...
Kicau-an burung seakan bernyanyi, dersiran angin berhembus seakan berlalu-lalang, teduh hari di-bawah pohon jambu berdaun rimbun nan rindang di depan sebuah rumah. Pada pagar Rumahnya bertulis “rumah Reta” yang di ukir dengan sengaja namun tidak rapi. tersibak rambut pendek seukuran bahu berwarna coklat agak ke-kuningan. Duduk bersimpu Seorang gadis manis, gadis berumur sebelas tahun memandang tengah ladang gandum , dengan mata biru berbinar.
Selayaknya orangnya namanya pun cantik, ia Reta de audrey, Reta nama panggilannya. Reta, anak yang lahir dari sepasang suami istri di desa yang damai. Beranggotakan keluarga yang harmonis. sang kepala keluarga, ibu, Reta, dan sang adik. ibunya sibuk di-rumah sebagai ibu rumah tangga. Papanya bekerja sebagai seorang dokter dan peracik herbal, sang adik yang takalah manis dari sang kakak berusia empat tahun, masa nakal-nakalnya sebagai seorang anak.
Nampak Reta menulis di buku harian hadiah dari ulang tahun yang diberikan oleh sepupunya, di baris awal bertulis
“Dear diary i have frend !. Reta punya teman, Reta suka di ajak bermain bersama di pondok ladang, Reta senang sekali punya teman seperti dia, dia orangnya ceria, I alwalys happy because she! , Reta dan dia sudah berteman 5 tahun loh, besok dia ulang tahun!, aku dan papa sudah beli hadiah buatnya!. sekarang reta sedang menunggunya,-“
Tak lama sebuah teriakan muncul dari seberang jalan menuju arah Reta
“RET!! Ayo cepat sini!, tonggeret”
“Sini aku ajarin kamu menangkap belalang!”
Tak jadi Reta melanjutkan catatan harian di bawah pohon rindang karena panggilan sang temannya. Kulit sawo matang mata agak lebar, tahi lalat di kening, rambut pendek di bawah daun telinga, mata coklat, sambil melambai-lambai yang menyapa Reta dengan sebutan “tonggeret” tak lain Mila namanya, teman seumuran Reta di-sekitar rumah Reta
“HIH Kalo memanggil nama aku yang benar, Mila... jangan tambahkan nama hewan di belakangnya, kan tidak bagus “
“AHAHAHA, Kan nama kamu ret, biar sekalian awalnya di-tambahkan tongge”
Tawa Mila riang siang itu, Reta hanya bisa kesal. bermainlah mereka di bawah pohon jambu sampai sore tiba.
Ketika sore tiba sang adik selesai dari main layangan bersama teman-temannya, masuk ke dalam rumah.
“Reta! Ayo masuk, kita makan malam, ajak juga temanmu itu untuk makan malam bersama “
“iya ibunda!, ayo mampir sebentar Mila nanti baru pulang,”
“tidak usah aku langsung pulang saja”
“jangan begitu, katanya ibunda tadi siang bunda memasak sup labu”
“benarkah!?” “Ehem!”
“kalau begitu aku mampir sebentar saja! “
Makan malam itu sungguh hikmat untuk dinikmati keluarga kecil yang harmonis. Canda, tawa, senda, gurau , terjadi dalam makan malam di meja makan malam itu.
Tak lama setelah selesai makan, Reta mengantar mila sampai tepi jalan, memang tak jauh rumahnya dari rumah mila sekitar empat , sampai lima rumah. Mila berjalan sambil melambai-lambai ke arah Reta. Mila Tenggelam dalam kegelapan karna suasana malam dan tak terlalu banyak lampu yang ada di jalanan. Senang karna habis bertemu temannya, Reta tanpa sadar ternyata kelelahan dan memutuskan untuk segera pergi tidur. Sebuah mobil hitam yang melintas, sedikit mengusik Reta
“Sepertinya mobil keamanan, memang ada banyak aksi kriminal yang ada belakang ini, mungkin untuk berpatroli saja” gumam dalam hati Reta. tak pikir panjang karna ia kelelahan, ia langsung masuk ke-Rumah dan pergi tidur.
