aryan
"Duh ya ampun kau ini sudah besar loh. Hem, haruskah manja seperti ini."
Agata memeluk aryan dan Aryan membalas dengan pelukan yang sangat erat seolah dia tak ingin kehilangan kakaknya.
"Aryan."
Panji menjemput Aryan di warung kakaknya, dan terlihat Agata sangat senang melihat adiknya dan Panji.
"Pergilah kalau kalian ingin bersama."
Panji membawah Aryan ke rumahnya, dan saat melihat Aryan sepeti sedang memikirkan sesuatu Panji pun menghiburnya dan menunjukkan rasa sayangnya yang sangat tulus pada Aryan kalau dia tak akan pernah meninggalkan Arya.
"Pan apa kau percaya padaku? Kalau aku sangat mempercayai mu" Aryan
"Ada apa dengan mu, aku juga percaya dengan mu. Dan yakinlah bahwa aku tak akan pernah meninggalkan mu"
Panji memeluk Aryan dan menepuk punggung Aryan dengan lembut.
Beberapa hari berikutnya Gusti menghubungi Panji dan ingin bertemu dengan Panji di kantornya.
"Apa maksud ayah, bukankah dia adalah saudara ayah?" Panji
"Saudara, tak ada kata saudara pada saat persaingan ini" Gusti
"Ayah ingin aku melakukannya seperti yang biasa aku lakukan?" Panji
"Lakukan dengan cepat" Gusti
"Baiklah, aku akan pergi malam ini juga." Panji
Setelah Panji bicara dengan ayahnya dia pun bersiap untuk tugas dari ayahnya dan dia pergi dengan persiapan lengkap seperti biasanya.
Di tempat Gandi dia yang menerima undangan dari Gusti untuk pesta malam itu menerima dengan senang tanpa curiga, walau dia tau kalau itu adalah rencana Gusti untuk menghadapinya.
"Bos bagaimana dengan undangan dari tuan Gusti ini, apakah bos akan datang sendiri? Takutnya itu adalah jebakan." Anak buah Gandi
"Tak apa, aku akan datang, dan aku tau kalau itu adalah jebakan. Tapi untuk berjaga - jaga kamu harus membawah dia bersama dengan kami, karena bagaimana pun aku membutuhkan pengawal bayangan untuk menjaga dan melindungi ku."
Ucap Gandi dan terlihat dia sangat siap dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Malam itu sesuai dengan rencana Gandi bersama dengan anak buahnya berangkat ke tempat tujuan yang disebutkan oleh Gusti, dan terlihat setelah acara selesai suasana tempat itu tiba - tiba saja menjadi sunyi.
"Bos apa tak apa kita berjalan ke parkiran lewat jalan luar dan memutar seperti ini?" tanya anak buah Gandi dengan berbisik karena mereka merasa khawatir.
"Tak apa, apakah pengawal bayangan sudah ada bersama dengan kita saat ini" Gandi bertanya dengan berbisik.
"Sudah, dia sudah di sini dari sejak kita baru datang tadi" jawab anak buah Gandi.
Dari balik persimpangan di parkiran Panji keluar dengan senjata di tangannya, terlihat Gandi yang mengenali kalau itu adalah Assassin Gandi langsung teriak dan sembunyi di belakang anak buahnya.
Dengan cepat Aryan menangkis tangan Panji yang mengarahkan tembakan ke arah Gandi, dan terjadi perkelahian yang sengit diantara kedua orang itu.
Terlihat Panji sangat marah dan kesal pada Aryan karena menggagalkan serangannya. Dan Aryan yang mengenali kalau itu adalah Panji dia merasa sangat kaget, namun dengan cepat Aryan menyadarkan dirinya.
Panji berkelahi dengan sungguh - sungguh dan dia berniat untuk mengalahkan Aryan, sementara Aryan hanya menahan serangan Panji dan menghindarinya, bahkan saat dia memiliki kesempatan untuk memukul Panji dengan cepat Aryan menghentikan serangannya dan itu membuat Panji memiliki kesempatan untuk memukul dengan keras pada Aryan.
Bagaimana pun Aryan tetap bertahan dari setiap serangan Panji yang mematikan karena dia ingin menahan Panji untuk mendekati Gandi, sebab Aryan telah dibayar oleh Gandi untuk melindunginya.
