Sorot mata merah yang membara, menandakan ada sebuah kebencian di sana.
Dia pria arogan yang baru kali pertama ku temui seumur hidupku.
Oh Sehun, pria yang baru saja ku temui saat ini. Dia datang ke rumahku bersama dengan kedua orang tua nya.
Oh ayolah, aku sudah tahu apa rencana ayah dan ibuku bermaksud menjodohkanku dengannya.
Agar kami anak- anaknya bisa mempererat hubungan silaturahmi mereka. Dengan menyatukan dua keluarga antara orang si super kaya ke satu dan orang kaya kedua.
Apakah ibuku dan ayahku menilai orang hanya dari hartanya saja. Kenapa harus aku?. Padahal masih ada kakak yang seharusnya mereka jodohkan.
"Bagaimana Sehun? Pilihan ayah, apakah kamu suka?." Tanya Oh Hyun Bi ayahnya.
"Aku tidak seperti apa yang ayah pikirkan." Ucap Sehun dengan tampak dingin dan nampak malas.
Mengetahui ucapan Sehun yang seperti itu tentu saja orang tuaku kaget dan hanya tersenyum getir.
Ibunya Sehun langsung saja terlihat menyenggol tangan Sehun, mengisyaratkan Sehun untuk tak berbicara seperti itu.
"Maaf, mungkin Sehun putra kami masih kaget atas perjodohan ini." Ucap Oh Hana ibunya Sehun tidak enak.
"Tidak apa- apa, namanya juga anak muda. Mungkin mereka belum saling mengenal satu sama lain. Dan juga perjodohan ini akan tetap berlanjut apapun yang terjadi. Ia kan Chou Tzuyu?." Tanya Chou Se Ran, ibuku padaku.
Aku hanya mendelik malas. Sejahat itukah orang tua ku ingin menjodohkan aku dengan orang seperti dia. Seharusnya orang tua ku tidak menjodohkan aku dengan pria se'arogan dia.
"Aku terserah ibu saja." Ucapku yang sudah risih dengan percakapan ini.
"Tuh kan, Tzuyu saja sudah setuju. Seharusnya kau juga setuju, Sehun." Ucap Oh Hana.
Aku mendengus sebal, dalam hati siapa juga yang setuju untuk menikah dengannya. Apalagi Sehun tengah melihatku tajam sekarang. Aku juga balas menatapnya tajam. Oh ya, aku tahu aku seorang perempuan. Tapi aku juga tak mau kalah dengan pria seperti dia.
"Ok, aku setuju. Tapi aku harus pulang sekarang." Ucap Sehun masih dingin.
"Oh baiklah, jika kalian berdua sudah saling setuju. Minggu depan kami akan segera kemari dan menentukan tanggal pernikahan untuk kalian." Ucap Oh Hyun Bi ayah Sehun.
Ibuku dan ayahku tersenyum. Setelah menjabat tangan mereka, mereka semua segera pamit.
.
.
.
Satu minggu kemudian, mereka berniat menemui dan mendatangi rumah kami lagi. Ayah dan ibuku tengah bersiap- siap, aku yang sudah rapi dengan gaun indah buru- buru mengganti bajuku kembali berniat untuk kabur.
Aku turun lewat jendela kaca kamar, aku mengendap- endap di halaman rumah. Ketika di lihat tidak ada siapa- siapa. Hanya ada satu penjaga saja, itupun sedang lengah. Aku buru- buru untuk kabur.
Aku yang tengah menggandong ranselku berhasil kabur, aku kemudian segera menaiki taksi dan pergi dari rumahku.
.
.
.
Dilain tempat Sehun juga tak berniat untuk datang lagi ke rumah keluarga Chou. Ia malas jika ia harus di jodohkan dengan gadis manja seperti Tzuyu. Tanpa ia tahu bahwa watak Tzuyu yang sebenarnya, Sehun sudah menduga bahwa Tzuyu adalah gadis manja yang hanya mengandalkan kekayaan orang tua.
Sehun malah membaringkan tubuhnya di kasur, ia berusaha menutup telinga mendengar beberapa panggilan dari orang tuanya di ponselnya.
.
.
.
Orang tua Tzuyu mencari- cari melihat Tzuyu tak ada di kamar. Ketika mereka tak mengetahui bahwa Tzuyu kabur dari rumah mereka semua panik.
