Raffi Ahmad girang bukan kepalang, ketika beberapa mobil mewah berjejer di halaman rumahnya. Dia merasa pamornya akan naik di mata para tetangga karena kehadiran teman-teman seangkatan SMA. Tetapi sambutan Raffi untuk teman-temannya harus tertunda karena kesibukan pekerjaannya.
Nicholas Saputra, pengusaha otomotif datang bersama mobil sport warna kuningnya. Sedangkan Reza Rahardian, pemilik beberapa hotel berbintang juga datang bersama mobil mercy. Sementara itu, Roger Danuarta, dengan seragam polisi lebih memilih datang menggunakan mobil Jeep kesayangannya.
Sudah lebih dari dua jam ketiganya menanti kedatangan Raffi menyambut mereka, apa daya mereka harus bersabar dengan kesibukan Raffi. Beberapa gelas kopi menemani mereka sembari mengusir kantuk yang mulai datang.
"Wah.. Raffi hebat ya, pengunjungnya dari tadi datang tak kunjung putus." Puji Nicholas memulai percakapan mereka.
"Betul, dari semua kalangan datang tak mengenal usia." Ujar Reza terkesima.
"Heran juga, mereka semua menurut sesuai arahan Raffi, dengan sangat patuh. Mereka bahkan rela menundukkan kepalanya dan seolah pasrah membiarkan Raffi mengatur semuanya, yang bahkan mungkin seorang presiden pun tak berani melakukannya." Roger terkagum-kagum.
Mereka bertiga terkesima dengan apa yang telah Raffi lakukan. Tak ada sedikitpun kesedihan diraut wajah pengunjung yang datang. Terlihat jelas rona kepuasan dari mereka.
Baru disadari bahwa tolak ukur kesuksesan bukan hanya tentang materi dan jabatan, tapi kesungguhan dalam menjalani pekerjaan yang dimiliki.
"Tidak seperti diriku, setiap hari ada saja keluhan dari karyawan yang ingin naik gaji." Gerutu Nicholas.
"Sama bro.. Aku juga sering mendengar keluhan dari para tamu hotel yang menginap." Reza tak ingin kalah.
"Kalian lebih enak karena menjadi bos, sedangkan aku sendiri di satu sisi harus tunduk sesuai arahan atasan, disisi lain dituntut melayani masyarakat dalam kondisi apapun." Keluh Roger pula dengan profesi yang dijalaninya.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Raffi yang ditunggu datang juga.
"Hallo guys! Maaf lama menunggu ya?" Sapa Raffi ceria menyambut teman-temannya.
"Tak apa Fi, kita ngerti kok." Jawab Reza mewakili.
"Jadi kalian juga ingin seperti mereka?" Tanya Raffi sambil menunjuk ke arah dimana pengunjungnya datang.
"Iya dong, harga teman kan?" Ujar Roger mengedipkan sebelah matanya.
"Untuk kalian bertiga, gratis! Tidak dipungut biaya!" Jawab Raffi meyakinkan.
"Serius Fi? Nggak rugi kah?" Nicholas penasaran.
"Tentulah!"
"Kalo begitu aku duluan! Kan aku yang datang pertama." Nicholas langsung nyelonong mendahului yang lainnya.
"Tenang.. Semua kebagian. Kalian ingin dibikin seperti apa?" Senyum Raffi sudah siap melakukannya.
Dengan kedua tangannya memegang masing-masing gunting dan sisir, Raffi kembali siap beraksi.
_End_