Alkisah hiduplah seorang lelaki yang hidup sebatangkara. Dia berusia 25 tahun dan bekerja sebagai kurir. Dia adalah anak yang baik meskipun memiliki nasib yang malang. Selama hidupnya dia selalu hidup sendirian. Jadi dia tidak pernah merasakan kehangatan dari kebersamaan keluarga.
Meskipun dia selalu hidup sendirian, dia tidak pernah merasa kesepian. Dia memiliki teman yang baik dan perhatian. Teman-temannya yang memberikan semangat untuk dia agar terus berjuang mencapai impiannya.
Sedikit demi sedikit impian pria tersebut mulai tercapai. Saat ini dia sudah bisa membeli motor dan tanah untuk kemudian dia membangun sebuah rumah. Saat ini dia tinggal disebuah kos-kosan yang kecil. Dia memilih tinggal ditempat itu, agar dia bisa menabung demi impiannya.
Terkadang dia hanya makan mie instan untuk menghemat pengeluarannya, karena paket yang diantarkan tidak sebanyak biasanya. Dia bekerja dihitung berdasarkan jumlah paket yang telah dikirimkannya.
Suatu hari saat dia ingin mengirimkan paket di siang hari. Dia melihat sesosok wanita tua, yang berumur sekitar 65 tahun duduk di kursi pinggir jalan. Wanita tua itu terlihat lusuh, baik bajunya maupun wajahnya. Dia menghampiri wanita tua itu, berniat untuk bertanya dan melihat keadaannya. Si Pria kurir itu bertanya kepada wanita tua dan mendapatkan informasi.
Wanita tua itu hidup sebatangkara dan tinggal dirumah tua yang berada tepat dibelakang tempat wanita itu duduk. Si pria kurir mendatangi rumah wanita tua itu. Melihat rumah wanita tua yang hanya ada kasur serta lemari tua membuat si pria kurir tahu bahwa si nenek tidak bisa memasak.
Si nenek bercerita bahwa tangannya gemetaran saat memegang sesuatu. Makanya si nenek menjual kompornya dan memilih membeli makanan saja jika ada uang. Si nenek juga bercerita saat makan, makanan yang dipegang si nenek selalu tercecer kemana-mana karena tangan si nenek selalu gemetaran jika memegang sesuatu.
Si pria kurir berkata kepada nenek, bahwa setiap pagi saat berangkat kerja dan sore hari ketika pulang kerja akan mampir ke tempat si nenek membawa makanan dan menyuapinya.
Si nenek terharu dan berterimakasih kepada si pria kurir. Si pria kurir berkata bahwa dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibu dan seorang nenek karena dia hidup sebatangkara. Si kurir berkata bahwa si nenek akan dirawatnya seperti keluarganya sendiri.
Hari-hari pun berlalu dan si pria kurir menepati janjinya. Setiap pagi dan sore si pria kurir datang membawa makanan dan menyuapi si nenek dengan lembut. Si nenek merasa bahagia ada yang merawatnya. Si pria kurir bilang bahwa jika rumah yang sudah dibangunnya jadi akan mengajak si nenek untuk tinggal bersama.
Si nenek sangat senang mendengar hal itu. Saking senangnya membuat si nenek menangis bahagia. Hari-hari berlanjut berganti tahun. Si pria kurir sangat menyayangi si nenek seperti ibu sendiri. Si pria kurir selalu membawa makanan yang enak sesuai yang diinginkan si nenek.
Si nenek tua sudah merasakan kasih sayang anak yang selama ini dia tidak pernah rasakan. Si nenek berterimakasih kepada tuhan sudah diberikan seorang anak meski bukan darah dagingnya.
Setelah menunggu waktu yang lama rumah si kurir mulai dibangun. Si kurir mengalami kenaikan pangkat menjadi kepala devisi. Sehingga dia bisa membangun rumah impiannya. Si nenek juga diajak melihat rumah yang dibangunnya serta mengajaknya jalan-jalan menggunakan motor tuanya.