Mereka juga sudah mengundurkan untuk penentuan tanggal menikah untuk anaknya. Mereka menghubungi polisi.
.
.
.
Satu minggu berlalu setelah insiden kejadian Tzuyu yang kabur. Orang tua Sehun mengabari Sehun dan menyuruh Sehun untuk mencari Tzuyu yang tak juga ketemu.
Sehun bukannya khawatir, malah terlihat bahagia karena kaburnya Tzuyu itu bisa membatalkan perjodohan diantara mereka.
Saat Sedang jalan Sehun tak sengaja melihat seseorang. Ada dua pria yang tengah mengganggu seorang wanita.
Mata Sehun menyipit ketika ia tahu bahwa yang sedang diganggu adalah calon istrinya. Ralat mantan calon istri.
Sehun berniat berbalik tak berniat ikut campur, namun ia balik lagi karena tak tega pada Tzuyu yang lemah.
Sehun kemudian memukul kedua pria itu. Kedua pria yang terlihat seperti preman itu kalah oleh pukulan Sehun yang menggebu- gebu kemudian mereka segera kabur dan lari.
Sehun mendekati Tzuyu yang sejak sedari tadi menangis. Ia kemudian memukul Sehun. Sehun yang tidak terima di pukul oleh Tzuyu menghentikan aksi Tzuyu.
"Sudah bagus aku tolong, kenapa malah memukul?." Ucap Sehun tak terima.
"Dasar bodoh !! Kenapa tidak di kejar, dompetku di bawa kabur mereka." Ucap Tzuyu masih menangis.
Sehun mendelik kesal.
"Kenapa tidak katakan sejak sedari tadi?." Ucap Sehun yang tak mau di salahkan.
"Aku sudah kabur, semua uangku atm dan yang lainnya ada di dalam dompetku. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak punya uang" Ucap Tzuyu.
"Kalau begitu pulanglah ke rumah." Ucap Sehun menenangkan.
"Lalu bagaimana dengan perjodohan, bukannya kau juga tidak mau." Ucap Tzuyu yang malah semakin kesal.
"Kalau begitu ikut aku." Ucap Sehun pada Tzuyu.
Sehun kemudian membawa Tzuyu masuk ke mobil dan segera membawa gadis itu ke apartementnya.
"Ini apartementku, kau bisa tinggal disini untuk sementara." Ucap Sehun yang masih tetap dingin.
"Apa kau yakin kita akan tinggal bersama?." Ucap Tzuyu kaget.
"Kau tengah di cari- cari sekarang, polisi dan beberapa orang sedang mencarimu di luar. Jika kau tidak menurut kau akan berhasil di temukan oleh mereka. Jadi untuk sementara kau bisa tinggal bersamaku." Ucap Sehun memberi pilihan.
Tzuyu terlihat memanggut dan menurut.
.
.
.
Berhari- hari aku tinggal di Apartement milik Sehun. Aku pikir pria se' arogan Sehun tak mau menolongku. Nyatanya Sehun adalah pria hangat dan baik padaku walaupun pria itu sangat cuek dan melakukan apapun sesukanya.
Hari ini pria itu sedang bekerja di kantor, aku sudah satu minggu di sini dan mengetahui banyak tentang pria itu.
Sore harinya aku selalu menunggunya di apartement. Karena aku tidak diidzinkan keluar olehnya. Jadi aku hanya bisa menunggunya pulang. Dia juga selalu membawakan oleh- oleh ketika pulang.
"Sehun?." Ucapku tersenyum melihat kedatangannya.
Sehun yang nampak lelah langsung berbaring di sofa ruang tamu dan memberiku oleh- oleh makanan seperti biasa.
Aku segera membuka dan memakannya.
Sehun menatapku lekat, aku nampak gugup ia kemudian menghampiriku. Kemudian menyentuh bibirku dengan tangannya.
"Jangan makan belepotan aku tidak suka." Ucapnya yang terdengar lelah.
"Maaf." Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
"Tzuyu, besok aku akan mengantarmu pulang ya?." Ucap Sehun.
"Ha.. !! Kenapa?. Apa aku membebanimu." Ucapku tidak suka.
"Kau seharusnya tidak berlama- lama disini. Orang tuamu mengkhawatirkanmu. Aku takut jika kau lama- lama tinggal disini aku akan di tuduh sebagai seorang penculik."
