[ Anima ]
Gelap, tempat ini, gelap. Aku tidak bisa merasakan apapun. Aku tidak bisa melihat apapun, bagaikan kosong, tidak ada apapun. Aku merasa tubuhku seperti melayang. Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi aku tidak merasakan perubahan apapun.
Selama beberapa waktu, aku hanya memikirkan hal yang sama, gelap, kosong, aku tidak bisa merasakan apapun, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Hal tersebut terus terjadi, aku sudah kehilangan arah akan apa yang terjadi.
Semua yang kupikirkan, seolah olah datang dan pergi begitu saja. Aku mulai kehilangan diriku. Saat ini aku sudah tidak mengenali apa yang kulakukan.
Dalam kepalaku, aku bisa merasakan sesuatu, seseorang membisikkan sesuatu dalam telingaku, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi perlahan lahan aku mulai mendapatkan kembali indra perasaku. Sedikit demi sedikit aku mulai mendengar sesuatu.
Aku mulai merasakan tubuhku. Perlahan, aku mencoba membuka mataku. Hal pertama yang kulihat adalah hitam, tidak ada yang berubah, tapi, berbeda dengan tadi, penglihatanku mulai berubah, dari yang awalnya hanya melihat layar hitam, berubah menjadi penglihatan akan sebuah biji pohon.
Biji pohon itu jatuh ke bawah, jatuh ke atas tanah, selama beberapa waktu aku melihat biji itu tergeletak di atas tanah, tidak bergerak. Lalu tanpa kusadari, biji itu tertutup oleh tanah. Bagaikan hilang ditelan bumi.
Lalu selama beberapa waktu aku hanya mengamati tanah yang menelan biji itu, perlahan lahan tapi pasti, aku melihat sebuah tanaman kecil keluar dari tanah. Tanaman itu sangat kecil dan rapuh.
Tanaman itu memiliki batang yang kecil, dan 1 daun berwarna bening. Aku bisa melihat bagian dalam daunnya bagaikan aku melihat sebuah film. Di dalam film tersebut aku bisa melihat sebuah bola api. Bola api yang terus membara tanpa henti, bola bola api kecil terus berkumpul dan bertumpuk pada bola api membuat bola api yang besar bertambah makin besar.
Aku menunggu beberapa waktu, Tanaman kecil itu mulai bertumbuh, dari yang hanya memiliki 1 daun berubah menjadi 2 dan 3 dan seterusnya, di dalam daun daun tersebut aku bisa melihat lebih banyak, bola api raksasa semakin membesar.
Perlahan lahan, bola api tersebut mulai berubah warna, dari merah menjadi lebih gelap dan pada akhirnya menjadi hitam. Bola api itu padam. Semuanya berubah menjadi gelap lagi, aku berpikir bola hitam itu tidak akan menghasilkan cahaya lagi.
Pemikiranku tidak salah, tapi, yang menghasilkan cahaya bukanlah bola itu, melainkan bola api lain. Lebih besar, lebih terang, lebih panas. Bola hitam yang sudah padam itu perlahan lahan mendapatkan kembali terangnya dan menjadi biru.
Bola itu terus berubah warna, dari merah ke biru, dari biru ke hijau. Pada akhir pengamatanku, aku merasakan sesuatu. Sesuatu dari bola biru itu, rasanya hangat, perasaan itu semakin kuat semakin aku mencoba mendekat ke bola itu.
Aku sampai pada bagian dalam bola itu. Aku busa melihat dibawahku, ada banyak sekali warna biru. Di bawahku biru, di atasku biru. Ada beberapa bagian dari biru tersebut yang berwarna putih. Kembali ke perasaan tersebut aku merasakannya lagi.
Mendekat dan aku melihat banyak sekali cahaya kecil dalam warna biru. Cahaya tersebut bersinar terang untuk beberapa saat lalu kemudian cahaya tersebut padam. Aku sedih melihat itu, tapi di sampingnya ada cahaya baru yang bersinar. Aku menjadi bahagia.
Semua cahaya kecil tersebut bersinar dan padam, bersinar, padam. Aku tidak begitu paham kenapa. Tapi sepertinya mereka begitu karena itu adalah aturannya. Aku mendengar sesuatu membisikkan kepadaku lagi, sesuatu tersebut seperti mencoba memberitahukan kepadaku sesuatu.
Aku tidak begitu mengerti apa yang dikatakan suara tersebut. Tapi ada satu hal yang aku mengerti. Suara tersebut menyebut cahaya tersebut anima.
