"Em, gimana rencana Lo nanti?" tanya Kyra tiba-tiba dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
Kantin itu cukup ramai, dengan banyaknya penghuni sekolah yang berlalu lalang untuk sekedar jajan atau makan siang. Meski demikian, suara Kyra masih bisa terdengar jelas dalam rungu Emely.
"Abisin dulu itu makanan. Baru ngomong," kesal Emely pada temannya yang sedikit bobrok itu.
"Iya... Iya... Sorry"
Kyra pun berusaha menelan makanan di mulutnya dengan susah payah.
"Jadi gimana rencana Lo kedepan?" tanya Kyra lagi.
"Rencana apaan?" cuek Emely.
"Ih.... Lo itu ya. Rencana magang kita lah. Lo mau tinggal di kos-kosan apa gimana?" tanya Kyra lagi mulai kesal.
Emely tampak berpikir. Lalu dia mulai bersua, "Kayaknya ngekos aja deh. Gua gak ada saudara di kota itu."
"Daripada Lo ngekos, gimana kalau kita tinggal bareng?" tawar Kyra tiba-tiba.
Emely mulai menaikkan satu alisnya. "Ngekos bareng maksud Lo?" tanya Emely kembali memastikan.
"Ih... Bukan. Jadi gini....."
Kyra mulai menjelaskan maksud dari kata 'tinggal bareng' yang dia ucapkan barusan.
"Gak ah, Ra. Thanks banget. Gua gak mau ngerepotin siapapun, apalagi Tante Lo. Lebih bagus gua ngekos aja," putus Emely.
"Tapi apa duit Lo cukup buat ngekos?"
Emely terdiam. Untuk beberapa saat hanya hening yang menemani mereka.
"Gua bakalan tanya sama guru pembimbing, selama kita magang nanti kita bakalan dapat duit gak? Secara kita juga udah berpartisipasi dalam membantu kantor itu," jelas Emely memberi solusi pada dirinya sendiri.
"Jadi Lo tetap gak mau nih tinggal bareng gua?" sedih Kyra.
"Bukan gak mau. Tapi kalau gua gak punya solusi lain, gua bakal ikuti saran Lo. Jadi gak usah sedih gitu. Ntar cantiknya ilang loh," ucap Emely sembari sesekali menggoda Kyra.
***
Waktu yang dinantikan pun tiba. Tepat di pagi ini adalah hari pertama mereka menjalani tugas magang mereka.
Kyra telah sampai lebih dulu. Namun sedari tadi dia tampak mondar-mandir layaknya setrika rusak. Air mukanya juga nampak gelisah. Sesekali dia juga melirik jam di ponselnya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
'Em, Lo dimana sih? Mati kita kalau sampai Lo telat,' gumam Kyra tidak jelas.
Tak lama, dari kejauhan terlihat seorang gadis dengan Hoodie hitamnya sedang berlari terengah-engah. Kyra begitu sumringah mendapati temannya itu sudah sampai tepat waktu.
Dengan nafas yang masih memburu, gadis Hoodie hitam itu telah berada di hadapan Kyra.
"Sorry, Ra. Gua telat bangun tadi. Apa gua telat?" tanya Emely yang masih berusaha mengatur nafasnya.
Kyra begitu tak tega melihat temannya yang kelelahan. Dia pun memberikan sebotol air mineral untuk meredakan dahaga sahabatnya itu.
"Thanks"
Emely menegak air itu hingga tandas setengah. Setelah nafasnya kembali, dia mulai tersenyum dan menatap Kyra dengan wajah penuh peluh keringat.
"Kamu tidak terlambat, Dek. Kau datang tepat waktu. Mari saya antarkan ke ruangan kerja kalian," sapa seseorang yang berpakaian rapi dan formal.
Baik Emely maupun Kyra dibuat terkagum dengan desain interior dari gedung itu. Dinding tembok yang berwarna putih bersih, dengan lantai marmer yang sangat mengkilap.
Hingga lamunan kedua gadis itu terpaksa berhenti, kala seseorang yang mengantar mereka tadi menegur mereka.
"Nona Emelya dan Nona Kyra, ini ruangan kalian. Dan kalian bisa menempati salah satu meja di ruangan ini," jelas karyawan itu.
"Lalu apa tugas kami sekarang?" tanya Emely.
"Nanti akan ada salah satu karyawan kami yang akan memberikan tugas berbeda ke kalian. Ada lagi yang mau ditanyakan?"
"Kapan karyawan itu datang?" tanya Kyra.
"Sebentar lagi.... Ah, itu mereka!"
Semua orang pun melirik ke arah dua orang pria yang baru saja datang.
"Pak Alex dan Pak Rey yang akan membimbing kalian. Kalau begitu, saya permisi duluan," pamit karyawan itu.
Pak Rey dan Pak Alex nampak saling lempar pandang. Lalu, keduanya pun menghampiri Emely dan Kyra.
Kyra menyambut pembimbingnya dengan senyum hangat, sementara Emely hanya tersenyum tipis. Mereka pun langsung diberikan tugas oleh dua orang kepercayaan kantor itu.
Setelah diberikan arahan, Emely juga Kyra mulai melakukan tugasnya.
Untuk beberapa waktu pertama, semua terlihat baik-baik saja. Hingga Emely menemukan keanehan pada data yang dia kerjakan.
'Ada apa ini? Kenapa rumusnya error?' batin Emely.
Emely mengedarkan atensinya ke segala arah. Namun gadis tomboy itu hanya menemukan temannya yang masih fokus dan sibuk.
'Pak Alex mana ya?' gumamnya.
Pak Rey yang sedari tadi hanya fokus mengajari Kyra pun, mengalihkan perhatiannya ke Emely. Karena penasaran dengan sikap Emely yang nampak kebingungan, Pak Rey pun menghampirinya.
"Kenapa, Dek? Ada yang bisa saya bantu?" sapa Pak Rey.
"Pak Alex mana ya, Pak?"
"Oh, beliau tadi ada urusan dulu sebentar. Kenapa memangnya?" tanya Pak Rey lagi.
Emely pun menceritakan keluhannya tentang komputer yang dia gunakan. Untuk beberapa saat, Pak Rey sedikit terdiam. Lalu Pak Rey memberikan senyuman hangat khas pria dewasa yang sudah berkeluarga.
"Semua sistem yang ada di kantor ini berada dalam kendali CEO kami, termasuk komputer yang kamu gunakan. Jadi, akan lebih baik jika kamu tanyakan langsung pada CEO kami," saran Pak Rey.
"Gak apa-apa? Gak akan ada masalah kalau saya bertanya langsung pada orang penting di kantor ini?" ragu Emely.
"No big deal. Oh ya, ini alamat email beliau. Tapi jangan lupa, di awali perkenalan nama kamu dan status kamu di kantor ini. Ok!" jelas Pak Rey.
"Ya. Thank you so much Pak Rey"
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Pak Rey.
Setelah mendapat saran dari Pak Rey, Emely sedikit menimbang-nimbang akan keputusannya nanti.
'Kalau tidak ku tanyakan, justru akan menghambat nilai magangku. Huh... Ya sudahlah. Mungkin atasan di kantor ini bisa membantuku,' putus Emely.
Mungkin tujuannya hanya untuk mendapatkan solusi. Namun siapa sangka, solusi yang dia dapatkan harus dia bayar dengan sangat mahal. Bahkan mungkin mengancam nyawanya sendiri.