"Astaga, kenapa kau bisa berfikir seperti itu?." Ucapku kesal.
"Aku hanya tidak mau di tuduh menculik anak orang." Ucap Sehun lelah.
"Baiklah jika kau sudah bosan padaku kau bisa mengantarku besok." Ucapku kesal dan pergi meninggalkannya ke arah kamar dan mengunci pintu.
Sehun memijat pelipisnya sendiri, entahlah ia juga bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang?.
Ia masih ingat betul apa yang di ucapkan ayahnya tadi pagi.
#Flashback
Sehun kini tengah berdiri di pinggir kolam ikan. Ia sedang berada di rumah orang tuanya sekarang sambil memberikan makan ikan. Karena hari ini ia tidak masuk kantor ia bebas bisa melakukan apa saja hari ini.
"Sehun?." Panggil ayahnya Hyun Bi.
Tiba- tiba saja ayahnya datang dari arah belakang.
Sehun sempat menoleh namun ia kembali melanjutkan makan ikan.
"Jika Tzuyu tidak berhasil di temukan terpaksa perjodohanmu dengan keluarga Chou akan segera di batalkan." Ujar ayahnya.
Sehun mendadak diam, ia tidak bisa menjawab apa- apa.
"Dan jika itu semuanya terjadi, semua keinginanmu akan terpenuhi. Tapi aku peringatkan padamu Sehun. Walaupun perjodohanmu di batalkan dengan keluarga Chou. Tapi tetap saja kau harus cepat menikah. Dan kau akan menikah dengan seseorang yang telah ayah pilihkan sebagai pengantin wanitanya. Dan itu adalah pengganti Tzuyu." Ucap ayahnya. Sehun sempat protes namun ayahnyah sudah lebih dulu pergi.
#Flashback end
.
.
.
Pagi ini Sehun juga tak berniat ke kantor. Ia membantu Tzuyu untuk segera mengemasi pakaiannya. Tzuyu yang sejak sedari malam terlihat murung membuat Sehun menjadi merasa bersalah.
"Maafkan aku nona Tzuyu?." Ucap Sehun terus terang.
"Sudah berapa kali mulutmu mengucapkan kata itu." Ucap Tzuyu mendelik malas.
"Maafkan aku." Ucap Sehun lagi.
Tzuyu yang nampak sudah kesal kini mulai mengantongi semua bajunya yang ia bawa hanya beberapa.
"Terima kasih atas kebaikanmu juga Tuan muda Oh Sehun. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu padaku. Tapi aku akan pergi kerumahku sendiri sekarang. Jadi kau tak perlu repot- repot untuk mengantarku pulang." Ucap Tzuyu berniat pergi.
"Tunggu." Sehun menarik tangan Tzuyu dengan kuat. Membuat Tzuyu mengaduh kesakitan.
"Apa lagi?." Tanya Tzuyu.
"Bisakah kau menolongku?." Ucap Sehun serius.
Tatapan Sehun benar- benar serius, membuat Tzuyu meliriknya heran.
.
.
.
Dan akhirnya pagi ini Tzuyu di bawa pulang oleh Sehun. Ia juga sudah menghubungi kedua orang tuanya untuk berdiskusi dengan keluarga Chou.
"Aku bersyukur ternyata Tzuyu bukan kabur, melainkan ia menginap beberapa hari di Apartement Sehun." Ucap Chou Se Ran ibu Tzuyu.
Tzuyu memeluk Se Ran yang dari tadi tak berhenti menangis.
Ayah Tzuyu Chou Eun Woo juga ikut menangis. Melihat kedatangan putrinya.
Sehun membawa Tzuyu masuk dan menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya dan orang tua Tzuyu. Ia juga berbohong, bahwa ia sempat tidak mengetahui keberadaan gadis itu padahal ia sendiri yang menyembunyikannya.
Tzuyu yang mendengar cerita Sehun untuk di ceritakan kepada orang tuanya hanya bisa mengangguk saja. Setelah Sehun waktu itu meminta bantuan padanya.
#flashback
"Bisakah kau menolongku?." Ucap Sehun serius.
Tatapan Sehun benar- benar serius, membuat Tzuyu meliriknya heran.
"Apa?."
"Aku ingin perjodohan kita di lanjutkan." Ucap Sehun serius.