Paginya ketika baru bangun, terdengar suara ramai di ruang tamu, Sepertinya memang ada tamu, Rita memutuskan untuk kembali tidur, akan tetapi ia mengenali suara tamu itu. Suaranya suara ibu mila!. Terbangkit dan langsung berlari ke ruang tamu, karena terpikir pasti ada mila jika ada ibunya.
“Sedikit aneh mila tidak langsung masuk ke kamarku, lagi pula ini masih pagi hari ada urusan apa” dalam hati, akan tetapi karena sangat senangnya Reta ia menepis segala pikirannya. Ketika sampai di-ruang tamu Rita terkejut karna ibundanya dan ibu reta sedang berpelukan dengan derai isak tangis ibu mila. Di-sana ada ayahnya juga ayah mila yang matanya sembab dengan tangan menutup muka seakan menutupi ingin menangis. Mereka sedang duduk di ruang tamu, selain itu ada beberapa petugas keamanan dan beberapa warga.
Sambil menarik sedikit lengan baju papa, Reta perlahan bertanya.
“papa di-mana mila?”
Papanya tertegun, mengiring untuk kedapur, bersamanya. Sesampai di-dapur beliau menghela nafas dan menahan raut wajah, sambil perlahan berkata
“Ree.. coba tarik nafas dulu..”
Reta menuruti tanpa protes karna ia adalah anak yang patuh.
“nah Ree tenang dulu ya.., ini berita yang mungkin mengejutkan-mu tapi ini kenyataannya”
Reta hanya mengangguk sambil tenggang, “apakah papa akan dinas ke luar lagi?, papa mau surprise aku ya?” ucap dalam hati dengan banyak tanda tanya.
Papa melanjutkan
“ree... . Mila hilang . “
Reta kaget memasang wajah tak percaya, menganggap sebuah lelucon belaka
“Apa yang papa katakan, oh mungkin mila mau bermain petak umpet yaaa?”
“Re, papa serius. sekarang kita sedang mencari mila”
“Papa jangan bercanda,”
Tangan papa meraih bahu reta semakin membuat reta bergetar bibir. Sambil melanjutkan pernyataan papa dan mencoba meyakinkan, papa berkata
“Memangnya ibu mila yang sedang menangis itu candaan?”
Reta tertegun diam, membisu.
“Pa.. aku mau mandi yaa hentikan candaan kalian”
“tidak lucu paa, harus sekali bawa penjaga ke amanan kesini ”
“Papa tidak bohong re.. papa tau ini susah buat kamu, buat kita, kita cari sama-sama ya...”
Reta meneguk air ludahnya ia tahu jika papanya sudah berekspresi serius itu bagaimana juga tanda memegang ke-dua bahu tanda harus percaya dan sedang serius
Air mata menetes di pipiku, baru kemarin kami makan malam dengan sup labu bersama. Tak ingin percaya tapi benar kata papa memangnya ibu mila menangis itu candaan. Tak pernah reta melihat seorang ibu dari mila menangis, hanya wajah ramah dengan senyuman yang selalu Reta lihat.
Kini Reta sendirian bermain di bawah pohon jambu, menetes air matanya terkadang. Terisak-isak lah juga Reta. Orang yang lalu lalang terkadang mencibir dan menggosipi reta dan keluarganya, suatu pemandangan yang sudah biasa. Ibu yang terlahir sebagai pribumi menikah dengan papanya yang seorang dokter dari luar negeri, tampang papa yang tampan dan mata biru yang indah, menambah iri dengki orang sekitar yang tidak berhasil memilikinya. Aku mengerti mengapa tidak di sekolahkan dan hanya sekolah di rumah, takut akan cibiran membuat sakit hati.
“Hey bukankah mila terakhir ke-rumah keluarga ini ya..”
“Eh iya ya jangan-jangan ~”
“Ih ayo pergi takut jadi korban penculikan juga!”
Begitulah gosip yang sengaja di lontarkan oleh warga setempat yang tidak suka terhadap keluarga Reta. Tersebarlah gosip tersebut , Reta semakin merasa bersalah karna melepas teman baiknya malam itu. Menangis ia di dalam kamar tak ingin makan dan minum.