Anima.
Gelap, tempat ini, gelap. Aku tidak bisa merasakan apapun. Aku tidak bisa melihat apapun, bagaikan kosong, tidak ada apapun. Aku merasa tubuhku seperti melayang. Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi aku tidak merasakan perubahan apapun.
Selama beberapa waktu, aku hanya memikirkan hal yang sama, gelap, kosong, aku tidak bisa merasakan apapun, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Hal tersebut terus terjadi, aku sudah kehilangan arah akan apa yang terjadi.
Semua yang kupikirkan, seolah olah datang dan pergi begitu saja. Aku mulai kehilangan diriku. Saat ini aku sudah tidak mengenali apa yang kulakukan.
Dalam kepalaku, aku bisa merasakan sesuatu, seseorang membisikkan sesuatu dalam telingaku, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi perlahan lahan aku mulai mendapatkan kembali indra perasaku. Sedikit demi sedikit aku mulai mendengar sesuatu.
Aku mulai merasakan tubuhku. Perlahan, aku mencoba membuka mataku. Hal pertama yang kulihat adalah hitam, tidak ada yang berubah, tapi, berbeda dengan tadi, penglihatanku mulai berubah, dari yang awalnya hanya melihat layar hitam, berubah menjadi penglihatan akan sebuah biji pohon.
Biji pohon itu jatuh ke bawah, jatuh ke atas tanah, selama beberapa waktu aku melihat biji itu tergeletak di atas tanah, tidak bergerak. Lalu tanpa kusadari, biji itu tertutup oleh tanah. Bagaikan hilang ditelan bumi.
Lalu selama beberapa waktu aku hanya mengamati tanah yang menelan biji itu, perlahan lahan tapi pasti, aku melihat sebuah tanaman kecil keluar dari tanah. Tanaman itu sangat kecil dan rapuh.
Tanaman itu memiliki batang yang kecil, dan 1 daun berwarna bening. Aku bisa melihat bagian dalam daunnya bagaikan aku melihat sebuah film. Di dalam film tersebut aku bisa melihat sebuah bola api. Bola api yang terus membara tanpa henti, bola bola api kecil terus berkumpul dan bertumpuk pada bola api membuat bola api yang besar bertambah makin besar.
Aku menunggu beberapa waktu, Tanaman kecil itu mulai bertumbuh, dari yang hanya memiliki 1 daun berubah menjadi 2 dan 3 dan seterusnya, di dalam daun daun tersebut aku bisa melihat lebih banyak, bola api raksasa semakin membesar.
Perlahan lahan, bola api tersebut mulai berubah warna, dari merah menjadi lebih gelap dan pada akhirnya menjadi hitam. Bola api itu padam. Semuanya berubah menjadi gelap lagi, aku berpikir bola hitam itu tidak akan menghasilkan cahaya lagi.
Pemikiranku tidak salah, tapi, yang menghasilkan cahaya bukanlah bola itu, melainkan bola api lain. Lebih besar, lebih terang, lebih panas. Bola hitam yang sudah padam itu perlahan lahan mendapatkan kembali terangnya dan menjadi biru.
Bola itu terus berubah warna, dari merah ke biru, dari biru ke hijau. Pada akhir pengamatanku, aku merasakan sesuatu. Sesuatu dari bola biru itu, rasanya hangat, perasaan itu semakin kuat semakin aku mencoba mendekat ke bola itu.
Aku sampai pada bagian dalam bola itu. Aku busa melihat dibawahku, ada banyak sekali warna biru. Di bawahku biru, di atasku biru. Ada beberapa bagian dari biru tersebut yang berwarna putih. Kembali ke perasaan tersebut aku merasakannya lagi.
Mendekat dan aku melihat banyak sekali cahaya kecil dalam warna biru. Cahaya tersebut bersinar terang untuk beberapa saat lalu kemudian cahaya tersebut padam. Aku sedih melihat itu, tapi di sampingnya ada cahaya baru yang bersinar. Aku menjadi bahagia.
Semua cahaya kecil tersebut bersinar dan padam, bersinar, padam. Aku tidak begitu paham kenapa. Tapi sepertinya mereka begitu karena itu adalah aturannya. Aku mendengar sesuatu membisikkan kepadaku lagi, sesuatu tersebut seperti mencoba memberitahukan kepadaku sesuatu.
Aku tidak begitu mengerti apa yang dikatakan suara tersebut. Tapi ada satu hal yang aku mengerti. Suara tersebut menyebut cahaya tersebut anima.