Tzuyu yang mendengar itu kaget.
"Tapi, kenapa?."
"Aku hanya berpikir tidak ada salahnya kita menjalani hubungan baik. Keluarga kita juga akan senang. Jika perjodohan tidak jadi di batalkan."
"Ta.. tapi.." Tzuyu gagap ia benar- benar aneh atas ucapan Sehun.
"Ayolah. Kau juga sudah berhutang budi padaku, aku pernah menolongmu. Kini giliranmu untuk menolongku." Ucap Sehun terlihat kekeh.
Tzuyu yang mendengar itu hanya bisa diam. Ia memang tidak bisa menolak. Sehun sudah menolongnya saat itu. Kini gilirannya menolong pria itu dan menebus semua hutang budi padanya.
Sehun kini terlihat menghubungi orang tuanya dan setelah mereka bertemu orang tuanya Sehun membawa Tzuyu untuk pulang.
Flashback end
"Jadi bagaimana, apa perjodohan ini akan tetap di lanjutkan?." Ucap Oh Hyun bi.
"Sekarang saya tidak bisa memaksa, semua keputusan ada di tangan anak saya Chou Tzuyu." Ucap Chou Eun Woo ayah Tzuyu.
"Bagaimana sayang, ibu dan ayah tidak akan memaksa. Semua keputusan ada di tanganmu?." Ucap Se Ran.
Tzuyu nampak bingung, ia benar- benar bimbang. Ia sempat melirik ke arah Oh Sehun. Rupanya pria itu terlihat sedang memohon atas keputusannya sekarang.
Tak lama kemudian Tzuyu mengangguk. Ia kemudian bisa melihat semua orang tersenyum bahagia. Termasuk Sehun sendiri bisa bernafas lega.
Kini Sehun idzin pada orang tua Tzuyu untuk membawa keluar putrinya sebentar untuk berbicara.
Setelah mendapatkan idzin Sehun menarik tangan Tzuyu untuk keluar.
"Ada apa?." Tanya Tzuyu ketika sudah di luar.
"Terima kasih sudah menolongku." Ucap Sehun.
"Kenapa harus berterima kasih?. Anggap saja aku membalas hutang budiku padamu." Ucap Tzuyu.
"Tetapi kau akan menjadi calon istriku. Apa kau tidak keberatan?." Tanya Sehun.
"Aku tidak keberatan. Asal kau tidak ikut campur dengan urusanku jika sudah menikah." Ucap Tzuyu serius.
"Baiklah. Setelah kau menikah denganku kau bebas bisa melakukan apa saja." Ucap Sehun.
.
.
.
Satu bulan setelah penentuan tanggal akhirnya mereka berdua menikah. Walaupun mereka berdua menikah bukan atas dasar cinta. Tapi mereka terpaksa karena harus menuruti keinginan kedua orang tua mereka.
Sehun kini membawa Tzuyu ke rumahnya yang cukup megah di kawasan xxx. Rumah Sehun jauh dari keberadaan kediaman orang tua mereka. Perlu waktu 3 jam untuk sampai kesana.
Sehun membawa keluar dari mobil di susul oleh Tzuyu dari arah belakang.
"Kya ... suamiku tidak bisa romantis sekali." Ucap Tzuyu kesal.
Sehun yang mendengar itu hanya besikap cuek dan tak memperdulikan Tzuyu yang kesusahan berjalan karena gaun pengantinnya yang ribet.
Sedangkan Jong Guk yang menjadi supir pribadi hanya bisa tersenyum melihat kelakuan mereka dari arah belakang sambil membawa dua buah koper.
.
.
.
"Itu kamarmu. Kau bisa tidur sendiri di sana." Ucap Sehun.
"Baiklah terima kasih." Ucap Tzuyu.
"Tapi?... "
"Apa lagi?. Tanya Sehun heran.
"Aku belum pernah tidur sendiri. Apa kau bisa menemaniku." Ucap Tzuyu agak memohon.
"Cih.. manja sekali. Lalu waktu kau kabur kau tidur dengan siapa selama seminggu?."
"Aku tidak pernah tidur, waktu kabur. Aku tinggal di kos' an. Waktu malam aku tidak tidur sama sekali. Jadi aku tidurnya siang hari saja." Ucap Tzuyu.
"Apa kau serius?." Tanya Sehun tidak percaya.