“Ini papa, papa masuk ya..”
Ceklek, bunyi suara pintu terbuka, papa membawa makanan di dalam nampan, berisi sup hangat, coklat hangat kesukaan Reta.
“Reta.. ayo makan sebentar”
Sambil menahan tangisan reta menyambut makanan yang datang, ia memakan secara perlahan
“papa tahu kamu sedih, tapi jangan melupakan makan ya”
Warna Merah ke-orenan dalam langit Sore terkena biasan cahaya, sore harinya itu juga ibu mila dan ayah mila masih di-rumah reta, berencana menginap sampai malam hari. Begitu juga petugas karna menyelidiki tempat terakhir mila hilang
Tok tok. “permisi” suatu ketokan dan suara lirih namun lantang dari luar rumah terdengar, hening sejenak, papa beranjak dari tempat duduk di sofa menuju pintu berniat membuka pintu menyuruh tamu yang datang masuk. Berdiri seorang wanita berambut panjang memang sedikit cantik, wajahnya melihat kebawah menunduk, saat melihat ke atas wajahnya tampak sedang besedih juga.
Papa mempersilahkan untuk masuk dahulu sebelum sang wanita hendak bicara.
“Silahkan masuk dahulu, diluar dingin”.
“I-iya”
Setelah duduk disofa. Terjadi keheningan beberapa menit. Selama itu Reta memperhatikan wanita itu, terlintas wanita itu ialah orang yang sering menggosipi keluarga Reta, saat siang tadi pun wanita itu berada di tengah orang yang bergosip, bedanya siang itu, ia hanya diam membatu tak seperti biasanya, keluarga Reta-pun tahu, Bahwa wanita itu sangat menyukai papa Reta.
Bibirnya hendak bergerak mengucapkan sesuatu
“Itu.. ja-jadi begini”
“sebenarnya saya tahu apa yang terjadi pada mila”
Suasana di ruang tamu tampak kaget, semua terdiam, mimik wajah ibu mila terlihat ingin berteriak sambil berkata dimana mila, namun karna kehabisan tenaga ia hanya terdiam. Wanita itu melanjutkan
“Sebenarnya saya bekerja sama dengan dokter daren”
Bertanya tanya akan hal itu “memangnya apa hubungannya” dalam hati Reta. Wajah Papa seakan tahu, namun belum paham
Sejenak terdiam wanita itu melanjutkan
“dokter daren menceritakan ia sangat tidak menyukai papa Reta karna ia menganggap papa reta merenggut semua karir dan kerja keras dokter daren selama ini, karna ia tahu papa reta tinggal disini beliau berniat membuat papa reta terpuruk hingga menghancurkan pekerjaanya”
Sambil meneteskan air mata wanita itu melanjutkan
“dokter daren, tahu saya menyukai papa reta, jadi beliau menyuruh saya menculik reta , dengan imbalan bisa bersama papa reta setelah semuanya”
Semua yang ada di ruang tamu terkejut akan hal itu, tidak menyangka . Ibunda menepuk punggung dan mengelus wanita itu, tak kalah wanita itu pun menangis namun ingin melanjutkan.
“Malam kemarin saat semuanya siap, saya menunggu Reta keluar dari rumahnya, di dalam gelap saya bersembunyi, saya mengira Reta akan jalan-jalan malam seperti biasanya”
Memang iya Reta sering jalan malam untuk melihat kunang-kunang namun karna malam kemarin Reta lelah ia mengurungkan kebiasaannya dulu untuk malam itu
“Setelah menunggu, saya melihat ada gadis kecil, karna wajahnya tak terlihat saya mengira itu Reta, saya lalu membuatnya pingsan dan memasukkan nya kedalam mobil hitam seperti yang sudah di rencanakan.”
Wajah terkejut tidak bisa di sembunyikan , ibu reta menangis sejadi jadinya, Papa masih tenang mencoba menahan emosinya, lalu ia bertanya
“Di bawa kemana mila?”