"Arrgh...!" teriakan Aryan terdengar sangat keras dan kesakitan saat Panji menahannya dan mematahkan jari kelingkingnya.
Aura menghabisi Panji sangat kuat karena dia yang tak mengenali Aryan yang memakai topeng wajah.
"Kau sangat ingin melindungi orang itu hah?! Kau tau bahwa kau telah menggagalkan pekerjaan ku yang harusnya ku selesaikan dengan cepat." Panji terlihat sangat kesal dan marah.
Aryan mundur dan dia ingin melarikan diri saat dia tau kalau Gandi dan anak buahnya telah pergi dan tak terlihat.
"Jangan lari." Panji mengejar Aryan dan memukul dengan keras kearah Aryan sehingga Aryan menabrak pembatas dengan sangat keras dan terjatuh.
"Tunjukkan siapa dirimu sebelum aku menghabisi mu." Panji berusaha untuk membuka topeng yang dipakai Aryan, namun Aryan menahannya dengan kuat.
"Saat ini aku sangat marah." Panji memukul perut Aryan hingga dia meraung lagi dan dengan cepat Panji menarik topeng Aryan.
"Hah." Panji terjatuh saat dia melihat kalau itu adalah Aryan dan dia sudah penuh dengan lebab dan luka di wajahnya.
Aryan menggunakan kesempatan untuk kabur saat Panji tertegun dan kaget melihat siapa orang yang ingin dia habisi dari tadi.
Panji terduduk dan dia mengingat kembali kenapa Aryan dari awal selalu menghindarinya dan selalu menguntungkan setiap ingin memukulnya "kenap, kenap...!!" teriak Panji dan memukulkan tangannya di lantai.
Sementara Aryan juga berteriak frustasi karena dia menyesal telah berusaha saling menyakiti dan menghabisi satu sama lain dengan orang yang dia cintai.
Setiap hari Panji mengawasi warung Agata kakak Aryan namun dia tak melihat Aryan. Hingga sebulan pun berlalu dan Aryan baru terlihat membantu kakaknya. Dan Aryan terlihat kesusahan saat dia mengangkat barang - barang berat.
"Hai berhentilah kalau lelah, duduklah." Agata menyuruh Aryan duduk.
"Kakak, maafkan aku." Aryan menarik Agata dan memeluknya serta menyusupkan wajahnya di perut kakaknya.
Terlihat Agata sedih sambil mengusap kepala adiknya "jangan berkelahi lagi, lihatlah wajahmu baru saja sembuh dan memarnya masih ada, bahkan kau sulit untuk makan karena bibirmu sobek dan sulit mengangkat karena kamu kehilangan jarimu."
Terlihat wajah Agata sedih dan menahan air matanya saat dia mengatakan kalimatnya pada Aryan, dan Panji yang mendengar serta melihat interaksi kedua saudara itu mengepalkan tangannya dan menyalahkan dirinya karena telah membuat Aryan terluka sangat banyak bahkan kehilangan jari kelingkingnya.
Beberapa bulan telah berlalu dan Panji tak pernah berani untuk menemui Aryan dan Agata karena merasa bersalah. Dan dengan tekat bulat Panji pun memutuskan untuk tak mengikuti lagi perintah dari Gusti.
"Hai apakah kau Aryan." seorang pria menegur Aryan saat dia pulang dari belanja
"Iya, siapa kalian." Aryan terlihat waspada
"Oh maaf aku hanya disuruh seseorang untuk memberikan ini pada anda." ucap pria itu dan menyerahkan sebuah kertas pada Aryan lalu mereka pergi setelah menyerahkan kertas pada Aryan
*Aryan maafkan aku, karena telah menyakitimu. Aku sangat merindukanmu, jika kau tak marah padaku datanglah temui aku. Aku akan menunggumu sampai jam 7 nanti malam. Panji
Setelah membaca pesan itu terlihat Aryan sangat senang dan dia bergegas pergi mengantarkan barang yang dipesan kakaknya.
"Hei kenapa buru - buru hah? Aryan." Agata merasa bingung karena sang adik sangat bersemangat.