"Ya Tuhan, apa aku terlihat berbohong." Ucap Tzuyu kesal.
Tzuyu pergi membawa koper meninggalkan Sehun yang tengah mematung sendiri.
Lama kelamaan Sehun mengikuti istrinya dan tidur satu kamar dengan Tzuyu.
.
.
.
Hari ini begitu mendung, Tzuyu duduk di belakang balkon. Tiba- tiba saja ada angin kencang dan suara bergemuruh dari langit. Dan tiba- tiba hujan deras.
Sehun yang melihat di luar sedang hujan menyuruh Tzuyu untuk segera masuk ke kamar. Tzuyu terpaksa harus masuk. Tiba- tiba saja ia di kagetkan oleh sebuah gerumuh petir membuat Tzuyu terpaksa harus memeluk Sehun. Karena ia sangat takut sekali dengan petir.
Sehun membawa Tzuyu untuk berbaring di atas kasur bersamanya. Tanpa ia sadari dari tadi Tzuyu terus memeluknya karena terlihat takut dengan petir.
Sehun menatap Tzuyu heran, karena walaupun hujannya sudah reda tapi wanita itu tidak mau beranjak dari tempatnya. Ketika di lihat ternyata Tzuyu sudah tertidur pulas.
Sehun hanya bisa mendengus kesal. Melihat Tzuyu tertidur di atas perutnya. Membuat ia tidak bisa kemana- mana?.
.
.
.
Pagi harinya Tzuyu buru- buru bangun ketika melihat Sehun masih tertidur pulas. Ia berniat ke kamar mandi untuk mandi. Dan segera ke dapur setelah selesai mandi.
Tzuyu berniat memasak. Walaupun sudah ada pembantu di rumah mereka. Tapi Tzuyu berniat membantu pembantunya.
"Bolehkah aku tahu makanan kesukaan Tuan?." Tanya Tzuyu pada Dok Yung.
"Tuan bosa memakan makanan apa saja nona." Ucap Dok Yung tersenyum ramah.
"Oh, bolehkah aku membantu?." Tanya Tzuyu.
"Sebaiknya nona duduk saja, saya takut Tuan bisa marah pada saya. Membiarkan anda untuk masak." Ucap Dok Yung takut.
"Tuan tidak akan marah aku jamin." Ucap Tzuyu bersikeras.
Setelah selesai memasak tiba- tiba dari arah belakang Sehun sudah datang dengan wajah baru bangun. Tzuyu tersenyum menatap Sehun dan menyuruh Sehun untuk sarapan.
"Kau yang masak?." Tanya Sehun tidak percaya.
"Tentu saja." Ucap Tzuyu bangga.
"Lalu bibi Dok Yung kemana?." Tanya Sehun.
"Aku menyuruhnya untuk belanja, karena bahan makanan sudah habis." Ucap Tzuyu.
"Tapi aku tidak yakin dengan masakanmu. Apa gadis manja sepertimu itu bisa masak." Ucap Sehun masih tidak percaya.
"Jangan berkomentar, sebelum kau mencobanya." Ucap Tzuyu kesal.
Sehun hanya mengedik dan langsung mencicipi masakan Tzuyu.
"Bagaimana?." Tanya Tzuyu penasaran.
"Lumayan." Ucap Sehun.
.
.
.
Sudah beberapa bulan Sehun menikahi Tzuyu. Ternyata apa yang ada di otaknya tentang semua pemikiran negatifnya terhadap Tzuyu kini telah hilang.
Menurut Sehun Tzuyu itu adalah istri yang baik, penurut walaupun tingkahnya seperti anak kecil dan manja. Tapi Sehun sangat menyukai apa yang ada dalam diri Tzuyu.
Mungkin kini Sehun telah jatuh cinta pada istri nya itu.
Tzuyu kini tengah membereskan rumah. Sedangkan Sehun sedang membaca koran.
Tiba- tiba saja ada suara bel rumah berbunyi. Dengan cepat Tzuyu membuka pintu.
Namun setelah membuka pintu betapa kagetnya ia. Ketika tubuhnya di paksa di dorong dan terjungkal kebelakang.
"Minggir, dasar pelakor." Ucap wanita cantik nan galak di hadapannya.
Mendengar keributan Sehun buru- buru keluar. Betapa kagetnya Sehun melihat mantan kekasihnya ada disana dan berusaha mendorong istrinya.