“tidak tahu tapi katanya berencana dibuang di sungai terdekat”
“Karna dihantui rasa bersalah saya menceritakan ini, saya tidak tahan karna saat tidur selalu memimpikann ini”
jawab wanita itu dengan derai air mata tak kuasa menahan tangisan nya
Tok tok bunyi ketukan lagi, kali ini Reta yang membuka pintu karna suasana sedang Tidak memungkinkan untuk papa membuka pintu. Tak lama
Reta terkejut matanya melebar saking kaget dan senangnya ia berteriak
“MILA!”.
Sontak semua orang di ruang tamu melihat ke arah pintu. Benar adanya itu mila. Ia digendong seorang kakek, kakek itu kepala desa setempat.
Tanpa berlama setelah duduk ia menceritakan bahwa ia menemukan mila di sungai saat ia sedang berniat berjalan untuk melihat dan menjaga ladang di malam hari, takut akan hewan pengangu. Ia mengendong mila pulang, mulanya sang kakek ingin bertanya anak siapa kah ini, namun karna mila sakit sang kakek memutuskan untuk merawat mila, sang kakek tidak sempat mendengar gosip karna sibuk merawat mila. Karna tak kunjung turun demam mila, ia ber-inisiatif untuk kerumah dokter, papanya Reta .
Ibu mila yang melihat anaknya tanpa ragu langsung memeluk mila yang sedang demam. Semua orang terharu akan kepulangan mila. Kecuali wanita yang mengajukan laporanya, ia sibuk merenung. Sesaat Kemudian ia bersujud meminta maaf dengan isak tangis kepada ibu mila , tidak peduli dengan kesalahannya ibu mila tanpa ragu memaafkann saat itu yang penting ialah mila kembali dengan selamat. Ia juga meminta maaf pada Reta dan keluarganya. Karna memang ada petugas keamanan di rumah reta, tanpa pikir panjang setelah meminta maaf wanita itu pun ditangkap juga melakukan penangkapan kepada dokter daren.
Paginya saat sinar matahari menerangi muncul dari ufuknya bangun Reta berlari ke kamar tamu. Ia mendapati mila sedang makan bubur hangat sambil disuapi ibunya.
“Morning milaa!”
Mila mengerti apa yang di katakan Reta, karna Reta lah yang mengajari berbahasa Inggris meski hanya sedikit,
“Pagi juga Reta”
Senyum yang cerah kini dilihatnya lagi, bergegas Reta mengambil hadiah yang sudah di siapkan Reta bersama papanya. Reta mengulurkan hadiah sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Semua kejadian itu secara detail di tulis dalam diary Reta demi mengingat kejadian ini.
Sesosok gadis yang duduk di air pancuran universitas, banyak yang tanpa ragu memaparkan rasa terpesona, gadis cantik yang sedang menunggu sesuatu.
"Hai adik, dari jurusan kedokteran yah? Semester 3 kan? Kalo nga slaah namanya Reta de audrey ya kan?"
Sapa seorang lelaki, sebelum mendapatkan jawaban ia tersingkirkan karena suara mila yang menghampirinya. Mila yang jurusan pertanian juga bersekolah di-universitas sama dengan Reta, seakan tak ingin terpisah dengan Reta, tanpa ia pikir panjang ia langsung mengusir lelaki yang menggoda Reta. Demgan antusias mengajak reta ke kafe sambil berbincang. Sambil menunggu pesanan berdiri di samping pintu.
“Kenapa dokter?”
Tanya mila heran
“kalo kamu di-culik lagi, biar kamu bisa langsung ke rumah aku”
“AHAHAHA bisa aja kamu Tonggeret! “
“Aku punya hadiah untukmu”
“Apa? apa?”
Reta menyodorkan kartu pernikahannya . Mila berteriak kegirangan dengan berita itu . Sesosok pria, gagah, memunculkan kharisma luar biasa datang menghampiri, tepat berderi tegak di samping Reta, coba ia menundukan untuk menyamai tinggi reta sambil merangkul bada Rita dan mulai berkata dengan suara lembut namun jelas
“Datang ya ke pernikahan kami,”