Si pria itu lantas berhenti didepan restoran dan mengajak makan si nenek di restoran mewah tersebut. Si nenek awalnya malu tetapi setelah diberi penjelasan oleh pria kurir, si nenek akhirnya mau di ajak masuk. Si nenek senang di ajak oleh si pria kurir makan di tempat yang mewah. Si nenek ternyata ulang tahun dan si kurir mengajak makan ke restauran tersebut. Si kurir sudah memesan menu yang menjadi andalan di restoran tersebut. Yakni lobster asam manis. Hari itu si nenek benar benar bahagia. Si nenek sangat senang karena baru pertamakali memakan lobster.
Si nenek menyuruh si pria kurir segera menikah karena usianya sudah menginjak usia 27 tahun. Tetapi si pria kurir ingin memiliki rumah terlebih dahulu sebelum menikah. Si pria kurir adalah pria yang rajin karena selain menjadi kepala divisi si pria kurir juga berjualan.
Sebentar lagi rumah si kurir akan segera jadi dan rumah itu sudah mulai terlihat luas. Si pria kurir menunjukkan kamar si nenek dan menunjukkan seisi ruangan. Si nenek senang dan memeluk si pria kurir. Si nenek berkata bahwa si pria kurir adalah anaknya. Si nenek berkata si pria kurir anak yang dikirimkan oleh tuhan. Meski tidak dilahirkan tetapi ikatan batin si nenek dan si pria kurir sangat kuat.
Si nenek sudah tidak sabar ingin segera pindah. Bahkan si nenek sudah berkemas untuk segera pindah kerumah baru si pria kurir.
Hari ini mendung yang sangat gelap menyelimuti langit. Hujan deras mengguyur jalanan dan angin yang sangat kencang ikut berembus. Di rumah reyotnya si nenek cemas kepada si pria kurir. Si nenek bahkan tidak cemas jika sewaktu-waktu rumahnya bisa roboh. Si nenek merasakan perasaan tidak enak dan khawatir kepada si pria kurir.
Si nenek pagi itu menunggu di bawah guyuran hujan, si pria kurir yang selalu datang untuk menyuapinya. Si nenek terus menunggu khawatir sambil duduk di kursi pinggir jalan. Berharap melihat si kurir datang dari kejauhan. Dibawah guyuran hujan, motor dan mobil lalu lalang, tetapi tidak terlihat si pria kurir.
Si nenek terus menunggu dari bajunya yang basah hingga kering sambil duduk di kursi tepi jalan. Hingga sorenya si nenek masih menunggu berharap anaknya itu datang. Tetapi masih saja tak kunjung datang hingga suara adzan berkumandang.
Hari berganti hari tapi si anak tak kunjung datang. Baju yang dikemasi si nenek hingga berdebu karena si pria kurir tidak segera datang. Tiba-tiba ada beberapa anak muda menghampiri si nenek. Si nenek di ajak ke rumah si pria kurir yang sudah jadi.
Si nenek senang dan bertanya dimana anaknya itu. Tapi raut muka semua anak muda berubah sedih. Si nenek takut akan terjadi apa-apa kepada anaknya. tetapi tidak terlihat si anak berada di seluruh ruangan. Si nenek menangis karena hanya melihat perabotan rumah saja.
Salah seorang pemuda menjelaskan bahwa si pria kurir sudah berpulang kembali ke tempat yang baik. Si kurir meninggal karena tertabrak karena saat mengendarai motornya salah satu tangannya mendekap makanan si nenek agar tidak terkena hujan. Tiba-tiba motor si kurir terpeleset akibat angin yang kencang dan salah satu tangan si kurir masih mendekap makanan si nenek.
Mendengar itu si nenek hanya bisa duduk lemas sambil tertunduk lesu. Matanya terlihat hampa dan rombangan itu hanya bisa sedih melihat keadaan itu.
--Tamat--