Sehun berusaha membantu Tzuyu untuk berdiri.
Tzuyu menatap heran pada wanita galak yang tiba- tiba saja ada di hadapannya.
"Siapa kau?." Tanya Tzuyu tidak terima, karena ia tiba- tiba di dorong begitu saja oleh wanita itu.
"Aku Park Hyuna, Ke- ka- sih nya Oh Sehun ...!! ." Teriak wanita itu penuh emosi.
"Apa.. !!." Tzuyu menganga tidak percaya.
Ia menatap Sehun. Sehun tidak mengucapkan apa- apa. Berarti semua itu benar adanya. Dan keberadaannya disini adalah sebagai setatus sebagai seorang pelakor di hubungan mereka.
Tzuyu menangis dan keluar dari rumah sambil berlari. Sehun yang melihat itu jadi panik.
Tzuyu berlari dengan cepat. Tiba- tiba hujan turun, lama- lama hujan menjadi semakin deras.
Ia berlari di tengah jalan. Sambil hujan- hujanan dan basah kuyup.
Padahal ia sudah mencintai Oh Sehun saat ini. Pria yang sudah menjadi suami sahnya. Tapi kenapa Sehun sangat jahat padanya.
Kenapa Oh Sehun? Kenapa kau melakukan ini padaku?.
Tiba- tiba ...
Brakk .....
Suara keras benda tertabrak mobil. Tiba- tiba kepalanya pening dan semuanya gelap... darah yang mengucur di pelipis matanya melumuri dan menghalangi wajahnya.
.
.
.
Satu tahun kemudian.
#Tzuyu
Mata ini mulai membuka. Aku perhatikan, aku sedang ada di sebuah ruangan yang tidak aku ketahui ini ada dimana. Semuanya benar- benar asing.
Ketika mataku sadar tiba- tiba ada seorang pria tampan yang menghampiriku. Di kaget, pria itu menangis di dalam senyumannya.
Aku tidak tahu dia siapa, tiba- tiba ia berteriak memanggil beberapa orang dan ada beberapa orang yang masuk. Aku tidak tahu dan tidak ingat mereka siapa. Mereka semua menangis ketika aku sadar.
Mereka semua bilang mereka keluargaku. Ada yang mengaku sebagai ibuku, ayahku, kakakku temanku bahkan sebagai mertuaku.
Tapi aku tidak ingat, apakah aku sudah menikah?
Siapa mereka?
Aku tidak kenal.
Apalagi pada pria tinggi tampan orang yang mengaku sebagai suamiku.
Siapa aku tidak ingat sama sekali?
.
.
.
Satu minggu kemudian
Setelah dari rumah sakit aku di bawa ke rumah, orang- orang sudah pergi. Aku hanya di temani pria yang mengaku sebagai suamiku sekarang. Namanya Oh Sehun.
Pria itu membelai rambutku dengan sayang. Aku kini duduk di bangku ayunan sambil memandangi indahnya pemandangan taman.
"Apa kau ingat, kau selalu duduk disini?." Tanya pria itu.
Aku menggeleng. Tiba- tiba ia memeluku ia menangis di hadapanku. Tangisannya begitu pilu dan menyayat. Aku tahu bahwa ia begitu tulus padaku. Dia terlihat sangat menyayangiku. Namun tetap saja aku tidak mengingatnya.
"Walaupun kau sudah divonis dan tidak akan ingat tentang masa lalumu. Tapi ingatlah aku akan selalu menjagamu dan selalu ada disisimu." Ucap pria itu.
Aku menatapnya sambil tersenyum. Walaupun aku tidak ingat, walaupun aku tidak tahu tentang masa laluku. Tapi kepada Sehun aku percaya bahwa ia adalah suamiku.
Karena hatiku dan jantungku tidak bisa berhenti berdetak saat bersamanya.
Aku percaya padamu
Aku percaya semua tentangmu
Aku percaya kau akan menjagaku
Dan aku percaya kau akan selalu disisiku selamanya.
Aku kemudian memberanikan diri menghapus air matanya dan memeluknya. Membuat Sehun berhenti menangis dan memelukku begitu dalam.
END
MAKASIH BUAT YANG SUDAH NYEMPETIN BACA CERPENKU🤗
#Lombafanfic
Cerpen dari AyuKyunie