"Panji mencarimu kak, aku akan pergi untuk menemuinya." Aryan lari menuju alamat yang tertulis di kertas pesan itu.
"Orangnya sudah pergi bos." seseorang menginfokan pada orang di panggilan teleponnya.
"Apa kau tau kalau Assassin dan bodyguard mu itu, mereka sedang bersama." ucap Gusti pada Gandi
"Memangnya kenapa, itu adalah urusan mereka dan bukan urusanku. Sebaiknya kau pergi dari sini karena aku gak mau rumahku ini tercemari oleh orang tamak seperti mu itu." Gandi mengusir Gusti dan tak peduli lagi.
Dengan kesal Gusti pun pergi dan telah menculik Aryan, karena Gusti tau kalau Aryan adalah kelemahan Panji. Jika Aryan ada ditangannya Gusti percaya Panji akan mau melakukan apa pun untuk menolong Aryan.
"Kak" Panji memberanikan diri untuk menemui Agata
"Oh kau di sini, lalu Aryan pergi untuk menemui siapa? Karena tadi dia bilang ingin menemui mu." Agata merasa aneh
"Apa, kemana dia pergi kak." Panji terlihat panik
"Apa tadi ya, gudang apa tadi." Agata terlihat berfikir
Panji langsung lari dan menuju tempat yang dikirimkan oleh Gusti. Saat tiba di tempat tujuan Panji berkelahi melawan beberapa orang suruhan Gusti. Dan lari mencari Aryan ke semua tempat di bangunan itu.
"Aryan." Panji lari mendekat dan membuka pengikat tangan dan penutup mata Aryan.
"Panji" terlihat Aryan babak belur dan sepertinya Aryan melawan banyak orang sendirian sampai akhirnya dia bisa dilumpuhkan.
"Ho..kau sudah datang untuk menyelamatkan istrimu." Gusti terlihat sangat kesal pada Panji
"Apa mau ayah, kenapa melakukan ini pada Aryan yang tak tau apa pun mengenai hal ini." Panji teriak dan marah pada Gusti
"Aku hanya ingin menyadarkan mu, kalau kamu bukan apa - apa dan bukan siapa - siapa tanpa aku. Jadi kalau kamu ingin lepas dan bebas dari ku maka kita harus menyelesaikan urusan kita di sini sekarang." Gusti melipat lengan bajunya dan bersiap untung bertarung.
"Aku tak akan sungkan lagi." Panji pun juga bersiap.
Mereka berdua saling memukul dan menendang hingga Gusti yang tersudut mulai menggunakan senjata untuk mengalahkan Panji. Tapi dia masih kalah gesit dari Panji dan dia terluka sendiri.
"Aku rasa sudah cukup ayah, sudah cukup sampai di sini dan jangan ganggu aku lagi. Karena aku tak ingin lagi hidup dengan tujuan yang tak pasti." Panji membiarkan Gusti dan membawah Aryan keluar dari bangunan kosong itu.
Panji membawah Aryan ke rumahnya untuk mengobati luka - luka Aryan dan membantu Aryan untuk membersihkan dirinya.
Panji mengecup bahu Aryan dan juga tangan kiri Aryan yang hanya memiliki 4 jari saja "maafkan aku, aku tak akan pernah melakukan itu lagi dan tak akan pernah menyakitimu lagi."
Panji menyatukan tangannya dan Aryan kaget karena Panji juga tak memiliki jari kelingkingnya. Aryan menyentuh tangan Panji dan melihatnya.
"Aku menghukum diriku karena telah membuatmu terluka" jawab Panji seolah dia tau apa yang akan ditanyakan oleh Aryan.
"Maafkan aku." ucap Aryan
"Tidak, aku yang minta maaf." Panji memeluk Aryan
"Aku mencintaimu" Aryan
"aku lebih mencintaimu" Panji
Malam itu pun mereka habiskan dengan bersama dan memadu kasih, mereka seolah melepaskan rasa rindu dan mencurahkan cinta yang besar pada satu sama lain.
1 tahun telah berlalu dan hidup mereka sangat bahagia, bahkan Panji telah menikahi Aryan dan mereka melakukan sesi foto keluarga bersama Agata. Mereka bertiga telah menjadi keluarga dan hidup bahagia bersama.