Kisah Saat Hujan dan Angin Kencang Menderu
Tiga puluh derajat selsius. Pantas di parkiran terasa amat panas. Saya melangkah ke bangunan megah di seberang jalan dan menuju salah satu ruangan megah bagian dari gedung itu, ruangan Presiden Direktur, ruangan saya.
“Assalamualaikum Bu, “sapa Nisa begitu dia memasuki ruangan saya.
Wajahnya kian putih karena ruangan ini adem oleh AC.
“Walaikumussalam. Selamat siang Nis”
“Selamat siang, Bu. Nanti malam setelah isya Ibu ada reuni bersama teman-teman SMA.”
“Seangkatan. Jurusan IPA saja.” tambah Nisa.
“Sebaiknya Ibu datang. Selama ini ibu tidak pernah ikut acara reuni bersama teman-teman, “jelas Nisa lagi.
Nisa juga teman seangkatan di SMA yang sama. Setiap ada reuni Nisa selalu hadir sedangkan saya tak pernah. Jauh di dalam hati saya berkata.
‘Reuni hanya ajang pamer. Tapi saya sangat ingin tahu kabar teman-teman terutama sahabatnya Nisa, Jerry si kaya yang selalu tak peduli pada teman-teman terutama saya dan Nisa'.
“Nanti ingatkan saya. Kita samaan.”
“Baik, Bu.”
Hape saya berdering tepat saat saya selesai melipat sajadah selesai shalat magrib.
“Assalamualaikum.”
Suara Nisa terdengar merdu. Saya langsung teringat, reuni setelah isya.
“Walaikumsslm. Terima kasih Nis. Saya akan bersiap-siap. Kamu jalanlah ke rumah sekarang.”
“Baik Bu. Aku akan tiba setengah jam lagi.”
Setengah jam kemudian Nisa tiba. Kami langsung berangkat. Nisa menyetir mobil karena saya kurang percaya diri mengendarai mobil. Di tengah perjalanan saya menonton video pendek tentang bos pemilik perusahaan yang mengenakan pakaian “lusuh” dalam acara reuni bersama teman-teman seangkatan di sekolah menengah. Dia tidak sedang dalam penyamaran tapi di mana-mana bos ini selalu tampil bersahaja. Maka timbul ide saya untuk berpura-pura miskin dengan memakai pakaian murahan untuk tampil di hadapan mereka sebentar lagi. Saya ingin melihat reaksi mereka. Apa teman-teman juga akan membully saya seperti cerita dalam video ini? Rasanya tidak. Tidak mungkin mereka membully saya.
“Berhenti sebentar Nis. Saya ingin membeli pakaian.”
“Pakaian? Untuk apa, Bu?”
Sebelum saya menjawab Nisa bertanya lagi. Dari sorot matanya ia tidak bisa menebak apa yang akan saya perbuat dengan pakaian yang akan saya beli sebentar lagi.
“Lagi pula di sini tidak ada toko pakaian, apalagi butik, Bu.”
“Sudah, tunggu di sini saya tak kan lama.”
Saya berlari ke seberang. Saat itu arus kendaraan sepi. Saya tahu Nisa terus memperhatikan saya. Saya menghampiri pedagang pakaian di depan gerbang bangunan kantor sebuah bank. Penjualnya duduk pada sebuah kursi plastik di samping pakaian-pakaian yang digantung.
“Ini... ini Bu, “sapanya. Dia tahu saja saya akan membeli pakaian, “Cocok untuk Ibu.”
Saya memantas-mantaskan blouse yang direkomendasikan si penjual di badan. Sedikit kedodoran. Warnanya merah kembang, norak saya rasa. Tapi saya ambil. Kemudian roknya, kembang-kembang juga dan amat lebar di bagian bawah.
“Saya ambil ini, berapa Mak?”
“100 ribu.”
Setelah membayar saya bergegas ke mobil dengan setelan di tangan.
“Nis, di depan sana ada masjid. Kita shalat isya dulu.”
“Nanti saja, Bu. Kalau shalat dulu kita akan terlambat.”
“Sudah adzan Nis. Tak baik kita menunda shalat.”
Nisa tak menjawab lagi, menjalankan mobil pelan-pelan karena masjid yang saya maksud tak sampai 200 meter dari sini.
Kini kami sudah di mobil lagi. Saya duduk di samping Nisa dengan pakaian yang beda. Nisa senyum-senyum saja dari tadi.
“Bu, bandrol bajunya belum di lepas.”
“Alaa biar saja, “jawab saya.
Saya tertawa lepas.
Kami terlambat hampir sejam.
“Ayo, Nis cepat.”
Nisa mempercepat langkahnya. Saya mempercepat langkah. Saat itu saya sadar sepatu saya belum saya ganti. Saya membeli slop merah bata seharga 20 ribu. Kebetulan saja di depan rumah makan tujuan kami ada penjual sandal dan sepatu second hehe.
“Assalamualaikum, “sapa kami bersamaan, “Selamat malam teman-teman.”
Sebagian besar teman yang kini duduk mengelilingi meja besar, dari beberapa meja yang dijadikan satu menjawab salam kami dengan suara mereka yang hampir tak terdengar tanpa berpaling ke arah kami. Cukup lama kami berdiri tak ada yang mempersilahkan kami duduk.
“Ayo Nis, kita duduk.”
Saya menarik tangan Nisa ke arah 2 buah kursi kosong di samping Jerry.
“Eh kursi itu bukan buat kalian, “bentak Jerry yang sukses membuatku kaget luar biasa.
Saya tak peduli, lalu duduk dan mengajak Nisa juga duduk.
“Duduk Nisa.”
“Tidak ada untuk orang kismin. Kecuali kalian duduk di lantai. Ha..ha ha.”
Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Seseorang menarik kursi yang saya duduki ke belakang dengan amat kuat. Ternyata dia si Jerry. Aku jatuh terjerembab. Alangkah sakitnya pinggul saya. Saya hampir tak percaya ada teman memperlakukan temannya sendiri dengan buruk hanya karena melihat sang teman berpakaian di bawah standar pakaian bagus jika tak mengalaminya langsung saat ini.
“Kalian itu keterlaluan, “bentak Nisa.
Mereka malah tertawa terbahak-bahak. Suara tertawa mereka seakan mengalahkan deru hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya disertai angin kencang. Nisa membantuku berdiri.
“Kita pulang saja, Bu. Tak perlu lagi kita di sini.”
“Ya Nisa, yok.”
Saya memegang tangan Nisa agar tak jatuh lalu mengikuti langkahnya perlahan-lahan.
“Tunggu di sini, Bu aku ambil payung dulu, “kata Nisa.
Menggunakan satu payung berdua di tengah hujan deras dengan angin kencang begini tak banyak membantu. Sebelum sampai mobil kami basah kuyup. Hujan menggila seperti tidak akan berhenti. Nisa menjalankan mobil amat pelan tapi kenapa mobil terasa berguncang di tengah jalan yang rata?
“Dik.. dik bangun, sudah magrib.”
“Nis, kenapa panggil saya adik?”
“Nisa gundulmu... bangun.”
Terasa badan saya diangkat. Muka saya diusap seseorang. Mata saya membuka.
“Astagfirullah.”
Saya kini duduk di kursi panjang di teras. Berarti tadi?
“Jangan tidur setelah ashar. Itu akibatnya ngigau terus.”
“Hehe maaf kak, karena hujan terus saya nonton video pura-pura.. jadi terbawa mimpi.”
Enaknya jadi direktur tapi sayang dalam mimpi.